kehilangan

1245 Kata
"Rin..sarapan Sik nduk (sarapan dulu nak)" suara ibuku dari luar kamar, menyuruhku sarapan. ya..ibu bapak dan mbakyuku sudah pulang dari Jogja, sudah 2 hari ini. dan 2 hari ini pun aku merasa sedikit lega, karena si setan Anton itu tidak menggangguku. "njih buk..(ya buk)" aku menjawab dengan berteriak dari dalam kamar. aku percepat siap siapku kemudian aku ke luar kamar. "hmm.. enaknya" aku berbicara sendiri. 10 hari lebih ibukku tidak di rumah, dan selama itupun aku sarapan seadanya. kadang malah tidak sarapan karena malas menyiapkan sendiri, tapi sekarang semua sudah tersaji di meja makan. terlihat sangat lezat sekali, air liurku sampai mau menetes. "Bu.. aku berangkat dulu, nanti selesai ngajar Rini langsung ke kampus" pamitku pada ibuku "gak bawa motor sendiri Rin..?" "enggak buk.. capek, nanti naik kendaraan umum saja" jelasku pada ibuku yang gembul ini "terus Iki meh ngojek wae mangkate?( terus ini mau naik ojek aja berangkatnya?)" tanya ibuku "iya buk.. biasa sama pak Yanto " langganan ojek yang selalu setia menemaniku ke mana saja. "berangkat ya buk.." ku cium pipi kanan kiri ibuku dan aku melangkah keluar rumah. ******** aku tiba di rumah pukul tujuh malam, lelah badanku ini. seharian mengajar dan langsung bimbingan di kampus, benar benar menguras energi. tidak ku hiraukan tubuhku yang lengket ini, aku meletakkan tasku sembarangan dan aku segera berbaring di tempat tidurku tak beraturan. sungguh lelah hari ini aku terlelap dengan baju seragam guru yang masih menempel pada tubuhku, malas rasanya hanya sekedar berganti pakaian. sayup sayup aku mendengar ada yang memanggilku "hmm.." aku menjawab dengan menggumam. "Rin..Rin...Rini.." lembut suara itu memanggil "hmmm.."aku menggumam lagi "bangun.. ganti baju dulu" "apa sih Anton..." jawabku dengan suara tak jelas "Rini!!" suaranya menyentak dengan memukul pantatku. aku bangun dengan kaget "bocah edan.. sopo Anton?? (anak sin***g.. siapa Anton??)" bentak mbak Rahayu. aku yang masih belum terkumpul nyawanya, terduduk di tempat tidur dengan mengucek mata. "opo to mbak..hihh!!( apa sih mbak.. hihh!!") kesalku pada mbak Rahayu "Anton sopo?! di gugah mbakyune bukane Tangi malah ngundang Anton (siapa Anton?! di bangunin mbak bukannya bangun, malah manggil Anton") "lha opo suaraku koyo suara lanang po piye? ( memangnya suaraku mirip suara laki laki?) lanjut omelnya. tak ku ladeni Omelan mbak rahayu, aku bergerak dari tempat tidurku dengan wajah ngantuk menuju kamar mandi milikku "heh.. di ajak ngomong orang tua malah pergi" sungut mbak Rahayu. dari dalam kamar mandi aku mendengar pintu kamar ku di tutup. berarti mbak Rahayu sudah keluar kamarku. aku terkikik sendiri mendengar suara mbak Rahayu yang masih mengomel hehe 'segarnya, habis mandi' aku berbicara sendiri. ternyata sudah jam sebelas malam, aku membuka jendela dan melihat keluar, terang bulan dan kerlib bintang membuat pemandangan di belakang rumahku terasa sangat indah. hembusan angin malam membelai wajahku lembut "hmmm.... segarnya" aku bicara sendiri. ku ambil kursi dan kuletakkan di depan jendela, aku duduk dengan tangan bertumpu di jendela dan ku letakkan daguku di atas tanganku yang bertumpu "beberapa hari ini Anton tidak mengusikku, kemana dia" gumamku "apa benar tadi waktu aku di bangunin mbak Rahayu, aku memanggil nama Anton" lanjut gumamanku "rasanya.. seperti ada yang hilang" ucapku sendiri "tapikan malah bagus, dia ga ada. jadi ga ada yang ganggu ganggu aku lagi kan" sanggahku, menolak rasa kehilangan. entah karena terlalu benci dengan apa yang sudah Anton lakukan atau karena gengsi. aku mengambil nafas dalam dalam menghembuskanya , aku bangkit dari duduk, ku tutup jendela lalu aku menelusup di bawah selimut 'tidur lebih baik, dari pada memikirkan si setan Anton' batinku ********* semua kawan kawanku sudah wisuda, tinggal aku sendiri sekarang di sini. biasanya aku di bantu GENGS REMBOL dalam mengerjakan banyak hal. bahkan aku tidak pernah mengerjakan apapun jika ada tugas, hanya numpang nilai pada mereka. tapi sekarang aku harus berusaha sendiri. "heleh.. Iki piye ya, kok akeh banget sing kudu di revisi (heleh.. ini gimana ya, kok banyak banget yang harus di revisi") aku menjedotkan kepalaku pelan tapi berulang di meja perpustakan kampus. "hiks hiks.." aku terus menjedotkan kepalaku di meja perpustakan. "mbak.. udah jangan putus asa, harus tetep semangat" suara penjaga perpustakan itu padaku. aku menoleh ke arahnya dengan posisi kepala masih menempel di meja, dengan muka menyedihkan. bukannya ibba penjaga itu malah tertawa. "kasian mejanya mbak.. ga salah apa apa, di jedotin terus dari tadi" lanjut penjaga itu padaku dengan bibir melebar kekanan dan ke kiri. aku berdecik dan melengos melihat ekspresinya yang menahan tawa. "udah ah, aku mau pulang aja. bukannya bantuin malah ngledekin" sungutku dengan bibir maju. "bukan ngledek mbak.. tapi memberi semangat" sambil menggerakkan satu tangannya seperti mengangkat barbel "ck. iya iya.. " sambil berjalan keluar perpustakaan. "makan aja dulu lah, dari pada setress mikir revisi" gumamku sendiri dengan berjalan menuju warung Bu Nardi langganan ku "hallo nduk cah ayu..( hallo anak cantik), kok sendiri mana gerombolanmu" sapa Bu Nardi ramah ketika melihatku masuk ke warung makannya. "udah sebatang kara aku ini Bu Nardi" aku menjawab dengan memasang muka memelas "lho yang lain udah wisuda" tanya Bu Nardi "iya buk.." jawabku dengan mengangguk dan pasang muka sedih. "aku tak maem dulu buk (aku tak makan dulu buk) biar ga tambah sedih" jawabku meminta iba aku duduk menunggu pesanan makanku di antarkan, sesekali melihat ke ponselku "kok tumben setan itu ga kirim pesan ya.." gumamku sedikit kuatir, sudah beberapa hari ini dia tidak berkabar. biasanya setiap menit dia telpon atau hanya kirim pesan, sekalipun aku jarang merespon pesan atau telfonnya dia tidak pernah lelah terus melakukan itu. di mana dia, apakah dia baik baik saja atau jangan jangan dia dalam masalah. 'ahhh setan itu selalu bikin ulah' aku berbisik "heh..malah ngalamun( kok malah ngalamun)" Bu Nardi mengagetkanku yang sedang mengantarkan pesanan makan ke mejaku. "mikir opo..? (mikir apa?)" lanjut Bu Nardi dan duduk di sebelahku "enggak kok buk.." jawabku dengan tersenyum dan sedikit tertunduk "udah.. ga usah sedih, tetep semangat ngerjain skripsinya.." Bu Nardi berdiri dan menepuk pundakku lembut, lalu beliau berlalu pergi. aku hanya mengambil nafas dalam dalam. drrtttt drrtttt segera ku rogoh ponselku dan ku lihat ada satu pesan masuk "hingga masih.. bisa kuraih dirimu. sosok yang mengaliri cawan hidupku. bilakah kita menangis bersama tahan melawan tempaan.. semangatmu itu. ohhh jingga" aku meremas dadaku pelan, aku melipat bibirku ke dalam menahan senyum. setan itu dapat dari mana kalimat se-bucin ini. k*****a kembali pesannya "dasar setan bucin" aku senyum senyum sendiri. aku tidak perlu lagi menyangkal, saat ini aku memang merasa kehilangan. tanpa ku sadari ternyata aku sudah mulai nyaman dengan kembalinya Anton dalam hidupku. aku mencoba menghubunginya, namun tidak bisa. ku coba kembali hasilnyapun sama, tidak bisa. 'di mana kamu' batinku dengan menggigit bibir bawah. aku bergegas pulang, siapa tau dia menungguku di tepi jalan depan rumahku karena memang itu yang biasa dia lakukan hanya sekedar ingin mengawasiku. sepanjang perjalanan di dalam kendaraan umum, tak berhenti aku mencoba untuk menghubunginya. nomor ponsel teman temannya sudah ku hapus setelah peristiwa dia mau bunuh diri dan bakar bensin 'dasar gila' dengusku mengingat tingkahnya yang kekanak Kanakan itu. aku berjalan perlahan menuju rumah, celingak celinguk aku mencari batang hidungnya namun tidak ada. kenapa rasanya sakit dadaku saat ini, ketika kamu ada aku begitu tidak memperdulikanmu, aku menganggapmu seperti setan yang selalu bergentayangan dan menggangu hidupku. muncul dengan tiba tiba hilang juga dengan tiba tiba, namun sekarang aku menyadari bahwa aku sangat kehilangan "kamu di mana, tahukah kamu aku sangat kehilanganmu" aku berbisik sendiri, berdiri di pinggir jalan. tak kusadari air mataku menetes perlahan membasahi pipiku "sakit rasanya menahan rindu.." aku sedikit terisak. kemudian aku berbalik berjalan masuk ke rumah
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN