hancur

1456 Kata
aku terbangun mendengar suara ayam jantan, sayup sayup ku dengar suara azan subuh. aku merasakan kepalaku masih agak sedikit pusing, ku raba kepala sebelah kiriku, aku berdecik sambil ku pijit dahiku. aku memaksa tubuhku untuk bangun dari tidur. aku duduk di atas tempat tidur dan saat itu juga aku sadar kalo ini bukan kamarku. "aduhh.." aku pijit pelipisku. "anton kurang ajar.." gumamku, sambil ku regangkan kepalaku yang sedikit pegal di area leher belakang. aku berdiri perlahan, ku buka pintu kamar, aku melihat Anton masih tidur di sofa panjang depan televisi. aku melangkah perlahan, ku dekati dia dan duduk di sampingnya. ku pandangi lekat wajahnya, entah apa yang membawa tanganku membelai wajahnya "aku tahu aku tidak tampan, jadi kamu tidak perlu memandangku seperti itu" ku pukul pipinya geram. aku berdiri dan segera aku masuk kembali ke kamar. di dalam kamar aku masih mendengar tawa Anton terpingkal pingkal, aku senyum senyum sendiri di dalam kamar. aku tengok jam di ponselku menunjukkan pukul setengah 6 pagi, baru aku menyadari kalo aku tidak mengenakan bajuku sendiri. 'daster' deg..wajahku pias. hatiku tak karuan, Anton sudah melihat tubuhku, sudah di apakan aku. oh Tuhan.. mataku mememanas tak bisa ku bendung air mataku yang menggenang pintu kamar terbuka, dan Anton masuk dengan wajah tidurnya. aku menghampirinya 'plaakkk !!' "tega kamu denganku Anton.. aku salah apa padamu" tangisku "hei.. kenapa??" dia sambil mengusap usap pipinya yang ku tampar, berusaha bertanya dengan nada rendah. "kamu apakan aku..?" tanyaku getir "apakan apa sih Rin..?" jawabnya, tak kutemukan jawaban yang di buat buat dari sorot matanya. aku masih tergugu. "ada apa ini, ibu dengar ada ribut ribut" Bu Tuti masuk kamar dengan sedikit teegopoh gopoh "entahlah Bu.. Rini tiba2 menamparku" Anton menjelaskan kepada ibunya. Bu Tuti melihatku dari atas ke bawah, aku yang memeluk diriku sendiri sesekali meremas ujung lengan baju yang aku pakai, sepertinya Bu Tuti paham dengan tangisku ini. "maaf Rin.. yang menggantikan bajumu itu adalah ibu" bu Tuti menjelaskan dengan senyum simpul "apa Bu..?" aku seketika berhenti menangis "iya.. ibu yang menggantikan bajumu, karena ibu pikir orang pingsan pasti membutuhkan pakaian yang longgar. jadi ibu ganti bajumu dengan daster milik ibu" Bu Tuti menjelaskan panjang lebar "oo..oooo Rini pikir.." aku berhenti berbicara "harusnya aku yang menggantikan bajumu, bukan ibuku. itung itung ganti rugi karena kamu sudah menamparku" Anton menjawab dengan jengkel "sakit banget ini.." dia terus mengusap pipinya. "aku minta maaf.. se..seharusnya aku bertanya dulu" jawabku malu dengan menundukkan kepala dalam " ya sudah.. cepat mandi sana, ibu siapkan sarapan ya. baru nanti kamu boleh pulang selepas sarapan" ibu mengusap lenganku dan kemudian keluar kamar Anton yang hanya berdiri, kemudian mendekatiku. menangkup kedua pipiku. di angkatnya wajahku untuk menatap matanya hangat "aku tidak akan melakukan hal yang di luar batas jika kamu tidak mengijinkannya Rini" ucapnya lembut. pipiku bersemu merah ketika bibirnya mulai menempel di bibirku. dia menciumku lembut, aku mulai menikmati buaiannya ku pejamkan mata ku ikuti ritme lidahnya. Namum ciuman itu mulai panas dan aku segera mendorong tubunya dan aku melangkah mundur. "jangan.." ucapku gugup. dia hanya mengangguk dan tersenyum hangat. "segera mandi, kita sarapan" ucapnya dengan mengusap pipiku, dan berlalu pergi. apakah aku sekarang sudah terjebak lagi Tuhan. aku mencengkeram dadaku, kenapa aku begitu lemah jika berhadapan dengannya. kenapa aku bisa terjatuh lagi oleh laki laki preman kasar dan tempramen itu. aku menggigit bibir bawahku, aku merasa begitu bodoh. ********* Anton membuntutiku dengan motor besarnya, dia takut terjadi apa apa denganku ucapnya aku berdecik ketika dia bilang seperti itu. dasar.. aku tiba di rumah, keadaan rumah begitu sepi karena bapak dan ibu memang masih di Jogja. bahkan mbak Rahayu yang biasanya memberi kabar, ini tak satupun pesan aku terima darinya. aku coba men-dial nomor mbak Rahayu, tapi tidak tersambung. bahkan jawaban dari operator memberi tahu jika nomor yang aku tuju tidak aktif. "kok gak aktif nomor mbak Rahayu.." gumamku sendiri. ku dial lagi nomor mbak Rahayu dan tetap tidak dapat di hubungi. aku berinisiatif untuk menelfon Tante Watik, adik dari ibuku. "hallo Tante.." sapaku "ya, hallo. Rini apa kabar?" sahut tanteku riang "baik Tante. Tante sehat kan?" aku sedikit berbasa basi "syukur.. Tante sehat tentu saja, kau tau sendirikan kalo tante gemar senam?" dengan nada sedikit centil. ya ampun tante, dalam hatiku. "Tante, Rini mau tanya. apa bapak dan ibu masih di situ?" ada sedikit rasa was was dalam dada "tentu saja masih, kenapa memangnya? kau rindu ingin mengempeg ibumu?" dengan sedikit terkekeh Tante Watik menggodaku. "hehehe..bukan Tante, aku hanya sedikit kawatir karena mbak Rahayu tidak mengabari ku. dan ponselnyapun tidak bisa ku hubungi" jawabku cemas "oo.. iya, ponsel mbakyumu terjatuh dan rusak, mbakyumu menggendong Simbah putri waktu hendak di bawa ke Rumah Sakit dan tidak sengaja terjatuh layarnya pecah dan langsung mati" jelas Tante Wati "baiklah kalo begitu Tante. kira kira berapa lama lagi bapak dan ibu di Jogja Tante?" tanyaku lagi "ibukmu bilang, 2 hari lagi ibumu akan di sini menunggui Simbah di Rumah sakit". mendengar jawaban dari Tante tadi aku mendesah Pelang. "baiklah Tante, kalo begitu tolong jaga kesehatan bapak dan ibuku tante. karena aku sedikit kawatir dengan darah tinggi dua sejoli itu" aku mendengar tanteku sedkit terkekeh "jangan kuatir, Tante akan pantau dua sejoli itu" jawab Tante ringan. "trimaksih Tante.." aku menjawab yang di sertai kekehan ringan dari kami berdua. 'tidur sendiri lagi aku' gumamku untungnya hari ini adalah tanggal merah, aku bangkit dari dudukku hendak menuju samping rumah. belum juga aku melangkah ku dengar ponselku berbunyi. nama Anton muncul di layar ponselku. "halo Anton, kenapa?" lembut aku menyapanya "aku mau ke rumahmu" jawabnya "ngapain ke rumahku?" aku sedikit kaget "menemanimu tentu saja" jawabnya ringan "aku tidak perlu kamu temani, ada bapak dan ibu juga mbak Rahayu" "tidak usah berbohong, aku tau bapak dan ibumu baru besok lusa kembali dari Jogja" jawabnya dingin "tau dari mana kamu??" aku mengernyitkan dahi "aku sudah pernah bilang padamu, aku tau segalanya tentangmu" dia menjawab dengan angkuh "bapak ibuku memang baru besok lusa kembali dari Jogja, tapi kamu tidak perlu repot repot menemaniku. sudah ada Bu Sri di sini. beliau sedang membuatkan aku nasi goreng. aku sangat lapar" jawabku berpura pura tidak gugup "terserah.. aku akan tetap datang nanti malam. tunggu saja.." dengan mematikan ponsel sepihak. "aarrgggghhh.. dasar Anton gila. kenapa kamu tidak pernah berubah" ku banting ponselku di tempat tidur, dan segera keluar rumah menuju rumah Bu Sri. ********* aku merebahkan tubuhku di sofa depan televisi dengan kesal, Bu Sri ternyata tidak ada di rumah. rumahnya kosong dan di gembok. bagaimana cara menghindar dari Anton nanti malam, aku Mash berfikir keras. dia sungguh laki laki yang gila dan nekat. tapi entah kenapa dalam hatiku begitu tenang ketika bersamanya. jam dinding menunjukkan pukul 5 sore, aku mencoba kembali ke rumah Bu Sri Namum hasilnya masih sama. Bu Sri tidak ada di rumah. aku tidak langsung pulang, akan tetapi aku pergi membeli makan dengan berjalan kaki karena jarak warung makan denga rumah sangat dekat, tidak membutuhkan waktu lama nasi goreng yang aku pesan sudah jadi, aku langsung melahapnya tanpa sisa. 'kenyang..' gumamku. setelahnya aku langsung pulang dan mandi selesai mandi aku langsung rebahan di sofa depan televisi, saat ini aku hanya mengenakan tank top dan hotpen. karena tidak ada orang sama sekali jadi aku bebas mengenakan baju minim tanpa harus sembunyi di dalam kamar. haha.. kenyamanan tubuh yang aku rasakan setelah mandi, membuat mataku ngantuk dan aku tertidur. nyaman sekali, sampai suara gaduh dan berisik mengagetkan aku. "apa sih.." aku terbangun dengan terkejut, kunlihat sekilas jam dining menunjukan pukul satu dini hari. karena mendengar pintu di gedor cukup keras, sangat keras bahkan. aku berlari ke depan, ku tengok dari jendela "tidak ada siapa siapa.." gumamku. kemudian terdengar lagi gedoran itu sangat keras. "jangan jangan.." aku bicara sendiri dan segera berlari menuju kamarku. aku langsung membuka jendela kamarku, benar saja ada Anton di depan jendela kamarku. bau alkohol dari tubuhnynya membuat aku spontan menutup hidung. "Anton..!" aku terkejut. tanpa aba aba, dia menerobos masuk ke dalam kamar. "eh. jangan masuk..!"aku menjerit tertahan. tidak aku sadari Anton terus menatap tubuhku. tanpa aba aba dia langsung menyambarku, melumat dengan kasar bibirku. aku menahan dadanya, tapi cengkeraman lengan Anton yang mengunci pinggangku terlalu kuat. "Anton.. jangan.." ketika ada jeda sedikit aku memohon. dia bergeming, sorot matanya tidak bisa berbohong kalo saat ini dia sangat "ingin" "jangan.. tolong.."tangannya kembali menarik tengkukku, bibirku di lumatnya habis. dengan kasar dia melucuti pakaianku dan menjatuhkanku di tempat tidur, kedua tanganku di cengkeram ke atas dengan tangannya yang besar dan kokoh, tenagaku habis meronta, bibirku tak di biarkanya bersuara, aku tolehkan wajahku kekanan dan ke kiri mencari celah udara, tp tak di biarkan aku memohon pengampunan. "aku akan membuatmu menjadi milikku seutuhnya.." ucapnya dengan suara serak "ja..hmmmppppttt" tak di biarkan aku bersuara, dia terus menghujaniku dengan ciuman, aku menangis pilu. aku hancur, sudah hancur 'cintamu menghancurkan aku Anton..' dalam hatiku berucap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN