Chapter 4: 4 - Don't Tell A Soul

2450 Kata
Keesokan harinya, Wanda disidang oleh ketiga temannya. Sidang dilaksanakan setelah mereka menjalani dua kelas sekaligus dan melepas penat pada makan siang. Mereka menuntut penjelasan kemana hilangnya Wanda selama sore hingga malam kemarin sampai ia sangat susah untuk dihubungi. Karena sidang ini bersifat rahasia, mereka mengadakannya di gedung tertua fakultas di dekat kolam ikan yang terletak di bagian paling belakang lantai dasar gedung ini yang suara aliran airnya dapat menyamarkan suara perbincangan mereka sehingga meminimalisir terjadinya nguping yang akan dilakukan oleh orang lain yang lewat di sekitarnya. Suasana sidang sedikit mencekam bagi Wanda. Namun, rasanya beda bagi beberapa mahasiswa yang berlalu lalang, mereka hanya menganggap kelima mahasiswa yang sedang duduk melingkar tersebut hanya nongkrong santai. Wanda bahkan tidak berani menatap mata Rafael yang entah sejak kapan ukurannya menjadi sedikit lebih besar dari biasanya, meskipun masih terlihat sipit. "Kemana saja kau kemarin?" Aura dingin mencekam khas Alpha yang menegur keras anggota pack-nya menguar dari diri Rafael. Jika rambut Wanda tak dibiarkan diurai, ia berani bersumpah orang lain bisa melihat bulu kuduknya yang meremang. Aura menyeramkan juga dipancarkan oleh Jasmin, seperti sesosok Beta yang setia kepada pemimpinnya, Alpha. "Kau sengaja tidak mengangkat panggilanku dan membalas pesanku, huh?" Asumsi yang keluar dari Jasmin memang terkadang terdengar sangat kejam. "Dan kau," tangan Rafael menunjuk Selin. "Kak Keenan sampai hampir gila karena kau tidak ada di mana pun." Rafael masih mengingat bagaimana paniknya pria bertubuh tinggi putih tersebut. Ia bahkan memohon pada Rafael agar melacak keberadaan Selin dengan kemampuan teknologi yang dimilikinya. "Aku kemarin habis dari rumah relasinya Selin." Wanda akhirnya buka suara. "Apa?!" Rafael, Jasmin, dan Deva mengucapkannya bersamaan. "Dia yang mengajakku." Wanda melemparkan tuduhannya kepada Selin. Selin mengangkat sebelah alisnya, merasa tak terima ikut disalahkan. "Aku tidak akan ke sana jika sore kemarin kau tidak memohon padaku lewat telepon sampai hampir menangis." Balasnya sengit. Enak saja hanya aku yang disalahkan, batinnya. Akibatnya ia harus mendengar Keenan ceramah sepanjang perjalanan ke tempat nasi goreng kaki lima langganan mereka. Wanda nyengir menampilkan wajah tak bersalahnya. "Oke, aku akan jujur. Ya, aku melamar pekerjaan kemarin." Ia mengakui meskipun sedikit malu. "Astaghfirullah, aku melewatkan kelas Medan Elektromagnetik 2 kemarin sore!" Teriaknya panik sambil mengusap wajahnya. "Kelasku memang diliburkan, dosennya sedang ada urusan di luar kampus." Ujar Selin tanpa merasa bersalah. Dibalas anggukan oleh Rafael dan Deva yang sekelas dengannya. Jasmin membulatkan matanya. Ia sangat yakin bahwa susunan kabel saraf di otak Wanda sedikit rusak saat ini sehingga menghasilkan output yang tidak optimal. "Kau sudah gila, ya?" Makinya kesekian kalinya. "By the way, aku juga melewatkan kelas kemarin. Aku sedang tidak mood." Perbuatan Jasmin sangat tidak layak untuk ditiru. "Anggap saja begitu," Wanda mengedikkan bahunya tidak peduli. Yang penting ia senang dan dapat uang pikirnya. Hening. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Dalam diam Wanda menyusun rencana untuk menyelesaikan misinya. Sebuah hal yang mudah baginya untuk merencanakan dan membayangkan, intuisi yang dimilikinya sangat kuat. Jasmin melirik Selin di sebelahnya, seolah menuntut penjelasan lebih atas apa yang mereka lakukan kemarin. Sedangkan Selin melamun, memikirkan jika kejadian ini dapat ia jadikan ide untuk menulis kelanjutan cerita novel online-nya. Deva mencoba untuk tidak peduli, ia tak ingin menambah beban pikirannya. Mata kuliah di peminatan fisika nuklir sudah membuatnya pusing hingga hampir mati. "Ya sudahlah, semuanya sudah terjadi. Kita jalani saja untuk kedepannya." Gumam Rafael mencoba meramaikan suasana yang sesepi kuburan. "Apa yang akan kaulakukan sekarang?" Matanya beralih pada Wanda yang terlihat setengah melamun. "Aku mendapat tugas untuk mengungkap tindak kriminal. Deadline-nya seminggu sejak pemberian tugas." Jelasnya singkat. "Aku sudah menyusun rencana untuk menangkap seseorang, tetapi aku sangsi apakah orang tersebut berhak ditangkap atas tindakan kriminal atau tidak. Aku sangat membutuhkan bantuan kalian, dan berjanjilah untuk tidak membocorkan rahasia ini ke siapapun, termasuk pacar atau sahabat kalian yang lain." Imbuhnya dengan tatapan memohon. Keempatnya mengangguk setuju. Lagipula tidak ada untungnya juga untuk membocorkan rahasianya Wanda. "Memangnya dia siapa? Apa yang dilakukannya?" Deva mengerutkan alisnya penasaran. "Dia teman SMA-ku. Dia terjerat kasus prostitusi online. Entah atas keinginannya sendiri atau karena terjebak situasi." Ia juga menyadari bahwa bertahan hidup di ibukota tidaklah mudah. "Well, sebentar akan kucarikan informasinya untukmu," Rafael mengeluarkan ponselnya. Jemarinya dengan lihai mengetikkan kata di kolom pencarian search engine. "PSK dan orang yang menggunakan jasa prostitusi tidak diancam dengan pidana karena perbuatan ini masuk dalam kategori victimless crime atau kejahatan tanpa korban." Ujarnya seperti robot, membaca kalimat dari google. "Apa? PSK? Kalian akan menjual diri?" Tanya sebuah suara lelaki dengan tone berat yang muncul di belakang mereka. "Ini sama sekali bukan urusanmu, Tapir Bo..." Jasmin menengok ke sumber suara, "gor." Ia menurunkan nada bicaranya ketika mengetahui ternyata yang datang bukanlah Kamal, sosok pria super resek yang selalu ingin tahu urusan mereka berlima. Yeah, Jasmin mengetahui jika Kamal mempunyai maksud tertentu, mendekati Wanda. "Arsyad? Apa yang kaulakukan di sini?" Tanya Rafael dingin dan penuh selidik. Arsyad merupakan musuh besar mereka karena eksistensinya cukup meresahkan. Arsyad adalah pria dengan fanatik agama yang tinggi serta sering mencari kesahalan orang lain. Ia juga merasa derajat keimanannya paling tinggi diantara mahasiswa lainnya. Hal itulah yang membuat Arsyad suka mencari kesalahan dari kelima mahasiswa tersebut yang notabenenya suka berkumpul dengan yang bukan mahramnya. Tingkah Arsyad selalu sukses membuat kelimanya jengah. "Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kalian lakukan di sini? Aku juga mendengar kalian membahas PSK." "Ini bukan urusanmu sama sekali, Kadal Gurun!" "Aku hanya mengingatkan, jika perempuan dan laki-laki bergabung tanpa adanya niqab jatuhnya terhitung zina mata." Ucapnya sok agamis. "Apalagi kalian hampir bisa dikatakan berduaan: Rafael dengan Wanda, Deva dengan Jasmin, dan Selin... entahlah kuanggap ia sendiri. Tak tahukah bahwa akan ada setan di antara kalian?" "Ya, kau dan aku adalah setannya, dan kita akan menjadi pasangan setan yang sangat serasi." Kata Selin penuh sarkastik. "Kau ini seperti jelangkung," celetuk Wanda, "pulang tak diantar datang tak dijemput. Tiba-tiba muncul dan tiba-tiba bisa hilang." Tawa mereka berlima pecah. Rafael mengutuk Wanda karena perutnya sedikit nyeri akibat tertawa terbahak-bahak. Muka Arsyad memerah, ia benar-benar marah saat ini. Ia tak terima makhluk sesuci dirinya disamakan dengan makhluk hina seperti jin tersebut. "Awas saja kalian! Kalian akan merasakan pedihnya api neraka setelah kalian menertawakanku seperti ini. Camkan itu!" Ia pun pergi meninggalkan kelima mahasiswa yang masih tertawa dengan langkah terhentak kesal. "Tadi sampai mana?" Pertanyaan Selin seketika membuat keempat temannya terdiam. "Penjelasan tentang prostitusi." Wanda seketika mendengus kesal mengingat rencananya akan gagal. Ia masih belum mempunyai rencana cadangan saat ini. "Seharusnya aku bisa menangkapnya!" Gerutunya. "Tapi kenyataannya tidak bisa. Kau lihat sendiri, kan? Mereka melakukan hal itu atas dasar suka sama suka." Deva berkilah. "Tapi bagaimana jika ia menularkan penyakit kelamin? Apakah itu termasuk tindakan kriminal?" "Mengapa kau keras kepala sekali? Kau bisa mencari kasus lainnya. Masih ada ribuan kasus di internet yang bisa kau pecahkan." Tukas Deva, ia juga kesal dengan sifat keras kepalanya Wanda yang terlalu memaksakan kehendak. Wanda terdiam. Ia juga berpikir apa yang membuat ia keras kepala ingin menangkapnya. Toh selama bersekolah mereka berdua tidak saling dekat. Atau karena Wanda tidak ingin kehilangan calon pekerjaannya sehingga ia lebih memilih jalan pintas. Opsi kedua lebih memungkinkan baginya. "Tetapi tidak ada salahnya mencoba." Wanda meraih ponselnya. "Aku akan membuat pesanan palsu untuk menangkapnya. Jadi, siapa yang akan menjadi sukarelawan untuk membantuku?" Matanya menatap kedua lelaki bermata sipit yang ada di depannya. Deva bergidik ngeri, ia tak bisa membayangkan dirinya berinteraksi dengan wanita seperti itu. Kemampuan komunikasinya sangat buruk, terlebih kepada wanita. Ia dinilai terlalu kaku dan tidak bisa memahami emosi wanita. "Jangan aku. Jangan libatkan aku jika kau ingin misimu berhasil. Aku hanya akan mengacaukannya nanti." Ucapannya bergetar. "Baiklah aku saja," Rafael menawarkan diri. "Hitung-hitung aku merasakan sentuhan sensual yang menggairahkan." Candanya. "Rafael!" Bentak Wanda. "Sorry, aku hanya bercanda." Rafael nyengir. "Apa yang harus kulakukan, Nona Keras Kepala?" Wanda tersenyum sekilas, hanya setengah bibirnya yang terangkat. "Aku berencana menangkapnya di kamar hotel, nanti akan kusewa kamar hotelnya. Kau hanya perlu menggiringnya dari lobi tamu hingga ke kamar. Di dalam kamar, sudah ada Selin," ia menatap gadis berhijab yang menatapnya tajam-fokus, "yang akan membantumu untuk membekuk pelaku. Kau bisa bertarung dalam jarak dekat, kan?" Matanya tak lepas dari Selin. Selin pun mengangguk. Sudah lama ia tak beradu fisik, terhitung sejak ia lulus Sekolah Dasar. "Kau tak perlu menyewa kamar hotel. Kau bisa memakai salah satu kamar di apartemenku secara gratis jika kau mau." Jasmin menginterupsi. Wanda mengangguk setuju dengan antusias. "Baiklah. Sekarang aku hanya tinggal membuat pesanan palsu menggunakan akun palsu." Wanda membuka akun i********: bunglonnya kemudian mengubah foto profilnya menjadi foto Rafael yang ia dapatkan dari galeri ponsel Selin. "Siapa nama yang cocok untuk penyamaran ini?" "Kau cari saja nama karakter fiksi dari drama Korea yang sering kau tonton itu." Usul Jasmin. Memberi nama berdasarkan karakter fiksi drama Korea sama dengan mengungkap penyamaran ini dengan mudah menurut Wanda. Ia berasumsi sebagian besar wanita menyukai drama Korea dan pasti mereka mengingat karakter yang bermain di dalamnya. Sekarang siapa sih yang nggak suka drakor-kecuali Selin, pikirnya. "Ada saran lain?" Wanda menjaga temponya seramah mungkin agar tidak menyakiti Jasmin karena menolak usulannya. "William Lee," ucap Selin spontan. "Terlihat sangat Cina, bukan?" Wanda mengetikkan username tersebut dan voila, ia berhasil. "Akun ini juga harus log in di ponselmu, Raf. Siapa tahu ia mengirim pesan dan kau bisa membalasnya sesuka hatimu." "Kapan kau berencana menangkapnya?" "Malam minggu ini." Jawabnya penuh keyakinan. Wanda mengeluarkan ponsel dari tasnya, menghubungi sebuah nomor yang baru diperolehnya kemarin malam. "Halo Arian, aku butuh bantuanmu sekarang." *** "Untuk apa kau memintaku membawa senjata ke kampusmu? Untung saja bisa kuletakkan di dalam tasku ini." Arian memanggul tas gunung berisi beberapa senjata sesuai permintaan Wanda. Ia dan Wanda beserta keempat temannya menyusuri hutan kampus hingga ke tempat yang sulit dijangkau orang lain. Tempat di mana trauma Wanda tercipta, vertigonya kambuh sampai pingsan sehingga ia harus dilarikan ke rumah sakit akibat ditatar komisi disiplin ketika ia mengikuti ospek jurusan dua tahun lalu. Suara deburan sungai sangat kontras dengan sunyinya hutan sore itu. Lokasi ini sangat strategis untuk persiapan Wanda menyelesaikan misi pertamanya. Arian membongkar isi tasnya dan semua senjata meluncur jatuh ke tanah. "Aku akan melatih kalian untuk menggunakan senjata dan bela diri, sesuai permintaan Wanda." Ujarnya. "Namaku Arian, senang bertemu dengan kalian semua." Ia memperkenalkan diri. Rafael dan Deva mengagumi jenis senjata yang dibawa Arian. Rafael mengerti beberapa jenis senjata tersebut. Sedangkan Deva kagum sekaligus ngeri melihat senjata yang akan menjadi pegangannya nanti. "Aku tak ingin memegang senjata. Aku bahkan tak mau terlibat dalam misi gila ini." Tolaknya frontal. "Setidaknya kau harus bisa bela diri." Ujar Arian enteng. Deva mendengus kesal. Rafael meraih senapan jenis apa dan membidik salah satu pohon yang ada di hadapannya. Dengan satu tarikan ia berhasil melubangi batang pohon tak berdosa itu. Suara tembakannya menyebabkan burung yang bertengger di atasnya seketika terbang, menghasilkan suara kepakan sayap yang memecah kesunyian hutan. Rafael tersenyum bangga, ilmu menembak yang ia pelajari beberapa tahun lalu belum luntur. "Aku tidak harus belajar bela diri dan juga tidak memegang salah satu senjata itu kan?" Jasmin memohon pada Wanda. "Tugasku hanya mengunci pintu dari luar. Pokoknya harus itu." "Terserah kau saja lah." "Tugasku hanya bela diri, tak perlu memegang senjata." "Tidak!" Tolak Wanda. "Kau dan Rafael harus bisa keduanya. "Apa?" Suara cempreng keduanya bersatu padu. "Karena kalian berdua yang berurusan langsung dengan targetnya." Seketika mereka berdua menyesal menyetujui pembagian tugasnya. Rafael tidak akan tega beradu fisik dengan perempuan sedangkan Selin merasa tangannya agak tremor memegang senjata. "Justru itu, aku ada di sini untuk melatih kalian. Aku yakin, kalian mahasiswa pasti akan cepat belajar. Kalian pasti bisa." "Baiklah," Selin mengambil salah satu senjata dengan asal, kemudian ia melepaskan tembakan dengan tangan yang sedikit gemetar. Kendati demikian, ia dapat melihat peluru dalam pistol tersebut berputar. Revolver. Tembakannya meleset entah ke mana. Untung tidak ada orang selain mereka di sekitar hutan di mana mereka berada. "Aku lupa membawa papan target. Aku akan membawanya saat latihan esok." "Apa? Besok masih harus latihan?" Deva merasakan lututnya lemas. "Ya, setidaknya hingga H-1 kalian menjalankan misi." "Lebih baik aku pulang saja. Aku bisa jalan kaki hingga keluar hutan sendiri." Deva meraih tasnya kemudian meninggalkan mereka. Namun, jalannya dihalangi Wanda. "Tak ada kata kembali, Dev. Jadi letakkan tasmu dan bergabunglah lagi bersama mereka. Demi aku menikah dengan seorang lelaki kaya raya," Wanda mengusap wajahnya sekilas, "beranikan dirimu, Deavanno Apriandi!" "Kenapa kau sangat memaksa, sih? Demi Tuhan tensiku naik karena tingkahmu, Wan." "Wanda, jika Deva tak ingin membantumu, jangan paksa dia. Just let him go. Jangan mengorbankan orang lain hanya untuk kepentinganmu." Deva mengeratkan ranselnya, ia pergi meninggalkan teman-temannya. Deva meyakinkan dirinya bahwa ia masih mengingat rute keluar dari hutan ini. Sambil menggerutu, ia terus melangkahkan kakinya keluar hutan. "Aku tidak sebodoh Wanda yang rela mengorbankan nyawanya hanya untuk hobi yang tidak berguna." Cibirnya, sesekali ia menendang kerikil yang menghalangi jalannya. "Masih banyak hal penting yang harus kulakukan daripada sekedar menembak dan berkelahi." Seketika Deva teringat file jurnal penelitiannya yang belum sempat ia publikasikan karena masih harus direvisi. Deva mengusap peluhnya, beberapa meter di depannya terpampang jalan raya kampus. Deva mempercepat langkahnya dan akhirnya ia mencapai halte Fakultas Ilmu Budaya. Deva duduk membaur bersama beberapa mahasiswa yang juga menunggu bus kampus. Ia mengeluarkan botol minum dari tasnya yang sialnya tinggal sedikit. Ia mengumpat pelan kemudian menenggak habis airnya. Suara deru mesin bus datang dari arah kanan pendengaran Deva. Tak pikir panjang, ia menaiki bus tersebut meskipun kapasitasnya sudah cukup penuh. Terpaksa ia harus berdiri dan berdesakan dengan mahasiswa lainnya. Seseorang menarik kaus Deva yang sedikit basah. "Deva, kenapa kau ada di sini?" "Kak Keenan," ujar Deva tergagap. Instingnya mengatakan bahwa ia akan diberi pertanyaan tentang pacarnya dan Deva harus menyusun jawaban sebaik mungkin. "Aku habis dari Pusat Studi Jepang, kak. Kau tahu kan aku suka dengan kebudayaan Jepang." Jawabnya bohong tetapi masih terdengar masuk akal mengingat lokasi Pusat Studi Jepang sangat dekat dengan halte Fakultas Ilmu Budaya. "Kakak sendiri dari mana?" "Aku habis dari Sudirman mengurus sesuatu," jawabnya dengan raut letih. "Kau tahu Selin ada di mana?" Tuhkan bener, batinnya. Aku sangat membutuhkan bantuan kalian, Dan berjanjilah untuk tidak membocorkan rahasia ini ke siapapun, Termasuk pacar atau sahabat kalian yang lain. Ucapan Wanda masih terngiang di pikiran Deva. Ia juga bukan tipe orang yang bertindak ceroboh meskipun dirinya dikuasai amarah, seperti saat ini contohnya. Deva tak akan tega membocorkan rahasia ini, ia berani bertaruh persahabatannya akan rusak setelah ini jika ia masih nekat. Berpikirlah Deva, gumamnya. Ia pun menyusun kalimat jawaban paling masuk akal dan tidak mencurigakan menurutnya. "Maaf, kak, aku kurang tahu. Tadi setelah makan siang bersama aku langsung meninggalkan mereka. Jadi lebih baik kakak tanya sendiri saja ke Selin." Jawabnya pada akhirnya. Ia sedikit lega karena menjawab tanpa keraguan sama sekali, ucapannya sangat lancar. Bus berhenti di halte Fakultas Teknik. Keenan pun bangkit, ia sudah sampai di tujuan. "Baiklah, nanti akan kutelepon. Sampai jumpa, Dev, hati-hati di jalan." Keenan menepuk bahu Deva sekilas. Deva hanya berharap semuanya berjalan baik-baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN