Chapter 5: Into The Woods

3406 Kata
"Jika kau ingin menembak tepat sasaran, tegakkan badanmu, luruskan tanganmu ke depan. Fokus." Arian dengan sabar melatih para mahasiswa tersebut. Dengan bujukan Wanda akhirnya gadis hijab berkulit sawo matang yang Arian ingat namanya adalah Jasmin akhirnya mau ia ajarkan teknik bela diri sederhana. Pakaian berwarna hijau gelapnya sudah bercampur noda tanah di beberapa tempat. "Jangan alihkan pandanganmu dari musuh. Jangan lengah!" Teriaknya pada kedua wanita yang sedang percobaan berkelahi, Wanda dan Jasmin. Tentu tanpa adanya instruksi dari Arian yang menyuruh mereka beradu fisik. Namun, karena sudah terlanjur, mau tak mau Arian harus memberikan sedikit tekniknya. "It's easy to knock you down." Jasmin menyeringai sombong. "Don't talk too much, let's do it." Wanda tersenyum sinis, tak sabar menghabisi musuh di hadapannya saat ini. Jasmin dengan penuh semangat menyerang Wanda yang memasang sikap bertahan. Keduanya terlibat adu fisik yang cukup sengit. Jasmin mencoba menyerang bagian tubuh Wanda seperti perut, d**a, hingga paha atas namun selalu gagal. Wanda juga berusaha sekuat tenaga untuk melindungi dirinya dari serangan Jasmin yang sangat agresif. Wanda merasakan tangannya sedikit nyeri hingga akhirnya ia terhuyung ke belakang karena Jasmin berhasil menendang perutnya menggunakan lutut. "See? Aku tak bohong, kan." Cibir Jasmin sambil mengulurkan tangannya kepada Wanda. Wanda meraih tangan Jasmin dan berusaha bangkit sambil menahan perutnya yang nyeri. Ia tidak berniat membalas kekalahannya. "Aku bukan lawanmu, Beruang Grizzly. Coba kau lawan Beruang Kutub," matanya melirik Selin yang belajar menembak dengan Rafael, "dia baru tandinganmu." Hari mulai petang, waktu sudah menunjukkan pukul 17:32 sore. Ada baiknya Arian menyudahi latihan ini sebelum matahari tak menampakkan sinarnya lagi. "Kita cukupkan saja latihan hari ini." Ujarnya lantang menghentikan aktivitas beberapa rekan barunya. Mereka pun berkumpul di dekat Arian, Rafael dan Selin mengembalikan senjata kepadanya. "Aku punya sedikit perintah untuk kalian. Jumat lusa kalian gunakan pakaian gelap karena kalian akan beradu fisik melawan satu sama lain." Arian sedikit miris melihat pakaian Wanda dan Jasmin yang berhias noda tanah hutan akibat ulah kedua gadis tersebut. "Besok Kamis kita fokus pada latihan menembak. Aku juga akan menjemput kalian lagi." Ujarnya final. Mereka bertiga setuju, kecuali Jasmin yang tidak peduli besok rencananya apa. Ia ternyata sangat menyukai kegiatan seperti ini. Kemudian dengan cekatan mereka merapikan barang. Mereka harus keluar hutan sebelum gelap. "Dan kau, Wanda," Arian berjalan di sebelah Wanda saat mereka keluar hutan. "Siapkan berkas laporanmu mulai dari kecurigaan hingga bukti kriminal. Jangan lupa berdoa semoga ayahku tertarik dengan kerjamu." Perintahnya pada gadis bersurai hitam yang membuat ia percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu benar adanya. Wanda mengangguk kuat, ia yakin ia akan mendapatkan pekerjaan itu. *** "Wanda, temanmu benar-benar gila." Rafael menyodorkan ponselnya yang berisi obrolannya dengan Indrina ketika mereka istirahat di lantai dasar gedung departemen setelah kelas pagi. Lantai dasar gedung departemen merupakan gabungan dari beberapa laboratorium yang digunakan untuk praktikum mahasiswa pascasarjana. Laboratorium tersebut terletak pada kedua sisi gedung, dan di tengah gedung berupa ruangan yang lega dan luas untuk mahasiswa beristirahat ataupun mengerjakan tugas.  Ilustrasi lantai dasar gedung departemen Sumber: dokumen pribadi Wanda sudah mengetahuinya sejak kemarin, memang terlihat lucu di matanya. Sekarang ia tertawa lagi karena melihatnya sekali lagi. "Ya begitulah, dia memang sudah terkenal centil bahkan ketika kita masih sekolah." Katanya terkekeh. Sesekali Wanda membantu Rafael membalas chat-nya dengan Indrina semalam. Isi obrolan mereka tidak jauh dengan unsur dewasa yang membuat Rafael merasa jijik, yang benar saja Indrina menanyakan berapa ukuran k*********a. Astaga membayangkan berinteraksi langsung dengan wanita jalang seperti itu sudah membuat kepalanya pening. Belum lagi mata kuliah Mekanika Kuantum tadi yang membahas tentang potensial satu dimensi yang menambah beban pusingnya Rafael. Jika kepalanya bukan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa niscaya benda itu sudah meledak dan isinya berceceran sejak beberapa waktu lalu. Selin tertawa ketika melihat salah satu obrolan mereka yang tertulis, "aku gak sabar k****u karo kowe" dari Indrina. "Yang sabar ya, Raf. Demi pertemanan kita," Selin tersenyum jahil. Rafael mengerti apa arti dari kalimat tersebut setelah Wanda menerjemahkannya. Pria bermata sipit itu memasang tampang jijik jika mengingat artinya. "Dan egoisme Wanda." Imbuh Deva tanpa perasaan bersalah. Deva memang ada benarnya, mereka bertiga melalukan ini semua hanya demi egoisme Wanda yang terlalu mendambakan pekerjaan menjadi mata-mata amatir. Jika saja Wanda bisa berpikir jernih dan mengesampingkan egonya, Deva merasa Wanda bisa mendapat pekerjaan yang jauh lebih aman tanpa harus menjerumuskan teman-temannya. Namun, semua pikiran itu hanya menyangkut di otaknya. Deva tak sanggup lagi untuk mengungkapkannya karena Wanda sudah terlalu bebal untuk dinasehati olehnya. Wanda memutar bola matanya malas. Ia merasa Deva sudah tidak solid lagi dengannya. Terlihat dari cara bicara Deva yang sering menyindirnya. "Aku memang egois. Pada dasarnya manusia makhluk egois, dan mereka akan melakukan apapun untuk memuaskan egonya." Wanda mencari pembenaran atas aksinya. Wanda juga merasa Deva terlalu egois karena hanya mementingkan kehidupan akademisnya. Begitu pun dengan ketiga sahabatnya yang lain, Wanda yakin mereka juga memiliki egoisme pribadi. Deva menghembuskan napas panjang. Ia sudah pasrah, menyerah berdebat dengan calon ibu masa depan. "Jangan lupa kerjakan powerpoint mekanika kuantum tentang struktur umum mekanika gelombang. Besok Selasa kelompok kita akan presentasi." Deva mengalihkan perhatian, yang justru membuat Wanda semakin jengah. Tidak bisakah sehari saja ia tidak membahas tentang perkuliahan yang membuatku hampir depresi, teriaknya dalam hati. Semua manusia memang egois. "Kalau begitu kita kerjakan saja di apartemenku." Usul Jasmin antusias. "Kita bisa mengerjakannya setelah Wanda menyelesaikan misinya. Aku tak keberatan jika harus begadang semalaman." "Aku tak mau ikut campur ke urusan apartemenmu, Jas. Aku bisa mengerjakan sendiri di indekosku. Kita bisa membuatnya bersama di google slide. Aku tadi hanya mengingatkan." "Guys," Selin merangkul Wanda dan Deva yang berada di sebelahnya kanan dan kirinya, "sudahlah, jangan dibuat besar masalah seperti ini. Deva ada benarnya, dia bisa mengerjakan sendiri di indekosnya menggunakan google slide, sedangkan kita berempat bisa mengerjakan di apartemen Jasmin setelah Wanda menyelesaikan misinya." Ia mengusulkan jalan tengah agar konflik di antara sahabatnya tidak berlanjut. Usahanya berhasil, Deva menurunkan bahunya yang sedari tadi tegang akibat berdebat dengan Wanda. "Selin benar, dan apartemenku masih terbuka lebar untukmu jika kau ingin berubah pikiran." Jasmin ikut menyarankan untuk Deva. Ia sudah membayangkan betapa senangnya menghabiskan malam minggu bersama sahabatnya dengan sesuatu yang bermanfaat. Selama ini ia sering melewatkan malam minggu, it's just another night menurutnya. Sedangkan jauh di lubuk hati Deva ia ingin ikut ke apartemen Jasmin karena ia bosan selalu menghabiskan waktu malam minggu sendirian di kamar indekosnya. Ini kesempatan yang bagus untuknya. Di sisi lain ia takut jika ia pergi maka otomatis ia akan terlibat dalam misi tersebut. Ia memang egois, ia tak mau mati pada misi tersebut. Dan sekali lagi ia tak mau mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. *** Dor! Sedikit lagi tembakan Selin berhasil menembus lingkaran berwarna merah pada sasarannya. Sekarang ia sudah bisa mengendalikan tangannya agar tidak gemetar memegang senjata jenis revolver yang menjadi sahabat barunya. Hanya saja ia masih belum bisa mengontrol diri ketika melepaskan senjata, tubuhnya sedikit tersentak ke belakang tepat ketika ia melepaskan tembakan. Bukan suatu hal yang buruk menurutnya. Jika Keenan mengetahui rahasianya yang satu ini, ia yakin pria itu akan menceramahinya habis-habisan seperti yang dilakukannya beberapa waktu lalu. Untung saja kemarin ia sudah di kamar ketika Keenan meneleponnya pada malam hari, ia tak perlu berbohong tentang rahasianya. Jauh di dalam lubuk hatinya Selin merasa ini semua tidak benar, cepat atau lambat Keenan juga akan mengetahui semua ini. Dan ia masih bisa belum memutuskan mana yang akan ia lakukan, menjaga rahasia sahabatnya tetap aman atau jujur kepada Keenan yang berarti ia merusak janjinya. Dua opsi tersebut tidak berpihak baik padanya. Wanda tidak diajarkan menembak. Ia fokus dalam merancang alat komunikasi beberapa meter di belakang kedua gadis yang sedang latihan. Jauh dalam hatinya Wanda berharap agar kedua gadis tersebut tidak membunuh satu sama lain. Pikiran mereka terlalu barbar dan liar. Wanda memasukkan coding yang ia dapatkan dari Rafael melalui chat ke sebuah wireless earphone yang dihubungkan ke komputer. Nantinya earphone tersebut dapat digunakan juga untuk komunikasi dua arah dan juga mendengarkan percakapan orang lain, dalam kasus ini mereka adalah Rafael dan Selin beserta Indrina. Sejauh ini Wanda belum mengumpulkan bukti kecurigaan selain chat m***m dari Indrina, ia ingin mengumpulkan bukti lebih jauh darinya ketika misi penangkapan nanti. Rafael tidak mengikuti latihan hari ini karena ia mengikuti kelas Akuisisi Data Berbasis Komputer pada pukul 15:00. Wanda tidak takut dengan suara desingan peluru atau suara tubuh yang ambruk ke tanah. Ia merasakan adrenalinnya terpacu dalam situasi seperti ini. Hanya saja tidak memiliki keberanian sama sekali untuk terlibat dalam kedua hal tersebut. Wanda bertugas sebagai pemberi informasi dan pemantau, bukan eksekutor. Dalam diam ia memperhatikan Jasmin yang sudah mulai menguasai teknik bela diri. Tubuhnya menukik sambil membentuk pertahanan agar tidak tumbang oleh serangan Arian yang gerakannya disesuaikan untuk pemula. Wanda melihat sosok Jasper Cullen pada diri Arian saat pria itu mengajari Jasmin. Wanda juga sesekali tertawa kecil melihat Selin yang bertingkah selayaknya bintang film aksi seperti Michelle Rodriguez yang memegang senjata pada film Fast and Furious. Namun, menurutnya Selin akan lebih cocok memegang tongkat sihir yang lebih tidak berbahaya seperti karakter Ginny Weasley. Wanda lebih merasa dirinya seperti karakter Bella Swan, berani mengambil risiko namun sangat rapuh. Latihan masih berlanjut pada hari Jumat, sesuai yang dijanjikan Arian. Namun, latihan pada hari Jumat dimulai lebih awal sekitar pukul dua siang karena menurut estimasi Arian latihan hari ini akan membutuhkan durasi yang lebih lama. Kali ini Wanda dan Selin harus mengucapkan selamat tinggal dengan rutinitasnya pada Kamis sore kemarin. Tidak ada pistol, tidak ada komputer, dan masih tidak ada Rafael yang mengikuti kuliah Sistem Tertanam, tetapi ia berjanji akan menyusul latihan sore ini. Deva berada di pinggiran bersama Wanda yang tidak ikut bertarung. Pria itu memilih menekan egonya untuk memperbaiki hubungannya dengan Wanda yang sedikit renggang. Deva bersedia mengerjakan tugas di apartemen Jasmin dengan syarat ia tak mau ikut campur dengan urusan Wanda. Semua yang ikut latihan diwajibkan untuk melepas alas kaki beserta perhiasan seperti gelang atau jam tangan untuk meminimalisir tingkat cedera. Pada satu jam pertama, Arian mengejar ketertinggalan mengajari Rafael tentang teknik dasar bela diri. Untungnya Rafael mampu belajar dengan cepat sehingga Arian tidak perlu menguras banyak tenaga hanya untuk ini. "Kau tidak mau ikut sekalian?" Tanya Wanda yang dibalas tatapan tajam oleh Deva. Deva tidak berani membayangkan badannya yang mulus dibanting ke tanah hingga menyebabkan beberapa tulangnya mengalami keretakan. Ia terlahir bukan sebagai petarung tetapi sebagai akademisi. "Maafkan aku soal kemarin," lirihnya, "aku hanya ingin menjaga diriku tetap aman." Akunya. Wanda tersenyum simpul, ia juga senang hubungannya dengan Deva membaik. "Tak apa, aku mengerti." Wanda mengusap pelan punggung Deva. Arian sempat melirik sekilas pemandangan Wanda mengusap punggung Deva, dan itu membuat fokusnya sangat terdistraksi. Ada gejolak dalam dirinya yang mengatakan bahwa ia tidak terima Wanda berbuat seperti itu pada Deva, si lelaki penakut dan lemah itu. Arian sangat tidak menyukainya. Hingga satu hantaman pada perutnya berhasil membuatnya ambruk ke tanah. "Kau tak fokus, bung. Sorry about that." Rafael mengulurkan tangannya pada Arian untuk membantu pria berbadan kekar itu bangkit. Matanya menatap sesuatu yang membuat gurunya itu tidak fokus. "Kau menyukainya?" Rafael mengerutkan alisnya yang lebat, menyelidiki apakah orang yang baru dikenalnya ini benar-benar menyukai keluarganya atau hanya sekedar nafsu sesaat. Arian menerima uluran tangan Rafael kemudian mulai bangkit lagi. "Tidak," jawabnya tegas. Aku mencintainya, batinnya. "Baguslah," Rafael mengangguk sekilas. Ia tak akan terima jika ada orang asing seperti Arian tiba-tiba jatuh cinta pada salah satu keluarganya. "Mau istirahat?" Arian mengangguk sambil memegangi perutnya yang nyeri. Rafael sedikit memapah Arian, terasa berat di bahunya. "Allright guys, kita kumpul sebentar." suara berat Arian membuyarkan semua aktivitas. Mereka semua-kecuali Wanda dan Deva, berkumpul di tengah membentuk lingkaran dalam posisi berdiri. "Silakan istirahat dulu. Untuk Selin dan Jasmin jangan lupa untuk menunaikan ibadah salat asar. Setelah ini aku akan mengajak kalian berduel satu lawan satu, untuk memastikan kalian benar-benar menguasai bela diri. Tidak ada menang atau kalah." Jelasnya memberi komando. Mereka bertiga mengangguk, dengan begitu lingkaran dibubarkan. Selin dan Jasmin mengeluarkan botol air bervolume 1,5 liter untuk berwudu. Arian mengeluarkan terpal dari tasnya untuk digunakan kedua gadis tersebut beribadah, kemudian ia dan Rafael bergabung bersama Wanda dan Deva yang sedari tadi hanya duduk memperhatikan. Wanda memberi sebotol air mineral dan seporsi nasi goreng untuk Arian sebagai bentuk terima kasih karena Arian telah banyak membantunya. Arian menerima dan langsung memakannya dengan lahap. Diam-diam ia melirik Wanda, Arian menyukai segalanya tentang Wanda sejak pertama kali mereka berinteraksi secara intens pada perjalanan dari rumah nenek Selin ke indekos Wanda malam itu. Gadis bermata cokelat gelap yang tatapannya tajam namun teduh. Rambut hitam panjangnya yang tertiup silir angin sore. Tubuhnya yang langsing dan tinggi. Kulit kecokelatannya yang eksotis. Sifatnya yang kalem, tenang, pemberani, dan menjunjung tinggi sopan santun. Namun, Arian tahu bahwa Wanda juga merupakan gadis rapuh yang butuh perlindungan dari pria yang kuat sepertinya. Pemandangan seperti itu membuat Rafael cemburu dalam diam sejenak. Namun, bukan Rafael namanya jika ia tak berani mengungkapkan isi pikiran maupun hatinya. "Jadi hanya Arian yang kauberi makanan," tegurnya dengan sindiran. Tak bisa dipungkiri ia juga merasa lapar, setelah latihan ia hanya minum air. Wanda tidak menjawab, ia hanya nyengir. "Astaghfirullah," Rafael mengelus dadanya. Ia tak menyangka wanita sekalem Wanda ternyata tega memperlakukannya seperti ini. Wanda saksi mata bagaimana ia diperlakukan ala militer oleh Arian dan itu cukup menguras tenaganya. Ironisnya, Wanda tak peduli dengannya. Selin dan Jasmin sudah selesai menunaikan salat. Mereka meminta tambahan waktu untuk menambah energi. Tanpa banyak bicara, Selin memberikan biskuit oreo favoritnya yang ia selipkan di tas pada Rafael. "Terima kasih, Sel. Kau memang sahabatku yang terbaik!" Rafael membuka kemasan plastik biskuit tersebut dan mulai memakannya. "Nanti kuantar kau pulang sampai depan rumah." Ujarnya dengan mulut penuh biskuit. Selin menatap Rafael tajam sambil mengambil sekeping biskuit. Sudah hampir ribuan kali Rafael mengatakan hal yang sama selama pertemanan mereka dua tahun terakhir ini. Deva memandangi Jasmin yang sedang makan croissant. "Kau tak berniat memberiku sesuatu?" Deva berharap gadis mengesalkan seperti Jasmin memiliki sedikit rasa iba kepadanya yang belum makan dari tadi siang. "Kau sedari tadi hanya berdiam diri seperti kungkang dan sekarang kau minta jatah makan? Cih, aku tak sudi!" Cibirnya. Ia pun menghabiskan potongan terakhir makanannya. Deva salah tingkah, ia menggaruk rambutnya yang berminyak dan... bau. Ia tak menyangka jika lingkungan hutan seperti ini membuat rambutnya cepat lepek. Setelah merasa istirahatnya cukup, mereka berempat berkumpul lagi menyisakan Wanda dan Deva sebagai audiens sejati. Seperti biasa, Arian selalu memberi instruksi di awal latihan. "Kalian akan bertarung melawan satu sama lain, tetapi hanya dibagi menjadi dua ronde. Ronde pertama kalian akan beradu sesama jenis dan ronde kedua kalian akan beradu dengan lawan jenis. Kalian mengerti?" "Apa kita memilih sendiri siapa lawannya pada ronde kedua?" Tanya Rafael. "Itu terserah kalian." "I choose you, army. Aku ingin mencoba sedikit mematahkan hidungmu yang menawan itu." Tantang Jasmin tanpa keraguan sedikit pun. Wanita setengah beruang grizzly itu sepertinya menemukan lawan yang sepadan dengannya. Arian menyetujuinya dengan tenang, ia hanya perlu sedikit menahan kekuatannya untuk melawan wanita. Jangan sampai ia menyebabkan luka atau cedera serius pada tubuh gadis berkulit sawo matang tersebut. Karena Arian pernah tidak sengaja melihat adanya bekas luka pada pinggang gadis itu saat bajunya sedikit terangkat ketika beradu fisik dengan Wanda kemarin lusa. Mereka bersiap pada ronde pertama. Beruang grizzly sudah berhadapan dengan beruang kutub dan kedua makhluk tersebut siap menyerang. Jasmin menyerang Selin dengan agresif sehingga gadis putih berhijab itu lebih memilih berada pada posisi bertahan. Jasmin terus memberi serangan berupa pukulan bertubi-tubi ke bagian d**a dan juga samping kanan kiri lawannya. Jasmin terengah ketika menyadari buku jarinya memerah, lawannya terlalu kuat untuk ditumbangkan. Dan yang membuat Jasmin kesal adalah Selin tidak berniat menyerangnya sama sekali. Jasmin lambat berpikir, ini salah satu idenya Selin yang sengaja membuatnya lelah lebih awal. Brukk! Jasmin ambruk ke tanah. Selin menendang Jasmin menggunakan teknik tendangan memutar mengenai lengan kiri Jasmin sehingga ia seketika tumbang. "Kau tak perlu totalitas seperti itu, Nona Kangguru!" Umpatnya. Jasmin mencoba bangkit sambil membersihkan celananya yang berdebu. Pantatnya yang tidak besar mengakibatkan bagian tersebut merasakan nyeri luar biasa karena digunakan sebagai penumpu ketika mendarat secara terpaksa. Selin memijat pelan lengannya yang ia yakini memar dibalik pakaian lengan panjangnya. "Kau bahkan menonjokku dengan tenaga seribu kuda!" Tukas Selin. Ia merasakan nyeri di tangannya yang ia gunakan sebagai perisai selama bertarung. "Menyerah atau lanjut?" "Dengan tanganku yang merah seperti ini? Tidak, terima kasih." Jasmin kembali membanting pantatnya ke tanah, ia cukup lelah melawan Nona Kangguru satu ini. Ia harus menyimpan tenaga untuk melawan tentara yang sok keren menurutnya itu. Sangat mudah untuk Arian menumbangkan Rafael ke tanah. Massa otot Arian lebih banyak dari Rafael yang sedikit kurus menyebabkan pria yang menempuh akademi militer tersebut memiliki kekuatan dan tenaga lebih untuk membekuk lawan. Selama perlawanan kedua lelaki tersebut saling menyerang secara agresif, menyebabkan tanah di sekitarnya bergetar sedikit serta menebarkan debu. Dalam sekali hentakan di lutut belakang, Rafael jatuh berguling di tanah. "Sorry, bro." Gumam Arian. Di dalam hatinya ia puas bisa meruntuhkan lelaki yang secara tidak langsung melarangnya untuk mencintai Wanda. Meskipun Arian tak tahu pasti apa hubungan mereka berdua. Mereka sekarang memasuki ronde kedua. Jasmin lebih memilih teknik yang digunakan Selin yaitu posisi bertahan. Sebuah keputusan yang salah mengingat Arian yang bersifat sangat agresif menyerang lawannya, hanya saja kali ini ia tidak mengeluarkan tenaganya seratus persen. Sesekali ia memberi kesempatan untuk Jasmin balik menyerangnya. Kesempatan tersebut digunakan dengan baik dengan Jasmin, tanpa basa-basi ia menendangi perut dan kaki Arian hingga tidak sengaja mengenai benda berharganya. Arian menahan sakit dan perih di area tersebut. Ia menyerah. "Maaf aku tak bermaksud..." Jasmin menghampiri Arian yang setengah terkapar di tanah dengan perasaan bersalah. Arian mengangkat tangannya, "Tak apa, aku baik-baik saja." Ia memberi kode pada Jasmin untuk membantunya bangkit. Ia akhirnya memilih bergabung menjadi penonton, melihat duel antara Rafael dan Selin yang masih berlanjut. "Aku tidak ingin menyerangmu," Rafael berdiri berkacak pinggang di awal pertandingan. Ia tidak tega menorehkan luka di tubuh salah satu keluarganya. Selin menyeringai, ia memikirkan kalimat yang bisa menyulut emosi lawannya. Ia tak suka dianggap lemah seperti ini. "Turunkan sedikit gengsimu, Raf. Aku tak selemah mantan pacarmu yang matre itu." Sebuah kalimat yang sukses membangunkan macan tidur. Provokasinya berhasil. Rafael menyerang Selin dengan membabi buta. Ia tak suka memorinya tentang hal itu diungkit lagi. Masa terkelam pada sejarah seorang Rafael Lie yang terlalu dibutakan oleh cinta. Rafael memukul, meninju, dan menendang dengan brutal. Ia lupa apa yang ia ucapkan di awal. Jika melawan Jasmin adalah suatu hal yang mudah, maka kali ini posisinya berbanding terbalik. Selin kewalahan menangkis dan mempertahankan dirinya dari Rafael yang menurutnya kesurupan penghuni hutan. Dilihat dari kekuatan penyerangannya sudah bukan ukuran manusia normal lagi. Selin mencoba teknik menendang dengan menapaki batang pohon di dekatnya. Ia menyerang bagian kiri Rafael. Namun, sayangnya justru ia yang jatuh hingga terpelanting ke tanah akibat kakinya ditangkis secara sempurna oleh Rafael. Selin terengah, ia merasa seluruh badannya remuk seketika. Ia tak menyangka jika Rafael akan semarah ini karena provokasinya. Ia mencoba bangkit tetapi gravitasi tanah menahannya agar tetap berbaring, ditambah rasa sakit yang menjulur di seluruh tubuhnya menyebabkan ia tak sanggup bergeser seinci pun. Sialan. "Sudah kubilang aku tak ingin menyerangmu," Rafael memapah gadis itu ke pinggiran, bergabung bersama yang lain. "Sorry about that," Selin merasakan susunan tulangnya semakin berantakan akibat pergerakannya. Ia tak berkomentar apa pun. Rafael mengeluarkan botol minum dari tas Selin kemudian memberikannya pada gadis itu. "Minumlah." Perintahnya. Matanya melirik ke motor matic yang diparkir tidak jauh dari posisinya berada saat ini. Ia sedikit bersyukur tidak meninggalkan motornya di parkiran fakultas. Arian sudah tidak merasakan nyeri lagi di bagian sensitifnya. Namun, ia akan berencana membalaskan dendamnya pada Jasmin, jika ia tidak lupa. Arian bangkit dan kembali memberi pidato. "Latihan cukup sampai sini saja. Kurasa kalian semua sudah menguasainya dengan baik, dilihat dari lebam yang menghiasi permukaan kulit kalian." Candanya. Sedetik kemudian ia kembali fokus. "Sesuai yang sudah direncanakan Wanda, kalian besok berangkat ke apartemen Jasmin tepat pukul empat sore dari stasiun kampus. Jasmin akan menyiapkan salah satu kamar di apartemen untuk menjadi tempat penangkapan tersangka. Aku akan bergabung juga dengan kalian dan juga membawa senjata yang diperlukan seperti kemarin. Kalian boleh membubarkan diri." Mereka mengemasi barangnya dan segera keluar hutan sebelum hari gelap. Apalagi sore ini langit agak mendung sehingga mereka harus mempercepat langkahnya agar tidak terjebak hujan. Rafael mengeluarkan ponselnya yang bergetar dari tas. Sebuah notifikasi dari direct message i********: milik Wanda. Ia membuka pesan tersebut yang isinya, "jangan lupa membawa benda putih bikin hepi". Rafael mengerutkan keningnya, ia tak mengerti kode seperti ini. Tak ingin berpikir lebih rumit, ia menyodorkan ponselnya kepada Selin yang sudah duduk di jok belakang motor. "Kau tahu ini apa?" Selin membaca sepintas isi pesan itu. Otaknya dengan cepat mencerna apa maksud tersiratnya. "Aku tahu, besok akan kuurus." Ujarnya mantap. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN