“Oke, ceritakan padaku apa saja kejadian yang membuat wajahmu berubah drastis seperti ini?” Marlo menautkan alisnya. “Hanya satu. Dan Valecia alasannya.” “Woah! Hebat sekali gadismu itu ya,” goda Marlo diselingi tawa kecil. “Sangat,” timpal Vano, tersenyum miring. Marlo masih tertawa, namun kali ini lebih terdengar meragu. Lelaki itu berdeham memandang Vano dari balik bulu matanya. “Apa kau merasa kecewa, Van?” Dengan begitu hati-hati ia melontarkan pertanyaan itu. Tentu saja Marlo tidak ingin menyinggung perasaan Vano. “Untuk apa?” Sebelah alis lelaki itu terangkat. Marlo memutar matanya. “Kau tahu maksudku, Van.” “Aku tidak peduli. Bagaimana pun dia tetap Valecia, gadis yang kucintai.” “Cool. Bahkan dia telah mengubahmu menjadi ‘Pangeran Bermulut Manis’, huh?” Marlo bersiul se

