Laura terkejut ketika melihat dokter Reza dengan garangnya membentak laki-laki b******k yang sudah bersikap kurang ajar padanya. Namun, ia juga bahagia karena dirinya bisa diselamatkan sebelum mengeluarkan tenaganya sendiri untuk menghajar laki-laki kurang ajar itu di sekitar koridor kamar hotel nanti.
“Kamu siapanya? Kamu Papa dari bayinya, ya? Jangan ngaku-ngaku tunangannya, deh! Kalau dia sudah punya tunangan, tidak mungkin Tante Dena menjodohkannya denganku,” cibir laki-laki itu tidak percaya.
“b******k! Kamu laki-laki sialan, kurang ajar! Berani-beraninya kamu mengajak Laura untuk check-in ke hotel bersamamu di hari pertama kalian bertemu,” geram Reza kesal.
Laki-laki yang belum diketahui namanya itu pun tersenyum miring. “Nggak usah munafik, deh! Kamu juga pasti sudah kenyang mencicipi tubuh wanita itu ‘kan? Dia bilang dia sedang hamil dan dia tidak tahu siapa papanya. Itu artinya dia binal, kan? Jadi, apa salahnya kalau aku ikut andil mencicipi tubuhnya? Dia juga bukan wanita baik-baik. Aku saja sampai saat ini benar-benar tak percaya, mamaku menjodohkanku dengan anak Tante Dena yang rupanya wanita murahan.”
“Jaga mulut kamu, ya! Dia sama sekali tidak hamil. Dia masih murni dan dia hanya sedikit ngambek padaku sehingga tidak jujur pada mamanya kalau aku adalah tunangannya. Kami memang baru bertunangan secara resmi berdua saja, belum melibatkan orang tua kami,” tegas Reza.
“Pembohong! Kalau dia memang tunanganmu, kenapa dia mau datang kencan denganku hari ini?”
Reza balik mencibir. “Sekarang kamu harusnya mikir, kenapa dia mengaku hamil kalau dia mau dijodohkan denganmu? Laura memiliki toko tas branded dan sebuah salon mewah. Mana mungkin dia bisa hamil dengan sembarang pria. Telusuri dulu silsilah keluarganya, jangan asal melecehkan wanita!”
“Justru karena kejadian ini aku akan melaporkan semuanya pada Tante Dena,” ancam laki-laki bertubuh tegap itu.
“Dasar sialan!” maki Reza lalu menoleh pada Laura yang masih terlihat terkejut karena aktingnya. “Sayang, dia anak siapa, sih?”
“Dia anak Tante Lisa, tapi aku tak tahu namanya. Mama sudah bilang tadi, tapi aku memang nggak mau repot menghafal nama teman kencanku. Nggak penting soalnya,” sahut Laura spontan.
“Ah, kalo gitu aku akan melaporkan dia pada mamanya dan mengatakan kalau dia berniat melecehkan kamu di sini!” seru Reza ingin membuat laki-laki sialan itu gentar.
“Kurang ajar kalian! Aku tidak mau ribut, ya! Jangan sampai kamu mengatakan hal ini pada mamaku atau aku akan membongkar kebohongan Laura dan mengatakan kalau Laura sengaja mengaku hamil agar semua kencannya gagal,” ujarnya balik mengancam Reza.
Laura benar-benar geram. Laki-laki ini memang benar-benar b******k. Laura mengambil alih posisi Reza. Kini ia yang maju ke depan lalu mendesis pada laki-laki sialan yang ia belum tahu siapa namanya.
“Laporkan saja! Mamaku tidak akan percaya karena semua teman kencanku tidak ada yang b******k seperti kamu. Mereka tidak melapor macam-macam pada mama mereka. Justru kamu yang harus waspada. Aku tidak akan berhenti sebelum berhasil membuat reputasi kamu hancur, setidaknya di mata orang tua dan atasan kamu. Aku kenal pemilik hotel ini dan akan segera meminta salinan CCTV di mana kamu berniat menyeretku tadi,” ancam Laura tak main-main.
“Sialan kamu!” laki-laki itu bersiap melayangkan tangannya ke pipi Laura.
Namun dengan sigap, Reza segera menangkap tangan laki-laki itu lalu menepisnya keras.
“Kurang ajar! Berani-beraninya kamu ingin memukul wanitaku? Kamu memang laki-laki b******k, kurang ajar, nakal, suka main wanita juga melecehkan wanita dan kamu juga suka main tangan. Bukan hanya Laura saja, tapi aku juga akan pastikan kamu tidak akan bisa bekerja lagi karena aku akan menyebarluaskan tentang kebejatan dan tindakan kasar kamu hari ini. Pikir panjang dulu sebelum berniat untuk menjatuhkan kami berdua karena kami berdualah yang akan menjatuhkan kamu sejatuh-jatuhnya,” ancam Reza garang.
Laki-laki itu ketakutan. Ia benar-benar takut reputasinya sebagai manajer hancur. Yang dia takutkan adalah dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja. Dengan sangat terpaksa dia harus mengemis dan meminta maaf pada dua orang ini dan meminta mereka melupakan semuanya.
“Oke, sorry. Aku minta maaf. Tolong jangan diperpanjang lagi urusan ini! Aku tidak akan mengadu kepada mamaku juga tidak akan melapor pada Tante Dena. Anggap saja tak ada yang terjadi di antara aku dan Laura. Aku akan mengatakan kalau Laura bukan tipeku. Aku mohon jangan perpanjang urusan ini lagi! Aku benar-benar tidak mau dipecat dari perusahaanku.”
Laura dan Reza sebenarnya ingin mempermasalahkannya. Namun, setelah dipikir lagi tidak ada untungnya bagi mereka. Ujung-ujungnya mereka akan menabuh genderang perang dan mereka juga tidak ingin terjadi sesuatu di masa depan yang akan membuat kehidupan mereka menjadi kacau.
“Oke, kali ini aku akan lepaskan kamu. Ke depannya jangan berani melecehkan wanita lagi! Kalau bukan aku yang melaporkan kamu, akan ada orang lain yang menyeret kamu ke kantor polisi. Camkan itu!” tegas Reza lantang.
“Oke, aku cabut sekarang juga.”
Reza segera menarik tangan Laura menuju ke mejanya tepat setelah laki-laki itu pergi dari hadapan mereka. Dokter tampan itu juga baru saja melakukan kencan buta dengan seorang wanita yang membuatnya jengah setengah mati. Untung saja wanita itu cepat tanggap dan segera pergi meninggalkannya ketika dirinya mengabaikannya, menganggapnya tidak ada.
Dan dirinya benar-benar tidak menyangka melihat kejadian yang benar-benar mengejutkannya di mana Laura hampir dilecehkan oleh pasangan kencannya. Kejadian itu semakin membuat Reza bersikeras ingin menawarkan kembali permintaan yang ia utarakan minggu lalu.
Reza tidak peduli apakah Laura akan tersinggung nanti. Yang jelas dia yakin menawari Laura untuk menikah kontrak dengannya. Sepertinya ini adalah yang keputusan terbaik karena Reza tidak bisa menjamin Laura tidak akan bertemu dengan laki-laki seperti tadi lagi di masa depan.
“Lepaskan tanganku, Dokter Reza! Aku mau segera pulang,” pinta Laura pelan.
“Aku tidak akan melepaskan kamu sebelum kamu menyetujui permintaanku, Laura,” ujar Reza masih memegangi tangan gadis cantik yang akan ia jadikan istri kontraknya.
“Permintaan yang mana? Permintaan konyol minggu lalu?” ledek Laura.
“Setidaknya permintaan konyol itu jauh lebih baik dibanding kamu harus bertemu laki-laki yang hampir saja melecehkan kamu tadi.”
“Itu karena kamu keburu datang. Aku yakin aku bisa mengatasinya. Rencananya aku akan menendang tulang keringnya, bahkan akan menendang aset berharganya di koridor hotel ketika dia menarikku nanti.” Laura menegaskan.
“Itu menurutmu. Kamu pikir kami sebagai laki-laki tidak bisa mengunci tubuh wanita seperti kamu. Apalagi kalau laki-lakinya dalam keadaan sedang marah, tersinggung ataupun harga dirinya terusik, terutama saat kamu melakukan hal yang kamu bilang tadi. Setelah kamu menendang tulang keringnya, apa kamu pikir kamu bisa melarikan diri darinya? Secepat kilat dia bisa mengunci tubuh kamu dan menyeret kamu ke kamar, Laura.”
Laura mencerna ucapan Reza dan mengamininya dalam hati. Dari postur tinggi dan tegapnya, tentu akan sangat mudah bagi laki-laki tadi menyeret tubuhnya ke kamar hotel.
“Apalagi kalau laki-lakinya b******k seperti orang tadi. Pasti dia bisa dengan sangat mudah membawa kamu ke kamarnya.”
Yang dikatakan oleh Reza masuk akal. Dirinya hanya wanita lemah dan tidak memiliki skill bela diri apa pun. Tentu akan sangat mudah bagi laki-laki itu membuatnya tak berkutik.
“Bagaimana? Apa yang aku bilang benar, kan?” Reza mengonfirmasi.
Laura masih membisu, tidak bisa berkata-kata. Ia membeku, bingung dengan keadaan yang menimpanya. Di satu sisi Laura berat menyetujui permintaan Reza untuk menikah dengannya karena ia benar-benar tidak mau terkekang, terikat dan berpura-pura bahagia dalam sebuah tali pernikahan palsu.
Namun, jika dirinya terus-menerus menemui pasangan kencannya setiap minggu, bukan tidak mungkin dirinya akan bertemu dengan laki-laki sialan seperti tadi dan akan apes di kemudian hari.
“Pikirkan baik-baik, Laura! Kamu tahu aku ‘kan? Pasti kamu tahu cerita tentang aku juga siapa aku dari Liora. Aku sangat menghormati wanita. Aku tidak akan mungkin menyentuh tubuh kamu semasa kita menikah kontrak nanti. Yang perlu kita lakukan hanya membungkam orang tua kita. Kita akan buktikan kalau pernikahan yang dipaksakan itu tidak akan baik jadinya.”
“Menikah kontrak?” Laura mengernyitkan alisnya.
“Ya, kita akan menikah kontrak selama 1 tahun dan setelahnya kita akan bercerai, kemudian kita bisa menjelaskan pada orang tua kita kalau pernikahan yang dipaksakan itu akan berakhir dengan perceraian. Mudah-mudahan saja ke depannya orang tua kita tidak akan pernah menjodoh-jodohkan kita lagi.”
Laura mencerna semua perkataan Reza dan akhirnya menyetujui apa yang dikatakan oleh dokter tampan itu karena sepertinya kencan sialan ini tidak akan pernah berhenti meskipun harus makan waktu bertahun-tahun.
Selain benar-benar sudah lelah, Laura juga cemas bertemu laki-laki seperti tadi.
“Oke, apa boleh buat. Aku akan menerima penawaran kamu. Aku setuju untuk menjadi istri kontrak kamu, Dokter Reza.”
Bersambung ...