Setelah menempuh 2 jam perjalanan akhirnya dari kejauhan kami melihat keramaian kota. Banyaknya orang yang berlalu lalang, bermacam macam toko di sisi kiri dan kanan jalan. Bervariasinya makanan yang dijajakan di pinggir jalan. Tidak begitu jauh dari area pertokoan kami melihat pasar yang menjajakan berbagai macam sayuran, ikan dan buah buahan.
Tidak hanya sampai disitu, dengan berjalan sekitar 30 meter, kami menemukan sebuah taman yang ditumbuhi berbagai macam bunga yang beraneka warna. Ini benar benar indah. Dengan rasa antusias yang tinggi aku mengajak Dong Mei dan Pengawal Chen menemani aku berbelanja, kami masuk ke dalam toko pakaian wanita, aksesoris rambut, dan makanan makanan kering. Setelah puas berbelanja, kami kembali berkumpul dengan teman teman yang lainnya di taman.
Karena kami telah menempuh jarak yang begitu jauh, akhirnya kami benar benar kelaparan dan kehausan, lalu kami berkeliling mencari rumah makan terdekat. Akhirnya pilihan jatuh di salah satu rumah makan yang menjual mie dan pangsit kuah. Tanpa banyak tanya lagi kami semua langsung memesan, tidak lama kemudian pesanan kami datang, kami langsung menyantapnya dengan lahap, akhirnya kenyang juga.
Setelah membayar makanan yang kami pesan, kami bergegas keluar dari rumah makan, ternyata hari sudah malam, dan terlihat banyak orang membawa lampion lampion yang sungguh indah. Dan kami melihat setiap rumah di sekeliling kami sudah memasang dan menyalakan lampion sebagai penerang di teras rumah mereka. Lalu kami berjalan mendekati mereka.
“Permisi pak, apakah kalian menjual lampion lampion ini?” tanya ku pada salah satu orang yang berlalu lalang di sekitar kami.
“Lampion lampion ini gratis, kalian boleh memilikinya tanpa dipungut bayaran sepeserpun. Satu jam lagi dari sekarang lampion lampion ini akan diterbangkan ke langit, sebagai peringatan ucapan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Silahkan kalian ambil lampion yang kalian sukai,” jawab orang tersebut sembari menunjukkan kepada kami satu kereta dorong penuh dengan lampion lampion beraneka warna.
“Terima kasih atas kebaikan bapak. Kami akan mengambil lampion lampion ini sekarang,” ujar kami semua serentak.
“Sama sama anak muda. Silahkan ambillah model dan warna yang sesuai dengan keinginan kalian,” jawabnya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, masing masing dari kami langsung mengambil sebuah lampion, aku memilih sebuah lampion yang berlukiskan sepasang kupu kupu dengan latar berwarna merah muda. Kuumpamakan kupu kupu itu adalah Kang dan aku. Sambil menunggu aba aba untuk menerbangkan lampion ke langit, kami menyalakan sumbu yang ada di dalam lampion, sekarang lampion ini terang. Lalu terdengarlah aba aba untuk segera menerbangkan lampion lampion ini ke langit. Kulepaskan tali lampion yang sedari tadi kupegang dan terbanglah lampion tersebut. Benar benar indah, langit malam menjadi terang. Kulihat ribuan lampion di langit. Rasanya aku ingin menyaksikan pemandangan indah ini seumur hidupku. Kulihat semua orang bergembira dan menikmati Festival Lampion ini.
Setelah puas menikmati Festival Lampion, kami berjalan menuju ke taman kota, lalu kami semua duduk disitu, tiba tiba salah seorang teman kami memberikan sebuah ide gila.
Entah apa yang merasuki pikiran temanku, idenya benar benar gila, dia mengajak para pria untuk mampir ke rumah b****l.
Dia berkata tujuan dari ajakannya adalah :
yang pertama sebagai ajang untuk bersenang senang, lalu yang kedua sebagai bagian dari mencari pengalaman dan pengetahuan dalam hal berhubungan seksual, yang ketiga ini adalah kesempatan ketika kami semua bisa mengunjungi kota.
Oh tidakkk ... apa alasanku untuk menghindar dari ajakan ini? kalau aku menghindar mereka mungkin akan berpikir aku bukanlah pria atau aku bukanlah pria yang normal. Tapi kalau aku ikut mereka, aku sungguh takut, aku hanya tahu sedikit info tentang rumah b****l. Mungkin aku bisa minta bantuan pada Pengawal Chen. Lalu aku mendekati Pengawal Chen.
"Pengawal Chen, bagaimana ini? aku harus ikut atau tidak?" tanyaku dengan wajah memelas yang disertai dengan rasa cemas tingkat tinggi.
"Ehmm ... itu semua tergantung tuan muda. Aku hanya seorang pengawal. Bukankah tuan muda sudah tahu resiko dari setiap pilihan. Mungkin kita sudah tidak bisa menghindar lagi. tuan muda jangan kuatir, aku akan selalu melindungi tuan muda apapun yang terjadi. Ikutlah bersama mereka, aku akan berjaga jaga diluar ruangan. Berteriaklah memanggil namaku ketika tuan muda menghadapi masalah, aku akan segera datang,” jawabnya sambil berusaha menenangkan hatiku.
"Ta ... ta ... tapi aku tidak tahu seperti apa didalam rumah b****l itu. Aku takut,” jawabku dengan hati yang masih diliputi kecemasan.
"Jangan takut tuan muda. Aku akan berjaga diluar ruangan, Dong Mu akan menjaga Dong Mei disini. Tuan Muda hanya perlu berteriak, aku akan langsung datang dan membereskan semua masalah. Kita sudah menyamar sampai sejauh ini, kita harus meneruskan penyamaran ini. Tuan Muda tidak bisa minum alkohol, maka dari itu jangan menyentuh alkohol. Tetaplah diam di ruang duduk rumah b****l, nikmati permainan kecapi dan jangan masuk kedalam kamar kamarnya. Apakah kau sudah paham tuan muda?” ujarnya dengan mata menatap tajam padaku.
"Aku paham Pengawal Chen. Aku percaya padamu," jawabku dengan sedikit agak tenang, berusaha untuk tidak berpikir yang aneh aneh.
Kupalingkan muka kearah Kakak Huang dan Kang, kulihat mereka bersikap tenang dan biasa biasa saja, tiba tiba pikiran aneh melintas didalam kepalaku (jangan jangan Kang sudah terbiasa masuk kedalam rumah b****l ... ah aku tidak sudi bahkan untuk memikirannya sekalipun), lamunanku dikagetkan oleh suara disebelah telingaku, rupanya Kang berbisik ke telingaku.
"Lin Hao, apakah kau ikut bersama kami?"
"Ah ... ha ... ha ... ya tentu saja aku ikut, apakah kau dan Kakak Huang ikut juga?” tanyaku dengan sedikit gugup.
"Ya kami berdua ikut. Lin Hao apakah ini pertama kalinya kau kerumah b****l?" tanyanya masih dengan rasa penasaran yang tinggi. Namun aku mengartikannya seperti seorang hakim yang sedang menginterogasi terdakwa.
"Sejujurnya memang ini pertama kalinya aku kerumah b****l. Aku cukup penasaran juga seperti apa didalam,” jawabku dengan raut muka memelas dan mata berbinar.
"Ehm ... Lin Hao, tetaplah berada didekatku dan Kakak Huang. Tenang saja, kita akan baik baik saja. Ha ... ha ... ha ... raut mukamu tampak seperti orang yang hendak pergi perang. Seharusnya kau dapat melihat raut mukamu sendiri, sungguh lucu,” ujarnya sambil tertawa terbahak bahak.
"Itu tidak lucu Kang,” jawabku dengan nada sedikit agak kesal.
"Baiklah ... baiklah ... maaf Lin Hao, aku hanya berusaha untuk menghiburmu dan membuatmu tertawa, sepertinya ini saatnya kita berangkat ke rumah b****l. Ayo Lin Hao, jangan sampai kita tertinggal dari yang lain,” ajaknya dengan semangat, itu membuatku penuh dengan tanda tanya dan perasaan tidak rela jika Kang dekat dekat dengan wanita penghibur yang akan kami temui di rumah b****l nanti.
Kemudian aku berpamitan pada Dong Mu dan Dong Mei, aku berpesan kepada mereka agar berhati hati.
"Dong Mu dan Dong Mei, tunggulah disini, kalian berhati hatilah. Jika kalian lapar belilah makanan,” pesanku pada mereka berdua.
"Tuan Muda, anda juga berhati hatilah di dalam sana. Tuan Muda jangan mengkhawatirkan kami,” jawab mereka berdua dengan nada agak cemas menurutku.
"Pengawal Chen, jagalah tuan muda,” pinta Dong Mu dan Dong Mei pada Pengawal Chen.
"Ya ... aku tahu tugasku. Kalian tidak perlu kuatir,” jawab Pengawal Chen dengan muka tanpa ekspresi.
Kulambaikan tangan pada Dong Mu dan Dong Mei seraya berjalan menjauh, kuikuti langkah Pengawal Chen dan teman teman yang lain. Dari taman menuju rumah b****l kami cukup berjalan sekitar 15 menit. Sungguh membuatku terhenyak ternyata seperti inikah rumah b****l itu. Rumah yang begitu besar, luas, dan terang dan juga ramai dikunjungi oleh kaum pria tentunya. Di balkon atas berjejer wanita wanita cantik yang memakai pakaian agak terbuka, dan riasan muka yang tebal dan gaya yang sangat menggoda sambil memanggil manggil setiap pria yang lewat di depan rumah b****l tersebut. Aku sungguh ingin lari dari kenyataan ini, suara panggilan mereka menggelikan.
"Tuan tuan yang tampan, ayo masuklah kedalam, kami dapat memberikan kehangatan kepada kalian, kami jamin kalian akan terpuaskan,” rayu salah satu dari wanita wanita genit tersebut yang melambai lambaikan tangannya kearah kami.
"Ah nona nona cantik ... kami datang,” jawab teman temanku dengan mimik muka menggelikan.
Lalu kami berjalan masuk kedalam rumah b****l, ternyata rumah b****l ini sangat luas, ditengah tengah ruangan tepatnya diatas panggung ada beberapa wanita yang sedang mempertunjukkan kebolehan mereka dalam permainan kecapi, terlihat banyak meja dan bangku disekeliling panggung, para pelayan yang hilir mudik mengantarkan makanan dan minuman ke meja para tamu. Di lantai dua kulihat sepertinya terdiri dari ruangan ruangan yang lebih pribadi, tapi entah apakah di bagian yang lebih kedalam akan ada ruangan lagi atau tidak.
Tidak berapa lama kemudian seorang wanita paruh baya mendekati kami.
"Ah ... selamat datang tuan tuan, apakah yang dapat aku bantu?" tanyanya pada kami sambil melirik genit.
"Berikan masing masing dari kami seorang gadis cantik dan kami akan naik kelantai 2, apakah diatas ada ruangan kosong?" tanya salah seorang temanku pada wanita genit tadi.
"Ah baiklah baiklah, aku segera menyiapkan gadis gadis yang terbaik untuk kalian semua. Lantai 2 kosong, kalian bisa menempatinya,” jawab wanita tersebut.
"Ha ... ha ... ha ... bawakan kami juga makanan yang enak dan arak”
"Siap tuan tuan ... silahkan naik dan selamat menikmati"
Lalu kami semua berjalan menuju ke lantai 2. Kami memilih ruangan yang paling luas, dan kulihat interior ruangan tersebut cukup bagus, terdapat banyak lukisan yang terpajang di dinding, serta ruang santai yang terletak ditengah tengah ruangan. Aku berjalan berkeliling menyusuri ruangan tersebut, ternyata didalam ruangan tersebut terdapat banyak kamar kamar. Langsung saja terlintas dalam pikiranku hal hal tidak senonoh yang akan dilakukan oleh teman temanku.
Tidak lama kemudian masuklah para gadis gadis cantik yang berjalan dengan genit langsung mencari mangsanya satu per satu. Sedetik kemudian pemandangan yang terpampang dihadapanku adalah para pria dan wanita telah berpasangan satu persatu, akan tetapi dipojok ruangan tersisa 1 wanita, tiba tiba wanita tersebut berjalan kearahku sambil melambai lambaikan tangannya.
"Tuan Muda, anda sangat tampan, aku sudah siap untuk melayani tuan muda, ayo kita masuk kedalam kamar tuan muda," rayu wanita tersebut dengan lirikan mata yang genit.
"A ... a ... kita duduk disana saja, tidak perlu masuk kedalam kamar." ajakku pada wanita tersebut dengan hati berdebar debar.
Kulihat Pengawal Chen menghampiriku kemudian berbisik ditelingaku.
"Tuan Muda, aku berjaga didepan pintu, berteriaklah jika kau membutuhkanku"
"Ya aku mengerti Pengawal Chen,” jawabku.
Lalu aku mengambil tempat duduk di sudut kanan meja yang terdapat di tengah ruang santai, didepanku duduk Kakak Huang dan Kang beserta gadis gadis yang menemani mereka, aku tidak sanggup menatap mereka, sejujurnya aku ingin berteriak mengatakan kalau aku cemburu dan aku adalah wanita, tapi apa daya, aku dalam penyamaran. Untuk mengalihkan perhatian aku berpura pura untuk menikmati makanan sambil sesekali minum arak. Ketika tangan ini sedang menuangkan arak, tiba tiba gadis yang bertugas menemaniku berkata.
"Tuan Muda, biarkan aku yang menyuapimu"
"Ahh tidak usah, aku bisa makan sendiri," jawabku sambil berjaga jaga.
"Tuan Muda, ijinkan aku mencium dan menyentuhmu. Kulitmu sangat halus, bibirmu benar benar menggoda meski fisikmu tidak seperti pria pada umunya. Tuan, sentuh dan ciumlah aku juga. Aku mulai terangsang tuan,” ujarnya dengan suara mendesah dan kurasakan sentuhan tangannya di punggung dan pahaku.
Aku tidak menyukai suaranya yang mendesah. Kudorong tangannya menjauh dariku.
"Maaf Nona, aku ... aku sedang tidak ingin ditemani, biarkan aku sendiri," jawabku dengan perasaan berdebar debar.
"Tapi kami semua diminta oleh nyonya untuk menemani kalian semua, sebab kami semua sudah dibayar dan sudah tugas kami untuk menemani tamu yang datang,” jawabnya dengan lugas.
"Kau boleh menemaniku tapi jagalah perilakumu, nona,” jawabku
"Ah ha ... tuan muda, jangan jangan kau masih perjaka yah?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Kurasakan badanku merinding, aku ingin segera keluar dari sini, tiba tiba salah satu temanku berceloteh sambil tertawa terbahak bahak.
"Lin Hao, ha ... ha ... ha ...apakah kau takut? jangan takut, jika kau malu masuklah kedalam kamar”
"Aku tidak takut, aku hanya ingin sendiri," jawabku berusaha membela diri.
"Baiklah ... baiklah ... kalau begitu aku dan yang lainnya akan kekamar dulu, kami sudah tidak sabar ingin segera bermain," ujarnya dengan terburu buru.
Aku hanya bisa diam, bersabar, menunggu mereka hingga selesai "bermain". Sepertinya yang duduk di ruang santai ini hanya tinggal Kakak Huang, Kang dan aku serta 3 gadis tentunya. Aku menatap kearah Kang, kulihat dia hanya membaca buku sambil makan sepanjang tadi, begitu juga dengan Kakak Huang, berarti aku tidak sendirian.
Tapi sepertinya gadis disebelahku sangat tidak sabar dan penasaran untuk menyentuhku. Dia meraba punggungku, membelai rambutku sambil sesekali mencium dan menjilat telingaku. Dia terus saja merayuku, aku berusaha menjauh darinya. Dia lalu mendorongku untuk merebahkan diri diatas lantai, aku berusaha berontak namun seperti tidak ada tenaga yang dapat kukeluarkan. Tenagaku kalah darinya. Tiba tiba tangannya turun kearah pangkal pahaku, dan dia menyentuh "area pribadiku". Aku berteriak, dia pun berteriak. Aku ketakutan, dia pun ketakutan.
"Apa yang kau lakukan, kubilang untuk tidak menyentuhku. Menjauhlah!! kumohon menjauhlah .... jangan dekati aku,” pintaku dengan nada memohon, badanku menggigil, aku benar benar takut dan tidak dapat berpikir karena identitasku sudah ketahuan.
"Ka ... kau ... se .. se ... seorang wanita. Tolong ada seorang wanita," teriak wanita tersebut dengan suara lantang.
Sambil meringkukkan badan karena ketakutan, samar samar aku melihat Pengawal Chen masuk kedalam ruangan sambil mengancam semua orang agar menjauh dariku.
"Harap semuanya menjauh dari tuan putri, siapapun yang berani mendekati ataupun menyentuhnya akan mati hari ini,” ujarnya dengan penuh amarah dan dia mengacungkan pedangnya ke leher gadis yang menyentuhku tadi.
Lalu aku memanggil Pengawal Chen dengan suara bergetar
"Pengawal Chen, jangan sakiti mereka, bawa aku keluar dari sini,” pintaku.
Kulihat teman temanku berlari keluar dari kamar dan berkerumun keheranan, sambil berusaha mendengar penjelasan dari Pengawal Chen.
Pengawal Chen mendekatiku dan berusaha memapahku keluar, aku berusaha berdiri namun badanku masih menggigil, aku malu, identitasku terbongkar sudah.
Kudengar mereka semua berbisik .............
Apa yang mereka bisikkan? ......