16 - Fanaya Arsinta

1098 Kata

Dimas buru-buru menegakkan tubuhnya, mencoba menghapus raut canggung di wajahnya. Ia berdehem pelan, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. “Udah malam,” katanya datar, suaranya sedikit serak. “Tidur sana. Nanti sakit lagi.” Sella masih menatapnya, setengah bingung dan tidak percaya. “Kamu ngapain di sini tadi?” tanyanya lagi, kali ini terdengar lebih tegas dan serius. Namun, Dimas tampak tidak ingin menanggapi. Ia lalu berbalik, berjalan menuju tangga. Baru beberapa langkah, suara lembut Sella menahannya. “Kamu udah makan?” Langkah Dimas sempat terhenti sesaat. Ia tidak langsung menjawab. Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya ia berkata tanpa menoleh, “Udah.” “Oh,” ucap Sella pelan, menunduk. Suaranya nyaris tenggelam oleh bunyi televisi yang masih menyala. “Baiklah.” Dimas ti

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN