dongeon tower 42

2847 Kata
Dongeon tower 42 Mendengar ucapan dari Alea. Felix dan yang lain segera membuat ruangan dan membakar para tikus itu dengan kekuatannya. Dia berusaha mati-matian agar Brain bisa menyelesaikan tugasnya dengan segera. Sedangkan di sisi lain. Alea sudah mengerahkan banyak pasukan tikus untuk mencari sumber dari kemunculan tikus-tikus itu, dia menambah jumlah pasukan bayangan agar mereka bisa berkerja dengan baik. "Aku sudah mengangkatnya!" Brain memberikan komando dan setelah itu. Alea segera mengeluarkan ramuan penyembuh yang dia bawa dengan jumlah cukup banyak dan dua berikan kepada James. "Pulihkan lukamu. Kita akan melakukan banyak perlawanan kali ini." James segera mengambil ramuan itu dan menenggaknya lagi. Setelahnya dia mulai bangkit dan mengambil perisai serta pedang besarnya. "Haha ada apa pria besar?! Apakah hanya Samapi di sini saja kemampuan mu?" Felix bermain-main dengan memancing kekesalan James. Sayangnya pria itu terkesan santai dan membalas ucapan Felix dengan senyum miring. "Maaf saja jika sudah menjadi beban!* "Santai saja! Bukankah selama ini kau selalu menjadi beban." "Haha! Terima kasih sudah mengingatkanku!" "Kembali kasih!" James mulai serius, dia mulai mengaktifkan keterampilan pertahanan mutlak untuk mempertahankan dirinya sendiri. Lalu mulai fokus untuk membantai tikus yang terus datang. Kini mereka bertempat mulai fokus pada bagian mereka yang tidak terlindungi. Tapi tidak seperti mereka yang mengenakan penutup lutut, sepatu bot, dan rantai, Alea hanya mengenakan pakaian pendek berbahan linen. Tiba-tiba dia mendapat gigitan di pergelangan kakinya. .dia cukup terkejut dengan gigitan kedua. Dan menahan Loki yang hendak membantunya agar tetap bersama Jess. Dia tidak ingin jiwa Jess termakan oleh tikus itu. Tapi sayangnya, gigitan kali ini menimbulkan rasa sakit yang lumayan dan mati rasa dari pergelangan kakinya. Alea hampir kehilangan keseimbangan. Dia merasa haus pada saat bersamaan. Dia ingin air. "Apa yang kau lakukan! Lindungi dirimu sendiri dan jangan membuat suasana semakin panik!” perintah Felix ketika melihat Alea hampir limbung. Tak ingin keadaan terus memburuk, Alea langsung menarik Jess, merubah Augus menjadi pedang dan membiarkan Loki menghisap racun yang ada. Itu akan memberikan sedikit efek kepadanya. Alea dengan cepat mengendalikan fokusi dan sekarang dia mulai menggosok tangannya untuk melakukan pertarungan selanjutnya. “maaf membuat kalian cemas.” "Lupakan! Lebih baik lindungi dirimu sendiri di saat kami sedang kerepotan!" "Baiklah!" Alea mulai serius. Dan sepertinya bukan hanya dirinya saja, Felix, Brain dan juga James sudah mulai bersungguh-sungguh sekarang. Bahkan tak lama setelahnya. Sebuah perisai cahaya putih muncul dan menutupi mereka semua. Itu adalah James yang mengaktifkan domain wilayah pertahanan mutlak, hanya saja untuk mempertahankan posisi itu, Dia akan membutuhkan lebih banyak energi yang terus ditranfer dari luar, dan itu adalah Brain yang memberikan pasokan energi untuk melindungi mereka dengan pertahanan mutlak yang ada, jadi dia maju selangkah, mencoba menutupi rekan-rekannya di bawah perisai dan domain yang dia ciptakan Setelah beberapa detik, Alea mulai berkonsentrasi lagi. Dia mengerahkan para pasukan bayangan dan Loki untuk membunuh tikus yang terus berdatangan. “sial! Aku lebih baik melawan musuh yang kuat sekalipun dari pada harus berurusan dengan ratusan tikus seperti ini.” "Apa kau mengeluh bos?" Ucap Brain yang tentu saja mengejek Felix yang tiba-tiba saja mengeluh di sana. "Ini benar-benar memuakkan!" "Sabar saja, semua demi sesuatu yang kau inginkan selama ini bukan?" Mengabaikan keduanya, Alea terus berkonsentrasi untuk menemukan sumber dari semua masalah ini. Dia berharap ada titik cerah dari pencariannya. Hanya saja tikus yang datang lebih banyak dari pada pasukan bayangannya. Hingga membuat Alea terus membangkitkan setiap jiwa yang di lahap Loki. Dari bayangan yang musnah dia akan menggantinya dengan bayangan yang baru. Terus seperti itu hingga dua bisa menekan para tikus yang datang ke arah mereka. Situasi mulai bisa dikendalikan karena Alea dan juga Felix, mereka membantai seluruh tikus yang mencoba mendekat. Kali ini mereka bisa fokus dalam kelasnya serangan tanpa harus takut ada tikus yang menyusup, karena saat ini mereka mempercayakan semuanya pada James dan juga Brain. Meski berada di situs yang tidak bisa membantu Alea dan juga femix, nyatanya situasi mulai bisa dikendalikan. Jumlah tikus bermata merah berkurang, jadi Alea segera mengambil kesempatan itu untuk mencari sumber keberadaan dari aura yang mulai terasa samar oleh Loki. {Aku menemukannya tuan.} "Apakah itu sumber dari semua masalah ini?" {Sepertinya begitu.} "Maka jika kau mampu, hancurkan semuanya." {Akan aku coba tuan.} Alea mengangguk dan membiarkan Loki berserta pasukan bayangan yang terus Alea tambah untuk melakukan tugasnya. Dalam penglihatan Loki, Alea bisa melihat sebuah lingkaran sihir yang menjadi pusat para tikus terus berdatangan. Lingkaran yang tercipta dari darah yang ada membuat tikus-tikus itu tak kenal takut dan terus berdatangan. Alea memerintahkan pasukan bayangan untuk menghancurkan lingkaran sihir itu dengan menghancurkan diri mereka dan menguat lingkaran sihir itu terhapus. Dan benar saja, itu berhasil dan tak lama setelahnya gelombang serangan mulai memudar. Felix membakar tikus terakhir, dan setelahnya dia menghela nafas sedikit, "Akhirnya berakhir." Lantai ditutupi dengan lapisan mayat dan darah gelap. Berdiri secara perlahan, Alea tidak percaya dia benar-benar berhasil. Felix mengangguk padanya, "Kamu melakukannya dengan baik, Ale." Lalu dia berbalik dan menatap dua rekannya yang kini terkapar di atas lantai. Mereka seperti kehabisan tenaga. Lalu Felix tersenyum dan berkata, "Kalian juga melakukan pekerjaan dengan baik." "Terima kasih pujiannya, tapi aku ingin istirahat sebentar saja." "Di tengah-tengah mayat seperti ini? Ku pikir kau memang gila, Brain.* "Diam lah, aku benar-benar lelah. Mau tahu!* "Baiklah baiklah, terserah kau saja." Felix langsung menatap Alea, diam-diam dia memperhatikan bagaimana cara bertarung Alea selama ini. Pria itu memiliki potensi yang sangat bagus, dan dia juga merasa jika Alea menyembunyikan sesuatu di balik keterampilannya itu. "Bagaimana kondisinya?" Alea yang terkejut langsung menoleh. "Semua baik-baik saja. Aku sudah menghancurkan pusat kemunculan tikus-tikus ini dan bisa dipastikan untuk beberapa saat mereka tidak akan ke.vsli." Felix mengangguk sebentar, lalu setelahnya dia berjalan untuk melihat tumpukan mayat dan darah gelap yang ada di hadapannya. "Aku tidak menyangka jika aku baru saja menghabiskan hampir setengah stamina dan energi sihir ku hanya untuk menghabisi makhluk kecil seperti ini." "Kupikir itu lebih baik dari pada kita harus berhadapan dengan Monster yang besar dan kuat dalam satu waktu." "Aku tidak masalah dengan monster besar dan kuat. Asal tidak dengan makhluk merayap sialan ini." "Setidaknya kita sudah membereskannya bukan." "Tentu saja, semua karena berkat kerja kerasmu." "Kau terlalu memuji." Alea tidak tahu harus berkata apa. Namun saat ini. Dia tidak bisa menarik pasukan bayangannya dan Loki untuk beberapa saat, selain kondisi. Dia juga tidak ingin membuat beberapa orang curiga ketika melihat di menarik energi gelap dari luar. Dia harus menunggu dan berpura-pura untuk memeriksa keadaan sekitar agar dia bisa menarik kembali pasukan bayangannya. --- Tak lama setelah mereka beristirahat, mereka memilih untuk melanjutkan perjalanan, ini memakan sedikit waktu agar mereka benar-benar pulih. Alea dan juga Felix sendiri tidak terlalu menghabiskan energi mereka, hanya saja Brain dan juga James. Mereka butuh lebih banyak waktu untuk memulihkan diri mereka sendiri. Sembari menunggu mereka pulih. Alea memilih untuk memeriksa keadaan sekitar. Di mana ada begitu banyak buku catatan di ruangan itu. Buku yang dia lihat ketika dirinya masuk tadi benar-benar membuat dia sedikit penasaran dan membaca beberapa bagian yang ada. Tapi sayangnya. Buku itu bukanlah sesuatu yang penting. Tidak ada catatan yang berguna di dalamnya. Hanya sebuah catatan biasa yang tidak terlalu penting. Alea segera menutup buku itu dan kembali ke teman-temannya. "Buah! Sepertinya kita bisa melanjutkan perjalanan kali ini." Ucap Brain yang tiba-tiba berdiri setelah memulihkan tenaganya. "Kau yakin? Karena perjalanan kali ini akan lebih berat." Tanya Alea memastikan. "Tidak masalah, aku bisa mengatasinya. Aku bisa memulihkan diri saat perjalanan nanti." "Lalu bagaimana dengan James?" "Aku sudah lebih baik dari sebelumnya, dan tentu berkat ramuan yang kau berikan tadi." "syukurlah, jika seperti itu. Berarti kita bisa melanjutkan perjalanan ini." Ucap Felix menanggapi rekan-rekannya. Setelah memutuskan untuk melanjutkan berjalan, Felix kembali memimpin perjalanan, mereka menyusuri lorong dan beberapa kali bertemu dengan tikus kecil yang menghadang. Walau jumlah mereka tidak banyak, mereka bisa mengatasinya dengan mudah. Hingga akhirnya mereka masuk ke dalam sebuah lorong yang mana memiliki tekanan lebih berat dari pada sebelumnya. "Lebih berhati-hati, ini sama seperti tadi." Ucap Felix yang memimpin di depan. Dia langsung menyiapkan diri dengan menciptakan bola api untuk menjadi sebuah penerangan. Selama perjalanan, tak satu pun dari mereka mendengar suara lain selain tapak kaki mereka sendiri. Bahkan suara teriakan yang sebelumnya mengganggu sama sekali tidak mereka rasakan, Suasana yang benar-benar membuat tidak nyaman. Perasaan dingin muncul dari kaki Alea dan dengan cepat menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia segera mengambil Augus dan memegang gagang pedangnya erat-erat, dan napasnya menjadi lebih berat. Dia merasakan tekanan yang kuat biasa kuat dan aura gelap yang menyelimuti sekitar dirinya hingga membuat rasa dingin itu begitu terasa. Sedikit saja dia bisa merasakan aura yang mencekam dari belakang tubuhnya. Dengan cepat dia menoleh tetapi tidak melihat apa-apa. Dinding selokan di sisi lain ditutupi lumut hijau yang bersinar aneh. Tiba-tiba, jeritan pahit memecah kesunyian yang mematikan. Alea dengan cepat berbalik dan melihat pemandangan yang mengerikan, seekor tikus raksasa sebesar manusia berdiri di belakang tubuh mereka, ini adalah aura yang begitu kuat. Sama halnya dengan kobold yang pernah Alea hadapi sebelumya, tapi kali ini Monster itu memiliki mata jahat merah yang layu. Taring yang tajam. Cakar yang runcing. Dan aura yang begitu kuat membuat Alea segera menjaga jarak, pun dengan rekan yang lain. Felix bahkan sudah menyiapkan keterampilannya untuk melakukan sebuah serangan. Tak sampai di sana, tikus besar itu langsung melesat dan berusaha menyerang kami. Kecepatannya sangatlah luar biasa dan itu membuat kami tidak siap. Namun, bilah James menghentikan deretan gigi panjang dan tajam agar tidak menyebabkan luka yang fatal. Dia menghentikan serangannya dengan mudah dan memberikan perlindungan pada kami. "Bagus! Serahkan sisanya pada kami!" Felix langsung maju, dia menggunakan energi apinya dan merubahnya menjadi bentuk fisik sebuah pedang. Pedang api yang membara dan segera saja. Dia mengambil kesempatan untuk menebas tubuh tikus raksasa itu. Sebagai seorang pemimpin serikat yang pernah berada di barisan ranker tertinggi, serangan Felix benar-benar mematikan, bahkan hanya dengan satu tebasan saja membuat tikus itu hampir sekarat. Hanya saja tikus raksasa sepertinya memiliki kekebalan tubuh yang sangat bagus. Bahkan dia bisa menyembuhkan dirinya dengan cepat. Melihat itu Felix langsung memberikan serangan kedua. Tidak hanya Felix, ketika tikus itu berteriak, James langsung melakukan serangan yang tiba-tiba. Dengan gerakan yang paling umum. dia menusukkan perisai di tangan kirinya dengan seluruh kekuatannya ke perut tikus. Tidak ada yang lebih menakutkan daripada yang tidak diketahui, tikus itu bukanlah monster yang bisa di kalahkan dengan mudah, ini bahkan lebih kuat dari pada kobold yang pernah dia temuin sebelumnya. jadi setidaknya untuk Alea, seekor tikus besar yang menunjukkan dirinya jauh lebih baik daripada pemimpin Kobold sebelumnya. Ini lebih kuat, dan tentu saja jiwanya memiliki kekuatan yang maha dahsyat, apa jadinya jika Loki mampu melahap jiwa sekuat ini. Selain dirinya akan berkembang. Alea juga bisa dipastikan akan berkembang dengan pesat dengan jiwa seperti itu. Alea yang begitu semangat menarik napas dalam-dalam dan setelahnya dia merubah Augus dan juga Jess menjadi dua pedang yang memiliki aura sangat kuat. tidak hanya itu dia juga mengeluarkan Loki untuk menjadi pelindung Jess, dia tidak ingin ceroboh sekarang, baginya jiwa Jess lebih penting dan dia tidak ingin kecolongan lagi. Setelahnya dia langsung mendekat dengan pergerakan cepat, berlari ke arah bagian depan dan dengan cepat dia mengayunkan pedangnya ke arah tikus besar itu, untuk membantu rekan-rekannya. Pada saat itu, Alea berhasil melukai tikus di sana, hanya saja raungan binatang datang dari belakang Alea. Dan itu bukanlah raungan dari tikus yang dia hadapi, melainkan dari sosok lain yang kini berdiri di belakang tubuhnya. "Siapa!?" Ketika Alea hendak berbalik, seorang berjubah dengan tongkat sihir berhasil melukai punggungnya. Cahaya gelap dari tongkat yang bergetar dan sedikit meredup. Dampak dari serangan besar itu mampu mendorong Lucien beberapa langkah ke depan, dan dia hampir kehilangan keseimbangan. Beruntung saat dia hampir menjadi sasaran empuk monster di hadapannya, Felix menghentikan serangan tikus dengan tebasan nya hingga membuat cakar tikus putus dan terbakar. "Siapa di sana!" Alea mengambil langkah untuk mempertahankan diri. Ini berada di luar kendalinya, dia tidak menyangka akan datang seseorang yang membantu tikus sialan ini. Namun, serangan itu tidak berhenti di situ. Sosok itu mengeluarkan semacam serangan sihir dari tongkatnya dan itu mengejar Alea dan terus mencoba menyakitinya. Alea melakukan yang terbaik untuk menghindarinya, sementara serangannya terlalu cepat hingga membuat Alea kesulitan, dia hampir saja terkena serangan biru jika saja dia tidak menggunakan Jess, dan beruntung Loki segera melahap serangan energi sihir itu. Alea terpojok, napasnya tersengal. Dia bahkan tidak bisa melihat dengan jelas dalam kegelapan. Sepertinya sosok itu menggunakan keuntungan dalam kegelapan agar bisa menyerang dirinya dengan mudah. Sialan! Dengan kondisi yang tidak tepat. Sosok itu tidak memberikan kesempatan untuk Alea membalikkan serangannya, dan segera dia didorong ke sudut. Alea terkejut bahwa dengan dua ego di tangannya dia tidak mampu menghalaunya dan membuat dirinya terpojok. Dia mengambil napas dalam-dalam dan mencoba untuk tenang, bersiap-siap untuk serangan berikutnya. Kemudian, dia menghindari serangan sihir dengan melemparkan dirinya ke tanah. Pada saat yang sama, dia segera merubah Augus menjadi pistol. Kali ini, Alea memilih fokus dan melihat dengan cermat, hingga akhirnya melihat siapa yang menyerangnya. Itu adalah sosok dengan jubah yang mengincar dirinya. Sedangkan tiga orang lainnya terlihat sibuk menghadapi tikus tanah dengan daya penyembuhan yang luar biasa. Segala serangan mampu dipatahkan dengan mudah, dan hal itu membuat ketiganya kesulitan. Dari semua yang terjadi. Alea mengambil kesimpulan jika sosok berjubah itu adalah orang yang sudah mencipta monster tikus itu dan mungkin saja pemilik tempat ini. Apapun Alea tidak peduli. Dia mulai fokus dengan pedang di tangan kirinya dan pistol di tangan kanannya. Dia segera mengambil langkah untuk melakukan serangan. Alea mengaktifkan penglihatan malam yang mulai tidak stabil karena hanya menggunakan satu mata saja. Namun itu masih bisa membantu sedikit saja. Alea memalukan serangan terus menerus. Membalas semua serangan yang dia dapatkan tadi. Dengan tembakan mana dan juga serangan tebasan Jess yang diselimuti Loki, membuat sosok berjubah itu terpojok. Alea tidak memberikan dirinya kesempatan. Dia berdiri dengan kuda-kuda terkuatnya untuk melakukan serangan berikutnya. Setelahnya dia melesat, sosok berjubah tadi dengan cepat melancarkan serangan balasan yang mampu dihindari oleh Alea. Dan secepat itu dia berhasil melancarkan tebasan nya hingga membuat sosok itu mundur. Tidak sampai di sana. Alea melepaskan tembakan yang tepat mengenai pundak sosok itu tanpa bisa dihindari. Jubahnya terbuka, dan dari sana Alea bisa melihat sosok pria tua di belakang penutup wajah itu. Namun demikian, otot-otot di wajahnya berkerut, dan matanya bersinar dengan cahaya merah. Dia tampak seperti binatang buas yang gila. Sepertinya dia memang sosok yang sudah menciptakan tempat ini dan setelah isinya, minat bagaimana perubahan sosok itu membuat Alea yakin. Dia adalah orang yang bertanggung jawab atas semuanya. Dia menggenggam erat gagang pedangnya, lalu dengan perlahan dia bersiap untuk melakukan serangan lagi. Tidak ada waktu untuk bersantai, jika dia memang monster maka jangan salahkan Alea juga dia akan memakan jiwa sosok ini. Apapun akan dia lakukan sebagai bayaran yang dia dapatkan dari setiap energi yang keluar dari dalam dirinya. Tanpa berpikir lebih jauh, Alea langsung melesat dan dengan pengalaman serta keterampilannya, dia bisa mendominasi pertarungan ini. Bahkan diperlihatkan bagaimana lihainya seorang Alea menggunakan Augus. Dengan merubahnya menjadi pedang untuk menebas, lalu menggunakan Jess dan Loki untuk melahap serangan sihir gelap dari sosok itu. Dan merubah Augus menjadi pistol untuk melakukan serangan susulan. Semua kombinasi dan pergerakan Alea tentu saja memancing perhatian Felix yang benar-benar tidak menyangka jika Alea bisa berkembang sejauh itu. "Bagus! Tunjukkan seluruh kemampuan mu, Al!" Alea yang mendengar itu justru tersenyum dan terus melanjutkan gerakannya. Dia bergerak tanpa henti dan terus menyerang tanpa jeda. Membuat sosok itu terpojok dan tak bisa bergerak. Hanya saja, serangan itu malah membuat pria tua itu marah. Matanya memerah dan setelah itu dia mengaktifkan sihir tingkat tinggi yang membuat Alea terpental hingga menghantam tembok karena efek ledakan yang kuat. Serangan sihir mulai datang dan terus memukul Alea. Pukulan terus menerus membuat Alea tidak bisa berkonsentrasi. Dengan kekuatan sebesar itu tentu saja Alea sedikit kewalahan. Keadaan mulai berbalik. Dan Felix yang melihat itu berpikir untuk membantu. Hanya saja ketika dia memalingkan wajahnya. Tikus di sana langsung menyerang dirinya hingga membuat punggungnya terluka. "Kau tidak apa-apa fel?!" Felix mengangguk, walau dia mendesis kesakitan. Namun dia masih bisa menguasainya. "Maafkan aku!" James merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Felix saat itu. "Tidak masalah. Ini murni kesalahanku karena memalingkan wajah saat dalam pertarungan." Felix segera mengambil langkah untuk berkonsentrasi, dia tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali. Dia mulai fokus untuk menghadapi tikus raksasa itu dengan kemampuannya. Di sisi lain Alea benar-benar terpojok, sihir yang datang kepadanya membuat dia kesulitan, bahkan Loki yang kini sudah berubah menjadi kabut hitam untuk melindungi dirinya tidak berguna sedikitpun. Sihir itu terlalu kuat dan bisa menembus Loki dan berhasil mengenai dirinya. Alea menjadi bulan-bulanan dari serangan itu. Serangan sihir yang datang dengan cepat membuat Alea terpojok dan tak bisa berpikir jernih. Di level yang sama, seorang penyihir yang mampu melakukan serangan tanpa perapal mantra selalu lebih unggul. Sementara alea terjebak dengan sosok pria tua ktu, James dan yang lain tidak bisa menahan tikus itu lebih lama lagi. Tangan kanan james gemetar karena berusaha menahan mulut musuh yang berusaha menyerang dirinya. Untungnya, Felix dengan cepat mengaktifkan keterampilan dan membakar tubuh tikus itu dengan seketika. Itu lebih baik. Walau tidak mendapatkan efek yang berarti karena tikus itu terus beregenerasi, tapi setidaknya Brain bisa mengaktifkan keterampilannya dan muka membuahkan hasil. Racun yang dia tanam mulai terlihat pada tubuh tikus itu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN