“Aku memilih diam karena tidak ada pilihan. Aku terlalu munafik jika mengatakan TIDAK dan akan menyakiti perasaan orang lain saat mengatakan IYA.” ---- Tania mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk lewat celah jendela kamarnya. “Siang?” Tania panik karena seingatnya, ia tertidur di perjalan dari Bandung dan saat terbangun sudah siang dan berada di kamarnya. “Terus, Davin yang bawa gue kesini?” Tania bermonolog. “Ya kali, gue yang bawa. Kalo si Alfa bisa-bisa lo di grepe,” sambar Aly yang ternyata sudah duduk di sudut kamar Tania tanpa gadis itu sadari. “Uh abangable banget cih,” jawab Tania dengan manja. “Bilang sama orang takut di grepe, sendirinya pagi-pagi udah stay di kamar perawan,” sindir Tania. “Gue baru dateng pagi ini, nganter sarapan dan pastiin lo minum obatnya

