Chapter 3: A Starting Point

2317 Kata
Ayah dari Arian sudah tiba sejak beberapa menit yang lalu. Sekarang Wanda dan Selin berada di ruang tamu. Yeah, Arian kena marah oleh ibunya karena tidak mempersilakan kedua gadis tersebut masuk ke rumah, malah bermain di luar rumah. Ruang tamu keluarga Arian cukup luas. Terdapat empat sofa single dan satu sofa yang bisa diduduki dua orang serta meja di tengah sofa. Selain itu, terdapat foto keluarga serta lukisan bergambar makhluk mitologi griffin yang terpajang di dinding yang dicat cream. Dari sudut matanya Wanda bisa melihat Ayah Arian sedang membicarakan hal yang serius dengan seseorang di telepon. Rasa penasarannya yang tinggi membuatnya menguping apa yang mereka bicarakan. Gadis berambut hitam tersebut mencoba mengabaikan Arian dan Selin yang sepertinya sedang asyik dengan dunia mereka. Inti dari percakapan kedua pria dewasa tersebut adalah ada salah satu agen mata-mata yang akan menyelidiki sebuah kasus besar. Mereka akan menugaskan mata-mata tersebut di sebuah kompleks perumahan elit di kawasan Jakarta Selatan. Seketika Wanda teringat lirik ini, "Abang tukang bakso bawa walkie talkie." Entah mengapa ia tersenyum sendiri ketika mengingat lirik tersebut. Tak lama kemudian beliau sudah duduk di hadapan mereka bertiga. Ralat, mereka berdua. Arian langsung beranjak ke dapur ketika ayahnya duduk di depan kedua gadis mahasiswa tersebut. Sepertinya Arian dihukum oleh ibunya untuk memasak karena tadi ia tidak mempersilakan tamunya masuk. "Tumben Selin main kesini. Ada apa?" Suara Ayah Arian terdengar berat dan berwibawa. Wanda berasumsi bahwa beliau mempunyai pangkat tinggi dan jabatan yang disegani di kepolisian. Selin mencium tangan Ayah Arian, begitupun juga dengan Wanda. "Maksud dan tujuan saya kesini untuk memperkenalkan teman kuliah saya "Siapa namamu, nak?" "Wanda, Pak." "Wanda bisa panggil saya Om Sud aja. Nama saya Sudarmadji." Ujarnya ramah. "Teman saya ini memiliki kemampuan stalking yang tidak diragukan lagi. Saya juga mendengar dari Arian bahwa Anda sedang mencari orang untuk direkrut." Selin menjelaskan kemampuan Wanda layaknya seorang sales promotion girl yang mempromosikan produknya. Om Sud tersenyum sekilas. "Begini nak Selin, untuk menjadi mata-mata di media sosial itu butuh pelatihan khusus, bukan hanya sekedar stalker biasa. Disini juga risikonya sangat besar. Apa kamu yakin temanmu sanggup menanggung risikonya?" "Sebenarnya saya butuh pekerjaan sampingan untuk nambah penghasilan, Om." Aku mencoba angkat bicara. "Kalau kamu butuh kerja sampingan, lebih baik kamu melamar di kantor atau di tempat lain. Atau kamu bisa mencoba mengajar les, sangat cocok dengan latar belakangmu sebagai mahasiswa." Usul Om Sud yang terdengar sangat realistis bagi mahasiswa seperti kedua tamunya. Wanda mencoba mencari alasan yang tepat agar tujuannya tercapai. Namun, di sisi lain ia juga sangsi apakah ia akan benar-benar menikmati pekerjaan ini atau tidak. "Tapi saya suka tantangan, Om." Om Sud menggeleng, heran melihat tingkahku. "Kamu memasang pelet apa di Wanda? Sifatnya hampir sama sepertimu, keras kepala." Tanyanya kepada Selin. "Rahasia, Om," Selin terkekeh lebar. "Beri Wanda satu kali kesempatan, Om. Jika performanya buruk, Om tidak perlu memakai jasa dia lagi. Tetapi jika dia berhasil mengungkap sebuah kasus, saya mohon pertimbangkan lagi keputusan Om." Selin sangat berharap agar Om Sud setuju dengan usulannya. Om Sud mengusap dagunya, ia terlihat sedang berpikir dengan serius. "Baiklah. Untuk masa percobaan, Wanda bisa coba pecahkan sebuah kasus." Beliau menyetujui usulan Selin. Wanda sangat senang mendengar keputusan tersebut. Setidaknya bakat stalker-nya akan menghasilkan rupiah. "Saya kasih waktu kamu seminggu. Kalau kamu ngga berhasil di misi pertamamu, saya tidak akan memakai jasamu lagi." Ujarnya. Sepertinya Wanda akan menyanggupi perjanjian pertama ini, mengingat dirinya sangat hobi stalking. "Terima kasih banyak, Om." Tangan Wanda refleks menyalami Om Sud bolak-balik saking bahagianya. Jika Selin tak menepuk pundaknya, mungkin ia tak akan berhenti menyalami Om Sud. Namun, Wanda merasa waktu seminggu sangat tidak cukup untuk pemula sepertinya. Jadi, ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk masa percobaan. "Pak, makanannya sudah matang." Suara Ibu Arian menggema dari dapur. Kemudian terdengar suara Arian menata alat makan dan juga meletakkan piring berisikan lauk untuk makan malam. "Sudah malam juga, Om. Kita berdua pamit pulang, Om." Ujar Selin sejurus kemudian. Wanda sangat tidak setuju dengan usulan temannya tersebut. Hemisfer otaknya yang sedikit nakal mulai bekerja dominan. Wanda tak ingin pulang ke kamar kost terlebih dahulu karena aroma masakan dari ruang makan sangat menggoda. Ia juga sempat melirik makanan tersebut, rupanya Arian dan ibunya membuat makan malam dengan porsi besar. Sehingga ia berkesimpulan bahwa ada jatahnya—dan Selin tentunya, di porsi besar tersebut. "Lho, kok buru-buru? Makan dulu aja sini. Tante Mira ama Arian sudah memasak dalam porsi banyak, cukup juga untuk kalian berdua." Om Sud hendak menahan kepergian Selin. Sedangkan Wanda, ia tak ingin beranjak dari rumah Arian sebelum perutnya terisi kenyang. "Saya sangat menghargai kebaikan Tante Mira, tetapi ada lebih baiknya kita berdua pulang saja." Om Sud menggelengkan kepalanya, heran melihat pola pikir Selin. "Kalau kamu pulang, bagaimana nasib temammu ini? Pasti dia masih harus mencari makan kalau kamu mengantar dia pulang sekarang." Om Sud mencoba bernegosiasi. Anda sangat benar sekali, Om Sud. Sangat benar, pikir Wanda "Hmm, baiklah. Saya menyerah." Selin pun akhirnya pasrah. Ia menuruti perintah Om Sud yang menahannya pulang. "Tapi saya mohon izin untuk menunaikan salat magrib terlebih dahulu." Izinnya sopan. Tante Mira menghentikan aktivitasnya, ia meletakkan piring besar berisi telur balado. "Kamu bisa salat di kamar Arian. Kamu bawa mukena? Maaf di sini tidak menyediakan mukena." Selin mengangguk pelan, ia beringsut undur diri. "Bawa, Tante. Kalau begitu saya permisi dulu." Ia berjalan bersama Wanda memasuki kawasan rumah Om Sud lebih dalam. Wanda tersenyum girang saat kami bertiga akhirnya menuju ruang makan. "Kau puas?" Selin menyikut perut Wanda pelan. "Sangat." Jawab Wanda sambil menampilkan deretan giginya yang tidak terlihat putih berkilau. "Kau salat sendiri, ya? Aku sedang haid." Selin mengangguk sekilas, kemudian ia meninggalkan Wanda yang tidak sabar menghabiskan sajian di meja makan. Setibanya mereka di ruang makan, sudah tersaji berbagai menu yang sukses membuat fakir miskin penghuni perut Wanda semakin meraung-raung. Sajian lengkap makanan utama seperti telur balado, udang goreng tepung, dan daging sapi bumbu teriyaki hingga beberapa hidangan penutup yang manis sangat menggodanya. Ia tak menyangka sang tuan rumah akan menjamu tamunya seistimewa ini. "Mari makan, maaf kalau makanannya sederhana." Ujar Tante Mira. Perempuan tersebut terlihat berusia setengah abad, tetapi wajah dan senyumnya yang manis membuat penampilannya lebih awet muda. Dengan rambut hitam memutih yang disanggul rapi dan daster sederhana yang terlihat elegan, beliau dengan anggunnya membantu Arian menata meja. Jika Tante Mira mengatakan bahwa menu makanan yang disajikannya sederhana, beliau harus melihat menu makan malam Wanda yang biasanya berupa nasi dengan lauk orek tempe serta tumis kangkung yang totalnya seharga Rp 7.000,00. Yeah, mungkin itu dikategorikan menu makan malam seorang mahasiswa kritis akhir bulan. Tante Mira mempersilakan kedua gadis untuk duduk. Om Sud duduk di meja paling ujung, Tante Mira duduk berhadapan dengan Arian. Wanda duduk di sebelah kanan Arian, sebelah kanan Wanda terisi tas Selin yang sengaja ia tinggalkan. Dua kursi kosong di sebelah Tante Mira dikhususkan untuk adik-adiknya Arian. "Panggil adikmu, suruh mereka makan sekarang." Titah Om Sud kepada anak sulungnya. "Iya, pak." Arian beranjak dari duduknya dan memanggil kedua adiknya. Entah mereka ada dimana, Wanda tak peduli. Yang ada di pikirannya malam ini ia bisa tidur pulas dalam keadaan perut yang kenyang makmur sejahtera sentosa. Tak lama kemudian Arian kembali dengan seorang remaja pria bertubuh gemuk yang menurut Wanda baru mengecap manisnya bangku Sekolah Menengah Atas serta seorang gadis cilik yang cukup menggemaskan karena pipinya sangat tembam seperti squishy, kurang lebih ia berusia 12 tahun. "Yeay, Mama masak udang goreng!" Seru si gadis cilik. "Dek, jangan makan banyak-banyak. Nanti kamu gendut." Ujar sang kakak. "Biarin. Masakan Mama sama Mas Arian selalu enak, makanya aku selalu makan banyak." Jawab si gadis kecil. Memang postur tubuhnya menandakan bahwa ia memiliki selera makan yang bagus. "Sudah sana cepat makan. Aku capek memasak porsi besar untuk kalian berdua." Arian mendorong pelan kedua adiknya tersebut. Setelah mereka semua (minus Selin) duduk di meja makan, Om Sud memimpin doa makan malam hari ini. Keluarga Arian membentuk salib dengan kedua tangannya kemudian menggenggamnya. Wanda menengadahkan tangannya, berdoa semoga makanan yang akan ia makan hukumnya halal. "Amin." Setelah itu mereka mengambil porsi makan malam masing-masing. Kedua adik Arian terlihat berebut udang goreng. Mereka makan dengan kecepatan tinggi hingga udangnya ludes seketika. Sedangkan Wanda mengambil sebutir telur balado dan beberapa potong daging teriyaki, harap-harap cemas semoga daging tersebut halal. Selin menyusul duduk di sebelah Wanda, menjejalkan mukenanya ke dalam tas. Sepuluh detik kemudian ia mengambil makanan dalam porsi sangat sedikit. Ia hanya mengambil nasi dan tiga potong daging berukuran kecil. Jika Selin ikut makan, berarti makanan di sini hukumnya halal, pikir Wanda dalam diam. "Oh iya, Mas," adik lelaki Arian berbicara dengan mulut yang penuh makanan, kemudian menelannya dengan kasar. "Tumben Kak Selin datang ke rumah? Sudah lama banget Kak Selin nggak main. Terus Mama juga memasak dalam porsi besar. Kalian merencanakan tunangan, ya?" Dengan percaya dirinya adik lelaki Arian berasumsi seperti itu. Keduanya langsung tersedak makanan mendengar namanya disebut dan ada kata 'tunangan'. "Ervan, kakak kesini cuma mau silaturahmi sama sekalian mengenalkan teman kakak yang juga akan menjadi temennya Mas Arian." Jawabnya lembut. "Oh, iya. Kakak namanya siapa?" Tanyanya pada Wanda. "Wanda." Jawabnya sambil tersenyum. Mata Ervan membelalak tak percaya, seakan ia menemukan sesuatu yang berharga. "Wow, namanya seperti karakter superhero, Wanda Maximoff. Jangan-jangan kakak superhero beneran." Ujarnya bersemangat. "Ervan sayang, kurangin berfantasi ya, dek. Aku kasihan dengan otakmu yang terus-terusan mengkonsumsi komik tetapi malas mebaca buku pelajaran." Ucap Arian frontal. "Nggak mau, baca komik seru. Baca buku pelajaran bikin pusing. Apalagi fisika, anjir susah banget." Keluhnya. "Fisika gampang, kok. Apalagi kalau yang SMA, masih materi dasarnya." Ujar Selin tanpa menatap Ervan sama sekali. Ervan terdiam sejenak, malaikat pelindungnya balik memihak sang kakak. "Kak Wanda, kalau dilihat kakak cocok sama Mas Arian." Ujar si gadis kecil. Kali ini Wanda yang tersedak. *** Setelah selesai makan malam, Om Sud mengisyaratkan agar Arian mengantar kedua gadis tersebut pulang ke tempat tinggal masing-masing. "Sebagai lelaki yang baik, kau tidak boleh membiarkan gadis keluar malam sendirian. Ini etika dasar." Perintahnya tegas tetapi sangat santun. Arian yang dididik militer sehingga memiliki sifat patuh terhadap atasan lantas menuruti perintah sang ayah. Ia menyalakan mesin mobil, siap untuk mengantar pulang tamu kehormatannya. Deru mesin mobilnya membelah jalanan pinggiran ibukota malam itu. Arian juga menyetel radio pada volume kecil, sekedar sebagai informasi kepadatan lalu lintas dan mendengarkan lagu. "Bagaimana kuliahmu?" Tanya Arian, entah tertuju pada siapa. "Alhamdulillah lancar." Jawab kedua gadis itu serempak. Arian terkekeh sebentar. "Terima kasih atas jawabannya. Sebenarnya aku hanya bertanya kepada Selin." Setelah ini Wanda lebih memilih untuk diam saja di bangku belakang. Ia beralih mengeluarkan ponselnya, ia mendapatkan banyak notifikasi dari beberapa orang lewat aplikasi chatting online. Dengan sedikit kewalahan, ia membalas satu persatu pesan yang masuk. Berharap ia tak melakukan salah ketik ataupun salah kirim. Diam-diam, Wanda juga menguping pembicaraan Arian dan Selin yang berada di bangku depan. "Semester berapa kau sekarang?" "Lima. Apa kau lupa? Kita kan seangkatan." "Hahaha, aku tidak terlalu memperhatikan hal itu. Kau tahu, dalam militer tak ada semester." "Well, kau sendiri bagaimana?" "Sepuluh hari lagi aku akan berangkat ke Aceh, ada panggilan tugas disana." "Sebentar," Selin merasakan getaran dari dalam tasnya. Ada telepon masuk, tampak tulisan Sunshine yang justru membuat Arian tersenyum kecut. "Kekasihmu?" Selin mengangguk sekilas kemudian mengangkat teleponnya. "Halo?" "Halo. Kau dimana? Di rumah tidak ada. Teman-temanmu juga tak tahu kemana kau pergi." "Aku habis dari rumah temanku. Wanda juga ikut bersamaku, kau tak perlu khawatir." "Kau lupa dengan janjimu makan malam bersamaku?" "Tentu tidak. Aku sedang dalam perjalanan kembali. Kau tunggu disana, ya? Sebentar lagi aku akan sampai." Selin menutup panggilan teleponnya. Sekedar informasi, sosok yang disebut Sunshine oleh Selin adalah Keenan, kekasihnya yang sekarang bekerja sebagai asisten laboratorium di jurusan yang sama dengannya sambil menunggu lamarannya diterima oleh perusahaan lain. Sewaktu Wanda dan keempat lainnya menjadi mahasiswa baru, dia senior dua tahun di atas mereka. Entah apa yang membuatnya bisa menyukai wanita seperti Selin, Wanda tak mengetahui jawabannya hingga sekarang. Padahal sebenarnya di masa itu, banyak gadis di angkatan Selin yang tertarik kepadanya. Maklum, mahasiswa baru perempuan akan tertarik kepada kakak tingkat laki-laki, begitu pula sebaliknya. Menurut Wanda, Keenan lumayan good looking (baca: tampan) dan kharismatik. "Kau mau kuantar ke stasiun?" Tanya Arian setelah Selin selesai dengan urusannya. "Tidak usah, ke rumah nenekku saja." Tolak Selin karena ia tahu Keenan pasti ada di ruang tamu, berbicara ringan dengan kakeknya. Selama kuliah ini Selin memang tinggal di rumah nenek sepupunya yang merupakan adik dari nenek kandungnya. Alasannya sederhana, jarak rumah nenek sepupunya sangat dekat dengan kampus. Sedangkan jarak rumahnya dengan kampus lumayan jauh, sekitar 35 km. Arian semakin memacu mobilnya, ia merasa tak enak jika mengakibatkan seseorang menunggu lebih lama. Sepanjang perjalanan akhirnya ketiganya saling bungkam. Butuh waktu 20 menit hingga mobilnya mencapai gapura rumah nenek Selin. "Aku turun disini saja. Terima kasih sudah mau repot mengantarku." Selin keluar dari mobil seraya berterima kasih. Arian sedikit menurunkan jendela mobilnya. "Sama-sama. Semoga kencanmu lancar." Ujarnya tulus. Selin tersipu, ia pun meninggalkan Arian dan Wanda yang masih berada di dalam mobil menuju rumah neneknya. Menghampiri Keenan yang sudah menunggunya cukup lama. "Tujuan berikutnya?" Arian melirik Wanda melalui cermin rearview. "Kukusan kelurahan." *** Setibanya di indekos, Wanda langsung berganti baju serta menggosok giginya. Kemudian ia dengan semangat membuka laptop dan ponsel sekaligus untuk melancarkan aksi stalking-nya. Wanda membuka akun i********:-nya yang seperti bunglon, ia bisa mengaku menjadi siapa saja dengan akun tersebut. Dan dia mem-follow ratusan akun random mulai dari akun ceramah agama, meme, hingga kupu-kupu malam dengan akun tersebut. Hingga ia mendapat sebuah akun yang menarik perhatiannya. Akun yang hanya iseng diikutinya beberapa bulan yang lalu. Ternyata akun tersebut adalah milik teman sekelompok ospek kampusnya dua tahun lalu. Wanda langsung mengklik profilnya dan muncullah berbagai foto dengan pose vulgar. Caption yang diunggahnya cukup menggelitik yang menawarkan jasanya untuk booking order. Wanda sangsi apakah akun seperti itu dapat dikategorikan sebagai tindakan kriminal atau tidak. Tetapi apa salahnya mencoba, pikirnya. Ada baiknya esok hari ia mendiskusikan hal ini dengan Selin dan keempat temannya. Bagaimanapun mereka juga harus mengetahui tentang Wanda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN