"Tolong lepas!" sentak Amindita. Suaranya tidak melengking, namun ada getaran ketegasan yang luar biasa hingga membuat Praditya menghentikan langkahnya seketika. Praditya berhenti, namun cekalannya pada pergelangan tangan Amindita tidak mengendur sedikit pun. Ia memutar tubuh, menatap Amindita dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara protektif, marah, dan sisa-sisa keguncangan setelah menghadapi ibunya. "Mau marah? Marah saja, Amindita. Teriaklah jika itu membuatmu merasa lebih baik," tantang Praditya dengan nada rendah. Namun, Amindita tidak meledak. Ia tidak mengomel atau membalas dengan kata-kata kasar. Wanita itu justru terdiam, menatap lekat tepat ke dalam manik mata suaminya. Tatapan yang begitu tenang, namun menyiratkan luka yang sangat dalam hingga membuat Pradit

