Suara decitan pintu yang terbuka membuat Dea terlonjak kaget, ia membalikkan pandangannya menatap pria yang baru saja memasuki kamarnya itu. Kedua mata Bagas terus menatap lekat manik mata Dea dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kerinduan yang membuncah yang terpancar jelas di kedua matanya. Ia pun melangkahkan kakinya mendekati Dea, duduk di atas pembaringan yang sama dengan istrinya itu. "Dea, kamu masih marah?" Tangan Bagas terulur untuk mengelus wajah Dea yang masih cantik. Dea hanya menatap tak acuh pada Bagas, ia tetap fokus pada gawai yang berada di tangannya. Pancaran cahaya dari ponselnya itu terlihat menyinari wajahnya, menambah kesan mengkilap di sana. "Dea, mau kamu itu sebenarnya apa sih?" tanya Bagas lembut, ia mengepalkan telapak tangannya untuk menahan emosi yang

