"De, kamu masih marah?" tanya Bagas seraya melirik Dea yang sedari tadi mendiaminya. Sejak kepulangan mereka dari apartemen Clara, wanita itu bersikap tambah dingin pada Bagas. Hening. Bagas sama sekali tak mendapatkan jawaban apa pun dari wanita itu, hembusan napas kasar pun terdengar darinya. "Cari dia, Gas." Kalimat pertama yang Dea keluarkan hari ini membuat Bagas cukup terkejut dibuatnya, ia menolehkan kepalanya dan menatap Dea lekat. "Ngomong apa sih kamu." Emosi pria itu seketika tersulut. "Cari dia. Dia mengandung anak kamu, Gas!" pinta Dea tegas. Wajahnya terlihat sangat letih dengan kantung mata yang menebal di bawah matanya. Sontak saja Bagas menggelengkan kepalanya kencang, seandainya bisa mungkin kepala pria itu sudah terlepas dari tempatnya. "Aku nggak mau! Anak y

