"Kelvin adalah mainan kesukaanmu."
Dada Sella terasa nyeri ketika ia mendengar ucapan Tari. Saat ini, mereka sedang dalam perjalanan, berdua.
"Mainan?" ulang Sella. Ia harap, apa yang ada di pikirannya saat ini salah.
Tari yang sedang menyetir refleks menoleh. Menatap Sella dengan bingung. "Kamu aneh deh, Sel..."
"Kamu kok kayak lupa gitu sama Kelvin? Dia berondong kesayanganmu. Bahkan kamu berencana buat beliin dia mobil sebagai hadiah ulang tahunnya nanti. Kamu yang bayarin kuliahnya, sewa apartemennya. Kamu manjain dia banget."
Sella terperangah. Ia menggeleng kuat. "Kepalaku pusing, Tar..."
Tari menepi. Menatap Sella dengan kebingungan. "Kamu jadi aneh setelah kejadian waktu itu."
"Kejadian apa?"
"Percobaan bunuh diri lah. Apa lagi?"
"Hah?" Sella semakin melongo. Namun, bayangan dirinya menceburkan diri ke kolam muncul di pikirannya. Itu Sella! Sosok Sella yang asli yang melakukannya.
Saat itu, Sella sedang cekcok dengan Dimas. Sella marah karena Dimas yang meninggalkannya begitu saja demi wanita lain. Padahal, Sella sedang merencanakan perayaan pernikahan mereka yang ketiga. Sella mengancam akan menjatuhkan dirinya ke kolam. Namun Dimas tetap pergi. Dan akhirnya... semua itu benar-benar terjadi.
Hal itu terjadi tepat sehari sebelum jiwa Salsa menggantikan Sella mengisi raga ini.
"Aku rasa ada sesuatu sama kepalamu saat itu. Mungkin efek kekurangan oksigen?" tebak Tari. "Sel, apa perlu aku antar kamu ke rumah sakit buat memastikan semua?"
"Nggak perlu. Yang kamu bilang tadi... mungkin saja. Tapi aku rasa aku nggak perlu sampai ke rumah sakit," tolak Sella.
"Setidaknya kejadian itu bisa kujadikan alasan jika orang-orang di sekelilingku merasa aneh dengan sikapku," batin Sella. "Tapi... aku tidak tahu kalau Kak Sella punya kehidupan yang sekacau ini."
***
Sella saja membuka pintu rumah ketika pandangannya langsung tertuju ke ruang tamu. Dimas duduk di sana, berhadapan dengan seorang wanita cantik berambut hitam sebahu. Mereka tampak begitu serius, meski sesekali terdengar tawa ringan keluar dari bibir wanita itu.
Sella tertegun. Dadanya langsung bergemuruh. Wanita itu Natasha-ia tahu dari potongan obrolan yang pernah ia dengar dari Tari, sahabatnya. Teman masa kecil Dimas. Partner kerja di sebuah proyek besar.
Langkah Sella otomatis melambat. Namun segera ia tegakkan punggung, mengatur wajah agar tetap anggun. Tidak. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan Natasha.
"Aku pulang." Suaranya terdengar cerah, dibuat-buat.
Dimas hanya melirik sekilas, tanpa ekspresi berarti.
Natasha menoleh dan tersenyum tipis, "Hai, Sella."
Sella melangkah lebih dekat, duduk di sofa sebelah Dimas tanpa diminta. Ia menyandarkan tas kecilnya, lalu menoleh pada keduanya. "Ngobrolin apa? Seru banget sampai nggak sadar aku datang."
Natasha tersenyum lagi, kali ini lebih manis, seolah ingin menunjukkan posisinya. "Kami lagi bahas soal tender proyek. Ada beberapa revisi yang harus segera diberesin."
"Oh begitu..." Sella pura-pura mengangguk paham. Padahal, isi kepala kosong. "Aku bisa ikut dengerin, kan? Siapa tahu bisa kasih masukan."
Dimas yang sedari tadi menatap berkas di tangannya akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya tajam, menusuk.
Untuk mencairkan suasana, Sella berusaha mencari bahan obrolan baru. "Kalian sudah makan? Gimana kalau aku masakin sesuatu aja buat dinner nanti?"
Diam. Semua abai dengan pertanyaan Sella. Keduanya sibuk mengobrol, tapi tidak mengikut sertakan Sella.
Sella diam sejenak, mengamati interaksi dua insan di hadapannya itu. "Ternyata mereka rekan kerja?" pikirnya sederhana.
"Oh iya, Dim. Tadi aku-"
"Bisa diam? Suaramu mengganggu." Ucapan dingin itu berasal dari bibir Dimas. Ia menatap Sella sekilas sebelum kembali fokus dengan layar laptopnya.
"Maaf, aku cuma-"
Decakan keras terdengar. Tampaknya, Dimas benar-benar tidak mau mendengar suara Sella.
Natasha menatap Sella. Senyum sinis terlukis di bibirnya. "Udah, Dim... jangan galak-galak gitu juga ke Sella! Dia nggak maksud ganggu kok. Iya, kan, Sel?"
"Aku cuma mau menemani kalian. Terutama kamu, Dim. Seharian kita nggak ketemu. Nggak salah kan kalau aku mau di dekat kamu?"
"Keberadaan kamu di sini sangat mengganggu. Lebih baik kamu masuk!"
Kalimat itu dingin, seperti tamparan. Namun, Sella menahan diri. Ia menekuk senyum tipis, berusaha tidak terlihat canggung.
"Maaf. Aku nggak bermaksud. Aku akan diam."
Ia menyingkirkan bahunya perlahan, lalu menaruh berkas di meja. "Aku sedang kerja. Jangan ganggu! Lebih baik kamu masuk ke kamar sekarang!"
Natasha menutup mulut, menahan tawa kecil. Tatapannya singkat, menyapu Sella dari atas ke bawah, lalu kembali ke Dimas. "Kamu nggak berubah ya, Dim. Masih sama dinginnya kalau lagi fokus."
"Aku paling tidak suka dengan kehadiran pengganggu," balas Dimas pelan, tapi jelas ditujukan pada Sella.
Sella meremas ujung roknya. Namun, ia tidak menyerah. Ia menghela napas panjang. Ia beranjak sebentar, lalu kembali sambil membawa segelas air putih dari dapur. "Kalau gitu minum dulu. Biar bisa lebih fokus."
Ia menaruh gelas itu tepat di depan Dimas. Lalu duduk lagi, kali ini lebih dekat. Tangannya diam-diam menyentuh lengan pria itu. "Coba deh minum dulu!"
Dimas menoleh pelan. Sorot matanya gelap. "Aku sudah bilang jangan menyentuhku, Sella!"
Tangan Sella langsung refleks terlepas. Senyumnya kaku. "Aku cuma-"
"Pergi ke kamarmu, sekarang!" potong Dimas tegas, suaranya rendah tapi sarat ketidaksabaran.
Natasha mengalihkan pandangan, tapi sudut bibirnya melengkung tipis. Seperti menikmati pemandangan itu.
Sella tercekat. "Aku... aku cuma mau nemeninmu."
"Aku nggak butuh ditemani." Dimas mendorong gelas air itu menjauh. "Pergi!"
Hening seketika. Suara jam dinding terdengar jelas di antara mereka.
Sella menggigit bibir. Tenggorokannya tercekat, tapi ia memaksa berdiri. "Baik." Suaranya pelan, nyaris pecah.
Ia berbalik, berjalan menaiki tangga. Setiap langkah seperti beban. Namun sebelum benar-benar menghilang di lantai atas, ia sempat menoleh.
Natasha sedang tersenyum samar, menatap punggungnya dengan tatapan puas.
Sella mengepalkan tangan. Darahnya mendidih, wajahnya panas karena malu. Begitu sampai di kamar, ia menutup pintu keras-keras, lalu menjatuhkan tubuh di ranjang.
"Berengsek!" desisnya pelan. Air mata menggenang, tapi segera ia hapus dengan kasar. "Baik, kalau kamu memang tidak bisa didekati dengan cara ini, aku akan cari cara lain untuk menghancurkanmu."