Tujuh hari telah berlalu setelah pemakaman Nia. Bersamaan dengan itu, masa skorsing Grisa juga sudah selesai, dan kini hari-hari baru akan menanti Grisa.
“Kalau ingat udah 37 tahun, jadi awkward,” gumam Grisa di depan kaca.
Sosok remaja dengan seragam SMA yang terpantul di cermin itu terlalu asing baginya. Walaupun sudah lebih dari seminggu ini dia menjadi Grisa, rasanya dia belum terbiasa.
“Ini anak keturunan mana sih, ya? Jerawat gak ada, alisnya lumayan tebel... Hidungnya gak mancung, sih, tapi gak pesek juga.”
Tadinya Grisa ingin mencoba berdandan seperti yang biasa dia lakukan saat menjadi Nia. Tapi, setelah melihat visualnya, Grisa mengurungkan niatnya. Dia memilih untuk cuma memakai skin care dasar dan liptint saja.
Tok! Tok!
“Mbak Grisa, apa sudah siap?” suara Ganesh terdengar dari luar kamar.
“Bentar!”
Segera Grisa keluar dari kamar dengan membawa tas ranselnya. Dengan diantar Ganesh, dia pergi ke SMA Amartasari, sekolah swasta yang akan menjadi panggungnya mulai saat ini.
“Beneran gak papa saya tinggal?” tanya Ganesh.
Mereka sudah sampai di sekolah, namun Ganesh khawatir melepas Grisa yang asing dengan tempat ini.
“Kamu pikir aku bocil? Gini doang mah enteng kali,” jawab Grisa sambil membuka pintu. Dia lalu turun dari mobil.
Sebelum pergi, Grisa berkata, “Gak usah khawatir. Kalau ada apa-apa aku bakal manggil kamu lagi. Hehehe...”
Pintu mobil pun tertutup. Ganesh mendengus kasar setelah kepergian Grisa.
“Maksudnya dia bakal bikin masalah lagi gitu? Ckckck... Nasib gue...”
Lima tahun bersama Nia agaknya tidak lantas membuat Ganesh terbiasa dengan sifat wanita itu. Herannya, bukannya kabur dia malah terus menempel pada Nia.
“Sudahlah...” Ganesh yang pasrah pun kembali menyalakan mesin mobilnya dan pergi.
Grisa berjalan melewati gerbang sekolah dengan penuh percaya diri. Banyak tatapan yang tertuju padanya, namun itu tidak membuatnya risih.
“Gak di kantor, gak di sana sama aja. Yah, aura guweh tumpeh-tumpeh sih, emang,” begitu pikir Grisa.
Namanya juga mantan CEO, wajar kalau dia terbiasa dengan tatapan orang lain. Tidak dia sangka Grisa juga mendapatkan perhatian seperti ini dari orang-orang di sekitarnya. Tapi, sepertinya tatapan yang mereka berdua dapatkan sangat berbeda. Jika Nia mendapatkan tatapan penuh hormat dan rasa takut, Grisa mendapatkan tatapan iri dan rasa penasaran.
“Hai, Sa! Apa kabar?” sapa salah satu temannya dengan nada manis.
Meskipun masuk ke dalam raga Grisa, tidak berarti dia mendapatkan memori Grisa. Karena itu, dia lihat bet nama yang terpasang di dadanya.
“Vera?” balas Grisa.
“Kamu baik-baik aja, kan? Aku lihat di berita kalau ibu kamu baru aja meninggal. Turut berduka cita, ya,” kata Vera penuh simpati.
Nama gadis itu pernah Grisa asli ucapkan dalam salah satu video yang belum diunggah. Dalam video tersebut dikatakan kalau Vera adalah salah satu teman yang sempat dekat dengannya, tapi suatu hari tiba-tiba Vera menjauh. Tidak hanya itu, Vera bahkan ikut membully-nya bersama Yuria.
Sikap Vera ini berbanding terbalik dengan video itu. Karena itu, Grisa tidak ingin langsung percaya pada Vera. Bisa saja ini cuma jebakan, atau kalau bukan jebakan, artinya dia sedang menjilat.
“Ya. Makasih,” sahut Grisa singkat.
Setelah Vera, beberapa orang lainnya pun bersikap sama. Semua berbondong-bondong mengubah sikap mereka. Melihat itu berkali-kali, Grisa jadi jengah sendiri. Untungnya tidak berlangsung lama, karena bel masuk berbunyi beberapa saat kemudian.
Jam pelajaran pertama adalah Matematika. Pak Endi, seorang pria paruh baya dengan wajah ramah, masuk ke dalam kelas dengan senyum.
“Selamat datang kembali, Grisa,” katanya. “Kami semua turut berduka atas kehilangannya.”
Grisa mengangguk sopan. “Terima kasih, Pak.”
Pelajaran pun dimulai. Pak Endi menjelaskan materi hari ini dengan santai, lalu memberikan soal latihan. Grisa sebenarnya cukup jago dalam berhitung, tapi jujur saja dia selalu bingung dengan rumus. Dia harus dijelaskan berkali-kali kalau mau paham. Sialnya, Pak Endi tiba-tiba menyuruhnya untuk maju mengerjakan salah satu soal.
“Haiyaaa... Ini tadi gimana ya, konsepnya? Perasaan dulu udah bisa, kok sekarang lupa, ya? Kalau Grisa beneran sih, pasti bisa. Lha gue yang udah hampir 20 tahunan gak sekolah mana mudeng?” batin Grisa.
Kelas mulai tertawa melihat kebingungannya. “Katanya anak CEO jenius, kok soal beginian aja gak ngerti?” ejek salah satu murid, membuat satu kelas tertawa.
Grisa berusaha tetap tenang, meski dalam hati dia merasa kesal. “Sabar... sabar... Mereka cuma bocil...” batinnya. Pak Guru segera menghentikan tawa mereka. “Tenang semuanya. Grisa baru saja kehilangan ibunya. Mungkin dia masih kepikiran. Kita harus memberi dukungan, bukan mengejek.”
Pak Guru memberikan senyum penyemangat pada Grisa. “Tidak apa-apa, Grisa. Bapak juga minta maaf, malah bikin kamu malu. Kamu bisa belajar kembali pelan-pelan. Jangan terlalu keras pada diri sendiri.”
Saat kembali ke tempat duduknya, Grisa mendengar bisikan-bisikan dari teman-temannya. “Biasanya kan dia sok pinter, kok tumben?”
Grisa meremas pensilnya dengan gemas. “Kalau saja mereka tahu, aku lebih pandai mengurus merger perusahaan daripada menghitung trigonometri,” pikirnya sambil mencoba menenangkan diri.
Setelah itu, pelajaran berlanjut tanpa insiden lebih lanjut. Saat jam istirahat tiba, Grisa memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Dia harus mengingat kembali semua pelajaran yang sudah lama tidak dia pelajari. Kalau tidak, pasti akan ada orang yang curiga. Saat dia sedang tenggelam dalam buku, seseorang mendekatinya.
“Grisa?”
Suara itu sepertinya pernah dia dengar, entah di mana. Grisa menoleh dan barulah dia ingat.
Cowok itu adalah Daniel, cowok yang pernah berkolaborasi di channel Yucub Grisa, juga satu-satunya orang yang tahu hobi Grisa di sekolah ini. Dulu Daniel juga pernah datang ke kos-kosan Grisa saat Nia juga sedang ada di sana. Dari gerak-geriknya, Grisa yakin kalau cowok itu ada rasa.
“Aku mau ngucapin bela sungkawa. Aku tahu ini pasti berat buat kamu.”
Grisa tersenyum kikuk. “Terima kasih, Daniel.”
Daniel duduk di sebelahnya. “Kamu gapapa kan? Yang kuat, ya.”
Dilihat-lihat, sepertinya Daniel adalah anak yang baik. Meskipun dia terang-terangan mendekati Grisa, dia sama sekali tidak menyentuhnya. Tapi, sekolah ini adalah tempat Grisa asli menghembuskan napas terakhirnya. Tidak ada yang tahu siapa yang baik dan yang jahat. Grisa harus tetap hati-hati.
“Makasih. Aku udah baik-baik aja, kok. Cuma masih menyesuaikan diri aja.”
Daniel mengangguk, meski masih ada keraguan di matanya. “Kalau kamu butuh teman bicara, aku selalu ada buat kamu.”
Sementara itu, Arsa, salah satu pendukung Yuria, melihat kebersamaan mereka dari kejauhan. Dengan cepat dia mengambil foto mereka dan mengirimkannya kepada Yuria. Di tempat lain, Yuria melihat pesan itu dan merasa sewot. Dia meremas ponselnya dengan gemas. “Grisa... berani-beraninya dia mendekati Daniel lagi,” gumamnya dengan marah. Tapi dia tahu, dengan status Grisa yang baru, membalasnya tidak semudah dulu.
Yuria merasa bingung harus berbuat apa. Dulu, dia bisa membully Grisa dengan mudah. Tapi sekarang, Grisa punya backingan yang kuat. Yuria tahu dia harus ber