Om dan Keponakan??

1089 Kata
Merasa stres dengan banyaknya masalah dalam hidupnya, Grisa memutuskan untuk merefresh pikirannya sebelum belajar. Pikirnya, dia akan melakukan hal yang hampir tidak pernah dia lakukan belasan tahun ini. “Ini beneran kita ke sini, Mbak?” tanya Ganesh begitu memarkir mobilnya. “Lah, kan udah sampai sini. Masa gak masuk.” kata Grisa. “Gini loh, Mbak kan masih pakai baju sekolah. Saya juga masih pakai kemeja kantor gini. Kalau dikira kita… ada macem-macem gimana?” Grisa memperhatikan Ganesh, lalu juga memperhatikan dirinya sendiri. Dia baru ingat kalau sekarang penampilan mereka agak ambigu. “Gapapa, deh. Sesekali pengin juga jalan sama om-om,” putus Grisa. Seketika Ganesh membulatkan matanya, tidak terima dipanggil om-om. Padahal secara jiwa, seharusnya Grisa jauh lebih tua darinya. Mentang-mentang sekarang umur tubuh Grisa tidak kurang dari 18 tahun, malah Ganesh yang dibilang om-om. “Udahlah, pikir keri. Kalau kamu gak sreg, jalannya jauh-jauh aja!” Grisa keluar dari mobil, lalu berjalan mendahului Ganesh. Dengan semangat yang menggebu, Grisa melangkah ke dalam mall. Tidak hanya kaki, mata Grisa juga ikut bertualang menyusuri segala penjuru. Dia begitu takjub melihat pemandangan di hadapannya. Kira-kira sudah hampir lima tahun lamanya Grisa tidak menginjakkan kakinya di mall. Pekerjaannya sebagai CEO dulu benar-benar menguras tenaga dan pikirannya sampai tidak sempat jalan-jalan. Padahal sebelumnya dia sering ke sana sendirian maupun dengan Grisa asli saat kecil. Mata Grisa lalu menangkap beberapa perempuan yang seperti tengah melihat ke arah belakangnya sambil berbisik-bisik. Grisa pun menengok dan mendapati Ganesh yang sudah menyusulnya. Raut wajahnya berbanding terbalik dengan ekspresi para gadis muda yang sedari tadi memperhatikannya. “Dasar om-om populer! Sayang banget, hobinya nonton AV. Ckckck,” batin Grisa. Meskipun begitu, tidak dia pungkiri kalau Ganesh memang lebih dari sekedar good looking. Belum lagi sekarang posisinya di perusahaan sangat menggiurkan. “Liatnya kok jadi sebel, ya?” batin Grisa lagi. Grisa lalu menuju sebuah toko baju. Dia pilih pakaian kasual yang menurutnya paling trendy di sana dan langsung dia bayar. Dia pakai baju itu, lalu kembali ke tempat Ganesh. “Gila! Itu orang udah dikerubungin aja!” gumam Grisa takjub. Segera Grisa mendekati Ganesh lalu menariknya dari tiga perempuan di sekelilingnya. “Kamu kenal mereka?” tanya Grisa yang dijawab Ganesh dengan gelengan kepala. “Lucu, deh. Masa saya dikira seleb gram. Padahal update insta aja jarang,” ujar pria itu. “Ada yang mirip kamu kali, Nesh.” Ganesh mengendikkan bahunya, lalu bertanya, “Mbak Grisa sejak kapan ganti baju?” Dengan mata menyipit Grisa menjawab, “Kamu kesenengan dikerubungi cewek, sih. Makanya gak liat.” “Hah? Siapa yang kesenengan?” sangkal Ganesh, namun Grisa tak meresponnya. Aroma manis dari toko roti tak jauh dari mereka perhatian Grisa. Tanpa ragu, dia membeli beberapa donat berwarna-warni dan secangkir bubble tea dari gerai di sebelah toko roti. “Ah, ini enak banget!” seru Grisa sambil menyantap donat pertamanya. Dia merasa senang bisa menikmati momen sederhana seperti ini. Ganesh yang menemani Grisa, memperhatikan dengan senyum kecil di wajahnya. “Seneng banget ya, Mbak?” “Iya lah! Dulu mana sempet makan beginian,” jawab Grisa sambil menyedot bubble tea-nya dengan antusias. Ganesh menggelengkan kepala, “Terus udah puas belum?” “Belum lah! Baru juga mulai,” Grisa pun kembali menarik lengah Ganesh. Kali ini dia membawa Ganesh ke game center di lantai tiga. Sepuasnya Grisa bermain di sana dan lama-lama Ganesh juga ikutan. “Gila… Tenaga anak muda emang beda!” ujar Grisa yang sudah lebih dari satu jam berada di game center. “Udahan, yuk!” ajak Ganesh yang mulai merasa bosan. “Bentar, tadi lupa mau beli baju lain dulu,” sahut Grisa. Mereka keluar dari wahana permainan menuju butik yang ada di lantai bawah. Dengan pasrah Ganesh mengikuti bosnya itu. Dia menyesal menyetujui keinginan Grisa. Berbeda dengan Grisa yang ekstrovert, Ganesh adalah seorang introvert. Berada di tempat ramai seperti mall terlalu menguras tenaganya. Padahal sebelum menjemput Grisa, Ganesh juga sudah loyo karena pekerjaannya di kantor. “Ini bagus, ya?” kata Grisa sambil memegang dress tersebut ke tubuhnya, mencoba melihat bagaimana tampilannya di cermin. Ganesh mengangguk setuju, “Iya, bagus.” Niat Grisa, dia akan mengenakan dres semi casual itu untuk video cover lagu yang akan dia unggah. Dia ingin memperlihatkan secantik apa Grisa pada para penontonnya. Setelah memilih beberapa pakaian dan aksesoris, Grisa mulai menuju ke kasir. “Bayarin aku dong, Om~” katanya dengan nada manja sambil melirik ke arah Ganesh. Ganesh mendengus, “Kok saya yang bayarin? Kan Mbak yang mau beli, ya Mbak yang bayar, dong.” protesnya. Grisa tertawa kecil, “Jangan pelit, dong! Kan gajinya Om Ganesh udah tambah banyak. Sesekali bayarin aku ya, Om,” Dipanggil dengan sebutan ‘om’ berkali-kali membuat dahi Ganesh berkedut. Wajahnya juga mulai memerah, karena malu. Bisa-bisanya sekarang dia berperan sebagai om-om yang akan membayari keponakannya jajan. Tapi, alih-alih om dan keponakan, Ganesh yakin di mata orang lain dia terlihat seperti om-om genit dan ani-aninya. “Katanya Om pengin bikin aku senang, bahagia, gak sedih…” Grisa menarik-narik ujung lengan baju Ganesh dengan genit, membuat Ganesh semakin malu. Apalagi tatapan pengunjung lain seakan menusuk sum-sum tulangnya. Ganesh mendesah, berusaha menjaga wajahnya tetap datar meskipun rasa malunya sudah sampai ubun-ubun, “Oke, oke. Saya bayar, tapi habis ini udahan, ya.” Grisa tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Ganesh yang benar-benar membayar semua belanjaannya. “Terima kasih, Om Ganesh! Emang Om yang paling ganteng!” katanya sambil mengedipkan mata. Aslinya memang Grisa ingin mengerjai Ganesh saja. Dia ingin melihat ekspresi lucu pria tampan itu dan sekarang dia sudah puas. Sementara itu, Ganesh akhirnya lega, karena akhirnya bisa pulang walaupun harus penuh cobaan. Namun, dalam hati sebenarnya dia cukup senang. Belum pernah selama ini Nia bermanja-manja padanya. Pikirnya, ini tidak terlalu buruk. Ketika mereka keluar dari mall, Ganesh menerima pesan dari detektif bayaran mereka. Wajahnya berubah serius ketika membaca isi pesan tersebut. Grisa yang sedang asyik menikmati es krim berhenti sejenak, merasakan ada sesuatu yang tidak beres. "Ada apa?" tanyanya dengan cemas. Ganesh menghela napas panjang sebelum menjawab, "Informasi dari detektif. Ethan ternyata ada acara di sekolah Mbak Hari. Dia datang untuk penyuluhan kesehatan." Grisa mengernyit, "Lho, dia masih boleh kerja? Kenapa gak diskors aja sih?” gerutunya. “Ini permintaan dari pihak sekolah. Katanya lagi, dia cuma menemani dokter lain yang akan melakukan penyuluhan. Tapi, untuk jaga-jaga, sebaiknya Mbak tidak usah berangkat saja hari itu.” saran Ganesh. Grisa melahap habis es krimnya, lalu bertanya, “Kapan acaranya?” “Senin depan.” jawab Ganesh. Sejenak Grisa terdiam. Pundaknya turun dengan lemas dan berkata, "Gak bisa bolos, Nesh... Hari itu ada ulangan Biologi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN