Gas beracun mulai bermunculan dari atap kelas.
"Kuis kembali dimulai," ucap sang Guru.
Mata Angga memerah perih "jadi, kali ini apa kuis nya?" tanya Angga sembari menahan sesak.
"Benda apa yang kalian butuhkan saat ini? Kalian boleh langsung jawab pakai lisan jika kalian tahu jawaban nya tapi, saya kasih waktu kalianima detik untuk berpikir."
"Masker," teriak Angga tanpa pikir panjang.
"Baik. Kalau begitu, saya akan berikan kalian masker yang sudah saya sembunyikan di kelas ini secara gratis, asal kalian bisa cari sendiri di mana masker itu berada."
"Berapa lama waktunya?" tanya Angga.
"Satu menit, dimulai dari sekarang."
Mereka langsung berlarian ke berbagai sudut untuk mencari masker yang sudah dijanjikan.
Sherla adalah orang pertama yang berhasil menemukan masker dari dalam tas nya sendiri.
"Angga pake ini," ucap Sherla perhatian.
Angga menolak masker pemberian Sherla, karena dia gak mau jadi pecundang yang dengan seenak jidat manfaatin kebaikan orang lain dalam keadaan genting seperti ini.
Apalagi dia cowok, gak seharusnya juga dia ngebiarin Sherla yang jelas-jelas cewek kasih masker buat dia secara cuma-cuma, sedangkan Sherla sendiri cuma nemu satu masker.
Tak lama dari itu, Satrio berhasil menemukan dua masker dari kolong meja nya. Buru-buru, Satrio memberikan satu masker lain nya untuk Angga tetapi, lagi-lagi, Angga menolak masker itu dan malah menyuruh Satrio untuk memberi masker nya pada Ira yang lebih membutuhkan.
Satu persatu dari mereka mulai menemukan masker kecuali Angga.
"Uhuk, uhuk," Angga terbatuk sesak. Ira berlari menekan d**a Angga.
"Gunain kemampuan indigo lo," bisik Satrio kesal. Kesan nya di sini Angga stupid banget saking gak bisa mikir nya dia.
"Buruan, jangan telmi!" teriak Satrio kesal.
"Sepuluh,"
"Sembilan,"
"Belakang papan tulis," bisik Angga. Aksel segera berlari, mengambil masker dari balik papan tulis.
"Lima,"
"Empat,"
"Buruan pake," panik Aksel.
"Tiga,"
"Dua,"
"Sa."
"Selesai!" teriak Sherla.
"Selamat untuk kalian semua yang sudah berhasil mendapatkan masker. Sebagai informasi, gas beracun itu akan terus ada sampai jam pelajaran saya selesai. Jadi gunakan masker kalian dengan sebaik mungkin"
"Lios! Lo jangan diem aja dong!" tegur Rehan.
"Kalian berlima satu kamar kan?" tanya Joe.
"Kok tahu?" jawab Rehan.
"Kita bersepuluh juga satu kamar," jawab Joe.
"Kalian asrama mana?" tanya Rehan.
"Lantai dua kamar E," jawab Joe.
"Kita tetanggaan dong! Kita berlima dari kamar F," ucap Rehan.
"Ekhem. Saya masih ada di sini." tegur sang guru.
Mereka semua kembali fokus pada layar papan tulis
"Karena saya sedang sibuk. Jadi, kalian semua saya tugaskan untuk menulis catatan yang akan muncul di papan tulis."
"Masing-masing slide, saya beri waktu delapan menit untuk pergantian slide. Jika kalian telat atau tidak tepat waktu untuk menulis apa yang sudah ada di papan tulis, hukuman nya adalah tangan kalian akan bengkak selama satu Minggu."
"Baik bu," jawab mereka lemas.
"Have fun, kalian. Selamat menulis."
Betapa terkejutnya mereka saat melihat slide pertama begitu banyak tulisan.
Tapi, mereka bisa apa selain menulis? Bahkan, Zahra sudah menangis sesegukan saking kaget nya dia sambil terus menulis supaya gak kena hukuman. Lagian, siapa juga sih yang mau tangan nya bengkak selama satu Minggu?
Angga memejamkan mata, dirinya membisikan sesuatu ditelinga mereka semua.
"Jangan kaget, ini gue, Angga. Gue punya kemampuan yang mungkin gak bisa diterima sama akal sehat kalian tapi, dengerin gue dulu, gue udah berhasil memperlambat waktu di sini jadi kalian santai aja, jangan dibawa buru-buru. Gue harap kalian percaya dan sekali lagi, jangan ada yang ngelirik gue," pesan Angga.
Sherla tersenyum kecil, padahal dia kepingin banget ngelirik ke arah Angga saking gemas nya dia. Angga gak bohong, dia benar-benar memperlambat waktu, dia menunggu semua orang selesai menulis baru bisa ganti slide.
Satu jam berlalu mereka semua berhasil menyelesaikan tiga slide tulisan dari papan tulis yang sebegitu banyak nya.
Bel istirahat pun berbunyi menghilangkan rasa penat yang gak sepenuh nya benar-benar hilang hanya dengan mendengarnya.
Dengan penuh semangat, seluruh murid dari berbagai kelas berhamburan dari dalam kelas untuk pergi menuju kantin.
Gak semua murid keliatan semangat, ada juga dari mereka yang kelihatan lemas, pucat dan bahkan ada juga yang mengeluh sekaligus menangis saking gak kuat nya mereka ngadepin materi dari mata pelajaran di jam pertama.
Joe memuntahkan segala isi perut nya tepat di depan kelas, "sumpah, gue gak kuat."
"Ssst, gak boleh ngomong begitu Joe," tegur Putri.
Angga penasaran sama mereka yang gak masuk hari ini, kira-kira mereka ada di mana dan lagi ngapain?
"Mereka yang gak masuk hari ini kira-kira ada di mana ya?" tanya Angga penasaran.
"Entah? Mungkin di kantin," jawab Wira.
Sherla menggeleng, "mereka semua di kurung di asrama tanpa ada nya makan dan juga minum sampai jam sekolah kita habis."
Angga memijat pelipis pening "terus gimana? Kita gak bisa diem gitu aja."
Apalagi jam sekolah mereka lama banget sampai jam lima sore. Udah gitu, di dalam asrama gak ada toilet lagi. Bisa-bisa nahan lapar, nahan haus, nahan kebelet pipis, modol, segala macam ini mah.
Satrio memukul pelan punggung Angga, dia kesel sama Angga yang suka banget mikirin nasib orang lain. Padahal, belum tentu juga orang itu kenal sama dia dan belum tentu juga orang itu mau peduli sama dia.
"Kurang-kurangin deh baik nya, gua gak suka lihat lo kayak begitu," ucap Satrio pada Angga.
"Cepetin waktu aja, lo kan bisa," kata Joe. Angga menggeleng, dia gak bisa cepetin waktu, dia cuma bisa memperlambat waktu, itu pun berefek ke seluruh penjuru sekolah.
Anak-anak dari kelas lain juga kena efek dari apa yang sudah Angga perbuat.
"Udah ah, ayo ke kantin. Buat apa juga kita mikirin mereka." Satrio menarik paksa lengan Angga. Yang lain nya pun hanya bisa menuruti apa kata Satrio.
"Gue mau ke Minimarket sekolah aja deh," Mila memisahkan diri dari rombongan.
Sebenarnya di sekolah ini ada empat minimarket, tiga kantin sekolah, dua koperasi sekolah, sekaligus empat toilet yang masing-masing ada enam bilik. Perlu dicatat toilet sekolah sama toilet asrama beda.
Sekolah ini cukup besar dan bisa dibilang mewah. Cuma buat apa kalau kenyataan nya sekolah ini bisa dijadikan tempat peristirahatan terakhir para murid?
Punya tiga kantin disekolah aja tetap bikin para murid ngantri kok. Jadi gak ada beda nya sama sekolah biasa.
"Ah, mending gue ke minimarket juga," kata Aksel sembari pergi dari kantin. Walaupun kalau jajan di luar kantin harus bayar, mereka ikhlas. Karena setiap murid punya kartu ATM nya masing-masing.
Oh iya, disekolah ini juga ada tiga bank buat akses pengambilan uang secara tunai atau buat sekadar cek saldo.
Setelah mengantri cukup lama sekitar lima belas menit, akhirnya mereka bisa makan juga walaupun harus di buru-buru karena sepuluh menit lagi jam pelajaran kedua akan segera dimulai.
"Gak enak banget deh sekolah di sini, jam istirahat cuma tiga puluh menit tapi jam belajar nya lama banget," keluh Zahra.
apalagi istirahat mereka cuma tiga kali doang, di jam 9, jam 12 sama jam 3.
Itu juga tiga puluh menit cuma di jam 9 sama jam 12 kalau jam 3 cuma dikasih waktu tujuh menit buat istirahat.
"Lamain dong waktunya," pinta Zahra pada Angga supaya mereka bisa beristirahat lama-lama.
"Gak bisa, gue cuma bisa pake ini sekali dalam sehari kalau lebih dari itu guru-guru di sini mungkin bisa curiga," jawab Angga.
Angga tahu kalau guru-guru di sini pada pintar dan gak mungkin juga bisa dibohongi terus-terusan gitu aja. Atau mungkin, di sekolah ini ada teknologi yang gak bisa nipu waktu mereka? Angga gak bisa ambil risiko lebih dari ini, karena dia yakin kalau hal ini pasti akan berdampak besar pada diri mereka nanti.
"Udahlah jangan pada ngebebanin si Angga." Satrio paling gak suka kalau orang-orang yang ada di sekitar dia bergantung pada Angga.
"Kalian kan punya kemampuan sendiri, masa iya mau jadi beban terus?" sinis Satrio.