Chapter 1: Hobby, Friends, and College Life
Pukul 01:12
Wanda masih menatap layar laptopnya. Tidak, ia tidak mengerjakan laporan praktikum karena otaknya sudah lelah untuk berpikir pada waktu seperti ini.
Ada hal lain yang sedang ia lakukan. Mungkin ini termasuk hobi.
Tangan Wanda dengan lihainya menggeser kursor yang ada di laptop. Kali ini ia sedang berselancar di i********:. Wanda mengamati profil beberapa orang yang kebetulan ia tertarik untuk melacaknya. Mereka bahkan tidak ada hubungannya dengan Wanda, ia hanya mendapatkan profil mereka secara random.
Well, inilah hobinya setiap malam. Stalking. Entah mengapa ia sangat menyukai kegiatan ini. Wanda dapat memperoleh banyak informasi tentang orang lain dari hobinya. Dan itu merupakan sebuah kepuasan, entah mengapa. Padahal sebenarnya ia tahu, hal ini tidaklah baik karena melanggar privasi orang. Tapi, hei, jangan salahkan dirinya. Mereka sendiri yang memberikan banyak informasi tentang personal mereka di media sosial.
Biasanya Wanda stalking orang yang baru kukenal agar aku mengetahui lebih jauh tentang dirinya. Tak jarang ia juga suka stalking orang terkenal ataupun orang yang saat ini ia benci. Namun, biasanya ia stalking orang secara random.
Dan sekarang matanya sudah terasa berat.
Wanda merapikan beberapa buku yang masih berserakan di atas kasur, kemudian juga mematikan laptop, dan akhirnya ia berangkat menuju alam mimpi.
***
Wanda tinggal di indekos dekat kampusnya. Kamar kost-nya terletak di paling ujung lantai 2, karena dia menginginkan sebuah privasi. Entah mengapa dia tidak suka jika kamarnya berada di bagian tengah atau masih diapit oleh kamar lainnya. Sudahlah lupakan saja.
Kehidupan sebagai anak kost terkadang sangat membosankan. Makan mie instan sudah menjadi kewajiban untuk Wanda, ini terkadang yang membuatnya bosan. Semua makanan yang dijual di luar kost sudah pernah dicoba semua. Terkadang Wanda ingin memasak, namun peraturannya disini dilarang memasak. Bukan hanya dari segi makanan saja, saat dirinya lelah kuliah dan ingin teman cerita, tak ada yang menemaninya. Ia sendiri tidak enak jika mengunjungi tetangga kamarnya karena ia rasa mereka juga sibuk dengan urusan masing-masing.
Sarapan pagi ini, tidak ada. Wanda akan makan di kantin fakultasnya saja. Kebetulan jadwal kuliahnya dimulai pukul 10:00 sehingga ia masih ada banyak waktu untuk sekedar sarapan di kantin.
Wanda akhirnya memutuskan untuk bersiap berangkat kuliah. Jarak kampus dengan tempat indekosnya tidaklah jauh. Wanda hanya perlu berjalan kaki untuk mencapai kampus dan menaiki kendaraan kampus untuk mencapai gedung fakultas.
Suasana di fakultas tempat Wanda berkuliah masih sepi saat ia tiba. Hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang di lantai dasar gedung perkuliahan. Mungkin karena sebagian besar mahasiswa masih mengikuti kuliah pagi. Wanda mengetahui sebagian besar dari mereka. Namun, sepertinya mereka tidak mengenalnya jadi ia tidak perlu repot-repot untuk menyapanya.
Wanda melangkahkan kakinya menuju kantin fakultas yang juga masih sepi pengunjung. Sebuah keuntungan baginya karena ia tak perlu lelah mengantre memesan makanan. Ia memesan nasi uduk lengkap untuk sarapannya pagi ini.
Setelah selesai sarapan, Wanda bergegas menuju kelasnya yang berada di lantai tiga gedung perkuliahan. Wanda menghembuskan napas panjang, menguatkan kakinya untuk menapaki setiap anak tangga hingga mencapai kelasnya.
"Hei, Wan. Kamu sudah datang, rajin sekali." sapa salah satu teman akrabnya, Jasmin, yang tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang.
"Dengan segala hormat, nyonya, tetapi saya memang sudah rajin dari zaman dulu kala." Jawab Wanda diselingi dengan candaan. Mereka pun akhirnya berjalan beriringan menuju kelas.
Jasmin memerhatikan wajah temannya dengan seksama, seperti memindai setiap incinya. "Wajahmu terlihat sayu, kau stress membuat laporan praktikum, ya?" Terkanya.
Jasmin tidak sepenuhnya benar, namun juga tidak salah. Memang kenyataannya Wanda sering stress akibat membuat laporan praktikum. Namun, tadi malam penyebabnya bukanlah hal itu. "Ya, kau benar. Aku heran mengapa laporan praktikum tak kunjung usai. Satu laporan selesai datang lagi laporan yang lain. Kalau begini ceritanya, rasanya aku ingin cepat lulus saja." Celoteh gadis bersurai hitam lebat tersebut.
"Ya, setelah lulus kau ingin segera membuat anak, kan?" Jasmin melontarkan candaan diselingi kerlingan nakal di mata bulat besarnya.
Wanda dengan refleks menampar bahu Jasmin hingga gadis berkulit sawo matang tersebut merintih kesakitan. "Sembarangan saja kalau bicara." Wanda mengatakannya dengan cemberut. Sedangkan Jasmin tertawa terbahak sambil memegangi lengan kirinya yang masih terasa sakit.
Mereka akhirnya berpisah di lantai tiga gedung ini karena mereka berbeda kelas. Di kelas Wanda baru ada tiga orang yang tiba. Wanda menyapa mereka semua dengan senyuman dan mereka juga membalasnya dengan senyum. Wanda memang dikenal murah senyum di kalangan mahasiswa lain. Sepertinya ia terbawa kebiasaan dari daerah asalnya.
Seseorang membuka pintu kelas dengan kekuatan berlebih sehingga menyebabkan pintu kelas berdebum saat kembali ditutup. Jangan salah, yang membuka pintu tersebut adalah sosok wanita, dan sekarang ia duduk di samping Wanda yang sedang asyik memainkan ponselnya.
"Sebelahmu kosong?" ia melepas salah satu earphone yang bertengger di balik hijabnya.
Wanda mengangguk. Gadis berhijab tersebut akhirnya duduk disamping Wanda sambil memasangkan kembali earphone-nya. Wanda melirik padanya dan tampaknya ia tidak peduli dengan gadis bersurai hitam di sebelahnya, ia hanya memainkan ponselnya dan terkadang bergerak kecil mengikuti alunan musik yang ia dengarkan. Tak mau ambil pusing, Wanda kembali fokus pada kegiatan yang ianlakukan sebelumnya. Kali ini Wanda membuka twitter dan mencoba mencari orang secara random untuk di-stalk.
Namun, perhatiannya malah terdistraksi akibat trending twitter yang ia lewatkan semalam. Lagi-lagi tentang pelecehan seksual yang dilakukan oleh publik figur terkenal. Wanda sudah cukup bosan dengan kabar seperti itu hingga ia merasa tidak ada lagi tempat yang aman di dunia ini. Pikirannya melayang jauh, membayangkan apa yang akan terjadi jika dunia mengalami krisis moral. Well, pasti akan sangat mengerikan. Ironisnya kehidupan di dunia ini membuat Wanda tak jarang berdoa memohon kepada sang Ilahi agar ia mati saat usianya belum terlalu lanjut agar ia tak merasakan kehidupan dimana dunia akan semakin kejam.
"Masih pagi sudah melamun. Memangnya kau memikirkan apa?" ucapan Selin membuyarkan lamunannya.
Wanda buru-buru mengembalikan kesadarannya dan meletakkan ponselnya. "Habisnya, kau mendiamkanku. Jadi lebih baik aku juga sibuk sendiri dengan urusanku." Wanda berkilah. Salah satu sifat buruknya adalah ia tak ingin disalahkan dalam kondisi apapun.
"Tadi aku sedang mengerjakan tugas online asal kau tahu." ujarnya.
"Oh iya, Sel," Wanda hendak berbagi pemikirannya barusan dengan teman dekatnya tersebut. "Bagaimana menurutmu tentang dunia yang semakin kesini terlihat semakin kejam? Maksudku, kau tahu kan kalau sekarang kejahatan marak terjadi dimanapun. Pencurian, perampokan, pembunuhan, pelecehan seksual, hingga korupsi yang merugikan negara hingga rakyat kecil seperti kita ini." Wanda berorasi.
"Kau menanyakan tentang opiniku?"
Wanda mengangguk.
"Nanti jika kujawab maka jawabannya akan sangat panjang. Sedangkan Yang Mulia Bapak Dosen Yang Terhormat sudah duduk di tempatnya. Akan lebih baik jika kita mendengarkan beliau menyampaikan materi pagi ini." Selin beralih membuka bindernya dan siap mencatat materi.
***
Setelah satu kelas mata kuliah selesai, Wanda dan Selin yang tadi kebetulan sekelas langsung menuju kantin. Perutnya memberikan sinyal ingin diisi oleh makanan. Wanda lapar lagi karena ia membutuhkan tenaga ekstra untuk menyerap materi mekanika kuantum yang tadi dipelajarinya.
Kantin sangat penuh saat mereka tiba, jam makan siang. Mata cokelat Wanda melihat ke seluruh penjuru kantin, berharap ada yang beranjak meninggalkan meja dan mereka akan menempatinya. Ada satu bangku di bagian paling ujung kantin yang kosong tak berpenghuni. Kamipun menghampiri meja tersebut.
Kemudian Jasmin, dan dua orang lelaki beretnis Tionghoa menghampiri bangku Wanda dan mereka pun duduk di tempat yang kosong. "Mengapa kalian tidak bilang kalau sudah tiba di sini lebih dulu?" Ujar lelaki beretnis Tionghoa yang tidak memakai kacamata sehingga mata sipitnya terpampang dengan jelas.
"Memangnya kenapa?" tanya Wanda balik.
"Setidaknya kita tahu kalau kalian sudah menyediakan tempat buat kita." ujar Jasmin.
Well, karena sudah berkumpul semua, akan lebih baik jika mengetahui siapa saja mereka.
Rafael van Lith, lelaki asal Manado keturunan Cina. Setiap kata yang terlontar dari mulutnya selalu sepedas sambal rica-rica, namun tetap mengundang tawa. Dia adalah makhluk paling menyebalkan diantara mereka berlima. Sifatnya yang tengil, sarkas, bad temper, namun berhati lembut menjadi satu di diri Rafael. Dia juga sosok pahlawan yang siap melindungi sahabatnya dari setiap apapun yang mengancam keselanatan mereka. Ciri fisiknya berbadan kurus dengan tinggi mencapai 175 cm, berkulit kuning langsat, mata cokelat gelapnya yang sipit, hidung mancung, dan rambut hitam yang selalu dicukur stylish.
Selina Amelia, the best problem solver diantara mereka. Tipe manusia introvert yang akan menjadi ekstrovert jika berada di lingkaran yang tepat. Pemikirannya yang rasional dan independen membuatnya berbeda dari gadis lainnya, hal itulah yang membuatnya hanya dapat bergaul dengan sebagian orang, setidaknya mereka tulus. Ia pandai membaca gestur tubuh seseorang, memiliki kemampuan analisis dan insting yang bagus. Ciri fisiknya tinggi semampai mencapai 171 cm, kulit putih, wajah oval dengan pipi tembam, hidung normal (tidak mancung dan tidak pesek) bentuk mata monolid dengan iris berwarna cokelat terang. Wanda tak tahu apa warna rambutnya karena ia mengenakan hijab sehari-harinya. Tapi bukanlah jilbab syari yang digunakannya melainkan hijab yang terlihat stylish.
Jasmin Adelina Putri, wanita keturunan suku Minang yang tidak mencerminkan wanita Minang pada umumnya. Jika mayoritas wanita Minang bertutur kata lembut dan sopan, maka Jasmin adalah sarjana kebun binatang. Ia memang egois dan keras kepala, namun dalam urusan pertemanan ia yang paling setia. Hobinya sangat random dan ia sangat benci membuat laporan praktikum. Ciri fisiknya berbadan padat berisi, tinggi badan 161 cm, wajah bulat, berjilbab namun modelnya tidak seperti Selin, kulit sawo matang, serta bola matanya kecil. Dia yang paling dekat denganku dibanding yang lainnya.
Deavanno Apriandi atau yang biasa dipanggil Deva, adalah cowok keturunan Chinese-Bangka yang paling dewasa dan kalem diantara mereka. Ia termasuk mahasiswa yang pintar di jurusan kami. Pergaulan Deva bisa dibilang sangat sempit, jika saja saat itu Wanda tak memperkenalkannya kepada tiga orang di atas kemungkinan ia tak memiliki seorang pun teman sampai sekarang. Mungkin salah satu dari tiga orang di atas ada juga yang kurang menyukai kepribadian Deva karena ia sedikit angkuh. Ciri fisiknya bermata sipit seperti Rafael yang dibingkai kacamata, tinggi badan mencapai 173 cm dengan badan yang proporsional, berkulit putih seperti orang keturunan Tionghoa lainnya serta rambutnya selalu dicukur rapi.
Dan terakhir sang tokoh utama, Wanda Eka Cahyaningrum. Ia berasal dari Sidoarjo, Jawa Timur yang masyarakatnya sangat ramah-inilah yang menyebabkannya murah senyum. Sebenarnya keluarga Wanda berasal dari Solo, Jawa Tengah. Ketika ia menginjak kelas 10 SMA, ayahnya dipindahtugaskan ke Surabaya, Jawa Timur. Wanda diterima di kampus ini lewat seleksi bersama tingkat nasional. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dan orangtuanya masih lengkap. Teman-temannya mengatakan sifatnya ramah, murah senyum, humble, namun agak sedikit takut mengungkapkan perasaan. Opsi terakhir dikarenakan Wanda merasa tidak enak jika melukai perasaan seseorang. Ciri fisiknya berambut hitam tebal panjang, mata belo dengan warna cokelat gelap, kulit sawo matang, badan agak kurus, tinggi mencapai 169 cm, dan berwajah tirus serta berhidung mancung.
Mereka semua mahasiswa semester lima di jurusan fisika.
Kamipun makan siang dengan makanan yang berbeda sesuai dengan selera kita masing-masing. Wanda membeli nasi ayam geprek kesukaannya (ia sangat menyukai makanan pedas), Rafael membeli mie ayam lengkap dengan sumpit, Deva membeli kwetiau siram, Jasmin dengan bekal favoritnya telur dadar dan tempe goreng, dan terakhir Selin dengan dadar mie andalannya dan nasi merah. Dua manusia terakhir sangat beruntung karena bisa membawa bekal dari rumah.
"Jadi, ada kabar terbaru apa?" Jasmin membuka pertanyaan gosip siang itu. Ia sangat paham bahwa Wanda pasti akan membawa berita baru yang hangat, aktual, tajam, dan terpercaya.
"Spill the tea!" Imbuh Selin.
Wanda membuka ponselnya, menampilkan screenshot yang ia abadikan dari twitter semalam. "Ada adik tingkat yang dimarahi habis-habisan oleh komisi disiplin angkatan kita hanya karena ia lupa tak menyapa kakak komdis." Ujarnya sambil menunjukkan screenshot berisi curahan hati sang mahasiswa junior.
"Bagaimana tanggapan bapak project officer ospek jurusan?" Jasmin melirik Rafael yang sebisa mungkin menahan perasaan bersalahnya.
Dengan memasang tampang sok bijaksana, Rafael mengeluarkan opininya. "Memang acara ospek jurusan sudah usai sejak bulan lalu. Namun, program pembinaan karakter oleh komisi disiplin masih akan berlanjut hingga akhir semester ganjil nanti. Jadi menurutku itu sebuah hal yang wajar, toh komdis berbuat seperti itu untuk mendisiplinkan adik tingkat. Aku yakin mereka sebenarnya memiliki niat baik." Jelasnya.
"Tidak, aku tidak setuju dengan konsep pembinaan karakter tersebut." Selin menyanggah. "Ini merupakan ajang balas dendam untuk melampiaskan seluruh emosi. Aku tahu kalian sudah lelah kuliah hingga semester lima ini, tetapi melampiaskan kekesalan kalian ke adik tingkat yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang masalah hidup kalian merupakan hal yang kejam." Selin menyampaikan argumennya dengan sengit.
"Justru dari hal tersebut kita bisa melihat kesiapan mental para junior dalam mengikuti perkuliahan." Rafael tetap kekeuh pada opininya.
"Yeah, kau benar. Kalian persiapkan saja mental adik tingkat hingga rusak dan akhirnya bisa kalian bentuk seperti yang kalian inginkan. Kau bahkan tidak benar-benar peduli dengan mereka, Raf." Ujar Selin sarkastik.
"Memangnya kau peduli?"
"Aku dari awal memang tidak peduli dengan mereka, makanya aku tidak terlibat dalam kepanitiaan ospek jurusan."
"Siapa memangnya yang memarahi adik tingkat tersebut?" Tanya Jasmin penasaran sekaligus mencoba mencairkan suasana agar kedua temannya tidak berlanjut perang.
"Adrian, penyebab awalnya ia sempat diusir dari kelas fisika inti karena telat dan tidak mengerjakan tugas. Ia bahkan sempat bernegosiasi dengan dosen tetapi ditolak." Wanda mengetahui hal tersebut karena mereka berada dalam kelas yang sama kemarin Senin.
"Kau lihat itu? Itu sudah bukti nyata kalau semua ini hanya pelampiasan." Kata Selin bersemangat, ia memang selalu menang dalam perdebatan.
Rafael terdiam, ia kalah telak. "Oke, ada baiknya nanti kubicarakan dengan kedua orang yang bersangkutan. Sebagai project officer yang baik aku akan melakukan mediasi agar masalahnya clear." Katanya menenangkan.
Jasmin melirik Deva yang hanya terfokus pada layar ponselnya. "Kau dari tadi diam saja. Kau menahan berak atau simulasi menjadi koala?" Sudah dikatakan bahwa Jasmin merupakan sarjana kebun binatang.
"I really don't give a f**k about that shit." Jawab Deva tak peduli tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari ponselnya.
***