tak kuhiraukan mata tajamnya yang mengawasiku dengan sinis. selesai aku memindahkan nasi dan kawan kawannya ke piring, ku langkahkan kakiku menuju kamar bu Tuti. ku buka perlahan pintu kamarnya, ku lihat beliau berbaring di tempat tidur dengan badan yang miring. sesekali bergetar punggung renta itu. ku pegang perlahan punggungnya agar tidak terkejut.
"Bu.. ini Rini, makan ya Bu Rini suapi. ibu belum makan kan dari pagi?"beliau hanya diam saja, namun getaran dalam punggungnya semakin menjadi.
"Bu.." aku memanggilnya dengan sangat iba, ku peluk tubuh rentanya dalam keadaan tengkurap
"maafkan anak ibu Rini.. maafkan dia yang selalu menyulitkan hidupmu" ucap Bu Tuti gemetar sambil memegang lengan kananku dengan lengan kirinya
"tidak apa Bu.. ibu belum makan, makan ya. Rini suapi.." aku membantu Bu Tuti untuk duduk, ku suapi beliau dengan perhatian. tak kusadari Anton mengawasiku dari pintu kamar Bu tuti. selesai aku menyuapi Bu Tuti ku, aku persilahkan beliau untuk istirahat. ku selimuti Bu Tuti hingga batas perutnya. ku bereskan piring kotor, lalu aku melangkah keluar kamar dan menuju ke dapur.
saat aku mencuci piring, aku mendengar o.." ucapku panjang lebar
"aku, aku tidak akan mengulanginya. aku berjanji.." semakin erat dia menggenggam tanganku dengan kedua tangannya
"itu yang kamu ucapkan dulu.. setelah kamu menyakitiku, kamu akan memohon mohon maaf ku. tapi setelah itu kamu ulangi kembali.." dengan mata berkaca kaca aku mengutarakan isi hatiku
"beri aku kesempatan.." kini dia bersujud di hadapanku dengan kedua tangannya menempel layaknya orang menyembah
"kesempatan yang sudah berulang kali aku berikan Anton.." air mataku sudah tak dapat aku tahan lagi. ku hapus kasar air mataku, hendak pergi darinya. tiba tiba dia mencekal lenganku dengan kasar dan mendekapku dengan erat.
"tolong Rin.. jangan pergi.." bisiknya di telingaku. tangisku semakin menjadi. ada rindu dalam hatiku, tapi juga ada ketakutan. dia semakin mempererat pelukannya benar benar tidak mengijinkan ku untuk melangkah pergi.
***********
hari sudah sangat sore, aku melihat jam di tanganku menunjukan pukul empat sore. saat ini kami duduk berdua di halaman belakang rumah, lelah rasanya setelah membersihkan sisa sisa bau bensin yang Anton siram tadi.
"aku pulang ya.." pintaku dengan nada lembut. "ini sudah sore Anton.." ku lanjutkan permintaanku. dia bergeming dan terus menatap ke depan.
"Anton.." ku panggil dia perlahan dengan ku sentuh lengan kirinya yang dia sandarkan di meja taman. Anton mengambil nafas dalam dalam dan d keluarkan perlahan.
"tinggallah di sini malam ini.. bapak ibumu juga belum pulangkan dari Jogja?" tanpa melihat ke arahku. aku mendengus pelan. "kamu mau sama siapa di rumah? kamu berani sendirian di rumah sebesar itu?? kan kamu tahu kalo malam di belakang rumah kamu itu suka a.."
"aarg. STOP!!" langsung ku potong kalimatnya, aku menjerit singkat dan ku bekap mulutnya menggunakan tangan kananku. Anton terkekeh geli, dia tahu kalo aku sangat penakut "jangan pake tangan bekapnya, pake bibir dong" sambil memindahkan tanganku ke lengannya
"nanti aku bisa minta tolong Bu Sri tetanggaku itu untuk temani aku tidur.." aku mencoba meyakinkannya. Bu Sri adalah tetangga samping rumahku, beliau memang suka di mintai tolong ibuku untuk bantu bantu di rumah, bahkan kadang juga di mintai tolong untuk sekedar menemani aku di rumah jika bapak dan ibu pergi menengok Simbah putri 'aduh Mbah.. kenapa harus sakit segala sih. jadi susah kan aku" gumamku sendiri
"wis.. Ra sah ngomong sendiri ( sudah ga usah ngomong sendiri)" sambil menepuk pundak ku. aku terjingkat. bukannya merasa bersalah, dia malah terkekeh.
"yok masuk.. banyak nyamuk, udah sore. mandi sana, nanti ganti baju pake bajunya Sinta" nada memerintah dan aku tidak suka itu "cepett.." dia sambil mendorong aku masuk ke rumah. "iya iya.." aku dengan mencebik
ketika kami masuk ke rumah, ku dapati Bu Tuti sedang sibuk di dapur. aku segera menghampirinya
"lho Bu.. kok ga istirahat aja sih?" sambil ku usap lengannya. Bu Tuti menoleh dan tersenyum hangat
"ibu sudah tidak lemas lagi Rin.. sudah segar rasanya, kan kamu tadi yang nyuapi ibu" ku peluk Bu Tuti dari samping, dia membalas dengan mengusap lengan kananku dengan tangan kirinya.
"aku enggak??" tanya seseorang dari belakang. kami berdua serempak menoleh ke arah suara
"kalian sudah baikan?" tanya Bu Tuti dengan mengerutkan dahi serius memandangku. aku kebingungan dengan tatapan Bu Tuti
"sudah dong" Anton yang menjawab dengan seringainya. ku putar bola mataku malas.
"jangan suka bikin hidup orang susah Anton.. Rini ini anak orang. kamu ang bisa kamu permainkan" omel Bu Tuti dengan nada rendah
"Bu..."
"kamu sudah bikin ibu hampir mati tadi, dan sekarang kamu mau bikin anak orang susah dengan tingkahmu yang kekanak Kanakan itu??"
"bukan begitu Bu..Anton cuma.."
"cuma apa?? cuma apa ?!" suara Bu Tuti mulai meninggi
"Bu.." panggilku pelan "ingat kesehatan ibu ya.." Bu Tuti mendengus kesal. "biar Rini yang siapkan makan buat kita makan malam ini ya Bu.."
"tapi Rin, ini sudah hampir magrip kamu harus pulang. ga baik anak perempuan pulang malam malam"
"Rini tidur sini Bu.." sahut Anton yang dari tadi masih berdiri di depan kami. aku melotot padanya
"kamu mau tidur sini?" tanya Bu Tuti dengan mata yang berbinar
"enggak Bu.. itu cuma akal akalan Anton aja. nanti sehabis makan Rini pulang Bu. tidak apa apa kan Bu?" sambil ku usap bahu Bu Tuti pelan
"ya sudah kalo gitu kamu bantu ibu untuk siapkan makan ya" pintanya dengan lembut.
***********
kami duduk di ruang makan bertiga, Sinta belum pulang kerja rupanya. ya.. anak itu setelah lulus Sekolah Menengah Atas memutuskan untuk bekerja, bukan pekerjaan dengan posisi tinggi seperti sekertaris atau pegawai swasta tapi bekerja sebagai pelayan toko mainan. Sinta ingin punya uang jajan sendiri katanya, nanti kalo sudah puas dengan uang jajannya sendiri barulah dia akan kuliah.
ku sendok nasi ke piring Bu Tuti, tiba tiba Anton menyodorkan piringnya ke arahku supaya aku juga melanyaninya. aku melengos, tak ku hiraukan rautnya yang kecewa. baru beberapa suap, Bu Tuti berdiri dari duduknya beliau pergi ke dapur dan kembali membawa se bakul kecil berisi buah buahan "kamu suka buah kan Rin? nanti di bawa pulang ya" Bu Tuti memerintahku. aku menjawab dengan anggukan dan senyum.
Anton berdiri dan pergi ke arah dapur, kemudian kembali dengan segelas jus sepertinya.
"ibu yang buat tadi pagi, ini khusu untukmu" dia menyodorkan segelas jus mangga ke arahku dan meletakkannya di depan piring makanku. segar sepertinya. kuminum jus itu hingga tandas "hmmm.. enak Bu jusnya, manis kecut" seringaiku pada Bu Tuti.
"ambil lagi sana di dalam kulkas, masih banyak" Bu Tuti menyuruhku dengan senyum
diam diam Anton memandangku dingin, ujung bibirnya sedikit naik. tak kusadari jika dia memiliki rencana licik 'kamu harus jadi milikku seutuhnya malam ini ma.mi" batinnya. tiba tiba kepalaku sedikit berat mataku mulai kabur
"Bu Tuti.. kepala Rini kok tiba tiba berat" kupijit pijit pelipisku, dan sesekali menggeleng kepala dengan cepat. Bu Tuti segera memandang ke arah anton "kamu apakan Rini!" bentaknya
"apakan apa sih Bu? Anton dari tadi di sini" jawabnya pura pura bodoh
"kalo sampai terjadi sesuatu pada Rini, awas kamu!" hardik Bu Tuti dengan tangan terkepal di tujukan pada wajah Anton
"Bu.. kepalaku.." aku semakin pusing dan mataku semakin kabur, aku memaksa bangkit dari duduk. tangan kiri ku mecengkeram kepalaku dan tangan kananku meraba raba di udara mencari keberadaan Bu Tuti
"Bu Tuti.. tolong Rini" pintaku lemah, tanganku ku lambai lambaikan di udara. Bu Tuti cepat meraih tanganku dan menopangku
"ayo istirahat di kamar ibu.." Bu Tuti memapahku
"biar Anton saja Bu.." Anton berusaha meraih bahuku, tapi segera di tampik oleh Bu Tuti
"ga usah, pergi sana" hardik Bu Tuti.
"Anton ga akan macam macam Bu.. " Anton berusaha meyakinkan dan meraih bahuku
"awas kamu.. Rini itu anak baik baik, Jagan kamu rusak dia.." jawab Bu Tuti lembut
"Bu.." aku memanggil Bu Tuti ketika bahuku dalam genggaman Anton. Anton memapahku menuju kamarnya
"Bu.." dengan wajah meringis menahan sakit di kepala kupanggil Bu Tuti seolah meminta pertolongan.
"Anton.. Jangan apa apakan dia" Bu Tuti memohon pada anaknya. aku masih sempat melihat anggukan kepala Anton memastikan tidak akan terjadi apa apa denganku.
kepalaku semakin berat, dan aku merasa tubuhku semakin lemas "Anton.." kupanggil dia lirih.
"tidak apa apa.. percaya padaku, ayo istirahatlah sebentar di kamarku, dan jangan berfikir yang bukan bukan" ucapnya lembut. ku dengar teriakan Bu Tuti ketika tubuhku luruh ke lantai, dan setelahnya aku tidak sadarkan diri