Seharian setelah menangis dan tidak masuk kelas, akhirnya Laura keluar juga dari ruang UKS. Suasana sepi karena memang anak-anak sekolahnya sudah pulang sejak 20 menit lalu. Hal itu memang Laura sengaja lakukan, dia tidak ingin bertemu dengan Dominus atau bahkan Liam. Kakinya menapak, menyusuri koridor yang benar-benar sepi. Napasnya berembus lega karena rencananya berjalan mulus. Namun, begitu badannya memasuki ruang kelas, Laura dibuat enggan untuk melangkah ke bangkunya. Bangku yang biasanya kosong kini sudah terisi sosok Liam yang juga menatapnya. Entah kena angin apa sampai laki-laki itu merespon balik dirinya. Cukup lama Laura diam di depan pintu kelasnya, sampai akhirnya Liam yang memilih menghampiri. Punggung kanan laki-laki itu membawa tas miliknya sendiri dan tangan kirinya m

