“Aku lihat kamu sama perempuan tadi siang.”
Langkah Dimas yang baru masuk rumah langsung terhenti. Jas yang masih tersampir di lengannya bergeser sedikit, tetapi pria itu tidak menoleh.
“Aku nggak salah lihat, kan?” Sella mendekat, suaranya bergetar, tapi tatapannya tajam menusuk punggung pria itu. “Kamu bisa ketawa sama dia… bisa senyum selembut itu di depan orang lain. Kenapa sama aku kamu selalu dingin?”
Dimas akhirnya menoleh, sorot matanya gelap dan tajam. “Sudah kubilang, jangan ikut campur urusanku!"
“Urusanmu?” Sella mendengus, emosinya meledak. “Aku istrimu, Dimas! Mau sampai kapan kamu berpura-pura kalau aku nggak ada? Suka tidak suka, sekarang kita adalah sepasang suami istri. Apa tidak bisa kamu menghargai aku sebentar, setidaknya sampai kontrak pernikahan kita selesai?”
Ia nekat meraih lengan Dimas, menahan langkahnya. Sentuhannya gemetar, tapi genggamannya kuat.
Dimas menurunkan pandangan ke tangan itu, lalu menyingkirkannya kasar. “Jangan pernah sentuh aku lagi, Sella!”
Tubuh Sella berguncang. Kata-kata itu menampar lebih keras daripada sikap dinginnya. Namun ia menolak mundur.
“Kamu kira aku nggak tahu? Semua orang juga bisa lihat cara kamu berinteraksi sama perempuan itu. Kamu baik sama dia. Kenapa sama aku tidak bisa? Apa aku memang segitu menjijikannya buatmu?”
Dimas mendekat, wajahnya hanya sejengkal darinya, suaranya serendah bisikan namun dinginnya menusuk. “Ya. Kamu menjijikkan, karena kamu selalu memaksa dirimu masuk ke hidupku.”
Sella tercekat. Kata-kata itu menghancurkan, membuat hatinya diremas. Namun sebelum air mata sempat jatuh, Dimas sudah berbalik, menapaki tangga menuju kamarnya tanpa sedikit pun menoleh.
Pintu kamar di lantai atas menutup dengan suara keras.
Sella berdiri mematung di ruang tamu, dadanya naik turun, emosinya campur aduk. Ucapan Dimas berulang di kepalanya, menyayat tanpa ampun. Ia menggigit bibir, mencoba menahan air mata yang sudah di ujung.
Namun tak bisa dipungkiri. Rasa sakit itu bercampur dengan bayangan yang ia lihat siang tadi. Dimas tertawa kecil bersama seorang wanita cantik di restoran. Wanita itu tampak nyaman, Dimas pun tak terlihat canggung.
Padahal selama ini, bersama Sella, Dimas selalu dingin.
"Seperti ini caramu memperlakukan kakakku? Seperti ini kamu menyiksanya, membunuhnya secara perlahan?"
Bayangan itu menyeret Sella pada obrolannya dengan Tari siang tadi.
“Kamu dan Dimas... rumit. Dia jelas-jelas tidak suka kamu. Bahkan mungkin memang tidak akan pernah suka. Kalau bukan karena perjodohan itu, mana mungkin dia mau menikahimu?" Tari mendesis, dagunya nyaris menempel ke meja restoran tempat mereka duduk.
“Tapi dia adalah pria idamanmu. Aku tahu. Dia memang sempurna. Dia tampan, mapan dan sangat berkarisma. Aku setuju jika kamu bilang dia memiliki segala yang diimpikan wanita. Tapi, kalau hatinya bukan untuk kita, buat apa, Sel?"
Sella mengerutkan kening. “Maksud kamu aku tetap tergila-gila padanya meski dia terang-terangan menolakku?”
Tari mengangguk. "Bukannya memang selama ini begitu? Hanya saja kamu yang terus menyangkal kalau kamu melakukan ini karena dia adalah suamimu. Tapi terlihat jelas dari sikapmu. Kamu punya rasa ke dia."
Napas Sella semakin memburu. Ia tidak terima dengan perasaan yang dimiliki oleh raga yang ia huni.
"Apa Kakak tahu, kalau rasa cinta ini justru yang akan mengantar Kakak pada kematian?" batin Sella.
"Lanjutkan saja, Sel, sampai kamu benar-benar lelah. Aku sudah capek menasihatimu!" kata Tari.
Sella menutup telinga dan matanya. Kepalanya begitu berisik. Seperti setiap sel yang ada di dalam sana bisa bicara.
"Kamu sudah mempermainkan hati kakakku..."
"Kamu sudah mencampakkan cinta suci yang dia berikan padamu..."
"Tapi sekarang, aku akan membalikkan keadaan. Akan kubuat kau bertekuk lutut padaku, dan akan aku jadikan perasaan itu sebagai senjata untuk menghancurkanmu."
***
Sella berlari kecil saat mendengar langkah sepatu menuruni tangga. Bisa ia pastikan jika itu adalah Dimas.
"Dimas, tunggu!" Ia menghentikan langkah Dimas. Ia menyusulnya, lalu berdiri tepat di hadapannya.
"Aku sudah selesai masak. Gimana kalau hari ini kita sarapan bersama?"
Dimas buang muka. Ia berjalan melewati Sella seolah ucapan wanita itu hanyalah angin lalu.
"Sial!" umpat Sella dalam hati. Ia kembali mengejar Dimas. Kali ini, ia memberanikan diri untuk menahan lengan pria itu.
"Sudah kukatakan jangan pernah menyentuhku!" sentak Dimas.
Sella tersenyum. "Aku nggak akan lakukan kalau kamu mendengarkanku tadi. Jadi, ayo sekarang kita makan bersama!"
Dimas menghempas tangan Sella, membuat mata wanita itu membulat kaget. Ternyata, Dimas bisa sekasar ini. Dan dari reaksi dingin setelahnya, Sella yakin, ini memang bukan kali pertama untuknya.
"Aku nggak akan berhenti nahan kamu sebelum kamu mau sarapan denganku!" tegas Sella.
Dimas menatap tajam wanita yang berstatus sebagai istrinya itu. Namun, Sella tidak gentar. Ia membalas tatapan pria itu seolah itu bukan apa-apa untuknya.
"Kenapa? Apa kamu mau memukulku hanya karena aku memegangmu dan memintamu makan denganku?" tanyang Sella. "Lakukan!"
Dimas menghela napas panjang. Ia melepaskan tangan Sella di lengannya. Tanpa berucap apa-apa, ia kembali berjalan masuk menuju ruang makan. Hal itu membuat senyum kemenangan terbit di bibir manis Sella.
"Akan kubuat kamu terbiasa dengan kehadiranku, dan perlahan kamu akan menerimaku."