“Waktu nyusul kamu ke perpusataakn tadi aku nggak sengaja nubruk Pak Sammy.” Sadina menyimak cerita. Mereka baru bisa bicara serius setelah pesanan datang ke meja. Kejahilan Sajaka telah membuat Sadina menangis. Jadi pembicaraan mereka sempat teralihkan sesaat. Sisa-sisa bekas menangis masih terlihat pada mata sembab Sadina. Gadis itu tampak kelelahan. Maka dari itu ketika pesanan mereka datang, ia langsung meminum ice lemon tea sampai setengahnya. “Barang-barangnya berantakan, terus aku bantu. Gimana ya, aku juga ngerasa bersalah nggak lihat ada yang keluar dari ruangan kelas, jadi kita tabrakan. Habis bantuin beres-beres berkas punya Pak Sammy, aku nemu dompet kartu punya beliau.” “Terus?” tanya Sadina mulai merasakan keseriusan. “Dompet kartunya waktu aku lihat dalam

