Sella mengamati Dimas yang sedang memakan masakannya. Pria itu makan dalam diam. Tak ada interaksi antara mereka, yang membuat suasana menjadi canggung.
"Dimas, habis ini aku-"
Dimas menatap Sella dengan dingin. Menyadari hal itu, Sella menutup mulutnya. Ia tidak tahu apa yang salah dengan ucapannya.
"Aku akan minta sekretarisku untuk transfer nanti," kata Dimas tiba-tiba.
Sella mengernyit. Ia tidak tahu korelasi antara suasana dingin di meja makan ini dengan uang.
"Ya? Untuk apa?"
Dimas meletakkan sendoknya kasar. Ia seperti sudah tidak minat dengan makanannya. "Kamu melakukan ini biar aku memberimu uang tambahan lagi, kan?"
Kerutan di kening Sella semakin tebal. "Memang aku melakukan apa?"
Dimas tidak menjawab. Pria itu berdiri, lalu pergi begitu saja.
Sella mendengus sebal. Ia hanya ingin minta izin pasa Dimas kalau hari ini ia akan jalan-jalan bersama Tari. Namun pria itu malah berucap sesuatu yang tidak jelas.
"Mungkin maksud Tuan, soal memasak dan sarapan bersama, Nyonya," kata Bi Marsih yang muncul, mendekat ke arah Sella.
Sella menoleh. Penjelasan Bi Marsih sama sekali tidak membuatnya mengerti. Justru ia semakim bingung karena tak juga menemukan adanya kesinambungan antara masak sarpaan dan uang.
"Selama ini Anda tidak pernah memasak. Anda juga tidak mau mengejar Tuan sampai depan hanya unruk memaksanya makan," jelas Bi Marsih.
"Benarkah sampai separah itu?" pikir Sella. "Lalu kalau aku ingin pergi ke suatu tempat, bagaimana aku harus minta izin padanya? Apa melalui sekretarisnya juga?"
Bi Marsih menggeleng. Ia menatap Sella dengan tatapan bingung.
"Bi..."
"Bukannya biasanya Anda tidak seperti ini?" Bi Marsih menatap Sella dengan tatapan yang rumit.
"Maksud Bibi?"
"Anda akan pergi ke mana saja tanpa perlu berpamitan. Tuan juga tidak akan peduli." Kali ini tatapan Bi Marsih melunak, bahkan terkesan sendu.
Sudah hampir dua belas tahun Bi Marsih bekerja dengan Keluarga Mahawira. Ia adalah orang yang paling tahu bagaimana sifat dan kebiasaan setiap penghuni rumah ini.
Gugup, Sella menggaruk tengkuknya dengan kaku. "Saya hanya sedang mencoba hal yang menurut saya baik."
Sella tidak mengerti kenapa kehidupan rumah tangga Dimas dan Sella sedingin ini. Tak hanya dari sisi Dimas. Ia baru tahu kalau kakaknya juga biasa melakukan hal seenaknya tanpa perlu menghargai peran Dimas sebagai suami.
"Bukannya Kak Sella sangat mencintai Dimas? Aku pikir dia selalu berusaha jadi istri yang sempurna untuk Dimas," pikir Sella.
"Nah itu dia!" seru Tari.
Sella terperanjat lalu menatap ke arah yang ditunjuk sahabatnya. Tampak dua tiga orang pria di sana. Tersenyum ke arah Sella dengan senyuman yang terkesan akrab.
"Siapa lagi mereka?"
Belum sempat Sella bereaksi, Tari sudah lebih dulu menarik tangannya menuju ke arah tiga pria tersebut.
"Sel, Tari bilang kamu mau traktir kita party, ya?" tanya salah satu dari pria tersebut.
"Hah?" Sella dibuat menganga. "Party apa?"
Sebelumnya, Sella memang mengatakan pada Tari kalau akan mentraktirnya. Namun, tidak mengatakan untuk mengundang orang lain. Apalagi untuk alasan "party".
"Udah hampir dua minggu juga kita nggak ketemu. Pasti kangen kan sama Kelvin?" Laki-laki itu menyenggol lengan temannya. Seorang pria yang paling tinggi dan memiliki paras yang harus Sella akui di atas rata-rata.
Sella tidak mengerti kenapa dia harus merindukan laki-laki itu. Kelvin namanya. Begitu asing di telinganya. Ia tidak pernah mendengar nama itu disebut oleh ibu dan kakak tiri Sella yang asli. Ia tidak tahu seperti apa hubungan yang mereka miliki.
"Eh... malah bengong. Sudah ayo!" Sella masih kebingungan saat Tari tiba-tiba menarik lengannya.
Mereka masuk ke dalam dua mobil yang terpisah. Tari mendorong Sella untuk masuk ke bangku samping kemudi. Lalu, pria bernama Kelvin itu duduk di samping Sella.
"Perasaan akrab ini... debaran jantung ini..." batin Sella. Ia merasa ada yang aneh saat raga yang ia tempati berada dekat dengan Kelvin. "Apa Kak Sella suka sama laki-laki ini? Tapi bagaimana bisa?"
Mobil melaju menuju sebuah kelab eksklusif. Sella kelabakan saat tahu ke mana mereka membawanya.
"Ngapain kita ke sini? Ini bahkan masih siang bolong!" seru Sella.
"Ya buat party!" balas Tari di bangku belakang.
"Sel, kenapa? Kamu lagi nggak enak badan, ya? Sikap kamu aneh hari ini," tanya Kelvin.
Sella menggeleng kaku. Ia menatap tangan Kelvin yang menggenggam jemarinya. Dari reaksi setiap sel di dalam tubuhnya, Sella semakin yakin jika ada perasaan terlarang yang pemilik raga ini miliki untuk lelaki di sampingnya.
"Aku cuma..."
"Ayo turun! Aku mau ngomong sesuatu yang penting sama kamu di dalam!" ajak Kelvin.
Sella masih mematung di tempat. Ia berusaha mencerna suasana yang terasa membingungkan ini. Namun, Kelvin sudah dulu muncul di pintu sebelahnya. Ia menarik tangan Sella lembut untuk turun dari mobil.
Mereka menggiring Sella untuk masuk ke kelab tersebut. Tari sudah memesan ruang khusus untuk mereka. Tempatnya seperti sebuah ruang karaoke yang cukup besar. Ada meja panjang di depan sofa, menghadap ke layar besar di hadapannya.
Pesta benar-benar dimulai. Anehnya, Sella tidak merasa asing dengan suasana ini. Ia ikut menari bersama yang lain ketika musik di putar. Mereka menyanyi acak. Beberapa mulai meneguk minuman yang sudah tersedia di atas meja.
"Sel..." Kelvin meraih jemari Sella, membawanya bergeser. "Aku mau ngomong sesuatu ke kamu."
Cuitan Tari dan dua pria temannya terdengar. Mereka mulai menggoda Sella dan Kelvin yang sedang asyik berduaan.
"Ngomong apa? Langsung saja!" kata Sella. Suasana ini terasa tidak masuk akal. Namun, tubuhnya seolah tak bisa menolak. Bahkan debaran itu... terasa semakin nyata.
"Oh Tuhan... ini salah!" jerit batin Sella.
"Bulan lalu kamu minta aku jadi kekasihmu. Dan aku minta waktu. Tapi sekarang... aku sudah punya jawabannya."
Mata Sella membulat.
"Aku mau jadi pacar kamu. Mulai hari ini, kita resmi pacaran."
Ini gila! Benar-benar gila!
Bagaimana mungkin Sella berpacaran dengan pria lain, sementara statusnya kini sudah menikah?