Dengan jalan yang tertatih, Yuki masih terlihat lemah, menahan sakit. Akhirnya Kenzi menggendongnya sampai ke mobil, dan segera membawanya ke rumah sakit.
"Masaki, tolong kau cari keberadaan Fujiko, habisi dia, dan buang mayatnya di area penakaran buaya milikku, karena dia otak dari penculikan Yuki."
"Siap Tuan Kenzi laksanakan."
Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, Kenzi memeluk erat Yuki dengan kasih sayang, Yuki pun merasa sangat terlindungi dengan sosok Kenzi sang raja mafia.
"Maafkan aku yang tidak mengikuti aturanmu, aku yang meminta Nakamura untuk tidak mengawalku, karena aku belum terbiasa dengan pengawalan."
"Sssttt sudahlah, semua yang sudah terjadi tidak bisa terulang lagi, ini pelajaran untukmu, jangan suka membantah perkataanku, namun aku juga minta maaf, semua berawal karena aku yang mengajakmu tinggal di rumahku, tanpa aku sadari nyawamu menjadi taruhannya, jika nanti sudah tiga tahun, kau bebas jika ingin pergi, aku tidak akan pernah menghukummu lagi."
Yuki pun tertidur lelap di dalam dekapan Kenzi, sesampainya di rumah sakit, Kenzi meminta pada dokter segera memberikan penanganan yang terbaik untuk Yuki.
Tiga tahun kemudian, selesai sudah semuanya, namun saat Yuki ingin berpamitan pada Kenzi, dia tidak melihat keberadaan Kenzi di White Mansion. Ya karena Kenzi sedang menahan rasa sakitnya, di rumah keduanya, ditemani Excel dokter kepercayaannya.
Kenzi hanya meninggalkan sepucuk surat untuk Yuki, yang berisi :
(Tugasmu sudah selesai, pulanglah, dan semua hutang biaya sekolahmu sudah aku anggap lunas, aku sudah siapkan tabungan untuk kuliahmu, pakailah uang itu, aku tahu kau ingin menjadi seorang dokter, aku harus pergi dulu, kita tidak perlu bertemu lagi) isi surat Kenzi untuk Yuki.
Setelah membaca surat itu, Yuki menemui Masaki dan memintanya mengantar ke tempat di mana Kenzi berada.
"Pak Masaki, katakan dengan jujur, di mana Tuan Kenzi?"
"Untuk apa Nona Yuki ingin menemui Tuan Kenzi lagi, semua sudah selesai."
"Tidak, aku harus berpamitan dengannya secara langsung, jika kau tidak mau mengantarkanku, maka aku akan mengambil sebilah pisau dan mengakhiri hidupku di sini."
"Jangan nona, baiklah kalau begitu saya antarkan nona ke sana."
Dua jam perjalanan, akhirnya tiba di rumah kedua milik Kenzi. Yuki memaksa masuk ke dalam rumah itu, dan mencari keberadaan Kenzi, yang kala itu hanya tertidur di ranjang, dalam keadaan lemah dengan selang infus di tangannya.
"Maafkan saya Tuan Kenzi, dia mengancam akan bunuh diri, jika tidak diantarkan menemui tuan."
"Sudahlah biarkan saja, kau pergi saja, berikan aku waktu untuk bicara pada Yuki."
"Siap Tuan Kenzi."
Yuki segera memeluk tubuh Kenzi yang tengah berbaring di ranjang.
"Kau kenapa begitu saja menghilang, tanpa pamit, kau berkata tidak perlu menemuimu lagi, apa maksudmu!"
"Auuu...jangan keras - keras memeluknya Yuki sayang, untuk apa kita bertemu lagi, hukumanmu sudah selesai kan!"
"Kau kenapa Tuan Kenzi, apa kau sakit."
"Sudahlah jangan panggil tuan lagi ya, sini mana jari manismu, ini cincin untukmu, pakaikan juga di tanganku ya."
"Jadi kau mau dipanggil apa!"
"Kenzi saja, sudah jangan cerewet, kau ini kenapa begitu khawatir padaku, kau sudah aku lepaskan, pulanglah, untuk apa menemuiku lagi, waktuku dalam hitungan jam saja, tetapi aku bahagia, selama ini kau sudah mengurusku, dan kau sudah berubah menjadi gadis baik."
"Apa maksud dari ucapanmu, umurmu hanya dalam hitungan jam!"
"Aku menahan sakit kepala selama ini, itu karena masih tersisa satu peluru di kepalaku, yang tidak bisa diambil dengan mudah, jika aku memaksa untuk mengambilnya dalam artian tindakan operasi, maka semua memori akan hilang, aku tidak mau mengalami hal itu".
"Jadi selama ini kau menahan sakit tanpa memberitahukanku."
"Aku ini lelaki sejati, pantang untukku menjadi lemah, kedua aku tidak mau membebanimu, kau sudah lebih dewasa sekarang, lebih cantik, namun impianku untuk memiliki keluarga bersamamu semua hanya sebuah mimpi, tetapi aku sudah bahagia, karena sempat mengenalmu dan hidup bersamamu, walaupun waktu kita sebentar, tetapi aku nyaman bersamamu, maafkan aku yang mungkin bukan lelaki baik - baik".
"Tidak boleh kau pergi meninggalkanku, kau lupa akan menikahiku secara resmi, semua tertunda karena proses penyembuhan mentalku pasca kejadian beberapa tahun itu."
"Waktuku sudah tidak banyak Yuki, cincin itu sudah menandakan hubungan kita, terima kasih sudah menjadi bagian cerita hidupku."
"Tidak kau harus operasi, kau harus sembuh."
"Kau mau aku tidak mengingatmu lagi, itu akan melukaimu nanti."
"Tidak masalah jika memang kau akan melupakanku, asalkan kau hidup, aku tidak ingin kehilanganmu, selama pengobatanmu, aku akan sekolah kedokteran, saat aku lulus, kau jemput aku ke Amerika, aku pastikan ingatanmu akan kembali lagi. Lihat gambar pantai ini, aku tunggu kau di sini nanti, saat aku lulus sekolah kedokteran, namun jika memang kau tidak datang, aku tidak akan memaksamu untuk menjemputku."
"Baiklah kalau itu keputusanmu, aku akan melakukan tindakan operasi, tetapi aku tidak bisa janji, apakah ingatanku akan secepat itu pulih."
"Tidak apa - apa, yang terpenting kau harus sembuh, aku akan menunggumu sampai kapan pun Kenzi."
Setelah mendengar nasehat Yuki, akhirnya Kenzi dibawa ke rumah sakit terbaik di luar negeri untuk melakukan operasi pengangkatan sisa peluru di dalam otaknya. Sementara itu Yuki pergi ke Amerika untuk melanjutkan sekolah kedokterannya.
Empat tahun kemudian, Yuki tengah berhasil menyelesaikan sekolah kedokterannya jurusan spesialis syaraf, Yuki masih menunggu kedatangan Kenzi dari mulai acara wisuda sampai selesai belum juga terlihat. Saat menjelang siang, dia menuju sebuah pantai, melihat laut yang begitu indahnya, sampai malam tiba, langit sudah mulai gelap, Yuki masih berharap Kenzi akan datang menemuinya dan mengingat semua kenangan mereka.
"Hmm, mungkin hanya khayalanku saja, berarti aku dan Kenzi memang tidak berjodoh, namun kalau dia sudah bahagia, aku ikut bahagia, aku putuskan tidak perlu kembali ke Tokyo, karena jika aku kembali ke sana dan bertemu dengan Kenzi dalam keadaan dia masih belum bisa mengingatku, tentu itu akan membuatku sedih, ya sudah aku pulang saja kembali ke apartemenku, aku doakan untukmu Kenzi, semoga kau sudah bahagia di sana." ucap Yuki saat ingin meninggalkan pantai itu.
Selang beberapa menit, dia melihat sebuah mawar merah yang menyelip di antara pepohonan yang ada di pantai itu. Dan nampak Kenzi keluar dari balik pohon itu dengan wajah tampannya.
"Heii ..gadis cerewet, ratu biang onar, calon dokterku, selamat ya kau sudah lulus, dan sudah tidak lagi membuat onar."
"Aisshhh menyebalkan, sejak kapan kau ada di situ, Jocker."
"Aku baru saja tiba sore tadi, aku sudah mendengar semuanya." ucap Kenzi yang melangkah mendekat ke arah Yuki dan memeluk erat Yuki
"Ini mawar untukku."
"Ya, tetapi ada satu hal, yang harus kau ketahui, aku bukanlah lagi Kenzi yang dulu, semua bisnis ilegalku sudah aku tutup, semua aku lakukan karena aku ingin memiliki keluarga yang utuh bersamamu, aku ingin hidup normal Yuki sayang."
"Lalu siapa yang meneruskan?"
"Aku serahkan semuanya pada Masaki, biar dia yang mengolahnya, karena aku sudah tidak mau lagi kehilanganmu."
"Terima kasih bunga mawarnya indah, aku sangat berharap akan merekah seperti cinta kita."
"Apa cinta kita! Coba ulangi lagi, jadi kau sudah bisa mencintaiku. Tetapi aku sudah tidak sekaya dulu, hidupku sudah lebih sederhana."
"Aku sudah jatuh cinta padamu, saat kau datang menyelamatkanku untuk kedua kalinya, terima kasih, aku tidak perduli tentang kekayaanmu, yang selalu aku rindukan pelukanmu ini, aroma parfummu."
"Hmm, gadis nakalku sekarang sudah menjadi dokter , terima kasih karena sudah sudi menungguku. Aku juga selalu mencintaimu, aku berperang empat tahun ini, berusaha mengingat semua memoriku, walau pun rasanya sungguh sakit, namun aku lawan semua karena tujuan akhir hidupku adalah memiliki keluarga yang utuh bersamamu."
"Ya sudah kita kembali ke Tokyo."
"Ya tetapi bukan ke White Mansion, tetapi rumah sederhana, suasana baru."
"Tidak perlu membahas rumah, yang terpenting aku masih bisa berada di pelukannya hangatmu."
"Ya aku pun sangat menyayangimu melebihi nyawaku sendiri, terima kasih juga sudah menerima semua duniaku, dan rela menungguku selama ini."
"Lalu apa kita pulang ke Tokyo masih memakai jet pribadimu?"
"Ya kalau semua kendaraan masih lengkap, hanya saja usaha ilegal milikku semua sudah aku hibahkan ke Masaki, yang tersisa sekarang hanya Golden University dan Golden property saja."
"Sudah tidak apa - apa, nanti aku juga akan buka klinik, ya tentunya minta tambahan modal darimu, jika masih ada sisa tabungan uang gelapmu hehehe."
"Tenang saja, semua tabungan untuk masa depan kita, tetap aman, bahkan sampai keturunan ke tujuh."