"Mbak, kau tidak apa-apa?" tanya Mas Denny membuyarkan lamunanku. Sekuat hati menahan rasa sakit dan penghinaan yang mereka torehkan. Aku menoleh, dan mengangguk pelan. Mas Denny tampak memandangku lekat Sedangkan anak-anakku dan Bu Wandi sudah masuk ke dalam saat Riska mengomel tak jelas padaku. "Tarik nafas dalam-dalam, Mbak. Coba tenangkan hatimu dulu," ucapnya kemudian. Aku kembali terduduk di teras. Aku tahu tujuan Mas Denny dan Bu Wandi kesini adalah untuk mengambil pesanannya. Mas Denny memesan aneka aksesoris dengan ciri khas Indonesia, batik. Rencananya, ia akan mengadakan bazar dan pameran untuk memperkenalkan produknya serta hasil karya handmade dengan tema Cintai Produk Indonesia. Sementara Bu Wandi juga memesan beberapa aksesoris hijab untuk teman-teman arisannya. "Nih min

