Dion menatap wajah Sella yang mulai pucat. “Kamu tunggu di sini, ya,” ucapnya cepat sebelum Sella sempat menjawab. “Eh, Dion—” Namun pria itu sudah berdiri dan bergegas keluar kafe. Sella menatap bingung ke arah pintu yang kini berayun pelan. Tari hanya bisa menatap Sella dengan dahi berkerut. “Nah, ini nih. Aku juga baru tahu Dion bisa sepanik itu. Biasanya dia itu tenang banget loh,” gumam Tari setengah kagum. Sella hanya menunduk, mencoba mengatur napas yang terasa berat. Rasa nyeri di ulu hati makin menusuk, membuatnya harus menahan diri agar tidak meringis di depan umum. Beberapa menit kemudian, Dion kembali. Tangannya membawa sebuah kantong kecil dari apotek. Ia meletakkan kantong itu di meja, lalu mengambil segelas air mineral dari pelayan yang baru lewat. “Minum ini dulu, ya,

