6.

1021 Kata
Beberapa tahun telah berlalu. "Akhirnya, aku bisa melanjutkan sekolahku." Sungguh bahagianya hatiku ini karena dapat melanjutkan sekolah. Aku meneruskan sekolahku ini, di sekolah yang masih berada di daeahku sendiri. Tiga kilo jarak yang yang aku tempuh untuk menempuh ke sekolahku. Aku berangkat sekolah, menaiki sepeda pemberian dari Dedi. Bekal yang aku pegang pun, darinya. Sekarang ini, aku menduduki bangku di kelas tiga sekolah menengah. Setiap sepulang dari sekolah, Aku tidak suka pergi bermain. Sepulang dari sekolahku, kegiatan yang di lakukan olehku adalah mengerjakan pekerjaan yang ada di rumah, dan sama seperti biasanya. Seperti biasanya juga, ketika jam menunjukkan jam tiga sore, Aku segera mandi lalu memakai kaos oblong dan juga rok rumbai panjang. Aku segera melangkah menemui ayahku yang sedang berada di pekarang rumah yang ada di belakang rumah. "Pak, saya ijin ke rumahnya Bapak Dedi ya?" Aku berkata sambil berdiri di bingkai pintu rumah belakang. "Iya." Ucap ayahku. Aku membalikkan badan lalu melangkah santai, membuka pintu rumah lalu menutupnya kembali. Aku memakai sandal jepit, lalu melangkah menuju ke rumahnya. Setelah melewati sembilan rumah, aku pun telah sampai di depan pintu gerbang rumah yang di tempatinya. Aku membuka pintu gerbang rumahnya. Aku melihatnya sedang menyirami tanaman dan bunga-bunga yang ada di samping pagar rumah yang di temmpatinya ini. Dan seperti biasa, Ia menyirami bunga-bunga itu, hanya menggunakan celana boxer tanpa atasan dan tanpa dalaman. Dan inilah salah satu kebiasannya di mataku. Aku berjalan menghampirinya. "Selamat sore pak?" Ucapku ketika diriku sudah berada di sampingnya. Ia menengok, telapak tangan kanannya tetap memegang selang menyirami bunga-bunga itu. "Selamat sore juga." Ucapnya. Aku melangkah menuju ke jemuran pakaian yang berada di depan teras rumah. Aku mengangkat seluruh pakaiannya, yang kemarin aku cuci. Aku membawa pakaiannya ke dalam rumah, lalu menyetrika pakaiannya di ruangan belakang yang berada di sebelah dapur. Tak berapa lama kemudian, aku pun telah selesai dari kegiatan menyetrika pakaiannya. Aku membawa pakaiannya ke kamarnya, lalu memasukkan pakaiannya ke dalam lemari pakaian. Aku membereskan sprei kasurnya yang terlihat acak-acakkan ini, hingga terlihat rapi. Aku segera melangkah ke dapur, mengambil sapu. Aku pun menyapu lantai kamarnya, menyapu lantai kamar kosong, ruangan tamu dan juga seluruh lantai yang ada di rumah ini, termasuk juga menyapu teras rumah. Setelah menyapunya selesai, aku segera mengambil ember dan juga pelan lantai. Aku mengepel seluruh lantai yang ada di dalam rumahnya ini. Setelahnya, aku menaruh pelan dan juga ember ke tempatnya kembali. Terlihat keringat yang mengucur dari seluruh tubuhku ini. Aku melangkah lalu duduk di kursi yang ada di depan teras rumah. Ia berjalan masuk ke dalam rumah, masuk ke dalam kamar, memakai pakaian training. Ia meraih kunci motor RX-King. Ia melangkah keluar menghampiriku yang masih duduk di kursi. "Dek, anterin saya beli makanan?" Ucapnya. Sebutan Dek itu pun seketika keluar dari mulutnya. "Iya pak." Ucapku lalu segera bangkit berdiri. Aku berjalan mengikutinya yang sedang berjalan ke arah motor. Sejenak aku membuka pintu gerbang rumahnya. Ketika motornya sudah keluar, aku menutup pintu gerbang kembali. Aku segera membonceng miring diatas jok motornya. Telapak tangan kananku memegang perutnya. Ia melajukan motornya dengan santai menuju ke salah satu warung nasi yang terdekat. Setelah membeli dua bungkus makanan, kita berdua kembali pulang ke rumah. "Dek, kita makannya di teras rumah saja ya?" "Baik pak." Aku segera melangkah masuk ke dalam rumah, sambil membawa dua nasi bungkus di tanganku. Sesampainya di dapur, Aku mengambil dua piring lalu memindahkan kedua nasi bungkus ini ke piring. Aku mengambil dua gelas dan juga teko kecil berisi air mineral. Aku melangkah keluar sambil membawa penampan yang diatasnya berisi barang-barang itu. Sesampainya di teras, aku menaruh makanan dan minuman ini di atas meja. Aku duduk saling berhadapan dengannya. Kita berdua pun menikmati makanan. Sambil menikmati makanan ini, tidak terlalu banyak percakapan di antara kita berdua. Aku hanya makan santai dan fokus menikmati makanan, tatapan wajahku menunduk ke arah piring, perasaanku merasa malu dengan pria yang berstatus duda lumayan lama ini. Sambil menikmati makanan itu, kedua matanya tak henti-hentinya menatap wajahku yang biasa-biasa saja ini. __ Dedi Pov 'Andai, kamu sudah dewasa.' Ucap di dalam hatiku sambil mengunyah makanan dan juga sambil menatap wajahnya Tuti. Selama kurang lebih tiga tahun ini, Tuti mengurus dan membantu di rumah ini. Hampir setiap hari, dia datang dan sering bersamaku di rumah ini. Selama itu juga, di dalam hatiku ini, muncul sebuah hasrat rasa suka kepadanya. Bahkan, aku pun akan menunggu Tuti hingga dia dewasa. Aku sangat rela untuk tetap menjadi seorang Duda, dan akan tetap menunggunya. Selama diriku menjadi seorang duda ini. Suatu hal untuk memenuhi gejolak birahiku yang seringkali singgah di dalam fikiranku ini, aku hanya dapat melakukan olahraga tangan di batang hitam pen*snya. Setiap kali diriku sedang kepingin dan ketika penisku sedang meronta, aku selalu mengeluarkannya dengan cara m********i. __ Tuti Pov Selama tiga tahun ini, jujur, dalam hatiku ini mulai merasa suka kepadanya. Dan entah mengapa, kenapa aku pun bisa merasa suka kepadanya, yang usianya ini terbilang sangat jauh dariku. Dapat di katakan, selisih usianya dengan ayahku, tidaklah terlalu jauh. Hanya saja, penampilannya ini, memang terlihat seperti awet muda. Baik dari segi badan dan wajahnya ini seperti tidak berubah sama sekali. Terlihat masih sama, ketika pertama kalinya aku melihatnya di kelas enam. Sekarang, kita berdua telah selesai dari kegiatan makannya. Dengan segera aku membereskan semua perabotan-perabotan makanan ini lalu membawanya ke dapur. Sesampainya di dapur aku pun segera mencuci bersih pedabotan-perabotan ini lalu menaruhnya di rak piring. Tentunya, waktu teruslah bergulir. Waktu menunjukkan jam setengah lima sore. "Dek, kamu jangan dulu pulang ya? Bantuin saya untuk mengoreksi PR anak-anak?" Pintanya. "Iya pak." Ucapku. Aku segera melangkah menuju ke ruangan tamu. Aku duduk di lantai menghadap meja dan langsung mengoreksi satu per satu PR milik murid-muridnya. Ia pun mengoreksi PR murid yang lainnya di sebelahku. "Dek, sekarang ini, kamu sudah memiliki pacar belum?" Tanyanya dengan nada pelan sambil mengoreksi PR muridnya itu. Seumuranku yang sekarang ini, memang sedang hits-hitsnya berpacaran. Hampir semua teman-temanku di sekolah, sudah memiliki pacar dan berpacaran. "Belum." Ucapku sangat pelan sambil menunduk dan juga sambil mengoreksi PR. Aku merasa sangat malu untuk mengatakannya. Aku tidaklah kepikiran untuk berpacaran. Aku sangatlah menyadari, kalau diriku ini hanyalah seorang gadis yang biasa-biasa saja. 'Mana mungkin ada yang suka denganku.' Hatiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN