dongeon tower 41

2827 Kata
Dongeon tower 41 Dalam usaha membuat jalan agar Alea bisa melihat apa yang ada di dalam sana, Alea benar-benar terkejut dengan apa yang dilihat oleh Loki. Samar dengan aura kegelapan yang sangat pekat. Alea bisa merasakan jika ada hawa berbahaya di dalam pintu ini. Dan karena tidak ingin membahayakan Loki, dia menarik paksa Loki untuk segera kembali. Lalu setelah beberapa saat dia memilih untuk melangkah mundur. Karena diam-diam dia akan membangkitkan pasukan bayangan untuk menyusup masuk. Jika terjadi sesuatu pada pasukan bayangan itu tidak terlalu berharga dari pada kehilangan Loki. Setelah berhasil dipanggil, diam-diam Alea memerintahkan dua pasukan bayangan untuk segera masuk tanpa menimbulkan kecurigaan yang berarti dari rekan-rekan mereka. Sedangkan di sisi lain. Brain masih berusaha untuk mengamati lumut yang perlahan mulai bersinar, hingga beberapa saat dia berteriak. "Mundur! Ini adalah tumbuhan beracun. Jangan hirup apapun yang ada di sekitar tempat ini." Segera setelah mendapat peringatan, Felix dan juga James mulai mundur. Sedangkan Brain mulai mengelus kemampuannya. Melihat tumbuhan racun tentu saja itu adalah sebuah kesenangan untuknya, racun adalah bagian dari dirinya dan racun adalah kekuatannya. "Aku akan mengambil kendali. Dan setelah ini kita bisa masuk ke dalam." "Lakukan saja apa yang menurutmu benar!" "Diam lah! Aku sedang berusaha!" Membiarkan Brain menangani tumbuhan beracun. Alea benar-benar fokus dengan pasukan bayangan yang dia perintahkan untuk masuk. Dua pasukan bayangan itu memberikan informasi yang berguna. Dia berjalan masuk dan memberikan penglihatannya kepada Alea. Di dalam sana. Aura yang begitu kuat dapat dia rasakan, suasana yang gelap dan mencekam membuat pasukan bayangan tidak bisa menentukan arah mereka berjalan. Semua tak bisa disaksikan. Hingga tiba-tiba Alea terkejut saat satu pasukan bayangan tiba-tiba lenyap di makan oleh sosok yang tidak dia kenal. Satu pasukan bayangan hilang. Dan membuat dirinya segera mungkin untuk menarik pasukan yang tersisa, hanya saja terlambat. Pasukan bayangannya benar-benar hilang bak di lahap kegelapan. Alea tak bisa merasakan keberadaan dua pasukan bayangannya, dia benar-benar terkejut akan hal itu. Alea segera merubah Augus dan menggenggamnya kuat-kuat. Dia bisa merasakan kekuatannya. Teriakan Brain yang tiba-tiba menariknya kembali ke dunia nyata, "mundur dan bersiap!" Dia sadar saat Brain berhasil mengamankan lumut beracun itu, dan beberapa saat kemudian Felix langsung menggunakan energinya untuk membuka pintu gerbang.m hingga aura yang dirasakan oleh Alea tadi benar-benar keluar. Aura kegelapan yang mencekam itu membuat dia tidak bisa Bergerak. Tubuhnya sedikit bergetar. Alea tidak tahu apa yang akan dia hadapi. Sihir yang kuat? hantu jahat? Perangkap yang mematikan? Dia tidak tahu. Semuanya benar-benar buram dan dia tidak bisa menebak secara pasti. Bahkan hilangnya dua pasukan bayangan tadi membuat dia berpikir jika musuh yang akan dia hadapi saat ini akan sangat berbahaya untuk dirinya. Alea tahu dia tidak punya pilihan lain selain menghadapi ketakutannya. Dia yakin dirinya akan selamat. Karena bagaimanapun juga dia bersama dengan orang-orang kuat di tempat ini. Dia mengambil napas dalam-dalam, mengatupkan giginya, dan berteriak keras di benaknya. "Kematian bukanlah masalah besar!" Dia menebas aura kegelapan yang terus menekan dirinya dengan sekuat tenaga. Hingga tebasan tanpa suara itu berhasil mencabik aura gelap yang menekan. Dia bisa bernapas sebentar karenanya. Bukan hanya itu saja, dia merasa sesuatu yang aneh juga ikut terpotong saat dia menebas Augus. Alea tidak ingin membuang kesempatan, dia melepaskan Loki untuk berburu apa yang dia butuhkan. Alea merasakan sesuatu pecah, dengan skelebet bayangan yang berlari ketika terkena tebasan, dan menghilang di bawah ujung pedang. Pintu di hadapannya runtuh sepenuhnya. Ledakan aura terjadi untuk kedua kalinya. Namun kali ini Felix melindungi rekannya dengan aura kekuatan miliknya Di balik pintu, ada kegelapan pekat yang tak berujung. Tiba-tiba, dua bintik mawar merah yang aneh muncul yang bersinar, terasa begitu dingin, dan mengerikan dalam kegelapan. Lalu kemudian semakin banyak bintik-bintik merah mulai muncul, bertitik padat di tengah kegelapan ruangan. Mereka mirip… sepasang mata! Menghadapi mata merah itu, Alea merasakan tangan dan kakinya gemetar, kepalanya berdengung. Pikiran yang berbeda tentang apa yang harus atau tidak boleh dia lakukan membuat dia kewalahan, jadi dia hanya berdiri di sana. Bahkan tekanan dan tatapan tajam itu membuat Alea tidak bisa berpikir dan terasa seperti tersedot ke dalam pusaran kegelapan yang tak bertepi. "Berlindung di belakang ku!” Felix berterus dengan keras sembari mengeluarkan aura api yang sangat kuat. Dia benar-benar berkonsentrasi dan mengeluarkan mantra perisai, teriakan tiba-tiba dari Brain James tersadar dan mengikuti perintahnya. "Ciptakan Cahaya!" Suara Brain tenang dan tegas. Dia berteriak keras untuk membawa Alea dan juga James kembali ke kenyataan dari ketakutan yang sengaja diciptakan oleh sosok itu. Benar! James langsung menyadari bahwa prioritas utama mereka adalah dapat melihat dengan jelas. Dia mulai mengaktifkan aura emasnya dan seketika cahaya menyinari memberi penerangan muncul. Kemudian Alea melihat mereka, tikus bermata merah berukuran biasa. Lantai, dinding, dan bahkan benda aneh berbentuk manusia semuanya tertutup tikus hitam seperti kawanan gila, membuat Alea merinding. Sadar akan cahaya dari keterampilan James tidak akan bertahan lama. Felix langsung membuat bola-bola api untuk menggantikan pencahayaan milik James. "Kita terkepung!" Alea masih diam, jadi tentang siapa yang melahap pasukan bayangannya adalah tikus-tikus sialan ini. Dia benar-benar marah dan merasa kesal, karena keberadaan mereka sudah membuat dirinya takut beberapa saat tadi. Dia bersumpah akan membuat perhitungan atas apa yang terjadi sebelumnya. Tikus juga melihat ke arah mereka, seolah menatap seonggok makanan yang siap untuk di santap. Begitu cahaya muncul, mereka mulai berteriak dan mulai berdatangan untuk menutupi lantai dengan ribuan kawanan. (Hati-hati mereka adalah tikus pemakan jiwa. Gunakan Augus dan juga Loki untuk mengurangi kerugian!) Aku mengerti dan langsung menugaskan Loki untuk bersiaga, sedangkan aku sudah bersiap dengan Augus dan siap untuk memberikan serangan kapanpun kami siap. Cahaya yang diciptakan oleh Felix mulai menerangi sekitar. Dan seketika itu, mereka berhasil melihat sekilas ruangan itu, sebuah meja diletakkan di sudut dengan tiga buku bercahaya di atasnya. Meja datar, lebar, dan tampak aneh lainnya berada di tengah ruangan, digambar dengan pola aneh yang berbeda, seperti merah, biru atau hijau, mirip dengan pola sihir yang sengaja diciptakan di sana. Ada juga beberapa kompor kecil, panci, dan botol kaca. Namun sayangnya, mereka tidak punya cukup waktu untuk memperhatikan detail karena monster bau gila itu sudah melompat dan menyerang mereka. Alea segera merubah Augus menjadi busur dan segera membunuh satu persatu tikus yang datang, di susul Loki yang siap melahap jiwa-jiwa tikus yang berhasil dibunuh oleh Augus. Sayangnya. Tidak ads keterampilan yang mampu diserap oleh Augus dari tikus-tikus kecil itu. Mereka hanyalah seekor monster tanpa akal yang menyerang seseorang dengan membabi-buta. Felix dan James langsung memgambil pedang dan perisai mereka, dengan punggung menghadap Brain yang siap dengan skill racun miliknya. Brain bahkan sudah memanggil beberapa serangga beracun untuk membantu melakukan serangan, dalam formasi sederhana. Alea sudah mulai sibuk untuk mengumpulkan beberapa jiwa untuk menjadi bayangan. Hingga beberapa saat dia sudah mendapatkan lebih dari 59 jiwa yang siap untuk di panggil. Karena keadaan yang mendesak. Alea tidak memiliki waktu lagi. Dia segera merilis seluruh pasukan bayangan tikus untuk membantu melakukan serangan balasan. Tikus berukuran lebih besar dari lainnya melemparkan dirinya tepat ke arah Alea. Mulutnya terbuka lebar, memperlihatkan dua taringnya yang panjang dan tajam. Alea segera merubah Augus menajdi pedang dan buru-buru mengayunkan Augus hingga memenggal kepala tikus bermata merah itu. Namun, dia tidak dalam kondisi yang bagus untuk memprediksi gerakan tikus, dan bilahnya meleset, meskipun kekuatan yang keluar dari pedang masih berhasil menangkapnya. Alea bisa melihat bagaimana tikus itu terpotong dan menjadi santapan Loki dalam sekejap mata. Dia membebaskan untuk pasukan tikus milikinya membersihkan para tikus-tikus sialan ini. "Jangan penuhi dengan jiwa tikus tak berguna, coba cari jiwa yang lebih kuat sebelum kau melahapnya." Alea tidak ingin ruang penyimpanan penuh karena Loki yang melahap dengan sembarang setiap jiwa yang mati. Dia berpikir untuk memilih jiwa-jiwa yang bagus untuk menjadi pasukan batangannya. {Baik tuan!} Mendengar kekesalan Alea. Loki yang bisa menurut dan mulai membantu pasukan bayangan lain untuk memburu setiap jiwa yang menurutnya berharga. Mereka terus di buat terpojok karena tikus-tikus itu yang tidak berhenti dan terus bertambah banyak. Alea dan juga Augus bisa saja menghadapi mereka dengan tenang, karena kemampuan Augus yang bisa menyerap energi milik tikus-tikus itu dan Loki yang melahap jiwa dan memberikan energinya kepada Alea. Membuat Alea bisa mengatasinya dengan mudah. Hanya saja di sisi lain, james terlalu gugup untuk membuat keputusan yang tepat. Dia mencoba mengangkat pedangnya sekali lagi dan pada saat yang sama mengulurkan tangan kirinya untuk mencoba bertahan dengan perisainya. namun bodohnya. Karena tekanan dan kepanikannya, dia hampir menjatuhkan pedangnya. Merasa putus asa, James berusaha untuk tidak bisa menahan diri dan langsung terkejut saat melihat makhluk itu akan menancapkan giginya yang tajam ke dadanya. Pada titik kritis ini, sebuah yang terbakar datang dan langsung memotong tikus itu, membelahnya menjadi dua bagian. "Jangan panik. Lindungi bagian vital mu. Gunakan ramuan penyembuh untuk menahan luka yang ada.” Perintah Felix dengan tenang, dia bisa menguasai jalannya pertarungan tanpa terganggu sedikitpun. Mereka mulai melindungi punggung mereka masing-masing, membuat formasi sederhana hingga seketika Mereka sadar bahwa Alea yang hanya seorang diri mampu menahan setiap serangan dari tikus-tikus itu. Namun sekuat apapun mereka bertahan. Tikus itu terus menyerang mereka. Walau mereka kecil tapi jumlah dan kondisi yang mendesak membuat mereka kesulitan. Lalu satu pemikiran membuat Alea tersadar. Mereka mungkin bisa bertahan menghadapi tikus gila ini tanpa kesulitan yang berarti, tetapi tidak ada yang tahu apa yang menunggu mereka selanjutnya. Alea mencoba menenangkan dirinya. Dia bisa melihat Felix dan yang lain bisa bertahan dengan baik, jadi ketika menghadapi bahaya mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Hal itu membuat Alea sedikit tenang dan tidak perlu khawatir tentang keselamatan mereka. Dia bisa fokus untuk menciptakan lebih banyak pasukan bayangan untuk membantu menekan mundur tikus-tikus yang datang. Dan memerintahkan beberapa pasukan bayangan untuk mencari sumber yang ada. Dia harus melangkah jauh ke depan untuk melihat segala kemungkinan Yang ada. Jika tikus ini tidak ada habisnya, maka ada sebuah pusat yang membuat mereka terus muncul. Dengan pemikiran itulah Alea mulai menjelajahi lorong yang ada dan memerintahkan pasukan bayangan tikus yang berukuran kecil untuk menyusuri setiap tempat yang ada. Sejauh apapun dia mencoba mengendalikan bayangan tikus, dia tidak melihat apapun. Yang dia lihat hanyalah kegelapan dan tikus yang menghadang bayangan dan menyerangnya hingga membuat bayangan tikus lenyap. Level yang tidak memadai dan tidak adanya keterampilan yang di miliki oleh bayangan tikus membuat mereka bisa dikalahkan dengan mudah ketika menghadapi jumlah yang cukup banyak. Alea berpikir untuk mengeluarkan bayangan Hobgoblin miliknya untuk membantu pertarungan ini. Hanya saja itu akan membuat tiga orang rekannya curiga dan menimbulkan banyak pertanyaan selanjutnya. Hal itu membuat Alea mengurungkan niatnya dan terus menciptakan pasukan bayangan tikus untuk membantunya, setidaknya selama Loki masih melahap jiwa-jiwa para tikus maka Alea tidak akan kehabisan pasukan bayangannya. Setelah beberapa saat pertarungan. James akhirnya tenang. Dia bisa mengendalikan diri ya dan mulai membantu yang lain dalam pertarungan yang sesungguhnya. Felix terlihat dengan mudah membantai para tikus drngsncar membakar mereka, sedangkan Brain dia bisa dengan leluasa menyebarkan udara beracun yang membuat para tikus mati dengan mudah. Benar-benar kekuatan yang sangat mengerikan. Melihat itu saja membuat Alea berpikir dia kali untuk melawannya. Cukup sekali saja dia berhadapan dengan Felix. Dan itupun berhasil membuat tulangnya sedikit retak karena pertarungan gila sebelumnya. Mereka masih disibukkan dengan kondisi yang mendesak. Bahkan beberapa tikus mulai menggila. Felix membakar mereka hanya saja jumlah yang datang terus bertambah dan terus menggila. Sekarang, bukannya satu atau dua, ratusan tikus mulai menyerang mereka dengan gila-gilaan. Pedang James tajam dan perisai yang kokoh itu mampu menghalau puluhan tikus yang datang, di susul Ali Felix dan racun milik Brain, mereka bisa mempertahankan diri mereka dengan mudah. Dalam kondisi ini, Alea berusaha bertahan dengan bantuan pasukan bayangan dan Augus yang terus menebas setiap tikus yang datang. Mereka benar-benar banyak dan tidak habis oleh satu serangan saja. Dan perlahan, stamina para pemburu di tempat itu mulai berkurang secara perlahan. Alea yang menyadari hal itu mulai sedikit panik, dia sendiri tidak perlu mengkhawatirkan kondisinya, karena sebanyak apapun dia bertarung, dia akan mendapatkan stamina dan juga energi yang terus datang dari Loki. Alea mulai fokus kembali dan mencoba mengenyahkan pikiran tentang rekan-rekannya. bahkan setiap tikus yang menabraknya langsung dipotong setengah oleh pedangnya. Di sisi lain, Felix yang menggunakan keterampilan api langsung membakar mereka hingga membuat api yang membara membakar organ tikus dan kulitnya hangus tanpa mengeluarkan setetes darah pun. Beberapa serangan meleset, tetapi bahkan kemudian bulu dan kulitnya hangus dan mereka menjadi lebih lambat, menabrak lantai tepat di depan hadapannya. Lambat laun mereka mulai terbiasa dengan pertarungan itu, bahkan dengan santainya brain terus membunuh tikus-tikus yang datang dengan cara meracuni mereka dengan mudah. Tanpa menyentuh Brain bisa membunuh mereka semua dengan mudah. "Haha, kerja bagus!" Brain bersiul. Alea tidak merasa puas dengan semua ini, jika pertarungan dilanjutkan maka akan banyak orang yang kehabisan stamina, bahkan James sudah terlihat kesulitan untuk melindungi dirinya. Alea mulai aktif dengan memerintahkan pasukannya untuk mencari tahu keberadaan dari sarang Monster tikus ini. Sebisa mungkin dia harus menghancurkan sumbernya sebelum ini semakin bertambah banyak. Felix masih dengan santainya menghadapi tikus yang datang, “Tenang. Kami memiliki kekuatan yang cukup untuk menghadapi monster-monster ini.” Tapi tidak lama setelahnya. Apa yang ditakutkan Alea mulai datang. Gelombang serangan baru datang lagi, seperti kawanan hitam sebelumnya. Bahkan kali ini jumlah mereka semakin bertambah. Dan pasukan bayangan yang dia perintahkan sebelumnya pun sudah lenyap karena jumlah. "Mereka datang! Bersiaplah!" Ucap Alea yang menyadari kedatangan gelombang kedua ini. Alea segera merubah Augus menjadi sebuah meriam. Dia memerintahkan Loki untuk mengumpulkan banyak jiwa, maka dengan itu Alea bisa menggunakan meriam sesuka hatinya dan membereskan tikus yang datang kali ini. Meski masih khawatir dengan daya ledak yang dihasilkan nantinya, tapi dia sudah memutuskan untuk melakukannya. Tidak ada cara lain yang bisa membereskan mereka dengan cepat. "Ledakan datang!" BOOOMMM!!!! Sebuah meriam plasma dengan energi mana yang sangat banyak keluar. Augus tidak berkata-kata dia hanya diam selama pertarungan dan membiarkan Alea mengendalikan dirinya sesuka hatinya. Mayat tikus mati yang terkena ledakan jatuh ke tanah seperti tetesan hujan. Tetapi beberapa tikus bermata merah masih berhasil melewati serangan Alea dan bergerak ke arah mereka dengan cepat. Mereka tidak bisa menangani semuanya. Api milik Felix dan racun milik Brain sudah dikerahkan, tapi jumlah mereka tidak berkurang sedikitpun. Alea berpikir dengan cemas. Apalagi jika masih menggunakan meriam plasma akan memakan waktu untuk mengisi ulang daya. Itu akan sangat lama. "Aku akan menggunakan mu." Alea tidak bisa berpikir lagi. Satu-satunya cara adalah menggunakan Jess kali ini. (Tidak masalah, aku bisa menahannya.) "Aku akan membiarkan Loki melindungi. Maka kau tidak perlu khawatir jiwamu akan termakan?" Itu adalah hak yang bagus, jika tikus itu memakan jiwa, maka biarkan Loki menyelimuti Jess agar mereka yang menjadi santapan Loki. Alea mulai membalikkan keadaan. Sembari menunggu Augus terisi ulang. Dia terus bertarung menggunakan pedang Jess yang diselimuti Loki, hingga membuat pedang itu terlihat aneh. Pedang Putih suci yang diselimuti aura hitam di sekitarnya. Terlihat seperti pedang yang ternodai di sana. Pertarungan berlanjut, tikus terus datang dengan jumlah yang semakin banyak, James terlihat sudah hampir mencapai batasnya. "Ambil ini!" Melihat itu Alea segera melemparkan ramuan stamina untuk James, karena bagaimanapun juga mereka masih membutuhkan James kali ini. James langsung melahap ramuan itu tanpa tersisa. Sesaat setelahnya James mulai mengangkat perisai emas miliknya dan bekerja sama dengan pedang. Tikus lompat gila tidak bisa berhenti tepat waktu dan langsung menabrak logam. Banyak yang berkedut di lantai dan segera mati. Felix tertawa melihat bagaimana James melakukannya, “Kau tidak bisa menjadi ksatria yang baik tanpa perisai!” Setelah beberapa putaran serangan, tikus bermata merah mengubah pola mereka. Alih-alih melemparkan diri mereka langsung ke wajah paran pemburu, beberapa mulai mendekat melalui lantai, sementara yang lain memanjat dinding untuk menyerang mereka dari atas. Situasi kembali menjadi serius. “Serahkan mereka yang datang dari atas kepadaku.” brain yang memiliki keterampilan dengan memanipulasi udara menjadi racun langsung mengambil alih bagian atas, itu akan lebih sensitif sebanyak apapun udara yang ada disekitarnya. Alea mengangguk mengerti, setelahnya dia langsung menggunakan Augus yang saat ini sudah terisi ulang. Ini adalah ledakan ksli kedua yang dia hasilkan. "Ledakan!" BOOOMMM!!! ledakan kedua berhasil membakar tikus yang merayap di atas tanah. Alea langsung menyimpan Augus untuk isi ulang dan setelahnya dia mengambil Jess lagi. menghunus pedang ringannya untuk bertahan dari tikus-tikus di tanah. “bagaimana keadaannya?” "Belum." James menggelengkan kepalanya. Mereka seperti perahu kecil yang mengapung di lautan yang menderu. Mereka bisa dengan mudah dihancurkan. Tiba-tiba, James melewatkan seekor tikus, yang jatuh dari atas dan mendaratkan di bahunya. Tikus memberinya gigitan cukup dalam di lehernya. James mengerang kesakitan dan menggerakkan bahunya sekuat tenaga. “Aku mendapat sedikit! Gigitan itu membuatku mati rasa! Gigi mereka pasti beracun.” di berteriak sembari menarik tikus di bahunya dan melemparkannya ke atas tanah dan menginjaknya. "Felix lindungi kami, aku akan mengambil racunnya!" Brain segera mengambil alih, dan melihat itu Alea segera bergabung bersama mereka. “kita harus bisa bertahan di tempat ini. Ada terlalu banyak tikus. Lindungi yang lain dan berusahalah… ack!” Alea berteriak ketika tiba-tiba ada seekor tikus yang mengigit kakinya, dia bisa merasakannya dengan tajam. Hanya saja Loki yang menyadari itu langsung turun dan melahap jiwa tikus itu. Dan tak lama setelahnya dia menghisap racun yang ada di kaki Alea. Loki memberikan penyembuhan dengan baik hingga membuat Alea segera pulih. "Hati-hati mereka benar-benar melahap energi milik kita!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN