Aku bukan seorang Casanova atau pemain wanita. Tapi, saat memeluk tubuhnya hasrat menguasai diri dan akal sehatku dengan cepat. Entah bagaimana prosesnya sambil tetap menciumnya senjata ku yang sudah berdiri tegak sejak beberapa waktu yang lalu sudah menancap diiringi jeritan tertahan dan air mata yang mengalir deras ke pipinya. Tapi bagai seorang penjahat berdarah dingin, aku tak menghiraukan kesakitannya. Semua sulit ku hentikan. Rasa nikmat yang amat sangat terasa sayang untuk ku sudahi. Dengan terus menghentakkan senjata ku, aku berjanji dalam hati untuk bertanggung jawab setelah ini. Aku ingin memiliki gadis ini seutuhnya dan selamanya. Tak akan aku ijinkan siapa pun menyentuh dirinya selain aku. Tiba-tiba dadaku berdebar tak karuan, hanya karena aku mencium bau harum dari tubu

