Sekolah yang Bikin Stres

1039 Kata
Grisa melangkah keluar dari sekolah dengan langkah yang berat. Baju dan rambutnya lusuh penuh keringat. Sinar matahari sore yang biasanya menenangkan, kali ini terasa menusuk kulitnya. Di depan gerbang sekolah, Ganesh sudah menunggu di mobil dengan senyum khasnya. Dengan gontai dia mendekati mobil itu. "Kayaknya capek banget, Mbak. Habis ngapain? Gak dibully lagi kan?" sapa Ganesh sambil membuka pintu mobil untuk Grisa. Grisa mendengus, lalu masuk dan duduk di kursi penumpang. Wajahnya pucat dan matanya terlihat sembab. "Aku stres, Nesh. Belajarnya banyak banget. Mana susah-susah. Baru ingat juga kalau kelas 12 tuh ada Ujian Sekolah sama SBMPTN. Aaaaku mau gila!” Ganesh merasa geli mendengar keluhan bosnya yang biasanya mudah menuntaskan segala hal. "Serius, baru kali ini lihat Bu Boss kewalahan," katanya sambil menahan tawa. Tapi usahanya sia-sia, karena sedikit tawa lolos dari bibirnya. "Jangan ketawa!" Grisa merajuk sambil menatap Ganesh dengan mata tajam. "Gak lucu tahu!" Ganesh menahan tawanya dan mengangguk. "Oke, oke. Maaf, maaf." “Gila banget! Perasaan jaman dulu pelajarannya gak sesusah ini, deh. Banyak banget materi yang aku lupa dan gak ngerti. Pulangnya juga jam 4 sore. Pantesan aja banyak anak SMA eksekusi diri,” Grisa lanjut mengeluh. “Ya, kan demi kemajuan negara, Mbak. Makanya dibikin kurikulum yang lebih bagus. Dibanding di luar negeri, sekolah di sini pulangnya lebih cepet, loh,” kata Ganesh. “Hilih. Negara maju tuh gak ada gonta-ganti kurikulum! Yang ada muridnya yang jadi kelinci percobaan terus.” Ganesh merasa harus menghentikan keluh kesah Grisa ini. Sebagai orang yang hafal sifat Nia, dia yakin kalau curhatannya baru selesai satu jam lagi. “Gimana kalau dengerin musik dulu? Biar lebih tenang,” saran Ganesh. “Serah!” Musik mulai mengalun dari speaker mobil. Lagu-lagu ceria dari JKT48 menemani perjalanan mereka. Beberapa saat kemudian, Grisa mulai bicara lagi. "Gimana keadaan kantor? Ada yang menarik?" Ganesh mengangguk. "Baru saja selesai rapat dewan direksi dan dewan komisaris. Membahas pergantian CEO. Debatnya cukup sengit.” “Terus gimana?” tanya Grisa penasaran. “Yah… Pak Hasan kan ikutan, terus beliau bilang sesuai yang waktu itu.” Kali ini Ganesh lah yang terlihat lemas, membayangkan betapa suramnya hari-hari ke depan. Grisa tertawa terbahak-bahak. "Rencanaku berhasil! Hahaha!" Ganesh mendengus kesal. "Jangan ketawa. Kamu yang minta bantuan, ingat?" "Iya.. iyaaa… Ajari saya dong, Pak Ganesh. Biar jadi CEO keren kayak Bu Nia… hahahaha!" Grisa meledek. Ganesh mencubit pipi Grisa dengan gemas. "Oke. Saya ajari." Sesampainya di rumah, Ganesh menepati janjinya. Namun bukan soal bisnis yang dia ajarkan, melainkan pelajaran SMA. Ganesh ternyata ingatannya tajam dan paham betul pelajaran sekolah. Namun, gaya mengajarnya spartan membuat Grisa semakin stres. "Begini rumusnya, paham?" tanya Ganesh dengan nada serius sambil menunjuk papan tulis kecil yang dipenuhi tulisan rumus. "Kalau rumus percepatan gravitasi tuh yang ini. a=2ht2a = frac{2h}{t^2}a=t22h​." Grisa mengernyitkan dahi. "Astogel bogel… panjang bener. Nggak ada yang lebih gampang?" Ganesh menghela napas. "Mbak perlu paham ini. Di SBMPTN nanti bisa keluar soal kayak gini." "Tapi, ribet banget elah. Kan aku mau masuk sekolah seni. Kenapa nggak bisa kayak '1+1=2' aja?" Grisa mendebat. "Kalau gampang, semua orang jadi ilmuwan fisika dong," jawab Ganesh sambil menahan senyum. "Jago ngomong doang kamu. Ini tuh bikin stres banget tahu!?” Grisa merajuk. Ganesh tertawa kecil. "Sudahlah, Mbak. Ayo fokus!" Namun, Grisa sudah kehilangan kesabaran. "Aku nggak bisa! Kepalaku pusing! Cara yang lain gak ada, gitu?" Ganesh menatap Grisa dengan tatapan penuh pengertian. "Oke. Saya mah orangnya sabar dan pengertian. Tapi, Mbak yang fokus, ya.” Grisa mengangguk. "Oke. Pelan-pelaaan aja.” Ganesh mencoba menjelaskan rumus dengan cara yang lebih interaktif. Dia menggambarkan situasi nyata di mana rumus itu bisa diterapkan, seperti menghitung waktu yang dibutuhkan bola untuk jatuh dari gedung tinggi. Namun, ketika Grisa terus mengeluh dan menunjukkan tanda-tanda putus asa, dia mulai kehilangan kesabaran. "Mbak kan tadi udah janji mau serius!" tegas Ganesh. "Kita nggak punya banyak waktu." "Tapi beneran aku udah bebal banget, Neeesh!" Grisa mengeluh, nadanya hampir menangis. Melihat Grisa yang tampak benar-benar tertekan, Ganesh mengambil pendekatan yang lebih lembut. "Oke, kita coba lagi dari awal, perlahan-lahan. Mbak pasti bisa." Namun, Grisa sudah kehilangan fokus. Dia merasa frustrasi dan mencari cara untuk mengalihkan perhatian Ganesh. Dia tahu titik lemah Ganesh—gelitikan. Dengan cepat, Grisa mulai menggelitiki Ganesh hingga pria itu jatuh dari kursinya. "Tunggu, tunggu... hahahaha, Mbak! Udah!" Ganesh tertawa terbahak-bahak, mencoba melindungi dirinya. Namun, dalam sekejap, mereka sudah berpelukan di lantai. Keduanya terdiam, saling menatap dengan jarak yang sangat dekat. Wajah mereka hanya beberapa inci terpisah, dan suasana mendadak berubah canggung. Grisa, yang berada di atas Ganesh, bisa merasakan detak jantungnya semakin cepat. Mata mereka saling terkunci, dan waktu seolah berhenti. Grisa bisa melihat pantulan dirinya dalam mata Ganesh yang lembut, dan dia merasakan kehangatan yang tak terduga mengalir di antara mereka. Ganesh merasakan hal yang sama. Dia bisa merasakan napas Grisa yang lembut di wajahnya, dan ada sesuatu yang mengikat mereka dalam momen itu. Perlahan, tangannya naik dan menyentuh pipi Grisa, merasakan kelembutan kulitnya. "Mbak..." bisik Ganesh, suaranya hampir tidak terdengar. Grisa menelan ludah, mencoba menemukan kata-kata. "Ganesh, aku... aku..." Keduanya tetap diam, hanya menatap satu sama lain. Ada kehangatan dan keintiman yang tak terucapkan di antara mereka. Jarak yang sangat dekat itu membuat mereka merasa seolah hanya ada mereka berdua di dunia ini. Akhirnya, Grisa merasa harus melakukan sesuatu. Dengan perlahan, dia menjauh dari Ganesh, namun tatapannya tetap terkunci pada mata pria itu. "Aku… aku mau keluar kamar dulu ambil minum dan cemilan biar lebih bisa mikir." “Oh… Ya.” sahut Ganesh terbata. Di luar kamar, Grisa bisa merasakan jantungnya berdetak kencang. Dia menempelkan tangan di dadanya, mencoba menenangkan diri. Sementara di dalam kamar, Ganesh juga merasakan hal yang sama. Mereka sama-sama bingung dengan perasaan yang tiba-tiba muncul di antara mereka. Ganesh menghela napas panjang, mencoba mengalihkan pikirannya kembali ke pelajaran. Dia mengingatkan dirinya bahwa Grisa adalah bosnya dan ini hanya momen singkat yang tidak boleh dibiarkan mengganggu profesionalisme mereka. Grisa kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi minuman dan cemilan. Dia meletakkannya di meja, berusaha menjaga jarak dengan Ganesh. "Oke, kita lanjut lagi," katanya, mencoba terdengar percaya diri meski hatinya masih berdebar. Ganesh mengangguk. "Baiklah. Kita mulai dari yang mudah dulu. Ingat, Grisa, ini semua untuk masa depanmu." Dengan usaha bersama, mereka kembali fokus pada pelajaran, meski suasana hati keduanya masih terasa campur aduk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN