Dongeon tower 44
Alea benar-benar marah dengan apa yang sudah terjadi kepadanya, dia tidak akan bisa tinggal diam dan melihat bagaimana manusia tikus itu akan menyerang dirinya.
Ale dengan ganas mengendalikan tikus bayangan tingkat dua dengan kemarahan, membuat tikus bayangan yang saat ini tengah di kendalikan oleh Loki mengamuk sejadi-jadinya.
Felix dan Brain saling tatap sebentar, sedangkan James sudah berdiri di hadapan Alea dan berusaha untuk melindungi rekannya itu.
"Akan ku bunuh kau!" Suara erangan itu benar-benar mengerikan, bahkan sebelah mata yang berwarna hitam dengan pupil merah itu menyala-nyala dan menunjukkan bagaimana ganasnya Alea kali ini.
Hingga tanpa sadar Alea mengaktifkan kemampuan matanya yang mampu melihat bagaimana statistik dari manusia tikus di hadapannya.
Gargoyle・Noir Lv59
Daya tahan: 890
Kekuatan: 760
Sihir: 1390
Semangat: 1230
Kelincahan: 980
Kemampuan: Sihir kegelapan dan cakar bayangan.
Itu hampir sama dengan tikus bayangannya, tapi dengan Loki yang saat ini bersama dengan tikus bayangan, maka tidak ada yang bisa menghentikan tikus bayangannya.
"Bunuh dia sekarang Loki!" Alea berteriak, dan setelahnya tikus bayangan bergerak dengan gesit. Dia adalah Loki dengan keterampilan melahap jiwa dan merubahnya menjadi energi membuat dirinya bisa lebih unggul.
Terlebih. Keterampilan mata gelap milik Alea juga memberikan efek lain kepadanya, di seolah melihat pergerakan yang akan terjadi beberapa detik di depan sebelum semuanya terjadi, dan hal itu mampu membuat Alea bisa menyadari kemana arah gerak dari manusia tikus di sana.
Dan dengan itu maka Alea bisa mengirimkan perintah dan penglihatannya kepada Loki di sana.
Benar saja. Loki mampu memimpin pertarungan. Di bantuan Felix dan juga Brain yang berusaha menghentikan pergerakan dari manusia tikus itu.
Felix tidak bertanya apapun. Di masih fokus untuk mengalahkan monster setengah manusia itu dengan kekuatannya. Dibantu Brain dan juga tikus bayangan yang mampu menyudutkan manusia tikus dengan kekuatannya. Bahkan Loki juga berhasil mengidap sedikit demi sedikit jiwa yang tersebar di sana.
Itu adalah keuntungan bagi Alea, hanya saja manusia tikus itu tidak semudah itu untuk dikalahkan, dia menjaga jarak dan menunggu tangannya kembali tumbuh. Setelah itu dia mengambil tongkat sihirnya dan mulai merapal mantra, hingga tak lama setelahnya. Tempat di mana mereka berdiri mulai di kelikelilingi oleh kabut ungu, Felix dan brain mulai merasakan anggota tubuhnya melemah. Indra mereka seolah mari rasa, dan saraf di otaknya membengkak dan menyentak. Di matanya, dia melihat James dan juga Alea berubah dari tubuh manusia menjadi tikus raksasa dan terus berganti-ganti.
“jangan hirup udaranya … itu racun yang mampu membuat sebuah ilusi…?!” ucap Brain yang kini mulai menahan napas dan menghindari kabut ungu itu agar tidak terhisap.
Jadi, dia berkonsentrasi dan menyebarkan semangatnya lagi seperti gelombang. Kemudian, semuanya menjadi stabil. Tidak ada perubahan atau liku yang terjadi. Semua kembali normal, dan dia bisa mengendalikan ilusi itu dengan mudah.
Alea segera mengambil langkah. Dia mulai berdiri dan mulai tenang ketika dirinya sudah mulai pulih.
Dia berdiri tepat di sebelah James yang sedari tadi melindunginya. "Terima kasih." Ucap Alea sembari menepuk pundak pria itu.
"Tidak masalah. Bagaimana kondisimu?"
"Aku baik-baik saja untuk saat ini."
"Baguslah, karena saat ini kita akan sedikit repot."
Alea tersenyum, lalu setelah melihat kabut ungu yang terus menyebar, dia memerintahkan tikus bayangan untuk membuat pola gerakan yang mampu menimbulkan angin agar menyusuri kabut itu dengan segera.
"Felix. Bakar semuanya!"
"Baiklah akan mu lakukan!"
Dengan semangat Felix mulai membakar seluruh ruangan itu. Hingga membuat kabut ungu mulai menghilang di bantu dengan pergerakan tikus bayangan tingkat dua milik Alea.
Ketika kabut ungu mulai menghilang, Alea samar-samar bisa melihat bagaimana kondisi ruangan itu, bahkan dia bisa melihat sekelebat tikus tanah yang berlari ke sisi kanan dan membuat sebuah jebakan yang sengaja dipersiapkan.
Hanya saja penglihatannya mengatakan jika tikus tanah berlari bukan karena menyiapkan jebakan, namun ada satu masalah yang lain.
Alea benar-benar bingung dengan hal ini. "Jangan kejar! Itu hanya sebuah jebakan!" Ucap Alea ketika melihat James dan Felix akan mengejar manusia tikus itu.
Alea segera memeriksa kondisi sekitar, sebelum akhirnya di menemukan tumbuhan aneh yang tumbuh di sisi bangunan dan menempel tepat di tembok bangunan.
"Brain. Bisakah kamu memeriksa tumbuhan ini. Aku sedikit curiga… Apakah ilusi itu berasal dari darah tikus, atau tumbuhan aneh ini. Mereka membuat ku sedikit penasaran?" Alea segera meminta bantuan Brain untuk memeriksa semuanya dan berpikir jika itu adalah rapalan sihir dari manusia tikus, sepertinya dia tidak akan repot-repot untuk mengeluarkan sihir racun yang menyebabkan sebuah ilusi pada Felix dan juga Brain.
"Aku tidak menemukan sesuatu yang aneh pada tumbuhan ini."
Mendengar hal itu sepasang mata Alea berkerut, lalu dia memilih untuk melangkah dan memeriksanya darah tikus yang tercecer di atas lantai. Beruntung kini dia bisa melihat spesifikasi dari setiap benda yang dia lihat.
Hingga dia dapat menyimpulkan jika darah tikus itu menimbulkan efek yang berlebih pada Indra manusia.
Yang mana. sejak awal mereka berhadapan dengan tikus-tikus kecil itu mereka sudah terkena dampak secara tidak langsung. Bahkan ketika mereka membunuh tikus pertama, mereka sudah terjebak dalam ilusi. Alea mulai mengerti sekarang, jika sebenarnya di hanyalah menghadapi sosok lemah yang terlihat kuat di dalam ilusinya.
"Brain. Apakah kau memiliki sebuah ramuan yang bisa membebaskan kami dari ilusi yang ada?"
"Aku tidak yakin, tapi sepertinya tumbuhan ini adalah penangkal dari ilusi itu sendiri."
"Apa itu berarti kita akan sadar hanya dengan tumbuhan ini."
"Mungkin saja."
Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Alea segera mengambil tumbuhan itu dan mulai mejanya, dia mulai mengunyah dan mendapatkan sedikit kesadarannya. Hingga saat dia benar-benar tersadar. Di bisa melihat ruangan itu secara jelas.
Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana efek dari pertarungannya tadi. Di mana dia melakukan serangan secara langsung yang membuat monster tikus itu tak berdaya dan bukan hanya itu saja, tetapi juga langit-langit batu ruangan itu. Ada lubang lebar di sana, dan itu mungkin diakibatkan oleh serangan dari Alea yang mana membuat bongkahan batu jatuh seperti hujan, seolah-olah ruangan itu akan runtuh kapan saja.
"Sialan! Lebih baik kalian cepat makan tumbuhan itu dan lihat apa yang terjadi!"
Alea yang panik segera menyuruh rekannya agar terbebas dari jebakan ilusi yang menjebak mereka sedari awal.
Felix dan yang lain segera memakan tumbuhan itu dan setelah mereka sadar. Merek benar-benar terkejut dengan apa yang terjadi di dalam ruangan ini.
"Kita terjebak!" Pekik Felix panik.
Alea memikirkan cara untuk keluar dari ruangan ini. Dan agar dia bisa selamat dari reruntuhan yang akan terjadi sebentar lagi.
Debu dan batu-batu kecil mulai berjatuhan dan di sisi lain, Alea merasakan kekuatannya berangsur-angsur pulih.
Tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, otaknya mulai berfungsi dengan cepat lagi, Alea segera berpikir untuk mencari jalan keluar secepat yang dia bisa. Hingga akhirnya dia merubah Augus menjadi sebuah meriam dan menembakkan ke arah dinding di sebelah kiri. Itu adalah tempat di mana tikus tadi berlari.
"Pergi ke sisi kiri!" Alea memimpin jalan dan segera berlari. Walau otot-ototnya masih lemah karena kabut ungu yang melumpuhkan tadi. Namun Alea masih memiliki kesempatan untuk kabur dan masuk ke dalam lorong yang masih untuk di sisi kanan mereka.
Kemudian perhatiannya tertuju pada tanaman di sudut, yang bergetar dan bergoyang-goyang seolah menyambut kedatangan mereka, tanaman itu terlihat tidak asing, hingga beberapa saat setelahnya tanaman itu menyemburkan bau yang tidak sedap.
"Tanaman itu mengeluarkan racun!" Ucap Brain tiba-tiba. Dia segera berjalan depan lalu berusahalah untuk menciptakan sebuah ruangan yang melindungi mereka dari serbuk racun dari tanaman itu.
"Ini tidak akan bertahan lama, kita harus memusnahkan tanaman ini jika ingin selama."
Alea yang mengerti langsung memerintahkan Loki yang masih di dalam tubuh tikus bayangan, lalu dengan keterampilan tikus bayangan Loki mulai memusnahkan tumbuhan yang ada hingga benar-benar musnah.
"Keterampilan mu benar-benar hebat. Al." Ucap Felix yang masih mengagumi keterampilan Alea. Itu adalah kesungguhan yang nyata hingga membuat Felix mengakuinya secara langsung.
"Terima kasih, ini semua berkat latihan dan perjuangan ku selama ini."
"Aku percaya itu, seseorang yang memiliki tekad kuat akan menjadi sosok yang kuat di kemudian hari."
Alea mengangguk dan tak ingin memperpanjang masalah ini. Sejenak dia menarik napas dalam-dalam dan perlahan mulai bergerak. Setelah begitu banyak pengalaman, dia menjadi tenang dan tegas. Bahkan dia bisa menggerakkan tikus bayangan secara leluasa dan membuat sebuah pergerakan yang mampu memotong batang tanaman yang masih tersisa.
Tanaman itu memiliki denyut nadi seperti makhluk hidup! Alea merasa seperti sedang merenggut pembuluh darah makhluk, berdenyut dengan darah. Dia berhasil menarik batang itu dengan seluruh kekuatannya.
Tiba-tiba, tanaman itu menyusut dan mengeluarkan teriakan yang sangat pahit dan tajam. Hal itu tentu saja mengejutkan bagi Felix dan yang lain. Ketika tadi dia sibuk melawan manusia tikus yang gila. Kini mereka harus dihadapkan dengan beberapa tumbuhan yang terlihat memiliki jiwa. Dan setiap kali kamu mematahkan batangannya, maka jiwa-jiwa itu akan menjerit dan lepas dari penderitaannya.
Di penghujung jalan, Alea berhenti saat melihat sebuah tanaman yang tumbuh di depan sebuah pintu penghubung, hal itu benar-benar mengganggu dan membuat Alea sedikit penasaran.
Dia bergerak mendekati tanaman itu dan mencoba untuk meraih batangnya. Lalu setelah dapat Alea berusaha menarik batang tanaman itu dengan keras. Namun sayangnya usahanya tidak berhasil pada percobaan pertamanya. Jadi, dia terus memutarnya dengan sekuat tenaga. Seperti orang sekarat yang berjuang untuk bertahan hidup, tanaman itu menjerit, merentangkan cabang-cabangnya dan menjeratnya di sekitar lengan Alea.
Hal itu tentu saja membuat Alea dan yang lain terkejut. Brain bahkan langsung mendekat dan berusaha untuk menolong Alea.
Tanaman itu lembab, berlendir, dan dingin, dan tentakelnya memiliki duri kecil yang tak terhitung jumlahnya yang terus mengubur diri ke dalam kulit Alea. Tidak ingin kulit tertembus tanaman itu, alea menarik lagi dengan keras hingga tangannya terlepas.
"Ini masih sama seperti di dalam ilusi, aku merasakan rasa sakit yang cukup kuat, tapi tanganku jelas tidak terkuka!" Alea masih menerka-nerka hingga tanaman itu tiba-tiba berhenti berteriak. Cairan merah menyembur keluar dan memercik ke seluruh d**a Alea, meninggalkan bau darah yang kuat di udara. Merasa berbahaya, Alea segera memanggil tikus bayangan dan memerintahkannya untuk menebas tumbuhan itu.
Setelah tanaman itu terbelah menjadi dua, kabut merah menjadi lebih padat dan hampir berubah menjadi cair. Begitu kabut darah dari tanaman mencapai jeruji besi di sisi kanan dan kirinya, mereka langsung mulai berkarat. Hanya butuh beberapa detik untuk benar-benar merusak semua jeruji penjara di sana. Alea tidak menyangka jika ini adalah satu masalah yang besar. Entah apa yang akan terjadi setelahnya, Alea memilih untuk tetap berhati-hati.
Sialnya Jess dan juga Augus tidak bisa berkomunikasi dengan dirinya, dan itu membuat dia kekurangan informasi dari Jess.
“aku yakin ini pasti salah satu jebakan dari pria tua itu." pikir Felix yang melihat bagaimana kondisi lorong ini.
Ini adalah pilihan yang sulit. Jika mereka tidak segera menemukan jalan yang bisa membawa dirinya bertemu dengan penyihir itu, maka mereka pasti akan berada dalam masalah yang sulit untuk dihindari. Ini adalah salah satu tipuan yang sulit untuk ditebak oleh mereka.
Dan pria tua itu sepertinya sudah mempersiapkan segalanya. "Kita harus bergegas sekarang."
Alea berusaha untuk menyingkirkan kabut darah itu. James segera memberi bantuan dengan keterampilan bertahannya.
Itu lebih baik. Dengan adanya James mereka bisa melewati kabut darah dengan mudah hingga mereka sampai di lorong berikutnya. Namun kali ini ada sesuatu yang menghalangi mereka. Alea berusaha tetap tenang.
Felix mulai kelelahan dan Brain yang biasanya bersikap tenang. Kini mulai panik.
"Ini tidak ada habisnya!" Pekik Brain kesal.
"Tenanglah, sebentar lagi kita akan sampai."
Alea menggunakan Loki untuk memeriksanya bagian lebih dalam. Tikus bayangan juga mulai Alea kerahkan untuk mencari jalan, itu akan lebih berguna karena tepat dihadapan mereka ada pertigaan jalan dan akan sangat berbahaya jika mereka tersesat diantara jalan itu.
Hingga setelah beberapa saat menunggu, Alea bisa memastikan jika jalanan yang harus mereka lalui adalah yang sebelah kiri.
"Kiri."
"Kau yakin?"
"Tentu saja, aku sudah mengerahkan pasukan bayangan untuk memeriksanya secara langsung."
"Baiklah aku akan ikut dengan mu."
Lorong ini hampir mirip dengan labirin bawah tanah. Ada begitu banyak jiwa yang tersegel dan semuanya seperti tersiksa di dalam penjara. Alea tidak pernah berpikir jika dirinya akan masuk ke dalam lokasi ini.
Tapi beruntungnya dia bisa mendapatkan jiwa murni dari tikus tanah tingkat dua, itu memberinya banyak kekuatan yang begitu berguna.
Hanya saja ada yang aneh dengan semua ini. Entah apa yang membuat dirinya tidak bisa berkomunikasi dengan Jess dan juga Augus, semua terjadi ketika serangan kabur ungu ilusi dari pria tua sialan ini.
Ini seperti dirinya tengah dipermainkan dan dibatasi oleh sesuatu yang tak terlihat.
Alea mungkin saja bisa menggunakan Jess dan Augus, hanya saja tanpa berbicara dan kurangnya informasi membuat Alea harus belajar mandiri.
Dia hanya bisa menggunakan keterampilan Loki dan bayangan untuk mengumpulkan informasi hingga tak lama setelahnya, Alea melihat beberapa tanaman yang sama seperti sebelumnya.
Tidak ingin berurusan dengan tanam itu lagi, Alea segera memanggil pasukan tikus bayangan yang sangat banyak sebelum akhirnya memerintahkan mereka untuk memusnahkan tanaman itu lagi sebelum dirinya dan Felix datang.
"Apa yang terjadi sebenarnya."
Alea menggeleng pelan, "tidak ada, aku hanya berusaha untuk menyingkirkan tanaman yang sama seperti sebelumnya."
"Apakah masih ada tanaman seperti itu?" Tanya James
"Tentu saja, kau pikir kita hanya akan menghadapi satu tanaman saja?" Jawab Felix
"Sial, aku benar-benar tidak menyangka jika kita akan kesulitan di tempat ini." Pekik James, dia yang selama ini tenang seolah terganggu dengan keadaan yang ada di tempat ini.
"Diamlah, bukan saatnya untuk mengeluh.* Alea membuka suara, dan setelah berhasil menyingkirkan tanaman itu alea segera menyuruh tiga rekannya untuk segera bergegas.
Ketika dia hampir sampai di tempat lokasi tanaman yang sudah di hancurkan. Alea meminta James untuk mengaktifkan keterampilan pertahanan miliknya, itu akan berguna untuk membuat mereka tidak terkena efek dari racun ataupun kabut ilusi dari tanaman itu.
"Aku tidak menyangkal jika perburuan ini akan terasa sangat sulit.* Brain mulai bersuara.
Alea mengangguk pelan. Dia sendiri tidak menyangka jika monster yang akan dia hadapi memiliki kesulitan tingkat ini, di mana itu begitu merepotkan dan sulit untuk di tangani, dan sialnya lagi Alea harus kerepotan ketika berhadapan dengan tumbuhan sialan itu.
Begitu sampai di titik lokasi, mereka dihadang lagi dengan pintu berukuran besar di sana. Hal itu membuat Alea dan yang lain berhenti. Menatap tembok itu untuk sesaat.
"Lagi dan lagi. Aku tidak tahu sebenarnya ada berapa pintu tembok di tempat ini!" Dengkus Brain kesal.
"Diamlah, sebaikbya kita buka saja pintu ini!" Ucap Felix.
"Tunggu?" Alea segera menahan Felix yang hendak akan membuka pintu itu. Dia tidak ingin ceroboh dan gegabah membuat sesuatu yang buruk akan terjadi kepada mereka.
Karena penasaran, Alea membiarkan loki memasuki ruangan di dalam, ruangan yang ternyata adalah perpustakaan yang cukup besar. Kemudian, matanya hitamnya terbuka lebar ketika Loki menemui sesuatu yang bagus di antara Rak buku. Mata hitam kru mulai memanas dan membuat Alea memekik kesakitan
"Apa yang terjadil!?" Tanya Felix yang panik
Alea hanya mengangkat tangannya untuk mengisyaratkan jika dirinya baik-baik saja.
Sejenak Alea menahan rasa panas itu dan menatap bagian dalam menggunakan penglihatan Loki.
Dia mulai sedikit sadar jika mata hitamnya bisa terhubung langsung dengan seluruh pasukan bayangan milikinya, dan itu akan sangat berguna. Selain itu mata hitamnya juga memiliki keterampilan lain yang belum terbuka.
Alea terus mengawasi dan memerintahkan Loki untuk memeriksa setiap bagian yang ada, hingga tanpa sengaja dia menemukan sebuah buku yang bertuliskan “mata Ilahi”. Dan ketika Loki datang untuk memeriksanya, buku itu bercahaya sangat terang dan tiba-tiba saja buku itu sudah berada di tangan Alea.
Alea terkejut dengan apa yang dia dapat. Namun sekarang bukan saatnya untuk terkejut, karena ketika dia mendapatkan buku itu. Pria tua berwujud manusia tikus itu sudah muncul di sana dengan marah dan hampir saja menyerang Loki.
Beruntung Loki bisa kabur dan kembali pada Alea.
Saat itulah Ale langsung membuka pintu ruangan perpustakaan. Dia berdiri di saja sejenak sebelum menyimpan bukunya.
"Saatnya serius! Ini adalah pertarungan penghabisan kita."
Alea yang sudah muak dengan semua yang di hadapi mulai kesal dan berdiri di sana. Dia segera mengambil Jess menyelimutinya dengan Loki dan mengambil Augus untuk persiapan pertarungan akhir.
Sedangkan yang lain. Felix langsung maju dengan kekuatan apinya. Brain membantu dengan seluruh keterampilan racun yang dia miliki. Dan James segera menyusul mereka karena tugasnya adalah untuk melindungi kedua orang itu.
Di sisi lain Alea kembali bisa melihat pergerakan beberapa detik ke depan sehingga dia bisa menentukan ke mana arah dari musuh itu.
Itu adalah keuntungan baginya. Dia langsung menggenggam erat Augus dan melesat untuk mematahkan setiap serangan dari manusia tikus itu. Dengan mudah dia menepis cakar yang ditujukan pada Felix. Lalu melompat ke atas ketika dia melihat manusia tikus akan menyerang dirinya. Dia berdiri tepat di atas kuku tajam milik manusia tikus.
Tangan yang berhasil dia potong tadi sudah kembali pulih, dan hak itu benar-benar membuat Alea merasa kesal.
Dia segera mengayunkan kembali pedangnya. Memberikan luka yang fatal lalu memerintahkan Loki untuk masuk sebelum luka itu kembali tertutup.
Setelah Loki masuk. Alea mengeluarkan seluruh tikus bayangan yang dia miliki untuk menyerang bagian dalam manusia tikus itu.
Felix tidak tinggal diam, ketika Alea melompat mundur. Dia langsung membakar seluruh tubuh manusia tikus itu dengan kekuatannya. Api berkobar membuat tubuh manusia tikus itu mulai terbakar.
Dengan cepat saat manusia tikus itu mendapat luka fatal, Brain segera menyusupkan racun miliknya untuk menembus kulit-kulit itu dan menyerangnya dari dalam.
Dengan ini pergerakan manusia tikus mulai melambat, Loki terus menggerogoti jiwa manusia tikus itu. Sedangkan di bagian pembuluh darah sudah dipenuhi dengan racun. Dan hal itu membuat manusia tikus tanah tidak bisa berkutik.
Dia berusaha untuk membunuh tikus bayangan tapi Sayangnya jumlah yang diberikan Alea sangatlah banyak dan itu menyulut manusia tikus itu. Bahkan jiwa yang diserap oleh Loki kini sudah berubah menjadi energi yang meluap di dalam tubuh Alea.
Dia tersenyum kecil sebelum menggenggam erat pedangnya.
"Jangan pikir ini akan selesai." Alea yang menyimpan dendam karena hampir terbunuh tadi langsung melesat begitu cepat.
Energi yang dia dapatkan dari Loki membuat dirinya bisa memaksimalkan kemampuan dan bonus yang dia dapatkan dari Augus dan juga Jess.
Kini saatnya dia membalas semua perbuatan dari manusia tikus di sana.