Sella duduk sendirian di ujung meja. Rambutnya dikuncir rendah, wajahnya terlihat pucat karena kurang tidur semalam. Di depannya, terdapat sepiring omelet dan dua potong roti yang sudah hampir habis. Ia makan pelan, pikirannya melayang ke hal-hal yang terlalu rumit untuk dia pikirkan sendirian. Hari ini ia sudah bertekad untuk menemui Tari. Hanya dia yang bisa memberikan informasi yang Sella inginkan. Setidaknya, sejauh ini, Tari tampak seperti orang yang netral dan tidak punya maksud tertentu padanya. “Aku nggak bisa terus hidup kayak gini,” gumamnya pelan sambil mengaduk teh yang sudah mendingin. “Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Langkah pelan terdengar dari arah tangga. Dimas. Sosok itu melangkah mendekat ke arah meja makan. Ia duduk tepat di hadapan Sella, menarik sebua

