Hantu

1067 Kata
Ganesh baru saja selesai mengajari Grisa materi matematika yang cukup kompleks. Wajah Grisa tampak lelah, namun matanya penuh dengan semangat mengajukan protes. "Ini balas dendam ya, Nesh?" Grisa melipat tangannya di d**a. "Gue tahu gue sering ngasih lo banyak kerjaan, tapi ini keterlaluan!" Ganesh yang duduk di seberang meja lesehan tertawa terbahak-bahak, membuat Grisa semakin sebal, “Hehehe tahu aja, Mbak,” katanya sambil terkekeh. Grisa mengerutkan kening dan memandang Ganesh dengan tajam. "Jahat benerr… tega, ya. Mentang-mentang disuruh jadi mentor!!” Ganesh tersenyum lebar, menikmati setiap detik momen tersebut. "Santai aja sih, Mbak. Kan Mbak sendiri yang minta.” Tidak tahan lagi, Grisa menggeser duduknya mendekat dan mencubit perut Ganesh. "Rasain, nih!" Namun, bukannya meringis kesakitan, Ganesh malah semakin tertawa keras. "Ini perut apaan, sih? Keras bener? Lo pake besi di perut, ya?” Ganesh yang kegelian semakin tidak bisa menahan tawa. "Udah sih, Mbak! Geli, nih!" teriaknya sambil berusaha menghindar. Grisa yang semakin frustasi akhirnya berencana untuk menjambak rambut Ganesh sebagai upaya terakhir. Namun, sebelum dia sempat melakukannya, ponsel Ganesh berbunyi nyaring, menghentikan aksi mereka. Ganesh mengangkat telepon dengan cepat, raut wajahnya berubah serius. "Ya, saya Ganesh," jawabnya singkat. Setelah mendengarkan beberapa saat, Ganesh mengangguk. "Baik, kami akan segera ke sana." Ganesh menutup telepon dan memandang Grisa. "Polisi barusan menelepon. Tiga dari lima DPO yang kita cari, Eka, Kris, dan Fendi, baru saja menyerahkan diri. Kalau Mbak mau, ayo ikut saya ke sana." Grisa terkejut, tapi segera mengangguk. "Oke, ayo kita pergi." Malam itu, mereka tiba di kantor polisi dan langsung menuju ruang observasi. Dari ruangan itu, mereka bisa melihat keempat pelaku yang sedang diinterogasi oleh polisi. Keadaan para pelaku tampak gelisah dan aneh. "Awalnya, kami hanya ingin menguburkan Nia di hutan sana," kata Eka dengan suara gemetar. "Tapi kemudian kami melihat hantu di hutan itu. Kami kabur karena ketakutan." "Hantu?" tanya polisi yang menginterogasi, wajahnya penuh skeptisisme. Pikirnya, paling-paling ucapan eka tadi hanya akal-akalan supaya lolos dari jeratan hukum yang lebih berat. "Iya, hantunya perempuan rambut panjang sepinggang. Terus, dia pakai seragam SMA," lanjut Kris. "Penampakannya kayak tembus pandang. Tapi, keliatan banget, Pak. Mana dia melotot seram sekali.” Fendi mengangguk setuju. "Kami tidak tahu harus berbuat apa lagi. Karena itu, kami memutuskan untuk menyerahkan diri agar hati kami tenang." Ganesh dan Grisa yang mendengarkan dari ruang lain terdiam. Wajah Grisa pucat, matanya berkaca-kaca. "Ganesh, kamu pikir mereka melihat Grisa asli?" bisiknya. Ganesh mengangguk pelan. Grisa mulai terisak, air matanya mengalir deras. Dalam isaknya Grisa memikirkan alasan Grisa muncul di hadapan para pelaku itu. “Grisa… ngusir mereka biar kita bisa nemu jasad gue…” ucapnya terisak. Ganesh merasa hatinya teriris melihat Grisa yang begitu sedih. Dia mendekat dan memeluk Grisa erat-erat. Grisa yang memang membutuhkan pelukan itupun membalasnya. “Sampai akhir hayat… Grisa bareng-bareng sama gue. Dia gantiin gue mati…” isakan Grisa lirih, namun terdengar menyakitkan. Tidak tahu harus mengatakan apa, Ganesh hanya menepuk-nepuk punggung kecil Grisa. Meskipun tanpa kata-kata, entah mengapa Grisa merasa tenang dalam pelukan Ganesh. Dia merasa bisa percaya pada bahu pria itu. “Grisa… Ibu janji gak akan sia-siakan kesempatan dari kamu,” tekad Grisa dalam hati. Merasa sudah lebih tenang, Grisa pun merenggangkan pelukannya terlebih dahulu. Dia mengusap airmatanya, lalu kembali fokus untuk mendengarkan percakapan yang ada di ruang interogasi. Di ruang interogasi, Kris melanjutkan ceritanya. "Semenjak kejadian itu, saya terus dihantui oleh hantu cewek berseragam sekolah itu. Setiap malam dia muncul dalam mimpi saya, melotot serem banget, Pak. Saya tidak bisa tidur nyenyak. Itulah sebabnya saya memutuskan untuk menyerahkan diri. Saya berharap dengan ini, saya bisa mendapatkan ketenangan." “Saya juga, Pak. Sumpah! Saya sampai datengin dukun buat ngusir dia, tapi masih aja gagal!” Fendi menambahkan. “Apa Anda juga melihat… penampakan itu, Pak Rafli?” tanya polisi pada Rafli yang sedari tadi diam mendengarkan penjelasan rekan-rekannya tanpa berkomentar. Pria berkumis tipis itu menggelengkan kepalanya dengan wajah kebingungan. Dia yang diminta hadir untuk memberi keterangan tambahan menjawab, “Saya cuman jaga di mobil biar gak kemalingan. Tahu-tahu mereka berempat lari ke saya. Saya lagi bingung, tahu-tahu mereka teriak-teriak nyuruh saya nyalain mobil.” “Setelah pergi, apa ada yang kembali lagi?” Mereka berempat saling menatap satu sama lain. Masing-masing dari mereka mengaku tidak ada yang kembali, tapi tidak ada yang tahu kalau ada yang kembali ke hutan. “Saya terlalu takut buat ke sana lagi, Pak,” Eka menjawab. “Kalau keberadaan Didit, apa ada yang tahu?” Tiga DPO yang baru menyerahkan diri itu menggelengkan kepalanya bersamaan. Sebelumnya Rafli juga sudah ditanyakan, lalu dia memberikan alamat rumah dan apartemen Didit. Sayangnya, Didit tidak ada di alamat manapun. Polisi yang menginterogasi tampak merenung sejenak sebelum mengangguk. "Kita akan menyelidiki lebih lanjut. Terima kasih atas pengakuan kalian." … Grisa dan Ganesh kini berada minimarket yang berada tidak jauh dari kantor polisi untuk menyejukkan pikiran. Saat ini yang mereka butuhkan adalah kepala dingin supaya mereka tetap rasional dalam memutuskan tindakan selanjutnya yang akan mereka lakukan. “Ini, Mbak. Silakan,” Ganesh memberikan sekaleng kopi cappuchino pada Grisa. “Makasih,” sahut Grisa sambil mengamit kaleng dari tangan Ganesh. Dia buka kaleng tersebut, lalu dia tegak setengah dari isinya. Kini tatapannya lurus ke depan, seakan berharap bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dia lihat. “Apa hasil interogasinya kurang memuaskan?” tanya Ganesh memecahkan keheningan. Grisa menggelengkan kepalanya, “Gue cuma bingung… kecewa… kenapa gue gak bisa liat Grisa buat terakhir kali, tapi mereka bisa,” ungkapnya. “Padahal mereka gak ada hubungan apa-apa sama Grisa. Seakan-akan gue tuh udah gagal jadi orangtua angkat, sampai-sampai Grisa gak mau nemuin gue.” CTAK! Tiba-tiba Ganesh menjitak jidat Grisa, sehingga membuat Grisa kaget, “GANESH!” pekik Grisa sambil memegangi jidatnya yang memerah. “Mana ada Mbak Grisa yang asli kayak gitu? Mungkin aja Mbak Grisa asli ada di sini, cuma Mbak gak lihat. Kalau denger, bisa sedih banget tuh.” Segera Grisa menutup mulutnya. Ucapan Ganesh tadi ada benarnya. Mulai sekarang dia tidak boleh bicara sembarangan. “Saya memang tidak terlalu suka Mbak Grisa, tapi saya tahu kalau mendiang adalah orang yang baik. Saya yakin beliau tidak ada maksud untuk membuat Anda sedih. Pasti ada alasan mengapa mendiang tidak menampakkan diri di hadapan Anda dan itu adalah yang terbaik untuk Anda,” lanjut Ganesh sembari menepuk-nepuk pundak Grisa. Senyum tipis pun mengembang di bibir Grisa. Kehadiran Ganesh di sampingnya saat ini benar-benar bantuan terbesar yang dia miliki. Entah apa yang terjadi jika tidak ada pria itu di sisinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN