Enam tahun sudah berlalu, Yuki dan Kenzi juga belum dikaruniai buah hati semenjak enam tahun mereka menikah. Awal konflik pun selalu terjadi di antara mereka, tatkala Yuki sering menginap di klinik miliknya setiap dia dan Kenzi sedang berselisih paham.
"Permisi Tuan Kenzi, ada Mr Masaki di luar."
"Ya, bawa dia ke ruang tamu ya dan siapkan minum."
"Baik tuan." jawab salah satu asisten rumah tangga Kenzi
Kenzi pun menemui Masaki dan nampak mereka saling berbicara serius.
"Heii Masaki, bagaimana kabarmu dan kabar usaha yang sudah aku limpahkan, apakah berjalan dengan baik?"
"Mereka semua masih ingin Tuan yang memimpin bukan saya , lalu sebenarnya Tuan ada apa memanggil saya ke sini, bagaimana dengan kabar nyonya Yuki."
"Hmm, aku memanggilmu karena sepertinya aku akan kembali ke duaniaku yang dulu, Yuki dan aku sudah sulit untuk bersama lagi, sepertinya dia sudah tidak mencintaiku, dia lebih memilih pasien - pasiennya. Saat aku butuh dia, dia lebih mendahulukan pasiennya , kami sudah sering berselisih paham, dan setiap kami bertengkar, Yuki selalu jarang lagi pulang."
"Tuan harus sabar dalam menghadapi nyonya Yuki kita semua tahu dia jauh lebih muda kan usianya dari tuan, tetapi saya sangat yakin tidak mungkin nyonya Yuki tidak mencintai tuan, karena saat dulu saja dia rela hampir menghilangkan nyawanya kalau dia tidak bisa bertemu dengan tuan".
"Aku sadar terkadang tidak bisa mengontrol emosiku, itu karena aku terlalu cemburu dan sangat takut kehilangan dia."
"Tuan jangan pernah melespaskannya, ingat cinta tuan dan nyonya sangat kuat, jangan sampai tuan menyesal. Ya sudah begitu saja, saya pamit undur diri tuan, karena nanti siang ada transaksi, saya dan semua tim masih ingin tuan yang memegang usaha ini."
"Ya sudah nanti aku pikirkan".
Dua jam kemudian, suara mobil Yuki terdengar di halaman rumah Kenzi, namun Kenzi tidak menghiraukan kedatangan Yuki, tatapannya dingin walau hasrat hatinya ingin memeluk erat Yuki. Mereka dalam satu kamar saling tidak bicara , hanya tatapan dingin tak sehangat dulu.
"Hmm aku harus tugas ke Rumania, ada sahabatku di sana membutuhkan tenaga medis, ya walaupun aku tahu, hubungan kita sedang kurang harmonis, tetapi kita masih suami istri, aku harus tetap meminta ijin padamu."
"Oh silahkan saja itu kan duniamu, aku tidak akan lagi mengganggumu, aku pun mulai malam ini tidak akan tinggal di rumah, aku akan pergi tidak perlu mencariku lagi , karena mungkin aku tidak akan kembali lagi, aku sadar diri, mungkin kau sudah tidak lagi menyayangiku, aku tidak ingin lagi memaksamu."
Tiba - tiba tangan Yuki melingkar erat di pinggang Kenzi. Air mata Yuki mulai menetes deras di kemeja putih Kenzi.
"Maafkan aku, mungkin aku terlalu sibuk dengan dunia kedokteranku , aku selalu mengabaikanmu, aku justru berpikir kau yang sudah tak lagi menginginkanku, aku tidak pernah sedikit pun berhenti mencintaimu, sejahat itu kah pikiranmu, aku mohon jangan pergi, tetapi jika memang kau tetap dingin padaku, selalu salah paham terhadapku, aku sudah tidak tahu lagi bagaimana cara menjelaskan padamu, duniaku berhubungan dengan banyak nyawa seseorang, aku sudah disumpah".
"Ya itu selalu menjadi alasanmu, karena bagimu pasien lebih penting dariku , jadi untuk apa aku berada di sisimu lagi jika kau sudah tidak menganggapku penting bagimu".
Genggaman erat yang semula memeluk pinggang Kenzi terlepas , tiba - tiba terdengar suara , Yuki pingsan.
"Yuki.... kamu kenapa, maafkan aku jika memang kata-kataku menyakitimu. Bangun sayang kamu kenapa, aku tidak pernah berhenti menyayangimu, bahkan aku merasakan sakit saat melihatmu menangis seperti ini."
Kenzi memberikan minyak aromaterapi, selang setengah jam, Yuki terbangun , dan memeluk erat lagi tubuh Kenzi.
"Maafkan aku Ken."
"Sssttt sudahlah, aku di sini yang salah, seharusnya aku tahu akan resiko duniamu, aku pun terus belajar , dengan melihat sikapmu seperti ini, aku akhirnya menyadari kau masih sangat mencintaiku, maafkan aku ya, mungkin aku terlalu takut kehilanganmu."
"Aku tidak akan lagi egois, aku memutuskan untuk berhenti menjadi dokter , sesak dadaku setiap hari karena melihatmu bersikap dingin padaku."
"Aku hanya manusia biasa yang juga sering buat salah, kamu itu akan selalu menjadi kesayanganku, aku pergi karena aku harus kembali ke duaniaku yang dulu".
"Tidak! Aku tidak ijinkan kau pergi, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. Dan kau tidak boleh kembali lagi ke duniamu, apa kau tidak pernah memikirkan perasaanku, jika sampai kau dalam bahaya, bagaimana nasibku."
"Heii gadis nakal yang sudah menjadi wanitaku sekarang ini, apa kamu sungguh - sungguh masih mengkhawatirkanku hmm."
"Kau ini jangan pernah menggodaku. Ya pastilah aku takut kehilanganmu, kau tahu seminggu aku di klinik selama itu pula aku tidak memikirkan diriku sendiri, aku malas makan, malas minum dan tidak tidur - tidur."
"Siapa yang memintamu bertindak bodoh seperti itu, kau pikir aku tidak khawatir, setiap membuatmu menangis hatiku teriris."
"Lalu mengapa kau tidak menjemputku pulang kau malah ikut diam dan selalu diam jika kita berselisih paham."
"Aku diam bukan tidak perduli padamu, melainkan aku menghindari kesalahan pahaman lagi. Sudahlah ya aku minta maaf ya gadis nakalku, sini peluk aku lagi"
"Kau ini selalu menyebutku gadis nakal, aku ini sudah dewasa dan sudah menjadi dokter. Menyebalkan, kamu lah yang seharusnya memelukku, kau tidak tahu rasanya aku sangat merindukan bahumu ini."
"Hehehe, ya ya, sini maafkan aku ya, I selalu menyayangimu melebihi nyawaku sendiri, hufftt sedih banget sich , kasian gadis nakalku aku buat terluka , maafkan aku yah, jangan pernah berpikir aku tidak mencintaimu, sayang dan cinta ini tidak bisa lagi diukur, kamu itu sudah menjadi nyawaku sayang, aku hanya lelaki biasa yang terkadang lepas kendali saat meluapkan emosi, tapi rasa sayang dan cinta ini tidak pernah berkurang tidak pernah."
"Hmm, itu kopermu bagaimana?"tanya Yuki yang masih berada dalam pelukan erat Kenzi
"Bagaimana apanya, ya jika kau tidak mengijinkanku pergi, aku akan tetap di sini bersamamu".
"Langkahi dulu mayatku jika kau mau kembali ke duniamu".
"Apaan sich, melihatmu menangis saja hatiku sudah tersayat, apalagi melihatmu tidak ada lagi di dunia, lebih baik aku mati juga. Aku hanya ingin menua bersamamu, seandainya pun Tuhan panggil, lebih baik aku saja yang dipanggil lebih dulu."
"Tidak! Aku ingin selalu bersamamu, sampai Tuhan memanggilku, maafkan aku ya Ken, seharusnya aku tidak seperti ini."
"Sudahlah, aku di sini yang salah, maafkan aku yang jauh dari sempurna, aku hanya trauma akan kehilangan, jadi membuatku terlalu cemburu yang berlebihan. Hmm ya sudah aku mau ke ruang kerjaku dulu, masalah tugasmu ke Rumania untuk menjadi dokter sukarela, silahkan saja jika niatmu ingin membantu menyelamatkan banyak nyawa orang, aku tidak akan melarangmu lagi."
"Hmm, aku batalkan saja, aku tidak mau sampai ada wanita lain yang merebutmu dariku."
"Kau ini ya, mana bisa aku terpikat wanita lain hatiku sudah terkunci dan kuncinya kau yang memegangnya, sudah pikiranmu jangan negatif, aku bukanlah lelaki seperti itu."