Chapter 7

2079 Kata
Terdengarlah gelak tawa yang riuh dari semua teman teman. Ternyata mereka memandang kearahku dan sedetik kemudian mereka mulai menertawaiku. Mungkin aku terlihat konyol di mata mereka semua. Tapi ini adalah pertama kalinya aku menangkap ikan. Aku tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagia ini. Sepertinya pipiku tiba tiba merona merah, aku sungguh merasa malu sekali. "Ha ... ha ... ha ... selamat Lin Hao , apakah ini pertama kalinya kau menangkap ikan?" tanya seorang temanku kepadaku. "Umm .... iya, aku belum pernah menangkap ikan sebelumnya,” jawabku malu malu. "Kalau begitu tangkaplah sebanyak mungkin Lin Hao,” ucap salah seorang temanku yang lainnya. "Baiklah ... aku akan berusaha,” jawabku penuh semangat. Tanpa sengaja aku memandang kearah Kang, kulihat dia tersenyum kearahku, kubalas senyumannya dengan kedua tanganku yang masih memegang ikan tadi, rasanya sedikit takut untuk memegangnya, lalu kumasukkan ikan tersebut kedalam wadah yang telah disediakan. Dengan perasaan amat bahagia aku berusaha untuk menangkap lebih banyak ikan. Kudengar teriakan Dong Mei dari sebelahku. "Tuan Muda aku berhasil menangkap ikan" "Bagus Dong Mei, ayo tangkap lebih banyak,” jawabku, ya ini memang pertama kali dalam hidup kami bermain di dalam sungai, maka tidaklah heran jika Dong Mei pun menjadi sangat heboh. Sepertinya aku merasa seseorang berdiri didekatku, kuarahkan pandangan kesebelahku ternyata itu adalah Kang. Dia mengajakku untuk menangkap ikan bersamanya, lebih tepatnya ke arah tengah sungai. "Lin Hao, maukah kau menangkap ikan bersamaku?” tanyanya penuh antusias. "Ya, aku mau,” jawabku tanpa ragu. Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta, sudah tahu kalau aku harus hati hati dan agak menjauh darinya, kenapa sekarang aku malah mengiyakan ajakannya. Tapi kapan lagi kesempatan ini akan datang untuk kedua kalinya. Lalu kami berdua berjalan menuju ke tengah sungai, dengan sigap dan perhatian penuh pandangan kami terfokus pada ikan ikan yang sedang berenang dibawah kaki kami. Tanpa menunggu lama, kami langsung berusaha menangkap ikan ikan tersebut, sulit juga ternyata bahkan untuk menangkap 1 ekor ikan dengan tangan kosong. Beberapa saat kemudian terjadilah kejadian yang entah harus dikatakan kebetulan yang baik atau tidak baik, tapi ini terjadi tanpa sengaja, kakiku terpeleset, tubuhku menjadi tidak seimbang lalu aku jatuh kearah Kang, terdengar seperti suara dentuman yang cukup keras yang membahana ke sekitar kami. BYARRRR ..... Aku merasa tubuhku menabrak dan jatuh keatas tubuh Kang. Muka dan seluruh tubuh kami masuk kedalam sungai, sambil berusaha untuk bernafas Blurppp .... blurppp, kurasakan tangannya memeluk pinggangku, aku berusaha untuk berdiri, untung saja sungai itu hanya sebatas pinggang. Aku berusaha menyeimbangkan tubuhku, kubantu Kang untuk keluar dari dalam air, kami berusaha untuk bernafas dan menenangkan diri. "Lin Hao, kau tidak apa apa?" tanya nya padaku. "Aku baik baik saja hanya sedikit kaget, maafkan aku Kang,” jawabku. "Tidak apa apa Lin Hao, yang penting kau tidak terluka,” ujarnya penuh perhatian. Ohhh aku tersentuh, namun aku ingat , badanku tidak boleh terkena air, atau ikatan dadaku bisa saja lepas seperti hari kemarin. Dengan spontan aku menatap dadaku, kulihat penampakan dadaku masih tetap rata, meski aku basah kuyup, untung saja ikatan dadaku tidak lepas, tapi untuk berjaga jaga sebaiknya aku menutupi dadaku menggunakan tangan sambil berpura pura menggigil dan berteduh ke tepian sungai sampai badanku cukup kering. Kuputuskan untuk berpamitan kepada Kang sambil memikirkan alasan yang tepat untuk menghindarinya .... ah ha aku dapat ide. "Maaf Kang, aku tidak dapat menemanimu menangkap ikan lagi, kasihan Pengawal Chen sendirian duduk disana, aku akan menemani Pengawal Chen duduk di tepi sungai. Apakah kau tidak keberatan?” tanyaku. "Tidak apa apa Lin Hao, aku tidak akan memaksamu. Tapi bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?" tanyanya kepadaku. "Boleh Kang, silahkan kau bertanya,” jawabku. "Ehmm ini .... maaf Lin Hao, pertanyaan ini mungkin sedikit menyinggung masalah pribadimu, ini mengenai kain yang kemarin malam jatuh diatas kakimu, untuk apakah kain itu Lin Hao?” tanyanya padaku. Aku terperanjat, tidak kusangka dia masih memikirkan hal itu. Apa yang harus kujawab, andai Pengawal Chen berada di dekatku, aku harus segera mencari ide. "Oh itu .... aku kemarin sakit punggung, jadi pelayanku memakaikan kain tersebut untuk membantuku meringankan sakit punggungku, memangnya kenapa Kang?" tanyaku penasaran. "Tidak apa apa Lin Hao, aku hanya penasaran saja. Oh ya kudengar dari yang lainnya katanya besok mereka semua hendak mengunjungi kota disekitar sini untuk menikmati Festival Lampion. Apakah kau mau bergabung bersama kami?" tanyanya. "Aku mau ... aku mau ... Aku belum pernah melihat Festival Lampion. Aku akan mengajak Pengawal Chen, Dong Mu dan juga Dong Mei. Besok sebelum berangkat jangan lupa menjemputku Kang,” jawabku. "Ha ... ha .... ha ... tentu saja. Sudah cepat pergi sana ke tepi sungai temani Pengawal Chen, kelihatannya Pengawal Chen tidak menyukai acara memancing,” ujarnya. “Ya dia tidak terlalu suka acara acara seperti ini. Aku pergi dulu Kang. Lanjutkan menangkap ikannya,” jawabku seraya berlalu pergi. Rasanya tidak sabar menunggu hari esok, aku ingin lihat seperti apa penampakan kota didekat sini. Sepertinya hari sudah menjelang sore, kami semua bersiap siap untuk kembali ke Perguruan Dao, dan rupanya ikan yang kami tangkap di sungai sangat banyak, masing masing dari kami membantu membawa wadah yang berisi beberapa ekor ikan. Dengan semangat yang masih membara kami berjalan pulang bersama sama, rasanya sangat menyenangkan, aku tidak pernah mengalami hal ini dalam hidupku. Meski awalnya agak kecewa karena ayah mengirimku keluar dari istana, tapi sekarang aku dapat mengambil hikmah dari semuanya. Kang dan Kakak Huang berjalan didepanku, kupikir mereka lebih tinggi dari teman teman yang lainnya, selain itu badan mereka memang tegap dengan punggung yang lebar pula, sepertinya yang dikatakan oleh Pengawal Chen memang benar, mereka bukanlah orang biasa. “Andai aku hanya rakyat biasa dan bukan seorang tuan putri mungkinkah segalanya akan menjadi lebih mudah?” (gumamku dalam hati). Tapi sudahlah bukankah lebih baik menikmati saat saat indah ini sebelum aku dipanggil kembali ke istana. Tidak berapa lama kami sampai di Perguruan Dao, kami menaruh ikan ikan tersebut di tengah halaman, beberapa orang murid menyiapkan kayu bakar, Dong Mei dan Dong Mu pergi ke dapur menyiapkan bumbu bumbu yang diperlukan untuk membakar ikannya, sementara Pengawal Chen berbaring didepan kamarku. Aku ikut membantu membersihkan halaman dan menyiapkan nasi serta mangkok untuk makan. Setelah semua persiapan selesai, kulihat Kang, Kakak Huang dan dua orang lainnya mulai membakar ikan ikan tersebut. Wangi harum tercium kemana mana, membuat kami semakin lapar. Tidak lama kami pun mulai menikmati makan malam, meski makanan ini jauh dari kata mewah tapi aku sangat bahagia. Terdengar tawa bahagia dari semua orang di sekelilingku. Suasana makan kali ini beratapkan langit malam dan bertaburkan bintang bintang, tiba tiba aku merindukan ibu dan Kakak Xu. Sedang apa mereka sekarang? apakah mereka merindukanku? tanpa disadari aku mulai menangis dan Dong Mei menyadari hal tersebut. "Tuan Muda, apakah anda baik baik saja?" tanyanya dengan rasa penasaran yang tinggi. "Iya aku hanya merindukan ibu dan Kakak Xu. Menurutmu apakah mereka merindukanku juga?" tanyaku dengan tatapan penuh harap. "Tentu saja tuan muda, mereka sangat menyayangi tuan muda. Tuan Muda jangan khawatir, kita tidak akan lama berada di Perguruan Dao ini, jangan bersedih lagi tuan muda, ayo senyumlah,” ucapnya sambil mencoba menghiburku. "Baiklah,” jawabku. Disela sela acara makan malam, tiba tiba salah seorang teman maju ke tengah tengah kami dan memberitahu acara yang akan diadakan besok. "Perhatian teman teman sekalian, maaf mengganggu acara makan malam kalian, seperti yang sudah kalian ketahui sebelumnya bahwa kelas kita masih libur, bagaimana jika besok kita mengisi kekosongan hari dengan berjalan jalan mengunjungi kota yang berada di dekat sini, sambil menikmati Festival Lampion dan melihat kebudayaan sekitar, apakah kalian setuju?" tanyanya pada kami semua. "Ya kami setuju ... horeee ..... ,” jawab kami semua dengan suara lantang dan semangat yang membara. Setelah acara makan malam selesai, kami kembali ke kamar masing masing. Aku meminta Dong Mei untuk menyiapkan air hangat untukku, rasanya tidak nyaman jika langsung tidur tanpa mandi terlebih dahulu. "Tuan Muda cepat air mandinya sudah siap,” teriak Dong Mei dari arah kamar mandi. "Ya," jawabku. Lalu aku mulai berendam dan membersihkan diri, lalu memakai pakaian tidurku dan naik keatas tempat tidur. Pengawal Chen, Dong Mu dan Dong Mei berpamitan juga untuk beristirahat. Tanpa menunggu terlalu lama aku sudah masuk kealam mimpi. Pagi harinya seperti biasa aku dikejutkan oleh suara ayam berkokok di luar kamar dan suara Dong Mei yang memanggil namaku sambil mengetuk pintu. "Tuan Muda bangunlah sudah pagi,” ujarnya dengan penuh semangat. "Ummm ... sebentar lagi saja, aku masih ingin tidur,” jawabku dengan mata masih setengah terpejam dan tubuh yang masih ingin bermanja manja diatas tempat tidur. "Ayolah bangun tuan muda, aku akan pergi ke dapur menyiapkan makan pagi dan menyiapkan air hangat untukmu" "Iya ... iya ... pergilah" “Ya ampun Dong Mei tidak bisakah dia membiarkan aku untuk bangun agak siang,” (gumamku dalam hati). Lagipula kami semua akan pergi ke kota nanti siang, bukan pagi hari seperti ini. Bukankah murid yang lainnya pun pasti sedang bermalas malasan juga. Tapi tidak ada salahnya aku bangun lebih awal dan bersiap siap, setidaknya aku dapat membaca buku dulu di perpustakaan. Tidak lama kemudian Dong Mei masuk kedalam kamar, memberi salam kepadaku, lalu menaruh makanan yang sudah dia masak sambil mengingatkan aku lagi "Tuan Muda bersiap siaplah, aku segera datang dengan satu ember penuh air hangat,” ujarnya. "Ya ... ya ... ,” jawabku lesu. Hanya selang beberapa menit, Dong Mei sudah masuk lagi kedalam kamar dengan membawa satu ember penuh air hangat, aku bergegas melangkah menuju bak mandi, melepas pakaian tidurku dan berendam, ternyata nyaman sekali berendam di pagi hari. Seperti biasa selesai mandi, kami berempat yaitu Pengawal Chen, Dong Mu, Dong Mei dan aku makan pagi bersama. Keheningan yang tercipta selama proses makan pagi kemudian terpecah oleh suara dari Pengawal Chen. "Tuan Muda, tetaplah berjalan bersamaku selama di kota nanti, jangan memisahkan diri, anda tidak pernah tahu keadaan seperti apa diluar sana. Jangan lengah. Kita semua harus tetap berjalan berbarengan, apakah kalian sudah paham maksudku?" tanyanya pada kami semua dengan wajah datar dan tanpa ekspresi. "Kami paham Pengawal Chen" Lalu aku menyuruh Dong Mei membawa uang yang cukup banyak agar kami bisa berbelanja selama dikota nanti. Setelah selesai sarapan, aku menuju perpustakaan. Begitu aku sampai di depan pintu perpustakaan, kulihat Kang juga berada di dalam perpustakaan. Aku gugup namun cukup senang. Kulihat sepertinya Kang sedang berkonsentrasi membaca buku. Aku datang menghampirinya. Dia segera menyadari keberadaanku "Oh Lin Hao ... kau juga mau membaca buku?" " Iya ... untuk mengisi waktu sampai siang nanti, oh ya ... buku apa yang sedang kau baca Kang?" tanyaku dengan mimik muka penasaran. "Ini buku tentang taktik di medan perang. Buku apa yang hendak kau baca Lin Hao?” "Umm .... aku belum tahu, aku pergi melihat lihat buku dulu yah" "Baiklah ... setelah kau dapat bukunya, duduklah disini bersamaku, temani aku yah,” katanya dengan penuh kelemah lembutan. "B .... b .... baiklah,” jawabku dengan muka merona merah, semoga dia tidak menyadarinya. “Tanpa kau suruh pun aku akan duduk di dekatmu,” (gumamku dalam hati). Setelah beberapa saat aku mendapatkan buku yang hendak k****a. Aku bergegas duduk disamping Kang. Kami membaca buku bersama sambil mengobrol, tidak kusangka dia akan bertanya tentang keluargaku. " Lin Hao, bolehkah aku tahu apakah kau anak tunggal atau kau memiliki saudara? berapa saudara yang kau punya?" tanyanya penasaran. "Oh .... aku punya 2 saudara. Seorang kakak laki laki dan seorang kakak perempuan,” jawabku singkat. "Bagaimana denganmu Kang?" "Aku punya banyak saudara, agak sulit untuk menceritakannya satu persatu, yang pasti yang sudah kau tahu adalah Kakak Huang, dan satu lagi adalah seorang adik laki laki namanya Shi Yin. Kami bertiga sangat dekat sejak kecil. Oh ya apakah aku mengganggumu membaca?" "Oh tentu saja tidak Kang. Kau bisa bertanya apapun lagi kepadaku. Aku tidak keberatan" "Sepertinya sudah cukup. Silahkan lanjutkan membacanya Lin Hao. Aku akan melanjutkan membaca" "Baiklah" Pagi hari itu kami menghabiskan waktu dengan membaca banyak buku, tanpa terasa hari sudah siang. Kudengar Dong Mei memanggilku dari depan pintu masuk perpustakaan. "Para tuan muda sepertinya sudah saatnya berangkat, para murid yang lain sudah siap,” seru Dong Mei kepada kami berdua. "Oh ... baiklah kami segera kesana” Lalu kami membereskan buku buku yang sudah kami baca ke tempatnya semula, dan bergegas keluar menuju kamar kami masing masing untuk mengambil perlengkapan yang akan kami bawa ke kota. Kemudian kami semua berkumpul ditengah halaman dan mulai berjalan kaki menuju ke kota terdekat. Perjalanan ini membutuhkan waktu sekitar 2 jam dengan berjalan kaki, meski terdengar melelahkan tapi pasti rasa lelah ini akan terbayar nanti. Aku penasaran dengan penampakan kota disekitar sini. Apakah kotanya cukup bagus? seperti apakah festival lampion itu sebenarnya? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN