BAB.4 Suara Tembakan

1257 Kata
Sesampainya di acara tersebut, semua mata para pengusaha tertuju melihat fokus Kenzi yang tengah membawa gadis belia, namun mereka hanya tersenyum tidak berani menanyakan siapa gerangan gadis yang tengah digandeng oleh Kenzi. Ya Kenzi adalah pengusaha kaya raya yang cukup disegani oleh para kolega bisnisnya. Saat acara pembukaan berlangsung, tiba - tiba terdengar suara tembakan yang mengarah kepada Mr Lim, yang saat itu sedang memulai pembicaraannya, sontak kondisi acara malam itu berubah menjadi mencekam, karena beberapa suara tembakan terdengar, lampu di dalam gedung itu pun mendadak mati, Yuki yang saat itu baru saja mengambil minuman, dia ketakutan berlari, membuat Kenzi panik mencari keberadaannya. Setelah para pengawal Kenzi datang, semua aman terkendali lagi, lampu pun kembali dinyalakan, terlihat seperti sebuah sabotase. Sementara itu, Yuki bersembunyi di sebuah ruangan, tersadar dia ada di dalam sebuah toilet, dia ketakutan melihat suara tembakan yang bertubi - tubi, selang beberapa menit dia mendengar langkah sepatu, Yuki semakin takut, tubuhnya gemetar dan keningnya penuh keringat. Namun rasa takut Yuki menghilang saat mendengar Kenzi memanggil namanya. Pintu toilet satu persatu dibuka Kenzi, nampak Yuki masih menunduk ketakutan, seketika Kenzi melepaskan jasnya untuk menghangatkan Yuki. "Ssttt tenanglah ini aku, ayo kita pulang, keadaan sudah aman, acara sementara ditunda." "Aku takut!" "Ya maafkan aku ya, seharusnya aku tidak perlu mengajakmu tadi, apa kau ada yang terluka, jika ada aku obati di rumah ya." "Aku tidak terluka, namun hanya syok melihat suara tembakan." "Ya ..sudah jangan panik ya, anak buahku sudah mengamankan lokasi, kita pulang sekarang ya, tenanglah kau aman bersamaku." Sesampainya di White Mansion, Kenzi mengantarkan Yuki ke kamarnya, memberikannya selimut. "Ya sudah sekarang istirahatlah, besok kau tidak perlu ke sekolah dulu, aku buatkan teh hangat dulu ya." "Tidak, aku tidak mau teh, aku masih takut, khawatir kita diikuti seseorang." "Sudahlah, kau aman sekarang, ini rumahku, jangankan manusia, hantu pun tidak berani masuk, karena jika ada yang berani masuk dan menerobos pengamananku, maka sama saja mereka menggali kuburan sendiri, sudah kau rehatlah dulu, aku buatkan teh hangat biar kau lebih santai, jangan pernah dipikirkan lagi ya, di sini kau aman." "Sebenarnya ada apa, kenapa di acara itu, bisa ada serangan tembakan?" "Kau yakin mau tahu, nanti aku jelaskan, tetapi satu hal pesanku, jika kau sudah tahu nanti, jangan pernah kau bicara pada siapapun." "Ya, aku bisa menjaga rahasia." Selang beberapa menit, Kenzi masuk kembali dengan membawa secangkir teh gingseng untuk Yuki. "Yuki, ini teh gingsengnya, minumlah selagi hangat, biar kau lebih tenang." "Ya terima kasih tuan." "Serangan itu ditujukan untuk Mr Lim, karena dia baru saja memenangkan tender, aku tahu siapa musuhnya." "Tuan tahu siapa otak dibalik penyerangan tembakan itu?" "Yuki, Mr Lim itu kolega sekaligus klienku juga, dia sering memakai jasa pengamananku, aku ini sebenarnya bukan lelaki baik - baik, itulah sebabnya aku belum berani menikah dan membentuk keluarga." "Lalu mengapa kau sempat berkata ingin menikahiku." "Pernikahan kita tidak akan dipublikasikan kau tenang saja, karena aku tidak mau kau terlibat dengan masalahku, duniaku ini sangat berat." "Lalu semua kekayaan ini, apakah hasil kerja kerasmu sendiri." "Ya namun bukan bisnis bersih, aku menjalankan bisnis - bisnis ilegal, seperti obat - obatan terlarang, persenjataan ilegal dan pembunuh bayaran, untuk itu aku membangun Golden School untuk menutupi bisnis ilegalku di luaran, apa sekarang setelah mendengar semua kebenarannya, kau takut denganku?" "Hmm, tidak, hanya saja aku seperti bermimpi, yang aku tahu cerita mafia itu hanya di sebuah film, ternyata aku sekarang mengalaminya sendiri, aku tidak takut denganmu, tetapi suara tembakan yang aku takutkan, kau pasti di luaran banyak musuh." "Ya tentu sangat banyak, aku menjalani bisnis ini, karena aku dendam dengan masa kecilku, yang selalu direndahkan karena tidak memiliki apa - apa, sampai suatu ketika kedua orang tuaku meninggal, aku tidak sengaja bertemu dengan salah satu gembong mafia, dia lah yang mengangkatku menjadi anaknya, karena anaknya meninggal di tangan musuhnya, dia mengajakku setiap dia ingin bertransaksi bisnis ilegalnya, dari situlah saat aku mulai tumbuh remaja dia secara perlahan melepaskanku untuk aku menjalankan bisnis - bisnis ilegalnya, namun usianya tidak panjang, dia meninggal karena memiliki sakit lambung, dan semua ini diwariskan untukku." "Lalu tuan tidak ada niat untuk berhenti dari dunia yang banyak mengancam bahaya ini?" "Tidak semudah itu Yuki, jika kau sudah terjun ke dunia gelap, kau sudah terjebak dengan semua itu, tidak mudah untuk berhenti dari dunia yang sudah membuatku memiliki kekuasaan ini." "Ya seperti orang yang sudah terbiasa hidup di dunia kelam, maka untuk keluar dari semua itu pasti butuh proses yang sangat panjang." "Hmm, tetapi jangan sampai ya, kau terjun ke dunia kelam apapun, cukup sudah kau menjadi biang onar di sekolah, jangan pernah kau menyentuh barang - barang haram, ataupun mencoba masuk ke dunia yang aku jalani ini, besok pagi aku berangkat ke Beijing, kemungkinan aku lusa baru pulang, ingat kau istirahatlah, tidak perlu pergi ke sekolah dulu, masalah pelajaran nanti akan aku minta asistenku untuk mengirimkannya padamu, jangan nakal, jangan pernah keluar rumah, semua fasilitas sudah tersedia, jika kau menginginkan sesuatu, ada banyak anak buahku di sini." "Tuan mau pergi ke Beijing, pasti ada urusan bisnis ilegal ya." "Ya, tetapi urusan lain, kau tidak perlu tahu, tugasmu hanya sekolah saja, dan bekerja untukku di sini. Ya sudah istirahatlah, jika ada apa - apa teriak saja, kamarku ada di sebelah." "Besok apakah boleh aku pergi ke toko buku, aku bosan tidak ada komik di sini." "Ya sudah silahkan, tetapi tidak pergi sendiri, harus dengan supirku ya." "Sekali saja ijinkan aku pergi sendiri tuan, aku bisa jaga diri." "Tidak! Kau ini masih gadis SMA tidak pernah tahu di luaran sana banyak bahaya yang mengancammu, aku sudah janji dengan kedua orang tuamu , saat kau bertugas denganku, kesalamatanmu menjadi tanggung jawabku, sudah jangan membantah, sepulang aku dari Beijing, kita urus semua pernikahan kita, dan ingat jangan lagi kau kenakan pakaian - pakaian pendekmu itu, berpakaianlah yang sopan, ini ada uang pakailah untuk kau besok berbelanja di toko buku dan jika kau ingin juga membeli cemilan." "Banyak sekali uangnya, aku hanya membeli beberapa buku saja." "Jika ada sisa maka simpanlah untukmu, tenang saja itu uang halal dari keuntungan dari usaha sampinganku yang lain." ucap Kenzi sembari mengusap - usap rambut Yuki "Aku mau istirahat dulu tuan." "Ya sudah istirahatlah, besok tidak perlu membangunkanku ya, karena aku akan berangkat pukul empat pagi, kau hati - hati di rumah ya." "Baiklah, terima kasih tuan." "Terima kasih untuk apa!" "Untuk semua kebaikanmu." "Aku bukan orang baik, tetapi aku hanya mengutamakan keselamatan setiap orang yang berkerja untukku." Kenzi pun keluar dari kamar Yuki dan menutup pintu secara perlahan. Satu hari telah berlalu, tepat pukul empat pagi, Kenzi tengah bersiap untuk terbang ke Beijing, untuk menghabisi pesaing bisnis Mr Lim, yang sudah terdeteksi ada di Beijing, semua persenjataan sudah lengkap, dia membawa puluhan pasukan yang akan ikut dalam penyerangan ke rumah target. Setelah semua sudah siap, sebelum Kenzi pergi, dia secara perlahan, melihat keadaan Yuki yang kala itu masih tertidur lelap, Kenzi pun membentulkan selimut Yuki, wajah cantik terpancar dengan polosnya, Kenzi sangat ingin melindungi dan membimbing Yuki agar menjadi gadis yang baik - baik. Ingin rasanya Kenzi menyentuh wajah Yuki, namun dia merasa dirinya tidak pantas untuk Yuki. Tangannya sangat kotor dengan semua bisnis ilegal yang dia jalani. 'Walau aku belum ada keberanian menyentuhmu dan memelukmu, namun aku akan selalu melindungimu, kau seperti ini karena kau kurang kasih sayang dari kedua orang tuamu, entah mengapa aku merasakan hal aneh di perasaanku, saat berada di dekatmu Yuki, mimpi indahlah, aku pergi hanya sebentar, aku sayang padamu, walau kau dan aku baru bertemu, namun aku seperti sudah mengenalmu lama.' ucap Kenzi dalam hatinya Lalu dia kembali keluar dari kamar itu dan berangkat ke Beijing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN