5.

1021 Kata
Tuti Pov "Tut?" Ayahku memanggil. Aku segera melangkah ke pekarang rumah belakang, menghampiri ayahku yang sedang duduk di balkon. "Iya pak." Ucapku ketika diriku sudah berada di hadapannya. Selama aku dan ayahku mengobrol ini, ia berkata dengan nada pelan dan dari hati ke hati. "Duduk dulu Tut?" Ucap ayahku. "Baik pak." Ucapku. Aku duduk di sebelah ayahku. "Jadi bagaimana? Kamu ingin melanjutkan sekolah kamu atau tidak?" Tanya ayahku. Aku pernah berkata kepada ayahku. Kalau aku ini tidak ingin melanjutkan sekolah. Aku hanya ingin membantu ayahku saja. Aku sangatlah tidak tega dengan kemampuan keuangan ayahku. Aku hanya ingin mengasah kemampuanku untuk melakukan bersih-bersih rumah dan memasak saja. Harapan yang ada di dalam hatiku yang saat ini adalah 'Aku ingin segera besar, memiliki KTP, lalu bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga. Agar beban ayahku ini menjadi ringan.' Namun, di satu sisi yang lain, aku pun ingin merasakan seperti teman-temanku yang dapat merasakan sekolah menengah. Terlebih, ketika diriku mendengar perkataannya Bapak Dedi, yang ingin membantu membiayai sekolahku ini. Membuat diriku ingin melanjutkan sekolah. "Sebenarnya pak. Tuti juga ingin merasakan dapat melanjutkan di sekolah menengah." Ucapku. "Jadi, kamu ingin melanjutkan sekolahmu? Kalau memang kamu mau, nanti Bapak sendiri yang akan mengatakan dan juga menerima tawarannya Bapak Gurumu itu." Ucap ayahku. "Iya pak. Aku mau." Ucapku. "Tapi bukan berarti, aku akan melepaskan tanggung jawab Tuti. Tuti akan selalu membantu Bapak, untuk memasak, mencuci pakaian dan juga membersihkan rumah. Sama seperti biasanya." Ucapku. Hal itu, adalah aku sendiri yang menamainya sebuah tanggung jawab. "Begini saja. Nanti, kalau memang Bapak sudah menerima tawarannya, kamu bantu bersih-bersih di rumah yang di tempati Bapak Gurumu saja. Kamu juga kan, sudah bisa menyetrika pakaian lumayan rapi juga. Nanti kamu juga membantu mencuci pakaian maupun menyetrika pakaiannya. Itung-itung, sebagai rasa tanda terima kasihmu kepada Bapak Gurumu itu. Sekaligus, agar kamu tetap melancarkan keinginanmu itu." Ucap ayahku. "Baik pak." Ucapku. "Ya sudah. Kalau kamu ingin bermain. Kamu bermain saja?" Ucap ayahku. "Tidak lah pak. Tuti sebentar lagi, Tuti akan pergi les." Ucapku. "Ya, sudah kalau gitu." Ucap ayahku. Aku bangkit berdiri lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam rumah, aku segera membereskan dan juga mencuci seluruh perabotan dapur yang kotor. Setelahnya, aku menyapu dan juga mengepel lantai. Sekitar jam tiga sore, aku bergegas mandi, menggunakan pakaian, lalu berangkat les ke rumah yang di tempati Bapak Dedi. Sesampainya di rumahnya Bapak Dedi, aku dan beberapa temanku, langsung membereskan, membersihkan, dan juga merapihkan teras rumahnya itu. Tak berapa lama setelah itu, setelah semua teman-temanku sudah berkumpul semua, kita semua pun memulai kegiatan les tambahannya. Tentunya di akhir-akhir kegiatan les tambahan ini, selalu ada tes, sekedar untuk menyilang pilihan ganda dan juga mengisi esay. Setelahnya jeda istirahat. Setelah istirahat, kita semua berkumpul kembali. "Baik anak-anak, silahkan tukar buku kalian dengan teman yang ada di sebelah kalian. Kita mulai mencocokkannya." Ucap Bapak Dedi sambil duduk di atas lantai di hadapan kita yang sedang duduk berbaris ini. Dengan segera, aku dan seluruh temanku saling bertukar buku. Bapak Dedi, menyebutkan jawaban-jawaban pilihan ganda. Ketika dirinya menyebutkan jawaban pilihan ganda tersebut, kita semua menceklis maupun menyilang buku jawaban milik teman kita. Setelahnya, kita mengumpulkan buku tersebut, kepada Balak Dedi. Sekitar jam lima sore, kita semua baru selesai dari kegiatan les tambahan tersebut. Sebelum pulang ke rumah ini, kita semua membereskan dan juga merapihkan teras rumahnya terlebih dulu. Setelahnya, satu per satu menyalami telapak tangan kanannya lalu berpamitan pulang. Aku adalah orang yang terakhir bersalaman bersama dengannya. "Bagaimana Tut? Kamu sudah bisa untuk memutuskannya apa belum?" Tanya Bapak Dedi sangat kalem. "Saya sudah memberitahukan kepada Bapak. Kalau saya ingin melanjutkan sekolah." Jawabku. "Beliau juga mengatakan, kalau nantinya akan menemui Bapak." Sambung ucapanku. "Sebagai gantinya, atau sebagai rasa ucapan terima kasih saya. Nanti saya akan membantu bersih-bersih di rumah Bapak." Sambu ucapanku kembali. "Syukurlah kalau begitu. Kalau masalah kamu yang ingin membantu saya bersih-bersih disini, itu terserah kamu. Tapi saya tidak pernah memaksa maupun meminta kepada kamu untuk melakukannya." Ucap Bapak Dedi. "Saya sangat berterima kasih, kalau Bapak mau menerima tawaran jasa, yang saya tawarkan ini. Saya juga akan merasa sangat senang untuk menjalaninya." Ucapku. Tentu aku merasa senang, karena aku masih dapat terus mengasah skill diriku yang belum seberapa ini. Aku ingin diriku ini ahli dalam hal memasak dan juga membereskan rumah. "Iya. Saya mengerti dengan keinginan kamu. Ya sudah, saya terima tawaran jasa yang kamu tawarkan ini. Sepulangnya kamu di rumah nanti, tolong sampaikan kepada ayahmu. Kalau saya, sudah mendengar keputusan dari kamu ini." Ucap Bapak Dedi. "Baik pak." Ucapku. "Ya sudah. Silahkan kamu pulang?" Ucap Bapak Dedi. "Baik pak. Salamu allaikum." Ucapku. "Waallaikum salam." Ucap Bapak Dedi. Aku melangkah keluar dari pagar rumah yang di tempatinya itu. "Kenapa Tut? Tadi." Tanya teman sekelasku yang merupakan tetangga rumahku ini. Aku dan tetanggaku ini, mengobrol sembari melangkah santai menuju ke rumah. "Tidak apa-apa. Hanya mengobrol masalah yang kemarin saja." Ucapku. "Masalah apa Tut? Nilai kamu pasti jelek ya?" Ucap temanku. "Bukan. Kemarin Bapak Dedi main ke rumah. Dia ngobrol bersama Bapak. Yang tadi itu, dia bertanya masalah obrolannya dengan Bapakku yang kemaren." Ucapku. "Oh. Kirain, nilai kamu jelek. Jadi di panggil seperti itu." Ucap temanku. "Masalah nilai. Tidak ada masalah koq. Ya meskipun nilai saya tidak sebagus milikmu. Tapi tidak ada nilai yang jelek." Ucapku. "Hahaha, Tuti-tuti." Temanku tertawa. "Saya pulang duluan ya Tut?" Ucap temanku karena kita berdua telah sampai di depan rumahnya. "Silahkan."Ucapku. Temanku langsung masuk ke dalam rumahnya. Aku melangkah kembali, melewati satu rumah, dan kini aku telah sampai di depan rumah. "Salamu allaikum." Ucap salamu sambil membuka pintu rumah. "Waallaikum salam." Ucap salam adik laki-lakiku ini sambil makan duduk di atas kursi di ruangan tamu. Aku duduk di kursi. "Bapak kemana dek?" Tanyaku. "Pergi mba." Ucap adikku. "Pergi kemana?" Ucapku. "Nggak tahu lah. Mungkin pergi ke rumah temennya." Jawab adikku. Aku bangkit berdiri, melangkah masuk ke dalam kamar. Aku mengganti pakaianku. "Tuti!" Temanku memanggilku. Aku segera melangkah keluar dari kamar. "Kalau bapak bertanya, kakak di mushola ya dek?" Ucapku sembari melangkah kepada adikku yang masih makan. "Iya." Ucap adikku sambil mengunyah makanan, terdengar seperti sedang berkumur-kumur. Aku membuka pintu rumah lalu menutupnya kembali. Aku memakai sandal jepit. Aku dan temanku melangkah menuju ke mushola terdekat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN