laki laki gila

1422 Kata
mataku membulat, mulutku ternganga spontan aku menutup mulutku dengan jari kiriku "jika kamu masih perduli dengan Anton, cepat datang kemari" salah satu pesan yang aku baca berserta file foto terlampir di situ. foto di mana Anton sedang berubut belati dengan kawannya. kemudian sesaat ada Vidio masuk, aku membukanya "sadar ton.. kamu gila apa?? kamu itu laki laki bukan tempatnya menangisi perempuan!!" suara dalam vidio itu dengan nada membentak, aku lihat ada beberapa bercak darah di lengan dan beberapa bagian tubuhnya. "di mana kalian?" tanyaku pada yang mengirim pesan. lama ku tunggu balasan dari si pengirim. "Anton sudah aku bawa pulang, jangan kamu ganggu hidupnya" tiba tiba si pengirim yang bernama firdaus itu membalas pesanku. aku mengernyitkan dahiku 'aku? men gganggu hidupnya?! siapa mengganggu siapa di sini sebenarnya?!" batinku. "tadi menyuruhku datang, dan sekarang memerintahku untuk tidak mengganggu. dasar manusia ga jelas" gumamku sendiri. aku memilih untuk mematikan ponselku, aku bangkit dari dudukku di lantai dan berpindah di tempat tidurku. aku duduk bersila, air mataku kembali beruarai kenapa nasibku seperti ini di cintai oleh pria jahat yang egois dan seenaknya sendiri. tidak pernah memikirkan perasaan dan hatiku. kamu keterlaluan Anton. kamu keterlaluan aku bangun dari tidurku, entah jam berapa aku tertidur aku menangis semalaman dan tertidur karena kelelahan. aku merasakan sakit di kepalaku pusing sekali dan berputar. sepertinya vertigo ku kambuh. "buk.. ibuk.." ku panggil ibuku, karena tidak ada jawaban kulangkahkan kakiku perlahan keluar dari kamar. sepi tidak ada orang 'oh Tuhan..aku lupa ibuk dan bapak pergi ke Jogja subuh tadi dengan mbak Rahayu juga' aku berbicara sendiri. ku ambil nasi sedikit dan lauk di meja yang sudah ibuk siapkan untuk aku makan satu hari ini. setelahnya ku raih Antimo di kotak obat dan ku minum. untung saja hari ini hari Minggu jadi aku bisa beristirahat, aku kembali ke kamar dengan sempoyongan dan ku rebahkan tubuhku di tempat tidur. cukup lama aku tertidur karena pangaruh obat yang aku minum tadi, aku bangun sudah tak kurasakan komedi putar di kepalaku. ku raih handuk dan segera aku mandi. setelah mandi ku rasakan segar di tubuhku semalaman menganis menguras pikiran dan energiku. aku ambil ponselku dan ku nyalakan, dan seperti biasa banyak pesan yang masuk salah satunya dari mbak Rahayu mengabari kalo Simbah putri sakit dan harus di rawat inap, jadi bapak ibu dan mbak Rahayu tidak jadi pulang malam ini. aku menghela nafas perlahan, lalu ku buka lagi pesan lainnya. mataku membola spontan aku berdiri dari dudukku "halo.."suara dari seberang "kamu di mana?" aku bertanya dengan nada sedikit jengkel "apa urusannya denganmu? bukankah kamu yang ingin aku untuk tidak mengganggumu lagi?" "tapi bukan begini caranya Anton, kasian ibumu. kasian beliau" aku melembut "kamu kasian dengan ibuku, tapi tidak denganku" jawabnya dingin kumatikan sepihak ponselku, kuraih jaket dan kunci motor ku laju motorku dengan kencang. aku tiba di rumah Anton, bau bensin menguar dari dalam. "ya ampun Tuhan.. anak ini benar benar nekat" aku berbicara sendiri. aku segera menerobos masuk ke dalam, ku ikuti arome bensin itu. miris melihat keadaan ini. ibunya menagis tergugu, duduk di samping Anton. dan Anton duduk bersila memegangi korek api. aku segera menghampiri ibu Tuti kupeluk tubuh rentanya "sudah Bu.. Jagan menangis, ayo" ku bawa Bu Tuti berdiri dan ku papah menjauh dari Anton. aku membawa Bu Tuti ke kamar mandi agar Bu Tuti bisa membersihkan diri dari bau bensin. setelahnya ku antar Bu Tuti ke kamarnya "istirahatlah Bu.. biar Anton Rini yang urus" ku usap lengannya dengan lembut. tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Bu Tuti, hanya anggukan kepala dan senyum getir yang di perlihatkannya padaku. aku menghampiri Anton "berdiri.." perintahku tegas. dia membisu, duduk kaki kanan di tekuk ke atas dan kaki kiri di lipat ke samping tangan kanan berada di lutut kaki kanan dengan sesekali memainkan korek api. "berdiri, atau aku siram kamu" perintahku lagi dengan membawa seember air. dia mendongak dan menatapku tajam "sekali lagi aku bilang, BER.DI.RI atau.." belum sempat aku melanjutkan kata kataku, dia langsung berdiri dan menarik pinggangku menempel pada tubuhnya, ember yang aku bawa tadi spontan terlepas dari genggamanku. bau bensin pada tubuhnya membuat aku pusing. ku tahan dadanya dengan kedua tanganku tapi lagi lagi aku kalah kuat. tangan kirinya mengikat pinggangku dengan posesife dan tangan kanannya mulai membelai wajahku "Jangan pergi.." ucapnya, tak kudapati sorot mata tajam itu, saat ini hanya sorot mata penuh permohonan "lepas Anton.. tidak seperti ini" aku coba meronta sekuat tenaga. namun semakin aku meronta rengkuhan lengannya semakin kuat ku rasa. "Anton.. lepas. kamu bau bensin.." ku tahan dadanya dengan tanganku. tanpa aba aba tangan kanannya merengkuh tengkukku. mataku membulat ketika Anton melumat bibirku dengan lembut. aku merasakan ada cinta yang dalam dari lumatan itu. Aku masih terpaku ketika dia menghentikan aktifitasnya "jangan pergi, aku akan membersihkan diriku dulu" dia berbisik dan menyelipkan rambut di telingaku. aku terpaku beberapa saat. aku menepuk kedua pipiku, apa benar yang terjadi barusan. 'oh Tuhan ini terjadi lagi' aku berbisik sendiri. pikiranku tersadar dan aku langsung menuju kamar ibu Tuti, ku buka perlahan kamar itu. terdengar sayup Bu Tuti sedang berbincang dengan seseorang melalui ponsel "lha Yo.. aku juga ora mudeng karepe Anton Ki opo? tak Kon golek perempuan liyo juga ora gelem (iya..aku juga ga paham dengan Anton, aku suruh dia mencari perempuan lain dia ga mau)" sesekali dengan menggambil nafas tersenggal. sepertinya sambil menangis. "......" "Iyo.. kae ijeh di urusi Karo Rini (iya.. itu masih dengan Rini)" "......" "biarlah.. aku lelah. aku sudah di buat seperti orang gila ketika dia menyiramkan bensin di tubuhnya. kalo saja aku terlambat mengetahuinya mungkin rumah ini juga sudah habis terbakar" tubuh tua itu sedikit bergetar dengan bercerita panjang lebar. ku tutup kembali pintu kamar itu dengan perlahan. "Anton Anton.. sampai kapan kamu seperti ini" omelku sendiri. ketika aku berbalik, aku terkejut karena Anton sudah berdiri di belakangku dengan senyum mengembang tangan dalam saku celana. aku menepuk nepuk dadaku karena terkejut. ku raih pergelangan tangannya, dan ku seret menjauh dari kamar ibunya. "sini kamu.." ku seret kasar menuju halaman belakang 'eh, sudah tidak bau bensin' aku membatin "kamu kapan warasnya sih?? kamu ga kasian sama ibumu, beliau sudah tua Anton.." aku sedikit meninggikan suaraku. anehnya tidak ada rasa menyesal dalam raut wajahnya "dasar gila" aku mengumpat "aku gila, karena kamu yang membuat aku gila. kamu pikir cuma kamu yang tersiksa. aku juga!" suaranya melemah namun penuh tekanan "kamu pikir cuma kamu yang sulit menghapus jejak? aku lebih sulit dari kamu Rini" aku melengos mendengar ucapannya "karena kamu aku paham apa itu cinta, dari kamu aku bisa merasakan indahnya jatuh cinta. aku menjadi posesife karena aku memilikimu. ribuan orang aku bertanya tentang mu ribuan kali aku melacak nomormu. aku benar benar bodoh karena tidak bisa melupakan wanita yang sebenarnya sudah move on dari ku. aku lebih gila dari yang kamu bayangkan Rin.." aku tidak berani memandangnya, aku takut terperangkap lagi olehnya. wajahku masih melengos ketika ujung jarinya memegang daguku dan memaksa wajahku melihatnya. aku segera mundur beberapa langkah karena aku tidak mau ciuman itu terulang lagi. Anton terkejut melihat aku mundur beberapa langkah, dia tersenyum miring. aku berjaga jaga mengantisipasi jika dia bertindak konyol lagi. "aku sudah di sini dan ibumu juga sudah baik baik saja, aku akan pulang. dan ku harap kamu jangan bertindak nekat lagi" ucapku ringan "tolong.. jangan pergi lagi dariku Rin.." sorot matanya penuh dengan permohonan "kita sudah tidak ada hubungan apa apa lagi Anton.. kita jalani hidup kita masing masing. tolong. kasian ibumu.." aku memelas "tidurlah di sini.."tiba tiba dia meminta "kamu ini gila apa gimana sih??" "please.. tidurlah di sini, aku tau bapak ibumu tidak di rumah. bahkan kakakmu yang galak itu juga tidak di rumah.." dengan senyum licik terukir di bibirnya "dari mana kamu tahu..?" alisku mendesak masuk, aku terkejut tapi aku berusaha senetral mungkin. Anton tersenyum miring, dan mendekatiku "Jangan menhindar, karena semakin kamu menghindar aku akan semakin mengejar" dia membelai pipiku dengan lembut "aku tahu tadi kamu bangun tidur langsung kemari, setelah membaca pesan dari kawanku. kamu pasti lapar kan? sekarang kita makan dulu " dia menarik tanganku lembut dan membawa aku ke meja makan. setelahnya dia pergi, sepertinya dia menuju kamar ibunya. aku masih diam, tidak ada niat aku untuk mengambil nasi walaupun sebenarnya aku sangat lapar. ku lihat dia kembali dengan wajah kusut "ada apa?" aku bertanya "ibuku menangis terus, aku sudah meminta maaf tapi ibuku tidak berkata apa apa" ucapnya frustasi dengan menyunggar rambutnya kasar "makanya.. jadi anak jangan kebanyakan tingkah " ucapku sengit. dia melirikku dengan tatapan dingin aku berdiri, ku ambil piring dan kusendok nasi sayur dan lauk. tak kuhiraukan mata tajamnya yang mengawasiku dengan sinis
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN