aku masuk ke rumahku dengan lemas, bapak ibu dan mbak Rahayu memandangiku dengan dahi yang berkerut
"kenapa Rin.." ibuku bertanya
"gak papa Bu, cuma capek" aku menjawab sekenanya dan masuk ke kamarku. aku langsung merebahkan tubuhku di tempat tidur dengan tangan yang satu menutupi wajahku. aku mendengar pintu di buka tapi enggan melihat siapa yang masuk.
"nopo nduk.." ibuku mendekat dengan mengusap pahaku lembut
"ora Popo buk..( gak apa apa buk)" aku menjawab dengan wajah yang masih tertutup tanganku.
"cuma capek buk, banyak yang harus di revisi" lanjutku menjelaskan pada ibuku agar berhenti kawatir.
"makan dulu sana, baru isrtirahat"perintah ibuku lembut
"tadi udah makan di kampus Bu.." jelasku
"ya sudah.. mandi aja sana biae seger terus istirahat, ya.." pinta ibuku
"ya buk.." jawabku singkat, dengan posisi yang sama wajahku tertutup tanganku.
ku dudukan tubuhku ketika aku memastikan ibuku benar benar sudah keluar dari kamar. aku memandang keluar jendela pikiranku menerawang jauh, entah apa yang aku pikirkan yang jelas aku merasa kosong.
"mandi aja lah, biar seger badanku" gumamku sendiri. belum sempat aku mandi, ponselku berbunyi. aku dengan semangat mengambil ponselku di dalam tas. nama VIAN tertera di layar ponselku, aku mendengus lemas.
"halo Vi.." sapaku tak bergairah
"kok lemes Ndut?" tanya Vian
"iya Vi, skripsiku banyak yang harus di revisi" jawabku lemas
"yang semangat to.. biar cepet nyusul kita, jangan putus asa" ucap Vian lembut mencoba menenangkan hatiku
"nanti kalo butuh bantuan bilang Ndut, jangan sungkan aku tau kok kamu pasti kebingungan. secara kamu dulu ga pernah lepas dari kita" ucap Vian sedikit kawatir
"iya Vi.."jawabku singkat
"kamu seperti anak itik yang hidup sendiri Ndut, dulu kamu bentar bentar kita, bentar bentar kita. sekarang kamu kayak orang kesasar ga tau jalan pulang.." lanjut Vian lagi
"iya Vi..iyaaaaa, nanti aku kerumahmu pas ngerjain revisi yaaaaaa.." ucapku meredaka kekuatirannya
*bener ya Ndut?"
"iya viaaannn, udah ah. aku mau mandi dulu, aku baru sampai rumah ini" ocehku membuat Vian terkekeh
"ok ok.. Bu guru. bye genduttt"
"bye.." aku mengulas senyum
"mandi ah" aku bicara sendiri, lalu segera masuk ke kamar mandi.
seharian ini sungguh melelahkan secara fisik dan mental, lelah dengan skripsiku yang selalu di revisi dan lelah karena merindukan si setan yang menyebalkan itu. air mengalir dari kran shower membasahi kepalaku hingga ujung kakiku, aku berdiri di bawah air mengalir cukup lama. dengan air mataku yang tiba tiba tidak dapat aku bendung lagi. kuresapi setiap rasa sakit yang sesak di dalam d**a, entah untuk apa aku menangis tapi dadaku terasa ringan sekarang.
aku senang memakai daster milik ibuku, longgar dan nyaman. ku gulung ke atas rambutku yang basah dengan handuk, aku merasakan tubuhku segar mungkin karena mandi atau karena menangis tadi sehingga aku merasa sedikit lega, aku duduk di meja kerjaku. ku ambil lembaran lembaran skripsiku, aku mulai mengerjakannya. aku ingat pesan vian tadi agar aku menghubunginya jika mendapatkan kesulitan.
aku berkirim pesan padanya untuk mengatasi kesulitanku dalam merevisi skripsiku. tidak terasa sudah pukul setengah dua belas malam, perutku berbunyi cukup kencang "ngeleh cah.. (laper guys)" aku berdiri dan keluar kamar berjalan menuju dapur. aku mengambil makan seadanya yang ada di meja makan. malas rasanya harus mengambil makanan yang sudah di rapikan di kulkas.
pada akhirnya aku memutuskan pada mi instan, ya, yang gampang dan praktis, belum sempat aku melahap mi buatanku terdengar bunyi Guntur cukup keras, mau hujan rupanya, aku meletakkan mi kesukaanku di meja makan dan bergegas masuk ke kamar hendak menutup jendela. tapi ketika aku masuk 'deg' ada sosok yang sedang mengibas kibaskan sesuatu dari tubuhnya, rupanya dia tidak sadar jika aku masuk ke kamar. aku langsung berhambur memeluknya dengan erat, jika saja pertahanannya kurang kuat mungkin kami berdua akan terjatuh di atas ranjang.
ku hirup kuat kuat aroma tubuhnya
"ke mana saja kamu" suaraku hampir tak terdengar, Anton terkejut dengan reaksiku ini. tapi dengan segera dia menyambut dekapanku di usapnya kepalaku dengan lembut
"kangen ya..?" suaranya meledek. aku hanya menjawab dengan anggukan
"kamu basah Anton" sambil ku urai dekapanku dan ku pandangi wajahnya yang sedikit sayu itu.
"kan gerimis di luar Rin.." tanganya dengan membelai lembut wajahku
"ganti pakai baju ku ya.." pintaku
"kamu kenapa? tiba tiba semanis ini padaku..?" ucapnya sedikit meledek. ku manyunkan bibirku dan tanganku memainkan ujung jaket kulitnya. di tariknya lenganku dan peluknya aku dengan hangat.
"rindumu sudah terobati bukan" ucapnya dengan tangan yang mengusap punggungku. aku hanya mengangguk, aku merasakan hatiku begitu hangat.
aku mengurai pelukanku, ku pandangi wajahnya yang sedikit sayu
"kamu pucat Anton.. kamu sakit?" tanyaku sedikit menyelidik
"bukan Anton kalo bisa sakit.." jawabnya sombong dengan menyentil dahiku
"auww.." aku meringis kesakitan sambil mengusap usap dahiku
"temani aku ya, pekerjaanku banyak" pintaku sedikit manja
"oohhh.. manisnya.."jawabnya meledek, dengan senyum simpul di ujung bibirnya
"jurus Mbah dukun itu ampuh rupanya" lanjutnya dengan duduk di ujung ranjang, dan memainkan satu kaki yang bertumpu di kaki yang lain. sedangkan tangannya mengetuk ketuk dagunya.
"eh. jurus apa rupanya??" aku tercengang dengan ucapannya.
Anton bangkit dari duduknya dan menghampiriku yang masih berdiri "kata Mbah dukun itu, jurus ampuh menaklukkan macan betina yang galak itu dengan di elus elus puncak kepalanya" jawabnya sambil memperagakan gaya mengusap usap kepalaku
"eh. enak aja. kamu pikir aku binatang" sambil ku tampik tangannya yang mengusap kepalaku, dia terkekeh melihat aku yang sewot
"nah.. kalo ternyata masih galak, caranya begini" Anton menarik pinggangku dengan sebelah tangannya, dan tangan yang satu lagi mengangkat daguku mengecup singkat bibirku. aku sedikit keget dengan aksi spontan Anton, tapi setelahnya aku menyadari jika aku memang merindukannya.
"aku rindu.."ucapnya berbisik
"rindu itu sakit Anton.." sahutku
"aku tahu.."jawabnya dengan membelai pipiku lembut
"aku takut kamu kenapa Napa, aku berfikir yang bukan bukan. kamu suka sekali bikin ulah.."
"maaf.. sudah membuatmu kuatir" dengan menatap lekat mataku, tangannya masih melingkar di pinggangku
"lalu kemana saja kamu beberapa hari ini hmm" tanyaku
"aku tidak kemana mana, aku selalu ada di dekatmu tapi kamu saja yang tidak sadar" aku mencibik mendengar ucapannya itu
"tolong jangan menghilang lagi.." pintaku. di jawabnya dengan anggukan dan senyum simpul
"aku benar benar kuatir.."ucapku sambil kuletakkan kepalaku di dadanya
"tidak usah kuatir dalam keadaan apapun aku selalu ada menjagamu" di dorong sedikit pundakku menjauh dari dadanya
"aku sepertinya tidak ada bagimu beberapa hari ini, tapi aku tahu segala yang terjadi padamu Rini. kamu tidak perlu kuatir dan cemas"
"ya.." jawabku singkat
"kamu milikku.., milik Anton Andyanto dan tidak satupun yang dapat mengubahnya" dia menarik tengkukku, dia melumat bibirku dengan lembut. aku mendorong tubuhnya hingga dia mundur beberapa langkah.
"tidak ada yang perlu kamu takutkan.. kita sudah pernah melakukannya" jawabnya ringan
"tapi kamu mabuk waktu itu.." mataku berkaca kaca
"aku minta maaf.. aku hanya ingin kamu menjadi milikku seutuhnya"
"tapi bukan begini caranya.." aku memelas
"lalu bagaimana? kamu mau aku menikahimu" ucapnya dengan senyum penuh arti, kemudian dia maju dan meraih tubuhku
"aku akan benar benar menikahimu Rini Anggraeni. lihat saja nanti" dia kembali melumat bibirku, dalam dan lembut. semakin lama lumatan itu berubah menjadi panas
"Anton..." ucapku berbisik
"sssttt.. jangan di tahan, biarkan dia mengalir" telunjuknya membelai bibirku
Anton kembali melumat bibirku, aku mengikuti ritmenya. kali ini berbeda, karena dia dalam keadaan sadar tidak dalam pengaruh alkohol. setiap kali dia hendak melanjutkan aktifitasnya, aku memandangnya dari tatapannya seolah dia berkata tidak apa apa semua pasti baik baik saja dan aku akan bertanggung jawab
"biarkan semua mengalir.." bisiknya di telingaku. di jelajahinya setiap inci dari tubuhku, lagi lagi tanda kepemilikan itu berada di beberapa titik dadaku. lenguhan desahan keluar begitu saja dari bibirku, aku tidak menyadari jika Anton saat ini tersenyum penuh kemenangan melihat aku tak berdaya dalam kungkungannya.
sayup sayup aku mendengar suara ayam berkokok, ku raih ponsel yang berada di bawah bantal ku lihat jam pada ponselku menunjukkan pukul empat pagi. ku bangunkan Anton yang saat ini sedang tertidur pulas dengan tangan yang melingkar di perutku. ku balikkan badanku, ku belai lembut rahang keras itu