20 - Martabak Manis

1360 Kata

Pagi itu, aroma kopi hitam tercium samar dari ruang makan. Sesuatu yang jarang Sella temui, karena ia sendiri tak pernah meminum kopi, terlebih di pagi hari. Sella menuruni tangga perlahan, masih dengan kepala yang sedikit berat dan mata sembab sisa tangis semalam. Ia pikir, Dimas sudah berangkat kerja, atau setidaknya tidak akan menampakkan wajahnya di ruang makan seperti biasa. Namun, begitu pandangannya sampai di ruang makan, langkahnya terhenti seketika. Dimas duduk di sana. Rapi dalam kemeja putih dan celana panjang hitam. Rambutnya sudah tertata, jam tangannya melingkar di pergelangan kiri. Pria itu menatap Sella santai seolah tak ada yang aneh dengan sikapnya pagi ini. Jantung Sella berdetak sedikit lebih cepat. "Kenapa dia belum berangkat?" batinnya. Ia bahkan sempat melirik

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN