Sepertinya mereka membisikkan betapa mengenaskannya seorang Tuan Putri Kerajaan Wei yang terungkap identitasnya di dalam rumah b****l. Saat Pengawal Chen memapahku, aku berusaha untuk tidak melihat wajah mereka semua, namun saat sedang berusaha berdiri sekilas aku melihat ekspresi muka Kang dan Kakak Huang, mereka nampak sangat terkejut, begitu juga dengan yang lainnya. Tentu saja hal ini akan mengejutkan mereka karena identitasku bukan hanya seorang wanita yang menyamar menjadi pria tetapi aku juga adalah seorang Tuan Putri Kerajaan Wei. Kudengar beberapa dari mereka berusaha bertanya padaku mengenai apa yang terjadi barusan.
"Lin Hao, jadi kau adalah seorang Tuan Putri Wei?” tanya mereka semua dengan mimik muka terkejut dan rasa penasaran yang tinggi, namun aku tidak dapat menjawab pertanyaan mereka. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Kulihat sekarang mereka semua dalam posisi berlutut dan memberi hormat. Saat sedang memapahku, Pengawal Chen berteriak lagi kepada mereka semua.
"Semua yang ada di dalam ruangan ini kuperingatkan untuk tutup mulut, berpura puralah kalian tidak tahu tentang kejadian hari ini, jika aku mendengar kejadian hari ini diketahui oleh pihak lain, jangan salahkan aku jika kubunuh kalian semua dan kuratakan tempat ini, apa kalian mengerti?" gertak Pengawal Chen dengan nada suara yang tinggi.
"Ka ... kami mengerti Pengawal Chen,” jawab mereka semua.
"Tunggu Pengawal Chen, aku mewakili teman teman meminta maaf untuk kejadian hari ini. Kami sungguh tidak tahu jika Lin Hao adalah seorang wanita terlebih lagi jika dia adalah seorang tuan putri. Kejadian hari ini akan kami simpan rapat rapat. Pengawal Chen tidak perlu kuatir. Jika Pengawal Chen tidak keberatan bolehkah kami tahu siapa nama asli Lin Hao?" tanya Kakak Huang kepada Pengawal Chen.
"Yang berada di hadapan kalian adalah Tuan Putri Xuan Fei Er, apakah itu cukup?" jawab Pengawal Chen dengan nada datar dan ekspresi muka yang dingin.
Semua orang dalam ruangan saling memandang satu sama lain, mereka hanya bisa mengangguk, mereka ketakutan, terlebih lagi para gadis gadis penghibur tadi.
"Terima kasih untuk jawaban dari Pengawal Chen. Kami sungguh beruntung dapat bertemu dengan Tuan Putri Fei Er. Biarkan kami ikut mengawal tuan putri pulang ke Perguruan Dao, sebab hari sudah menjelang malam. Akan lebih aman tentunya jika kita kembali ke Perguruan Dao bersama sama," pinta Kakak Huang kepada Pengawal Chen dengan penuh harap.
"Baiklah, sambil menunggu kalian, sementara aku akan membawa tuan putri ke taman. Kita bertemu disana,” jawab Pengawal Chen.
Aku dan Pengawal Chen berjalan keluar dari rumah b****l menuju taman. Samar samar kulihat dari kejauhan Dong Mu dan Dong Mei berlari kearah kami.
"Dong Mu, Dong Mei, sekarang identitas tuan putri telah terbongkar, kita kembali ke Perguruan Dao, tapi sebelumnya kita tunggu teman teman tuan putri terlebih dahulu, mereka ingin ikut mengawal tuan putri pulang ke Perguruan Dao, kami sepakat untuk bertemu disini,” penjelasan dari Pengawal Chen.
"Hah! .... tuan putri apakah anda baik baik saja?" tanya Dong Mu padaku.
"Umm ... aku tidak apa apa," jawabku dengan suara pelan, karena sehabis kejadian didalam rumah b****l, kepalaku masih sedikit pusing.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi didalam rumah b****l Pengawal Chen? coba jelaskan pada kami," tanya Dong Mei dengan sedikit nada kesal dan penuh rasa ingin tahu.
Dengan menghela nafas panjang Pengawal Chen berusaha menjelaskan secara singkat.
"Seorang wanita penghibur mencoba merayu tuan putri, dia mengira tuan putri seorang pria, namun tanpa sengaja wanita penghibur tadi menyentuh area pribadi tuan putri, spontan mereka berdua ketakutan dan berteriak, jadilah semua orang akhirnya mengetahui jika tuan putri menyamar sebagai pria," jawab Pengawal Chen.
"Lalu kita harus bagaimana selanjutnya?" tanya Dong Mu pada Pengawal Chen.
"Hmmm ... kita harus mengirim berita ini kepada Yang Mulia Kaisar dan menunggu perintah selanjutnya sambil menunggu Guru Liu kembali ke Perguruan Dao. Berarti untuk kedepannya tuan putri tidak perlu memakai pakaian pria lagi," jawab Pengawal Chen dengan mimik muka serius.
Tidak lama kemudian teman teman datang menghampiri kami. Kulihat mereka menatapku. Nampak kecemasan dalam raut wajah mereka. Kurasa malam ini aku akan menjadi lebih pendiam, semuanya tidak akan bisa kembali seperti semula.
"Tuan Putri, Pengawal Chen ... kami datang,” seru mereka dengan tergesa gesa.
"Karena semua sudah berkumpul, mari kita kembali ke Perguruan Dao,” jawab Pengawal Chen.
Kami berjalan bersama kembali ke Perguruan Dao. Jalanan mulai sepi karena hari sudah menjelang malam. Sesampainya di Perguruan Dao, kami semua berpamitan masuk kedalam kamar kami masing masing, namun sebelum itu mereka berusaha menenangkanku.
"Tuan Putri apakah anda baik baik saja? kami pamit dulu. Tuan Putri juga beristirahatlah,” ujar mereka semua seraya beranjak pergi menuju ke kamarnya masing masing.
Sekilas kulayangkan pandang kearah Kang, rupanya dia pun sedang memperhatikanku lalu beranjak pergi. Aku pun berbalik pergi menuju ke kamarku.
"Tuan Putri beristirahatlah, kami semua pamit dulu, jika tuan putri membutuhkan sesuatu panggillah Pengawal Chen, dia akan berjaga di luar kamar," ucap Dong Mu, Pengawal Chen dan Dong Mei seraya beranjak pergi.
Kubaringkan tubuhku sambil berusaha memejamkan mata, sungguh hari yang sangat melelahkan dan memalukan, seharusnya aku bisa saja menolak untuk ikut ke rumah b****l, tapi dengan bodohnya aku malah mengikuti ajakan mereka. Tanpa terasa air mata mengalir di pelupuk mata.
Kang, aku harus segera meninggalkan tempat ini. Aku tidak akan dapat melihatmu lagi untuk selamanya. Aku menangisi kebodohanku hingga akhirnya aku tertidur.
Sementara itu didalam kamar, Kang tidak dapat tidur, hatinya gelisah bercampur gembira, ternyata Lin Hao adalah seorang wanita. Kang menyadari bahwa degup aneh dalam hatinya adalah perasaan sukanya kepada Lin Hao. Dia merasa nyaman ketika berada disisi Lin Hao. Kang merasa inilah takdir yang mempertemukan mereka.
Disisi kamar yang lain Kakak Huang pun masih terjaga, pikirannya berkecamuk tentang bagaimana bisa semua orang disini tidak mengetahui bahwa Lin Hao adalah seorang wanita. Namun disisi lain Kakak Huang merasa puas karena dia dapat bertemu dengan Putri Fei Er, sebab selama ini Kakak Huang hanya mendengar selentingan kabar yang mengatakan kalau Putri Fei Er sangat cantik,
"Ah, besok aku harus memperhatikannya dengan lebih seksama," (gumam Kakak Huang dalam hati).
Disisi lain dari Perguruan Dao :
Kedua kerajaan yaitu Wei Utara dan Qin Selatan mengalami kemajuan ekonomi yang pesat dalam beberapa tahun terakhir, rakyat hidup makmur sejahtera, pajak untuk Kaisar pun tidak mengalami permasalahan, pembangunan dimana mana, rakyat pun bersatu. Konflik yang ada justru datang dari dalam istana itu sendiri.
12 tahun yang lalu Kaisar Xuan Wu dari Kerajaan Wei Utara mengangkat seorang selir yang berasal dari kalangan rakyat biasa lalu memberinya gelar. Nama selir tersebut adalah Selir Lin. Menurut penuturan orang orang di dalam istana dan para saksi mata di rumah b****l, Yang Mulia Kaisar bertemu pertama kali dengan Selir Lin di rumah b****l, ketika itu Yang Mulia Kaisar melihat Selir Lin sedang memainkan kecapi.
Menurut kesaksian, Selir Lin hanyalah seorang pemusik yang diminta untuk tampil di rumah b****l, dia bukanlah wanita yang bertugas melayani para p****************g. Dari pertemuan tersebut Yang Mulia Kaisar jatuh cinta pada Selir Lin. Dari hubungan keduanya lahirlah seorang anak perempuan yakni Putri Yang Ping. Setelah hubungan yang terjalin beberapa tahun tersebut barulah Yang Mulia Kaisar berani membawa Selir Lin masuk kedalam istana, dikarenakan ketatnya peraturan di istana dan terhambatnya restu dari Ibu Suri.
Namun kenyataan yang sebenarnya tidaklah sesederhana penuturan dari orang orang di dalam istana maupun dari saksi mata didalam rumah b****l tersebut. Bahkan beberapa fakta telah dimanipulasi dengan rapi oleh Yang Mulia Kaisar dan Selir Lin dan bahkan oleh Ibu Suri sendiri.
Permulaan kisah :
17 tahun lalu Yang Mulia Kaisar menyamar menjadi seorang rakyat biasa lalu berjalan jalan mengelilingi ibukota, tujuannya tidak lain hanyalah untuk mengetahui kehidupan rakyatnya yang sesungguhnya, sang Kaisar hanya ingin mengetahui keluh kesah dari rakyatnya. Karena Yang Mulia Kaisar sedang dalam penyamaran tentu tidak membawa pengawal dalam jumlah banyak, beliau hanya membawa beberapa pengawal kepercayaannya saja.
Pada waktu itu di ibukota memang sedang gempar perihal perampok yang mengganggu keamanan warga, bahkan para perampok tidak segan untuk membunuh dan memperkosa. Tentunya hal ini sangat meresahkan warga ibukota, akan tetapi pihak keamanan kerajaan belum dapat menangkap para perampok tersebut, karena mereka terkenal lihai bersembunyi.
Saat Yang Mulia Kaisar dan para pengawalnya sedang melewati area pemukiman yang sepi, mereka diserang oleh kawanan perampok tersebut, bahkan jumlah kawanan perampok lebih banyak dari jumlah pengawal Yang Mulia Kaisar. Karena ketidakseimbangan jumlah tersebut, pihak Yang Mulia Kaisar kalah telak, Yang Mulia terluka dan hampir meninggal ditangan para perampok. Untung karena kecerdikan Yang Mulia, beliau berpura pura meninggal, sehingga Yang Mulia ditinggalkan begitu saja dipinggir jalan oleh para perampok.
Saat dalam keadaan sekarat, Yang Mulia ditolong oleh seorang petani dan putrinya yang kebetulan sedang melewati jalan tersebut. Yang Mulia dibawa kerumah mereka, diobati dan dirawat lukanya hingga Yang Mulia sembuh dan siuman. Pada waktu Yang Mulia siuman, beliau melihat putri petani tersebut yang sedang mengantarkan makanan kepadanya, disitulah Yang Mulia Kaisar jatuh hati kepadanya. Bak gayung bersambut, putri petani tersebut pun jatuh hati kepada Yang Mulia. Selama proses pemulihan, mereka pun merenda cinta, hingga berjanji sehidup semati.
Saatnya tiba bagi Yang Mulia untuk kembali ke istana setelah sekian lama menghilang. Yang Mulia berjanji akan kembali untuk memboyong putri petani tersebut ke istana dan menjadikannya Permaisuri. Beliau bahkan berjanji untuk membujuk Ibu Suri agar merestui mereka.
Setelah Yang Mulia sampai di istana, beliau segera menghadap Ibu Suri lalu menyampaikan perihal kejadian yang menimpa dirinya saat berkeliling di ibukota, hingga dirampok dan diselamatkan oleh seorang petani dan putrinya. Beliau juga menceritakan perihal kisah cintanya dengan putri petani tersebut. Selesai mendengar penuturan dari Yang Mulia Kaisar, Ibu Suri menjadi gusar dan tidak senang, karena sesuai perjanjian dengan Kerajaan Qin, Yang Mulia Kaisar harus menikah dengan Putri Qin yakni Tuan Putri Xiao Wen.
Ibu Suri berusaha memikirkan sebuah cara untuk menyingkirkan putri petani tersebut, dilain pihak Ibu Suri menekan dan memaksa Yang Mulia Kaisar untuk tetap menikahi Putri dari Kerajaan Qin demi hubungan diplomatis antar kedua kerajaan. Dengan berat hati Yang Mulia Kaisar menyetujui pernikahan tersebut. Kerajaan Wei pun segera menyiapkan barang barang mewah sebagai seserahan lamaran untuk dibawa ke Kerajaan Qin. Maka berangkatlah sejumlah rombongan besar kekaisaran Wei menuju Kerajaan Qin untuk prosesi lamaran dan pernikahan antara Yang Mulia Kaisar Xuan Wu dengan Tuan Putri Xiao Wen.
Pada hari yang telah ditentukan berangkatlah rombongan Kerajaan Wei menuju Kerajaan Qin. Perjalanan ini memakan waktu cukup lama hingga 5 hari. Selama rombongan dalam perjalanan menuju Kerajaan Qin, kesempatan ini dimanfaatkan oleh Ibu Suri untuk menyingkirkan putri petani tersebut yang tidak lain bernama Lin Xi. Rupanya selain Ibu Suri, Yang Mulia juga memanfaatkan kesempatan ini untuk menemui Lin Xi. Sayangnya Ibu Suri bergerak lebih cepat. Ibu Suri mendatangi langsung rumah Lin Xi dan keluarganya dengan membawa sejumlah pasukan kerajaan.
"Ibu Suri tiba,” seru pengawal kerajaan di depan pintu rumah Lin Xi.
Dengan tergesa gesa Lin Xi segera membukakan pintu, dengan rona muka bahagia, Lin Xi menyangka bahwa Ibu Suri mungkin sudah menyetujui hubungannya dengan Yang Mulia Kaisar.
"Hormat pada Yang Mulia Ibu Suri, Lin Xi menghadap Yang Mulia Ibu Suri, apakah gerangan yang membawa Ibu Suri datang kerumah hamba?" tanya Lin Xi dengan suara pelan namun tetap dalam posisi membungkuk dan memberi hormat.
"Kita berbicara didalam saja,” jawab Ibu Suri dengan mimik muka dingin dan suara tegas.
Lin Xi mengikuti langkah Ibu Suri masuk kedalam rumahnya, lalu pelayan pribadi Ibu Suri langsung menutup pintu rumah Lin Xi.
"Aku sudah dengar tentangmu dari Yang Mulia Kaisar. Dia terlihat sangat bahagia ketika sedang membicarakanmu, dapat kulihat jika dia sedang jatuh cinta. Tapi dalam hal ini seharusnya kau menyadari bahwa kalian berdua berbeda, Yang Mulia Kaisar adalah titisan Naga, sedangkan kau hanyalah seorang rakyat biasa. Untuk kau ketahui, jodoh bagi Yang Mulia sudah ditentukan sejak semula, hanya seorang tuan putri lah yang pantas untuk mendampingi Yang Mulia. Bahkan untuk posisi selir sekalipun akan diambil dari seorang wanita yang mempunyai darah keturunan bangsawan,” penjelasan Ibu Suri sambil menatap tajam Lin Xi yang sedari tadi hanya membungkuk diam dan tidak berani menatap Ibu Suri.
Ibu Suri melanjutkan penjelasannya.
"Lin Xi, kau adalah wanita baik baik. Kau cantik, pintar dan menarik. Aku yakin banyak pria diluar sana yang akan menyukaimu, tidaklah sulit bagimu untuk mencari seorang suami".
Yang Mulia Ibu Suri menghampiri Lin Xi, memegang tangannya dan berkata.
"Aku mohon lupakanlah Yang Mulia Kaisar. Aku akan memberimu 500 tail emas dan pergilah menjauh dari ibukota. Jangan biarkan Yang Mulia Kaisar menemukanmu, menghilanglah selamanya, jangan pernah menampakkan dirimu lagi dihadapannya".
Sambil menangis Lin Xi berusaha menyampaikan sesuatu kepada Ibu Suri.
"Ibu Suri, hamba tahu diri kalau hamba tidak pantas bagi Yang Mulia Kaisar, tapi hamba tidak dapat berhenti mencintainya, andaikan waktu dapat diputar kembali, seandainya hamba tahu bahwa dia adalah seorang Kaisar, hamba pun ingin memilih untuk tidak mencintainya. Permasalahannya adalah hamba telah terlanjur menyerahkan hati dan diri hamba pada Yang Mulia Kaisar. Hamba ...... “.