picik

1282 Kata
aku menangis tersedu, dengan meringkuk seperti bayi di atas tempat tidur. tak terdengar tangisku hanya air mataku yang menganak sungai. ku raih ponselku, ku tengok pukul setengah empat pagi. sayup sayup ku dengar adzan subuh, ku gerakkan tubuhku perlahan namun tangan kekar Anton meraih pinggangku dan mendekap ku erat menempel padanya. "mau ke mana.." suara baritonnya berbisik. aku bergeming "kenapa diam saja.." dengan mengecup puncak kepalaku. tangannya mengusap usap perut rataku "kenapa Anton..?" suaraku bergetar "agar kamu tetap menjadi milikku" ucapnya ringan tanpa penyesalan. aku melemparkan tangannya yang melingkar di perutku, segera aku berdiri namun kaki dan tubuhku seperti lumpuh, aku limbung dan terduduk di lantai. aku merasakan perih dan nyeri di daerah kewanitaan ku. air mata kembali membasahi pipiku. 'Tuhan ampuni aku..' dengan air mata yang berurai. Bu maafkan anakmu ini, jeritku dalam hati. Anton bangkit dari tempat tidur dan memapahku untuk kembali di tempat tidur. "aku tidak rela kamu di miliki laki laki lain Rini.." ucapnya dengan mengusap pipiku yang basah "picik sekali pikiranmu Anton.., cintamu membuat aku hancur sekarang" aku menatapnya penuh amarah "bukan seperti ini cara membuat aku menjadi milikmu" lanjutku dengan suara tercekat. dia memelukku erat "maaf.." ucapnya "jangan terlalu dekat dengan kata maaf Anton.. karena jika kamu salah menggunakan kata itu, itu akan menjadikanmu seorang pecundang" jawabku menohok "biarkan aku sendiri.." pintaku agar dia segera pergi dari rumahku, tepatnya kamarku. "aku akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padamu.." dengan melepaskan pelukannya dan menggenggam erat jemari tanganku "aku pastikan tidak akan terjadi sesuatu padaku" jawabku ketus sambil menarik jemari tanganku dari genggamannya "aku pergi..." pamitnya selepasnya pergi, aku menangis pilu. aku meratapi hatiku sendiri kenapa aku bisa mencintai orang seperti dia. egois. pemaksa. tidak memikirkan orang di sekitarnya, hanya mementingkan keuntungan diri sendri. kenapa aku bisa merasa nyaman jika berada di dekatnya, orang yang terkadang manis tapi juga bisa berubah seperti monster ******* hari ini aku ijin untuk tidak mengajar, jadwal bimbingan pun aku minta untuk di undur. untungnya dosen pembimbingku sangat baik, jadi beliau mengijinkan ku untuk rescedul. aku masih berada di dalam kamar, aku melihat jam di ponselku menunjukkan jam sepuluh pagi. aku masih enggan beranjak dari tempat tidur, badanku sakit semua seperti habis lari maraton. aku berulang kali menghembuskan nafas, air mataku masih enggan mengering. tiba tiba ponselku berbunyi, cepat cepat aku menghapus air mataku dan menormalkan suaraku jangan sampai terdengar aku sedang menangis "halo.." sapa dari seberang "ya Tante.." jawabku mencoba biasa biasa saja "nduk.. Iki ibukmu arep ngomong (nak, ini ibumu mau bicara") "oh ya Tante.." jawabku riang "halo nduk.." ibuku menyapa dari seberang "ya buk.. ibuk kapan pulang, Rini sendiri buk.. Wedi (takut)" ucapku merengek "sebentar, sabar ya.. Simbah kritis, dan kondisinya semakin memburuk" jelas ibuku "kalo begitu suruh saja mbak Rahayu pulang Bu.." mintaku dengan manja "mbak Rahayu bantu ibu dan tantemu di sini, Wira Wiri (bolak balik) Rumah Sakit. bapak kan di rumah Simbah, jadi mbak Rahayu yang ngurusi bapakmu di sana" jelas ibu "lha terus kapan ibu pulang? Bu Sri ga ada di rumah Bu. rumahnya gelap" "ibu juga mau memberi tahu kamu tentang Bu Sri, kalo Bapaknya bu Sri meninggal. jadi tidak bisa temani kamu". aku hanya mendengus. kami mengobrol cukup lama, salah satunya kenapa aku tidak berangkat mengajar. hatiku kacau ketika ibu bertanya tentang itu. aku hanya menjawab kalo aku tidak tidur semalaman karena takut. mendengar jawaban itu ibuku terkekeh. "oalah to nduk nduk.. wong wis gede kok Yo turu dewe wedi (ya ampun to nak, sudah besar kok ya takut tidur sendiri)" ibuku sambil tertawa "ya namanya takut ya takut Bu.. ga bisa di buat buat" aku mendengus kesal. "ya sudah, ibu tutup telfonnya. kamu baik baik di situ. jaga diri ya nduk" "baik Bu.. ibu juga jaga kesehatan. jangan capek capek. da ibu.." aku menutup telfonku. bukan tentang tidur sendiri yang aku takutkan ibu, tapi laki laki itu. pasti dia tahu jika ibu belum pulang hari ini. aku memejamkan mata dan menyandarkan kepalaku ke belakang. aku benar benar enggan beranjak dari tempat tidur bahkan sekarang aku tengok di ponselku sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang 'lama juga ya aku mengobrol dengan ibuku' gumamku sendiri. aku menarik nafas dalam dalam, ku singkap selimut yang menutupi tubuh polosku ada beberapa tanda kepemilikan di area dadaku 'oh Tuhan' mataku memanas dan aku kembali meneteskan air mata. aku berjalan perlahan menuju ke kamar mandi, untungnya aku memiliki kamar mandi pribadi jadi aku tidak perlu repot repot ke kamar mandi di luar. aku berjalan pelan dengan meringis menahan perih di area sensitif ku. segar rasanya tubuhku setelah mandi, aku keluar kamar menuju dapur mencari sesuatu yang bisa aku makan. hanya ada mi instan, tak apalah yang penting perutku terisi, setelah makan aku mencari obat pereda nyeri milik mbak Rahayu, ternyata tidak ada obat. mungkin di bawa oleh mbak Rahayu. karena aku tidak menemukan obat yang aku maksud, aku kembali ke kamar. mungkin jika kubuat untuk istirahat dan tidur kondisi tubuhku akan membaik. aku kembali ke kamar dan membaringkan tubuhku di tempat tidur, ku pejamkan mataku, dan aku mulai terlelap. samar samar aku melihat sosok laki laki tampan tinggi besar tersenyum lembut padaku 'bermimpikah aku Tuhan' laki laki itu menghampiriku, membelai pucuk kepalaku lalu turun ke pipiku. mencium singkat bibirku dan d peluk hangat tubuhku dari belakang, punggungku terasa nyaman ketika menempel pada dadanya. aku enggan membuka mataku, aku tidak mau mimpiku ini berakhir. rasa hangat dan nyaman memenuhi setiap relung hatiku, ya.. nyaman sekali. aku menggeliat, meregangkan otot tubuhku. aku terkejut karena jendela kamarku terbuka, aku bangkit dan melihat ke arah luar, tidak ada siapa siapa. aku melihat ke kamar mandi, juga tidak ada siapa siapa. aku berlari kecil ke luar kamar, pun sama tidak ada siapapun. aku kembali ke kamar dan menemukan selembar kertas di meja kerjaku "maafkan aku yang membuatmu tersiksa, dan membuat kondisimu menjadi seperti ini. kamu begitu terlelap sampai sampai aku ikut tidur dan memelukmu kamu tidak bangun. badanmu panas, aku membelikan obat obatan untukmu. di minum ya, agar cepat pulih ~cintamu" jadi tadi aku tidak bermimpi gumamku sendiri. tangan kiri ku meremas dadaku dan tangan kanan memegang selembar surat itu dengan gemetar. aku duduk di sudut tempat tidur, dan kembali membaca surat itu. mataku memanas, dan kembali menetes "kamu yang menghancurkanku dan kamu juga sekarang yang ingin memperbaikinya, jahat kamu Anton" ucapku dengan suara tercekat. tangisku tak bisa ku tahan, aku menangis tersedu menyesal, merasa terhina, tidak di hargai, aku benar benar seperti w************n saat ini. hanya kalimat ampunan yang terus terucap dari mulutku. ********** aku hempaskan pantatku di kursi sofa ruang guru, selesai sudah jadwal ngajarku untuk hari ini. sungguh heboh anak anak tadi melihat masuk ruang kelas. banyak pertanyaan yang keluar dari mulut anak anak hebat itu, kenapa kmrn aku tidak berangkat, apakah aku sakit, apakah aku menikah atau lamaran dan lain lain. aku hanya terkekeh mendengar celotohan anak anak muridku. sudah pukul satu siang, seharusnya aku ke kampus hari ini tapi karena dosen pembimbingku mengabari bahwa satu Minggu ini tidak bisa bimbingan karena beliau harus pulang ke kota asalnya karena ibunya meninggal 'banyak orang meninggal akhir akhir ini' gumamku sendiri. ya sudahlah, aku bangkit dari dudukku dan merapikan mejaku yang penuh dengan buku buku tugas muridku "hahhh.. ya ampun banyak banget tugas anak anak yang belum aku periksa" aku bicara sendiri aku mententeng tas kerjaku dan segera keluar dari ruang guru, tak lupa aku berpamit pada guru guru lain. aku masih merasa tidak enak badan akibat ulah Anton malam itu, aku juga enggan meminum obat dan vitamin yang Anton belikan. karena hatiku benar benar sakit, bisa bisanya dia melakukan itu padaku hanya supaya aku menjadi milik seutuhnya "picik sekali pikiranmu Anton" kembali aku berbicara sendiri. aku terkejut karena Anton sudah menungguku di depan gerbang sekolah
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN