Kedatangan Ethan

1136 Kata
Grisa duduk di bangkunya dengan wajah yang serius, berusaha menyerap setiap kata yang keluar dari mulut gurunya. Namun, pikirannya terus berkelana kembali ke kantor polisi semalam. Ucapan yang ia dengar dari para DPO masih terngiang-ngiang di kepalanya, membebani pikirannya dengan pertanyaan dan kekhawatiran. Meskipun begitu, ia mencoba untuk fokus pada pelajaran. Percuma Ganesh mengajarinya kalau dia melempem terus di kelas. Sebetulnya dalam hati Grisa sangat ingin pindah jurusan ke IPS seperti waktu masih menjadi Nia. Pelajaran yang diajarkan di kelas ini terasa berat dan asing baginya. Namun, ia tidak punya pilihan. Dia harus tetap berusaha agar bisa menunjukkan kemampuannya. Lagipula tanggung, karena sudah kelas duabelas. Akhirnya, bel tanda pelajaran selesai berbunyi. Grisa menghela napas lega. Setidaknya, sekarang dia bisa pulang dan mengerjakan PR bersama Ganesh. Meskipun sering kali dia harus merasakan kerasnya metode ajar sparta dari Ganesh, Grisa tetap menghargai usahanya untuk membuatnya lebih baik. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Ketika bel baru berbunyi, tiba-tiba Daniel muncul di depan kelasnya. Mata Grisa langsung melebar. Dia tahu ini tidak akan berakhir baik. "Grisa," panggil Daniel dengan suara tegas, "Aku ingin bicara." Semua mata di kelas langsung tertuju pada mereka. Ada yang menyurakinya, bersiul, atau sekedar berbisik-bisik bergosip dengan temannya. Grisa berusaha menghindar, namun Daniel terus maju, menghalangi jalannya. "Daniel, bisa nanti aja kan?" katanya pelan, berharap Daniel akan mengerti kalau dia malas meladeni. "Nggak, sekarang," jawab Daniel dengan keras, membuat seluruh kelas semakin ribut. "Aku ingin tahu kenapa kamu tiba-tiba berubah. Apa yang sebenarnya terjadi? Sebelumnya kita dekat banget, bahkan aku ngira… kalau kita saling suka.” Grisa merasa tidak nyaman. Dia tahu bahwa tidak ada cara mudah untuk menjelaskan situasinya. "Daniel, itu perasaan lo aja kali,“ jawabnya singkat, mencoba untuk tetap tenang. "Dan gue gak punya perasaan yang sama kayak lo" Kelas menjadi lebih gaduh. Semua teman sekelas Grisa mulai berbisik-bisik, memperhatikan setiap detail dari konfrontasi tersebut. Sementara itu, Daniel terkejut dengan bahasa Grisa yang cukup blak-blakan, tidak seperti sebelumnya yang cenderung lembut. Daniel tampak marah dan terluka. "Kenapa kamu seperti ini, Grisa? Sebenarnya ada apa? Kamu marah, karena aku gak melayat waktu Ibu kamu meninggal?" Grisa menghela napas dalam-dalam, “Gak usah kepedean lah. Gue cuma gak mau kena masalah lagi,” ucapnya sambil melirik singkat ke arah Yuria dan gengnya yang juga tengah memperhatikan mereka. “Masalah apa? Kamu kan bisa cerita ke aku. Aku bakal dengerin,” Daniel makin memaksa. Grisa hanya bisa menggelengkan kepala. "Sori, Niel. Gue gak mau.” Penegasan Grisa seketika membuat kelas semakin gaduh. Tidak ada di antara mereka yang menduga kalau Daniel yang populer di sekolah itu akan ditolak mentah-mentah oleh Grisa. Tidak mau menjadi perhatian lebih lama, Daniel pergi dari kelas dengan wajah kesal dan marah. Dia merasa dipermalukan di depan banyak orang. Semua usaha dan waktu yang dia habiskan untuk mendekati Grisa terasa sia-sia. Yuria, yang duduk di belakang kelas, segera mengejar Daniel. Sementara itu, teman-teman di kelas masih membicarakan konfrontasi tadi. Grisa melihat beberapa orang sedang mengutak-atik ponsel pintarnya. Bisa dia tebak kalau mereka sedang menyebarkan kejadian tadi ke semua teman-teman mereka. Bahkan mungkin ada yang sudah dalam bentuk video. Sebentar lagi, Grisa dan Daniel pasti akan jadi pembicaraan di seluruh sekolah. Sayangnya, kesialan Grisa belum berakhir. Sepulang sekolah, dia harus menunggu Ganesh yang katanya ada rapat. Ketika dia duduk di dekat pos satpam sekolah, seseorang yang tak terduga muncul. "Ethan?" Grisa mendongak, melihat mantan tunangannya mendekat dengan senyum ramah. “Anjrit! Ini sampah masyarakat mau ngapain di sini?” gumamnya lirih. Kehadiran itu benar-benar membuat perasaan Grisa semakin tidak karuan enegnya. Masih terngiang di kepalanya detik-detik sebelum kematiannya. Wajah menyebalkan Ethan hari itu seakan mimpi terburuk baginya. “Grisa kan? Kita bertemu lagi,” sapa Ethan. Tanpa berdiri dari duduknya, Grisa menatap pria itu dengan bingung. Tentu itu hanya pura-pura. Sebelum ini, Grisa hampir tidak pernah bertemu dengan pria itu. “Saya Ethan, mantan tunangan ibumu. Apa kamu masih ingat?” Grisa mengerutkan dahinya, lalu berkata, “Oh! Yang kemarin nangis di depan Kakek!” Senyum di wajah Ethan mendadak pudar. Dia tidak senang dengan ucapan Grisa yang terkesan menyindirnya. Tapi, tak lama kemudian dia kembali memaksakan tawanya. “Ada apa, Om?” tanya Grisa. “Cuma mau menyapa. Saya ada urusan dengan kepala sekolah di sini,” jawab Ethan. Grisa merasa tidak nyaman. Ada firasat buruk yang muncul di pikirannya. Dia tidak bisa mengabaikan perasaan bahwa ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh mantan tunangannya itu. Namun, dia tetap berusaha bersikap ramah dan tenang, berharap Ganesh segera datang untuk menyelamatkannya dari situasi yang semakin tidak menentu ini. Ethan duduk di sebelahnya tanpa undangan, membuat Grisa semakin waspada. "Bagaimana kabarmu?" katanya dengan nada santai. "Ya, begitulah," jawab Grisa pendek. "Lagi nyoba menyesuaikan diri." “Om paham kalau kamu masih berduka. Tapi, semoga kamu tetap kuat,” Perlahan Grisa memutar bola matanya agar Ethan tidak tahu. Dalam hati dia begitu mengutuk kemunafikan pria itu. Jika bisa, ingin rasanya Grisa merobek mulut sampahnya hingga membusuk. “Om tidak perlu khawatir sama saya. Toh kita tidak ada hubungan apa-apa.” Ethan bisa merasakan keketusan dari nada bicara Grisa. “Bagaimanapun kita hampir menjadi keluarga, mana mungkin Om tidak khawatir.” Grisa tersenyum sinis. Grisa tahu ada sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawatiran mantan tunangan. "Saya baik-baik saja, terima kasih. Dan saya pikir, lebih baik kita tidak berhubungan lagi." "Oh, tentu saja," katanya, mengangkat alis dengan sikap berpura-pura paham. "Tapi, jika ada apa-apa, jangan ragu untuk menghubungi saya." "Terima kasih, tapi saya akan baik-baik saja," jawab Grisa dengan tegas, berharap pria itu akan segera pergi. Ketika Ganesh akhirnya muncul, Grisa merasa lega. Dia segera berdiri dan berlari ke arah mobil tanpa melirik Ethan lagi. Ganesh menyadari ketegangan di wajah Grisa begitu dia mendekat. "Ada apa? Saya tadi dikasih tahu orang suruhan kita kalau Ethan ke sini. Mbak gak diapa-apain kan?” tanya Ganesh dengan nada khawatir. Grisa melirik sekilas ke arah Ethan yang duduk di sebelahnya, “Jalan dulu gih! Males liat Ethan di sini,” jawabnya singkat. Menuruti perintah Grisa, Ganesh pun menyalakan mobilnya. Lalu, Grisa mulai berbicara, “Sumpah kaget banget, Jingan! Tiba-tiba itu orang nongol di sini,” “Mbak gak diapa-apain kan?” tanya Ganesh. Grisa menggelengkan kepalanya, “Untung gak ada apa-apa, sih. Tapi, dia tiba-tiba di sini. Pasti ada apa-apa,” ujarnya curiga. Ganesh mengangguk setuju, "Kita harus lebih berhati-hati. Kalau itu bebegig datang lagi, cepetan bilang ke saya. Juga, lain kali Mbak nungguinnya di dalam saja kalau saya telat jemput. Takutnya ada apa-apa.” “Iya, teledor banget tadi tuh.” Grisa memijat-mijat dahinya. Sial sekali dia hari ini, sudah pelajarannya susah, didatangi Daniel, eh pulangnya malah didatangi Ganesh. “Betewe, detektif bayaran kita masih ngikutin dia kan?” “Tentu saja. Saya pastikan kita tahu tujuan kedatangannya hari ini juga,” Grisa mengangguk, merasa sedikit lebih tenang. Namun, dia tahu hari ini hanya permulaan dari tantangan yang lebih besar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN