"Lepaskan wanita itu, Arthur." Ucapan Kakeknya yang begitu tegas masih saya memenuhi ingatan Arthur, membuatnya sulit berkonsentrasi pada pekerjaannya. Kini, ia dilanda kebingungan. Haruskah ia melepaskan Dea dan menuruti ucapan Kakeknya untuk menikahi gadis yang sudah dijodohkan dengannya? Sontak saja Arthur menggelengkan kepalanya dengan cepat. "No! Saya tidak boleh menyerah begitu cepat untuk hubungan ini, bahkan Dea dan Dito sudah percaya pada saya." Namun, Arthur merasa ragu dengan pilihannya untuk memperjuangkan cintanya bersama Dea. Di lain sisi, dia juga takut kehilangan Dea dan melihat wanita itu bahagia dengan pria lain. Pikirannya pun melayang pada kejadian di mana ia berbicara pada kakeknya malam itu, setiap kalimat yang diucapkan pria paruh baya itu bagai terus terputar

