"Apakah tidak ada lowongan pekerjaan sampingan untukku?" Wanda bertanya kepada seluruh temannya yang ada di hadapannya saat ini.
"Tidak." Jawab mereka serempak.
"Oh ayolah," Wanda mendengus sebal. "Kalian sudah melihat sendiri bahwa aku benar-benar berbakat dalam melakukan sebuah pencarian karena aku hobi stalking. Dan aku sudah terbukti selalu mampu membawa berita terbaru yang faktual."
"Mungkin ada baiknya bakat terpendammu dibiarkan saja terpendam." Ujar Deva tanpa perasaan bersalah.
"Benar apa yang dikatakan Deva, Wan. Lagipula hanya kita berempat yang mengetahui bakat terpendammu yang, jujur saja menurutku itu sedikit creepy." Jasmin satu suara dengan Deva.
"Mengapa kau tidak melamar saja menjadi admin akun lambe turah? Kau bisa berselancar mencari informasi dari manapun sehingga admin lainnya tidak perlu menunggu submisi dari followers-nya." Usul Rafael asal-asalan.
"Tidak! Aku tak mau menjadi admin akun gosip seperti itu." Wanda menolak mentah-mentah tawaran Rafael yang menurutnya sedikit kurang waras. "Aku ingin pekerjaan yang mengandalkan skill stalking-ku ini untuk hal yang bermanfaat. Menangkap penjahat di dunia maya misalnya." Ungkap Wanda menjelaskan pekerjaan impiannya.
"Mungkin aku punya lowongan pekerjaan untukmu, tetapi aku juga tak tahu pasti." Ujar Selin seperti memberikan angin segar untuk Wanda.
"Kau serius? Aku akan sangat berterima kasih jika itu menjadi kenyataan."
"Aku tak tahu pastinya. Sepulang kuliah aku akan mengajakmu ke salah satu relasiku."
"Siapa relasimu?"
"Ayahnya teman lamaku, beliau bekerja sebagai polisi."
***
Seperti yang dijanjikan oleh Selin, setelah selesai kuliah siang pukul 14:40, Selin mengajak Wanda ke tempat relasi Selin berada. Namun, tentu saja rencana mereka mendapat penolakan dari ketiga temannya yang lain.
Rafael dengan gagah berani berdiri menghadangi jalan kedua gadis nekat tersebut di teras gedung jurusan. "Wanda! Lebih baik kau urungkan saja niatmu itu." Titahnya tanpa menerima penolakan.
"Tugas kuliah sudah membuatmu cukup pening dan kau ingin menambah beban hidupmu dengan pekerjaan seperti itu. Kau sudah gila, ya?!" Maki Jasmin tepat di hadapan temannya tersebut.
"Kau ingin berurusan dengan para kriminal yang terkenal kejam tanpa ampun? Lebih baik jangan, sayangi nyawamu, Wan. Kau kira dengan kau menggali informasi tentang mereka hidupmu akan tetap aman setelahnya? Kau salah besar. Kau akan menjadi incaran mafia berdarah dingin yang siap membunuhmu kapan saja bila ada kesempatan." Deva berorasi panjang lebar sesuai dengan pemahamannya dari novel kriminal yang pernah ia baca.
"Kau ingin uang? Sebutkan saja sekarang berapa nominal yang kau butuhkan. Akan kutransfer ke rekeningmu saat ini juga." Jasmin menantang Wanda dengan sedikit kesal. "Atau kalau kau tak mau, lebih baik kau sewa saja babi ngepet agar cepat kaya." Sindirnya.
Wanda memegangi telinganya yang sedikit nyeri akibat mendengar masukan dari temannya yang justru menurutnya sangat tidak berguna. "Guys, ini bukan tentang uang. Ini tentang passion. Aku akan sangat menyayangkan jika bakat terpendamku ini didiamkan begitu saja sedangkan pada kenyataannya dapat digunakan untuk kebaikan." Wanda menjelaskan. "Aku ingin seperti Selin yang mengembangkan passion-nya menulis di aplikasi novel online."
Sang empunya nama langsung angkat bicara sejak dari tadi ia hanya menikmati perdebatan antar temannya. "Dari mana kau tahu aku menulis?" Tanyanya penasaran.
"Bio twitter-mu bodoh." Jawab Wanda dengan entengnya.
"Sialan aku lupa menghapusnya." Umpat Selin pelan. "Kau curang, Wan. Kau tahu username akun twitter kami tetapi tak ada satupun dari kami yang mengetahui twitter-mu."
"That's how stalker works, babe."
Selin memutar bola matanya, bosan dengan Wanda yang selalu membanggakan dirinya sebagai stalker. "Eh, tapi kalau kau bilang kau ingin mengikuti passion-mu, kembangkan saja bakat senimu. Kau bisa membuat channel youtube yang berisi videomu meng-cover lagu dengan violin." Saran Selin. Sekedar informasi, Wanda sangat mahir bermain violin.
Wanda mendecak sebal. "Kau ini memihak siapa? Aku atau mereka?"
"Aku di pihak netral, aku hanya ingin yang terbaik untukmu." Jawab Selin kalem. Tak jarang, posisinya yang netral justru menjadikannya sebagai pengecut menurut orang di sekelilngnya.
Wanda mengusap wajahnya, rambutnya juga berantakan akibat mengikuti kelas siang yang membuatnya suntuk. "Haish, membuat channel youtube tak semudah yang kau bayangkan. Kau harus bersaing dengan ribuan influencer agar video yang kau unggah dapat dilihat banyak orang. Selain itu kau juga harus kreatif dalam membuat konten."
"Memangnya kau pikir menjadi mata-mata di dunia maya semudah yang kau bayangkan?" Tanya Selin balik.
"Tidak, tapi aku akan sangat menikmatinya."
Dari belakang mereka, sesosok pria bertubuh tinggi gagah berjalan mendekati mereka. Pemilik senyum menawan yang menjadi tambatan hati Wanda. "Kalian jika ingin ribut, jangan di tengah jalan seperti ini. Kasihan pengguna jalan yang lain." Tuturnya lembut terbawa angin sore.
Suara bariton pria tersebut membuat Wanda refleks menengok ke sumber suara. "Kamal," ucapnya salah tingkah. "Kami tidak bertengkar, hanya berdiskusi."
"Hei, lagipula terserah kami mau diskusi ataupun ribut. Ini bukan urusanmu sama sekali, Tapir Bogor." Jasmin merasa tak suka dengan kehadiran Kamal yang mencampuri urusannya dengan teman-temannya.
"Sejujurnya, kami tidak ribut." Ujar Rafael diplomatis. "Kami hanya berdiskusi bagaimana cara kita pulang."
"Dan ya, keputusan sudah dibuat." Imbuh Deva setuju. "Aku akan membonceng Wanda hingga ke depan indekosnya, Rafael akan mengantar Selin ke kediamannya, sedangkan Jasmin akan menaiki bus kampus hingga ke stasiun." Jelasnya.
"Tunggu dulu, kau akan pulang bersama Selin?" Jemarinya menunjuk pria bermata sipit yang tergabung dalam peminatan yang sama dengannya. "Bagaimana dengan kekasihnya yang masih sibuk di lantai tiga?" Tanya Kamal penuh selidik diselingi kerlingan nakal.
"Bukan urusanmu, Tapir Bogor." Umpat Selin dan Jasmin bersamaan.
Kamal hanya tersenyum simpul dengan umpatan kedua gadis tersebut. Ia yakin mereka hanya bercanda. Setelah ini ia akan melupakan insiden barusan. "Baiklah kalau begitu. Tadi kalian bilang Jasmin akan menaiki bus kampus hingga ke stasiun? Akan lebih baik jika ia pulang bersamaku. Lelaki macam apa yang tega melepaskan teman perempuannya sendirian." Ia menawarkan diri.
"Lebih baik aku menjadi pepes manusia di bus bersama penumpang yang lain daripada harus pulang bersama Tapir Bogor sepertimu." Jasmin melenggang pergi meninggalkan keempat temannya bersama pria yang sedari tadi ia juluki Tapir Bogor.
"Soal ucapan Jasmin tadi, jangan kau masukkan hati, ya. Aku yakin niatnya hanya bercanda." Wanda meminta maaf atas perlakuan tidak mengenakkan salah satu sahabat karibnya kepada pujaan hatinya.
"Masukkan saja ke empedumu, agar diolah bersama racun yang lain dan akhirnya disekresikan bersama fesesmu." Selin bercanda secara sains menurut ilmu anatomi fisiologi yang ia pelajari tadi siang.
Kamal terkekeh singkat, meskipun dalam hati ia sangat kesal. Namun, ia berhasil menjaga emosinya sehingga tetap menampakkan citranya sebagai lelaki kalem. Jika seandainya Jasmin bukan teman Wanda, niscaya kulit sawo matang gadis tersebut akan semakin gosong akibat disetrum dengan voltase yang nilainya sama besar dengan rasa kesal Kamal. "Tak apa, sungguh." Ucapnya meyakinkan. "Kau pulang saja bersamaku, biar Deva yang mengantar Jasmin ke stasiun." Ia mengusulkan agar Wanda pulang bersamanya karena arah indekos mereka juga searah.
"Tidak perlu." Tolak Deva dengan menggenggam kuat tangan Wanda agar gadis tersebut tak berpaling darinya. "Kau tidak tahu sosok apa yang akan kau bawa pulang. Aku tak berani menjamin kau akan selamat sampai tujuan." Ucap Deva sarkas. Namun, jauh dalam pikirannya ia membayangkan Kamal dihabisi oleh Wanda di tengah jalan sehingga gadis tersebut bisa kabur bersama Selin.
"Memangnya kenapa? Kau meragukanku."
"Yes, absolutely." Deva menggeret Wanda ke parkiran dengan kasar. "Kita pulang sekarang!" Perintahnya mutlak.
Tubuh Wanda yang lebih kecil dari Deva membuatnya tak bisa berkutik. Ia terpaksa melangkahkan kaki lebih lebar dari biasanya untuk mengikuti irama langkah kaki pria oriental berkacamata tersebut. "Deva, lepaskan! Aku bisa sendiri." Wanda mencoba meronta minta dilepaskan.
"Oke, oke." Deva melepaskannya. "Tetapi berjanjilah kepadaku kau tidak akan kabur."
Wanda menggeleng kuat, berhasil meyakinkan Deva. Di sisi lain, ia percaya bahwa Selin mempunyai rencana cadangan yang akan membawanya pergi mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan.
***
Selin memang mempunyai seribu macam cara untuk memenuhi tujuannya. Tepat pukul empat sore, Wanda dan Selin sudah berkumpul kembali di halte fakultas, tentu mereka sudah mandi sore. Selin memesan taksi online yang akan membawa mereka ke tempat tujuan. Sedangkan Wanda, pikirannya melayang membayangkan ia sebentar lagi akan memperoleh pekerjaan.
"Aku bayar berangkatnya, kau bayar pulangnya, setuju?" Ujar Selin ketika mereka berdua memasuki taksi. Wanda menyetujuinya.
Mereka berhenti di sebuah rumah yang di cat warna hijau tua dengan dua lantai. Selin turun taksi terlebih dahulu, disusul Wanda yang sibuk merapikan rambutnya yang dibiarkan terurai. Selin berbicara sebentar dengan penjaga gerbang, kemudian gerbang tersebut terbuka seolah mengizinkan mereka masuk.
Setelah itu mereka berjalan ke pelataran rumah dan melihat seorang lelaki bertubuh atletis dan berkulit kecoklatan yang menurut Wanda sangat seksi, sedang latihan menembak menggunakan senapan. Wanda terlunjak kaget saat lelaki tersebut menarik pelatuknya sehingga terdengar suara dor.
Sesaat kemudian, lelaki tersebut memandang ke arah mereka. Ia meletakkan senapannya kemudian menghampiri kedua gadis tersebut. "Wanita yang baik tidak akan menghampiri rumah seorang pria tanpa alasan mendesak." Ujarnya dengan suara berat.
"Selamat sore, Arian. Lama kita tak berjumpa." Sapa Selin mencoba untuk ramah. "Tentu saja aku datang ke sini dengan urgensi tertentu. Ayahmu ada?"
"Belum pulang, Sel. Ada apa kau mencarinya?"
"Aku ingin mengenalkan temenku ke ayahmu, siapa tahu beliau tertarik dengan kemampuannya."
"Apa kemampuannya?"
"Entahlah, semacam sesuatu yang sedikit creepy, tapi cukup berguna untuk membantu pekerjaan ayahmu."
Wanda tersenyum kecut mendengar penjelasan Selin. Sedari tadi ia hanya bungkam, tetapi otaknya memikirkan rencana balas dendam yang akan ia lakukan esok hari karena Selin telah mempermalukannya di depan pria setampan... siapa tadi namanya? Arian? Arya?
"Hmm, aku tidak tahu apakah ayahku membutuhkannya. Jika aku tidak salah dengar, beliau sedang membutuhkan orang untuk direkrut. Berdoa saja semoga temanmu lolos kualifikasi." Arian mengedikkan bahunya, ia benar-benar tak tahu, dan setengah tak peduli.
"Semoga saja," desahnya pelan. Wanda harap-harap cemas mendengar kalimat 'lolos kualifikasi' yang berarti ia harus melewati tahap seleksi. Dengan kata lain, ia tidak bisa langsung diterima.
"Oh iya, Aku lupa. Perkenalkan ini teman kuliahku, namanya Wanda." Akhirnya Selin memperkenalkan Wanda kepada lelaki seksi bertubuh atletis tersebut. "Nah Wanda, ini Arian, teman lamaku. Ayahnya adalah perwira polisi."
Mereka pun bersalaman. Wanda merasakan tangan Arian agak kasar dan genggamannya padanya cukup kuat. Setelah beberapa saat mereka melepaskan jabatan tangan. "Kamu tentara, ya?" Wanda mencoba menerka, karena dari postur tubuh Arian Wanda yakin ia pasti mengikuti salah satu akademi militer.
"Yeah, mungkin bisa dibilang begitu." Jawabnya.
Dugaannya benar. Wanda kembali melihat Arian dari atas sampai bawah, dan pipinya terasa panas. Posturnya yang tinggi serta tegap, badannya yang atletis, dadanya yang bidang membuatnya ingin menyentuhnya dan bahkan memeluknya. Pada detik ini nafsu birahi Wanda mencapai titik puncaknya. Ia pun segera menyadarkan diri agar tidak terbuai hawa nafsunya.
Ketika kesadaran dan akal sehat Wanda sudah sepenuhnya kembali, ia melihat Selin sudah mengokang senjata dan bersiap menembak sasarannya. Gadis putih berhijab tersebut menarik pelatuknya dan Wanda terkejut, lagi. Namun, tembakannya tak mengenai sasaran dengan tepat. Arian pun mendekati Selin dan mengajarinya cara menembak yang benar. Wanda hanya memperhatikan kedua orang tersebut dari jauh.
"Dulu ketika aku masih kecil, aku bisa menembak dengan pistol berisi peluru kacang hijau. Sekarang ketika aku menembak dengan senapan asli justru tidak bisa." Selin memberikan senapan tersebut kembali ke Arian.
Arian menerima senapan tersebut sambil terkekeh. "Tentu saja kedua jenis senapan tersebut beda. Pistol kacang hijau hanya mainan, sedangkan ini," Arian mengokang senapan tersebut dan menarik pelatuknya hingga tepat sasaran. "Ini senjata asli, tidak semua orang bisa menggunakan ini dengan benar."
Arian melirik ke arah Wanda sekilas. "Mau mencobanya?" Tantang pria bertubuh atletis tersebut.
Wanda menggelengkan kepala sekuat yang ia bisa. Ia tak akan mungkin menyentuh senjata yang membuatnya terkejut berkali-kali.
Arian beralih memandang Selin yang masih mengagumi deretan senjata yang ia susun rapi di gazebo rumahnya. "Jadi perempuan itu seharusnya seperti Wanda yang tahu diri. Jangan sepertimu yang sering sok tahu, ketika kau gagal malah menyerah." Sindir Arian kepada Selin.
Selin menyunggingkan senyum sinis. "Jadi lelaki jantan itu jangan hanya bisa menembak sasaran dengan senjata. Seharusnya kau juga bisa menembak wanita hingga mendapat seorang kekasih." Selin tak mau kalah menyindir Arian.
Arian tertawa sarkastik. "Belum saatnya," jawabnya enteng. "Nanti jika aku sudah mempunyai kekasih, aku berani taruhan kekasihku jauh lebih cantik darimu." Ujarnya percaya diri.
"Aku akan sangat menantikan momen itu, berdoa saja semoga kau menang taruhan."
***