Sahabat dan Kecoa Jongkok

1265 Kata
Pagi itu, matahari bersinar cerah, memberikan kehangatan yang nyaman di sekolah. Suara riuh rendah para siswa yang berbincang dan tawa-tawa kecil mengisi udara. Grisa berjalan santai menuju kelas, menikmati ketenangan sesaat setelah semalaman belajar keras. Namun, ketenangan itu segera terpecah ketika Yuria tiba-tiba menghampirinya di koridor. Tidak seperti saat pertama kali Grisa bertemu dengannya, Yuria sekarang sendirian menghadapinya. "Grisa, gue perlu sama lo," kata Yuria, nada suaranya serius meskipun masih terkendali. Grisa mengangkat alis, bingung dengan keseriusan Yuria. "Mau ngomong apa?" tanyanya. Yuria menatap Grisa tajam. "Gue kayaknya udah sering banget bilang ke lo, kalau Daniel itu punya gue. Jadi, buat apa lo deket-deket Daniel di perpus kemarin?” Diingat-ingat lagi, Grisa sepertinya tidak melihat Yuria di perpus kemarin. Duganya, ada orang lain yang melihat mereka lalu memberi tahu Yuria. “Gue emang di perpus kemarin, tapi bukan gue yang deketin Daniel duluan.” ucap Grisa jujur. “Hah… Lo pikir gue bakal percaya sama lo?” “Terserah, sih…“ Grisa tidak mau mendengar ocehan Yuria lagi, jadi dia melengos melewati Yuria. Dia masih lelah setelah belajar luar biasa kerasnya. Kalau terus-terusan bersama Yuria, Grisa tidak yakin bisa mempertahankan kewarasannya. Bisa-bisa dia kena skors lagi karena mengamuk. “Berani banget lo sekarang. Mentang-mentang udah jadi orang kaya!” Yuria mengejar dan menghadang jalan Grisa sebelum terlalu jauh. Dengan sinis Grisa menatap Yuria. “Bukan jadi orang kaya, tapi udah kaya dari dulu. Lo aja yang gak tahu.” Mendengar itu, emosi Yuria semakin ke ubun-ubun. Dia sebenarnya merasa malu sudah salah menilai Grisa. Tapi, karena sudah terlanjur, dia tidak bisa mundur dari perbuatannya sendiri. “Lo itu ya…“ geram Yuria yang kemudian meraih kerah seragam Grisa. Karena terbawa amarah, hampir saja Yuria memukul Grisa. Namun, sebelum bogeman itu jatuh ke wajah Grisa, sebuah tangan yang lain menahan Yuria. “Kamu tuh apa-apaan, sih!?” Tiba-tiba Daniel muncul. Wajahnya merah padam, menampakkan jelas kemarahannya. Gertakan Dariel yang cukup nyaring juga sontak menarik perhatian beberapa siswa di sekitar. Yuria terkejut melihat kemarahan Daniel. Dia segera menarik tangannya dari Grisa. "Tapi, Daniel, aku cuma..." "Tidak ada 'tapi'! Kamu gak punya hak buat marah ke Grisa. Salah apa sih, dia?" potong Daniel dengan tegas, matanya menatap Yuria berapi-api. Grisa menatap Yuria dan Daniel bergantian. Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum berbicara, mencoba menjaga ketenangannya. "Aku gak peduli kalau lo suka Daniel kek Dao Ming Shi kek atau Chu Pat Kai kek, Yuria. Kejar aja. Aku gak bakal halangin," kata Grisa dengan nada tenang tapi tegas. “Asal lo tahu, gue dari dulu ataupun sekarang gak ada rasa apa-apa sama Daniel. Lo aja yang kepedean, terus sok ngerundung gue. Kutu Kupret banget. Sialan!” umpat Grisa, “Terus, satu lagi. Gue janji gak bakal deket-deket Daniel lagi. Dan lo, Daniel, gak usah SKSD lagi sama gue. Gue gak mau kena masalah lagi.” Setelah berkata demikian, Grisa berbalik dan berjalan pergi. Namun, Daniel mengejarnya dengan cepat. "Grisa, tunggu! Kamu beneran gak suka aku?" tanyanya, wajahnya penuh kebingungan dan ketidakpercayaan. Pasalnya, selama ini Grisa tidak pernah menolak didekatinya. "Iya, beneran," jawab Grisa tanpa menoleh. Dia terus berjalan, meninggalkan Daniel yang terlihat sangat kecewa. Ucapan Grisa itu membuat Daniel kecewa dan sakit hati. Dia merasa harga dirinya dicabik-cabik. Terlebih peristiwa ini terjadi di depan umum dan dilihat banyak orang. Di sisi lain, Grisa punya alasan kuat untuk menolak Daniel. Sedari awal pertemuan mereka di perpustakaan, dia tidak percaya pada Daniel. Pikirnya, Grisa yang asli dibully karena Daniel terus-terusan mendekatinya. Padahal Daniel pasti juga tahu kalau Grisa terus mendapatkan masalah karenanya. Selain itu, sahabat macam apa yang tidak datang di pemakaman ibu sahabatnya? Teman-teman Grisa yang lain juga tidak ada yang melayat. “Kasihan sekali kamu Grisa…“ batin Grisa dalam hati. ... Pulang sekolah, Ganesh menjemput Grisa di gerbang sekolah. Dia melihat Grisa yang lagi-lagi lusuh dan kelihatan stres. “Kok lusuh lagi? Ada apa sekarang?" tanya Ganesh dengan cemas, mencoba membaca ekspresi Grisa. "Biasa lah... urusan abege," jawab Grisa ringan, mencoba menutupi beban pikirannya. Mereka masuk ke dalam mobil, dan suasana hening sejenak. Tiba-tiba, Grisa memecah keheningan. "Ganesh, gimana soal lima orang DPO ?" Ganesh menyalakan mesin mobil, lalu menjawab. "Barusan saya diinfokan kalau satu orang sudah tertangkap, namanya Rafli. Sementara empat lainnya masih melarikan diri.” “Orang itu ngomong sesuatu gak?” tanya Grisa lagi. “Ya. Dia bilang kalau yang ngasih ide buat ngebuang mayat Bu Nia adalah salah satu dari mereka yang namanya Didit.” Seketika pundak Grisa meluruh. Tega sekali mereka memperlakukan raganya dengan seenak hati. Padahal mereka bisa saja menguburnya baik-baik. Tapi, mereka malah memilih untuk meninggalkan mayatnya begitu saja di dalam hutan. Mengingat itu Grisa meneteskan air matanya. Ganesh yang melihat itupun mengelus pundak gadis itu beberapa kali, “Tenang saja. Kita pasti akan segera menangkap mereka.” Grisa mengangguk, lalu mengusap air matanya dengan kasar. “Ya. Kita juga harus ikut bergerak. Jangan sampai mereka lolos.” Ganesh mengangguk, lalu kembali fokus ke jalan. Selang beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di rumah. Di sana, mereka disambut oleh pemandangan yang mengejutkan. Ethan, mantan tunangan Nia, berlutut di hadapan Hasan, memohon penuh penyesalan. Wajah pria yang hampir berusia 40 tahun itu tampak lelah dan putus asa, menunjukkan betapa dalam rasa paniknya. “Saya mohon, Pak. Jangan cabut investasi Anda di Rumah Sakit kami!” Ethan memelas. Namun, Hasan terus bergeming. Pria tua yang kini duduk di kursi roda itu justru melirik ke arah cicit angkat dan asistennya yang baru turun dari mobil. “Kalian sudah pulang. Bagaimana sekolahmu, Gris?” Dalam hati Grisa malah bingung, karena tumben-tumbenan Hasan menanyai soal sekolah Grisa. Dugaannya, itu dia lakukan untuk menghindari Ethan. Apapun alasannya, Grisa sih tidak peduli. Dia menghampiri Hasan, lalu menyalaminya. “Baik-baik aja, Kek. Keadaan Kakek gimana?” Grisa balas bertanya. “Yah, kalau gak ada kecoa jongkok sih, Kakek baik-baik saja.” Yang dimaksud kecoa jongkok tentu saja adalah Ethan, pria yang tidak Hasan sangka adalah pria paling b***t dalam hidupnya. Untuk hal ke-toxic-an, Nia dan Hasan itu satu aliran. Malah sebenarnya yang mengajari Nia untuk berkata kasar adalah Hasan. Katanya biar tidak terlalu stres saat bekerja. “Semprot pakai Byegone aja, Kek. Biar mampus. Grisa panggilin Bi Inah buat bawain ya, Kek.” “Ya. Tolong, ya.” Grisa pun masuk ke dalam rumah. Di belakangnya, tatapan Ethan tertuju padanya. Ganesh yang menyadari itu hanya melirik sekilas, lalu mengikuti Grisa. “Habis diapain tuh makhluk?” Grisa yakin kalau Ganesh mengetahui sesuatu soal alasan kedatangan Ethan. “Sejak terkuak kalau dr. Ethan selingkuh dari Anda, sebenernya Pak Hasan itu udah niat mau cabut segala bentuk kerja sama dengan semua perusahaan milik keluarga dr. Ethan. Tapi, biar alasannya tambah kuat, saya diminta cari info soal kekurangan dari bisnis mereka. Eh, habis saya lihat, ternyata amburadul semua, kecuali yang mendingan paling rumah sakit yang di pusat kota itu. Dia menutupi banyak kasus. Ada soal money laudry juga. Wadidaw lah pokoknya, Mbak.” jelas Ganesh detail. Grisa melongo saking terkejutnya. Selama ini dia tidak terlalu peduli dengan Ethan dan kerja sama mereka, karena hal itu urusan Hasan. Kenal Ethan juga belum lama. Grisa hanya tahu kalau Ethan adalah seorang direktur rumah sakit ternama yang cukup besar. Kalau soal bisnis keluarga Ethan, ya cuma dengar-dengar saja. “Ebuset! Kok bisa Kakek gak tahu dan hampir jodohin gue sama dia. Iyewww…” tanggap Grisa jijik. “Betewe, good job, Nesh! Lo emang asisten… Eh, CEO terbaik.“ lanjutnya sambil mengacungkan jempol. “Kok dipuji gitu saya malah kesel, ya?” Ganesh geleng-geleng. Grisa hanya meringis pada pria itu, lalu berlari kecil ke kamarnya. Sementara itu, Ganesh yang masih sebal hanya memandangi Grisa dengan malas dari bawah
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN