“Ah, udahlah!” Sadina membantingkan tubuh ke atas ranjang. Mukanya ditelungkupkan pada bantal sehingga suaranya teredam. Sadina terbayang-bayang kekecewaan yang ia liat dari Haradisa. Yang tadi itu pasti menyakiti perasaan Haradisa. Bagaimana pun Haradisa terlihat sangat senang pada awalnya. Berselang beberapa saat setelah pemilik rumah meninggalkan mereka berdua dalam satu ruangan, Haradisa kesulitan menghadirkan obrolan di tengah-tengah mereka. Lagi pula bukan salah Sadina tidak bisa menyambut hangat orang lain yang ingin lebih dekat dengan dirinya. Sadina tidak pernah mudah menerima orang baru dalam kehidupannya. Pasti saja memutuhkan waktu cukup lama. Akan sulit juga bagi mereka akrab dalam waktu dekat. Apalagi sangat merengkul sebagai saudara. Sadina masih ragu akan sat

