seperti setan

1266 Kata
aku terkejut karena Anton sudah menungguku di depan gerbang sekolah. ku lanjutkan langkahku ke arah gerbang, ketika hampir sampai ke arahnya aku langsung berbelok ke kiri, karena saat ini dia berdiri di pintu gerbang sebelah kananku. Anton mengejar ku dan meraih pergelangan tanganku, dia menarikku dan langsung menghantam dadanya. "Anton..!" aku menjerit tertahan "ini di sekolahan, banyak muridku di sini" lanjutku dengan geram "kalo begitu jangan menghindari ku..." dia melepaskan cekalan tanngannya "apa maumu?" ku tatap dia dengan marah "kamu.."jawabnya dengan mentowel hidung mancung ku "ihss.." aku menangkis telunjuknya "ayo.. aku antar kamu pulang, aku tahu kamu tidak bawa motor jadi aku sengaja menjemputmu. dan tidak ada penolakan. kamu tahu akibatnya kan kalo kamu berani menolak?" ucapnya dingin dengan rahang mengeras "baiklah" jawabku singkat sambil mendengus "cieeee...Rini sensei di jemput ayang nih yeeee" ledek muridku, aku hanya tersenyum mendengar ledekan ledekan dari anak muridku. "wahh.. Sensei, aku patah hati ini" salah satu anak murid laki laki, sambil memegang d**a kirinya dan ackting menangis "gurumu ini terlalu cantik jika di biarkan pulang sendiri anak anak.." sanggah Anton yang sudah berada di atas motor besarnya, sambil mengulurkan tangannya hendak meraih jemari tanganku. aku memutar bola mataku malas. mendengar ucapan Anton, anak anak semakin meledekku. wajahku memerah, dan Anton hanya tersenyum simpul melihat aku yang malu. Anton memberi kode dengan menggelengkan kepala singkat agar aku cepat naik ke atas motornya. "ok. kalian yang meledek Sensei, besok Sensei tambahi tugasnya" dengan nada tegas dan menunjuk ke arah anak anak muridku satu persatu. "yaaaaaa... Sensei, jangan dooong.." suara gemuruh anak anak merengek untuk tidak di tambahi tugas. aku segera naik motor di bangku belakang, dan kulambaikan tanganku kepada anak anak yang masih manyun mulutnya karena ku ancam memberi tugas tambahan. Anton berhenti di depan rumahku, aku segera turun dan langsung berjalan masuk ke rumah. tak kuhiraukan keberadaan Anton yang masih mematung memandangiku dari depan rumah. kututup rapat rapat pintu rumahku dan ku kunci. takut jika Anton menyusul ke dalam. "Bu.. cepatlah pulang.." aku berbicara sendiri dengan bersandar di belakang pintu. hari sudah gelap, tapi tugas revisi skripsiku belum selesai. aku masih berkutat di meja kerjaku, banyak yang harus aku revisi belum lagi tugas anak anak muridku yang belum aku periksa. ku renggangkan otot pinggangku ke kanan dan ke kiri. ku ambil nafas dalam dalam dan ku hembuskan "cari makan dulu aja lah" aku berbicara sendiri. seperti biasa aku hanya membeli nasi goreng, tak lupa dengan es teh manisnya. aku melangkah menuju rumahku, sesekali bertegur sapa dengan tetangga tetanggaku. aku mengambil piring dan gelas di dapur untuk tempat nasi goreng dan minumanku, segera aku menuju ke kamarku kubuka knop pintu kamarku "Aarrgggghhh...!!" aku menjerit sekencang mungkin, ku lempar nasi dan minumanku ke arah tak beraturan. "hei.. ini aku.." bayangan hitam itu bersuara dan menggoyang goyang bahuku dengan ke dua tangannya. mataku terpejam rapat, aku terus berteriak 'setan setan..setan' dengan tanganku memukul mukul di udara. saat ini aku benar benar terkejut dan panik "Rini..ini aku, bukan setan" suara itu terdengar sedikit panik, dengan terus menggoyangkan bahuku. "setan setan... " mataku masih kututup rapat rapat. dalam keadaan putus asa, setan itu menarik tengkukku dan membekap mulutku dengan bibirnya "sett..hmmptt!!" aku membuka mata ku lebar, ku dorong setan itu kebelakang dan kunyalakan saklar lampu, yang berada di sebelah kiri pintu. "kamu.." mataku menyipit tajam dengan telunjuk meruncing ke arah setan tinggi besar itu. "lihat apa yang sudah kamu lakukan.." tangannya menunjuk ke dalam kamarku, mataku melebar dan mulutku membulat. nasi goreng berserakan dan minumanku tumpah ke mana mana. "ya ampun.." dengan suara pelan tapi terkejut, aku segera membereskan sisa sisa nasi dan minuman yang berceceran di lantai kamarku. kusapu dan ku pel agar tidak lengket dan mengundang semut karena aromanya. "makanya..jangan asal teriak teriak, lempar segala macem. jadi berantakan kan?" ucapnya santai dengan duduk di sudut ranjang. aku yang masih berjongkok dengan memunguti sisa sisa nasi langsun melirik tajam pada sumber suara. "kamu yang bikin ulah, kamu juga yang nyalahin orang" sungutku dengan bibir maju "kamu gemesin kalo pasang wajah seperti itu" sambil mencondongkan badannya kebelakang dengan kedua tangannya menopang tubuhnya. aku memutar bola mataku malas. "bisa ga sih, kamu itu ga bikin kaget orang? kenapa juga lampu kamarku kamu matikan? siapa juga yang suruh kamu tiba tiba di kamarku udah kayak setan aja kamu itu" omelku panjang lebar karena jengkel dengan ulah Anton. ya.. setan itu adalah Anton. siapa lagi. Anton berdiri dengan mengulas senyum di wajahnya, aku langsung mundur beberapa langkah takut jika dia melakukan hal hal secara spontan. "kok mundur sih.. nih" dia menunjukkan tentengan terbungkus plastik dekat dengan wajahnya. aku mengernyit "ini.." lalu dia menyodorkan bungkusan itu kepadaku. hmmm bau nya.. air liurku hampir tumpah. "kamu laparkan? secara tadi kamu habis ngamuk" ledeknya. aku menyipitkan mataku tajam ke arahnya. "hehehe.. udah sana di makan dulu, untung piring sama gelas yang kamu lempar tadi bukan dari kaca Rin, bisa berdarah darah kaki kamu" dia sambil memungut gelas dan piring melamin yang masih tergeletak di lantai dan menyodorkannya padaku. aku menyambar piring yang dia sodorkan dengan muka masam "males aku kr Kowe (malas aku sama kamu)". aku memakan mi goreng nyemek yang di bawakan Anton untukku, tak ku perdulikan dia yang terus memandangku tajam. aku benar benar kelaparan. "Pelan pelan makannya.." "ya.." jawabku dengan mulut penuh makanan "Pelan pelan.." ucapnya lagi "iyaa..." aku menjawab dengan mulut mengunyah "kamu makan kaya orang ga pernah makan aja Rin.. ga takut aku kasih racun" ucapnya membuat aku tersedak. "uhukk uhukk.." dia segera menyodorkan air mineral yang juga di belinya untukku. "dasar wong edan (orang gila). bisa ga sih kamu itu ga bikin orang kejang kejang " aku mengomel sambil mengelap bibirku yang belepotan mi dan air mineral. mendengar omelanku, dia malah terbahak bahak "ihhs. dasar" aku berdecik dan bangkit dari dudukku sambil membereskan sisa sisa makanku untuk ku taruh di dapur. aku kembali ke kamar hendak meneruskan pekerjaanku yang tertunda, aku duduk di meja kerjaku kembali membuka skripsiku. Anton berdiri di belakangku dan membelai lembut bahuku "aku minta maaf Rin.. tapi hanya itu jalan satu satunya agar kamu tidak bisa lepas dariku" ucapnya dingin. seketika aku berhenti menulis dan aku tegakkan duduku, mataku panas dan rahangku mengeras mendengar ucapannya. "sebaiknya kamu pulang" jawabku tegas "aku tidak akan pulang" jawabnya tak kalah tegas "terserah kamu, kerjaanku banyak" timpalku kembali. aku meliriknya sekilas, dia berjalan menuju tempat tidurku. dari ujung mataku aku dapat melihatnya dia hendak merebahkan tubuhnya, aku hanya melirik tak satu katapun terucap dari mulutku. ku biarkan dia sesuka hatinya, aku lebih baik mengurusi pekerjaanku dari pada mengurusi dia yang tidak jelas, gumamku dalam hati. tubuhku mulai letih, ku lihat jam di ponselku sudah jam satu dini hari. ku bereskan mejaku, ku rapikan buku buku dan lembaran lembaran skripsiku. aku beranjak dari tempat duduk dan menuju ke tempat tidur. "ya ampun Tuhan.. aku hampir lupa kalo ada Anton" aku sambil menepuk dahiku sendiri. ku ambil selimut dan bantal, lalu ku bentang di lantai. belum sempat aku membaringkan tubuhku, Anton menarikku sekuat tenaga, aku menjerit tertahan. tanpa suara apapun, dia langsung mendekapku dari belakang "tidurlah, aku tahu kamu ngantuk. tak perlu jual mahal Rini, karena aku sudah lihat semua yang ada di balik bajumu itu" ucapnya. dekapannya membuat jantungku berdegup kencang, aku menggigit bibir bawahku dan mataku berkedip kedip gugup. "Anton.. tidak perlu seperti ini, tanpa kamu peluk aku. aku pasti bisa tidur" aku mencoba membuka dekapan Anton "tidurlah.. nek ora malah tak brakot dewe kowe (kalo tidak, nanti kamu aku makan)" jawabnya serak. mendengar ucapannya membuat aku semakin takut, takut jika kejadian malam itu terulang kembali. tubuhku rasanya kaku, jika bergerak sedikit saja bisa membangunkan singa. 'oh Tuhan.. rasanya aku sulit bernafas' batinku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN