08. Kelam

1443 Kata
"Selamat siang semua, tiga menit lagi pelajaran di jam kedua akan segera dimulai. Diharapkan pada seluruh siswa-siswi untuk segera bergegas pergi menuju kelas nya masing-masing sekarang juga." Anak-anak yang sudah ketakutan lebih dulu gara-gara kelas di jam pertama tadi, lantas langsung memutuskan untuk tidak masuk ke kelas berikutnya. Tapi apalah daya, seolah bisa membaca pikiran para murid, lagi-lagi sang guru memberikan ancaman bagi mereka yang berniat bolos. "Untuk kalian yang terlambat masuk di jam kedua, akan kami jadikan objek eksperimen rahasia yang sedang berjalan saat ini. Jadi, saya harap kalian mengerti." Seketika, semua pada lalu lalang kabur menuju kelas. Daripada dijadikan objek eksperimen yang gak jelas, lebih baik mereka masuk di jam pelajaran kedua. "Ayo buruan, nanti telat," Joe buru-buru kabur dari kantin. Andai saja waktu bisa diputar kembali, mungkin mereka bakalan menolak keras buat masuk ke sekolah ini, sekolah yang kata-nya sangatlah mewah menjamin masa depan para murid nya. Dibandingkan tempat mencari ilmu, sekolah ini bisa dikatakan sebagai tempat percobaan bunuh diri yang sangat ekstrem. Untung nya di jam pelajaran kedua, ketiga dan keempat, semua nya berjalan dengan sebagaimana mestinya, alias gak separah kayak waktu di jam pelajaran pertama tadi. "Pulang-pulang," teriak beberapa murid. "Mereka kok kelihatan happy?" tanya Mila. "Gak semua kok," jawab Angga. "Ada apa emang?" tanya Mila. "Biasa permainan guru," jawab Angga lagi. Entah mereka harus bersyukur atau tidak dengan kemampuan yang mereka miliki, karena siapa pun yang berkemampuan spesial tidak akan termanipulasi. "Gue rasa ada yang sama kayak kita." Angga yakin, orang-orang yang masih kelihatan lemas atau takut adalah orang-orang yang sama seperti mereka. "Jadi, mereka berlima sama kayak kita?" tanya Mila penasaran. "Iya, tapi mereka ada yang jaga," jawab Angga. "Siapa?" tanya Mila. "Ya leluhur nya lah, b**o," jawab Satrio. Mila melengos "biasa aja kali!" "Terus kita gak ada yang jagain gitu? Setau gue ya, setiap orang ada yang jaga," ucap Sherla. "Ya emang ada, tapi di kurung," jawab Angga. "Lho ko bisa? Tapi kok penjaga mereka masih ada? Gak di kurung?" tanya Mila. Wira berusaha melihat kejadian beberapa hari kebelakang. "Lios, cuma dia satu satu nya orang yang punya sosok penjaga di sini," dari penglihatan Wira, sosok penjaga Lios adalah genderuwo besar yang sangat kuat bernama Sakti. "Lios yang pendiam itu kan?" tanya Ira. "Iya," jawab wira. "Di mana? Kok kita gak liat?" tanya Sherla. "Itu, di sana," Angga menunjuk ke arah Lios yang sedang berjalan lemas menaiki tangga asrama. Semua mata terbuka lebar. Di Belakang Lios, sudah terdapat satu genderuwo yang begitu hitam dan juga besar, yang bahkan hampir menutupi seisi gedung asrama. Namun, seperti tahu sedang dibicarakan, genderuwo itu menyusut, menyamakan tinggi badan dari si pemilik nya. "Dia kuat, dia bisa menyerupai apa saja yang mau di rupai, dia juga bisa melukai kita kalau sampai kita macam-macam pada Lios," ucap Angga serius. "Dapet dari mana dia penjaga sekuat itu?" tanya Mila gugup. "Nanya mulu dah, udah kayak jurnalis aja lo," balas Satrio. Mila melengos, dia emang agak kepoan anak nya. Gak nanya sehari aja mulut terasa gatal. "Dari kalung yang Lios pake, dia berasal dari situ," jawab Putri. Karena kalung yang dipake sama Lios memancarkan warna yang begitu pekat. "Berarti kita gak boleh macam-macam ke Lios dong?" tanya Wira merinding. "Lagian siapa juga yang mau ganggu dia, toh dia diem aja gak usil," jawab Putri. "Btw, dia denger percakapan kita lho," ucap Sherla, mengagetkan mereka semua. Seketika hening. Angga mengajak mereka semua untuk segera buru-buru pergi ke kamar asrama supaya gak ada lagi guru yang curiga pada mereka semua. Niat nya sih Angga mau ajak ngobrol Lios, cuma gimana ya? Lios pendiam udah gitu kelihatan kayak gak mau diajak ngobrol sama orang, jadi Angga segan buat ngedeketin nya. "Balapan ke toilet yuk!" teriak Zahra saat sampai di kamar asrama. Joe menggeleng "gue gak mau mandi ah." "Bau!" omel Sherla. "Biarin," jawab Joe sewot. "Udah ayo mandi," Satrio menarik paksa tubuh Joe namun Joe keukeuh menolak. "Gak mau!" Joe masih takut. "Harus berani!" paksa Satrio. Joe menggeleng "kalau gue berubah jadi poci lagi gimana?" kan Joe gak mau berubah jadi pocong lagi. "Cuma bilik toilet itu doang yang terkutuk selebih nya nggak, lo tenang aja jangan terlalu takut. Yang ada mereka malah makin seneng liat lo ketakutan kayak gitu sampe gak mau mandi," jawab Angga. "Yaudah deh, iya." Akhirnya, dengan penuh terpaksa, Joe mau mandi. Itupun dengan satu syarat, dia harus ditungguin sampai dia selesai mandi. ______________ Di malam hari nya. Seperti biasa, anak-anak dari asrama lantai dua pada kumpul-kumpul bersama di depan pintu kamar asrama mereka. Ada yang lagi nyanyi-nyanyi, ada yang lagi ngobrol, bercanda, main sos dari buku dan lain-lain. Pokoknya ramai banget deh, sampai geng dari kamar Angga pun ikut memberanikan diri buat ikutan nongkrong di luar kamar walaupun sebenarnya kegiatan ini sangatlah dilarang keras oleh pihak sekolah. Ternyata, di luar juga ada Lios yang lagi asyik baca buku sendirian dan itu jadi bikin Angga jadi semakin tertarik pada diri Lios. "Angga," ucap Angga memperkenalkan diri pada Lios. Namun, Lios mengabaikan nya dengan begitu dingin. "Kenalin gue, Angga." Peduli apa Lios sama Angga? Yang ada, Lios malah masuk ke dalam kamar asrama untuk menjauhi Angga. Ayu yang melihat kejadian itu, lantas langsung menghampiri Angga dan berusaha buat ngejelasin ke Angga kalau Lios memang seperti itu anak nya, dia gak banyak omong dan juga gak mau di deketin sama orang lain. Bahkan, sama temen sekamar nya pun dia gak mau ngomong juga. "Dikamar kami ada tujuh orang spesial, tiga orang lainnya ya manusia normal seperti biasanya," ucap Ayu. "Kita juga normal," jawab Angga. Ayu terkekeh, "um, maksud gue biasa aja." Angga berpikir sejenak, "jahat gak sih kalau gue bikin semua murid yang ada di sini bisa lihat hantu?" tanya Angga pada Ayu. Ayu sendiri gak tahu mau jawab apa tapi, Angga tetap butuh jawaban. "Gimana, kalau lo bikin tiga temen gue yang biasa aja itu jadi bisa lihat hantu sebagai bentuk percobaan?" usul Ayu. "Arkh, mata sama ulu hati gue sakit," keluh salah satu siswi sebelum satu persatu dari mereka mulai merasakan hal yang sama. Angga mulai bicara dari hati ke hati pada mereka semua yang berkemampuan khusus, dirinya menyuruh mereka semua yang spesial untuk ikut berpura-pura merasakan hal yang sama. "Hihihihi," "Hihihihihi," "Hihihihihihihi," "Sekarang kalian semua bisa melihat kami." "Argh, Lios! itu apa yang ada di belakang lo?!" teriak Daniel yang juga teman sekamar nya. Buru-buru, Lios menyimpan Sakti di dalam kalung jimat nya. "Bukan apa-apa," jawab Lios panik. "Dia bohong," Adu kuntilanak merah. Ngrok, ngrok, ngrok. Para pocong berhamburan datang membawa bau busuk untuk mereka semua. Satrio kliyengan "kita harus kabur." Tiba-tiba, ada layar yang muncul dari permukaan langit. Layar yang entah dari mana asalnya, menampilan sosok wanita tua cantik dengan aura gelap menatap tajam mereka semua yang sedang menonton layar. "Jangan meleng, di pojok sana sudah ada sesuatu," ucapnya seraya tersenyum sinis. Semua orang refleks menoleh ke arah kiri. "" di ujung sana sudah ada satu siswi yang sedang kayang bebas sembari menatap horor mereka dengan darah yang terus keluar dari mulut nya. "Pilih dia mati atau kalian yang mati?" Daniel maju satu langkah "mending dia yang mati lah!" jawab Daniel lantang. Gadis itu menangis sesegukan. Satrio menonjok kesal wajah Daniel. Namun telat, gadis itu sudah tertancap puluhan pisau. Gadis itu menangis meminta tolong sambil terus merangkak dengan tubuh yang sudah dipenuhi pisau berlumuran darah nya sendiri. Sherla menampar Daniel frustrasi "harusnya lo diskusiin dulu sama kita, jangan asal jawab!" Daniel meludah kesal "ll semua mau mati hah?! Gue sih ogah, lebih baik dia aja yang mampus!" "Hiks, tolong," gadis itu naik ke atas pembatas tembok dengan sendirinya. Angga berlari berupaya menahan gadis itu agar tidak loncat namun, puluhan pisau yang tadinya menancap di tubuh gadis itu malah berpindah, melayang ke arah mereka semua yang saat ini sedang otw kabur. "Masuk ke asrama buruan!" teriak Satrio. Brak. Pintu asrama terkunci dengan sendiri nya. Malam ini malam purnama pertama, yang berarti, para hantu lebih berkuasa di sekolah ini. Angga memperlambat pisau yang hendak mengejar mereka semua "buruan, kita harus kabur dari sini!" teriak Angga. Mereka berlari ke lantai bawah, namun nahas, mereka yang berada di lantai tiga asrama terjebak dan tak bisa turun karena pembatas yang sudah di tutupi oleh mantra. Angga memohon pada Lios sambil terus berlari agar Lios mau menggunakan Sakti sebagai tameng mereka tetapi, Lios keras kepala, dia gak mau ikut campur dengan urusan ini. Padahal, jelas-jelas dia juga ada di dalam nya. Sedangkan di sisi lain, anak-anak dari asrama lantai satu sama sekali enggan untuk membuka pintu, dari awal mereka sudah tahu bahwa hal ini akan segera terjadi. Makanya, gak ada satupun dari mereka yang berani buat keluar dari kamar asrama malam-malam. Karena mereka tahu, keluar dari kamar di malam hari sama dengan bunuh diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN